Tenaga kami masih lumayan banyak. Kami tak perlu istirahat untuk lagu selanjutnya. Heru menekan tombol next dalam remote control. Dan mulailah intro dari lagu Tetap Semangat yang dibawakan oleh Bondan Prakoso.
“Hhmm…
Listen
Hmmm…
Owww!
Satu bahasa, jutaan makna ceita
Sastu kata perkata diawal langkah pertama
Ini saatnya kita tentukan langkah baru
Banyak maju, berwarna dan berdebu
Aku di sini dan engkau di sana (hoi!)
Bersama coba langkahi semua bendera (hoi!)
Redam amarah, mari bersuara
Bicara bahasa kita dengan banyak cinta
Maju bergerak hadapi semuanya
Membuka mata lebar, rude boy, hah!
Lupakan luka hanya terus berada di dalam garis
Ku tahu pasti jadi orang harus optimis
Please, tepislah egois, ku tak perlukan this
Hanya langkah optimis, realistis
Menggores tinta dengan sentuhan klasik
Membakar jiwa dengan teknik terbaik, come on!
Hmm… woy!
Maju tak gentar, membela yang benar, tetap semangat, huhh
Woy!
Pantang menyerah, terus melangkah, tetap semangat, yeah…
Hey, yo, kawan, lihat ke depan
Tunjukkan jalan baru kita agar bertahan
Teruskan, teruskan, teruskan lagi
Hingga semua bermakna murni dan abadi
Bergeraklah ragaku dan lakukan sesuatu (hoi!)
Dunia ini begitu ramai dan tak tepat bila kau layu
Brr, brr, brraa berhasil
Re, re, re, respect, pantang menyerah
Woy!
Maju tak gentar membela yang benar, tetap semangat, uh…
Woy!
Pantang menyerah, terus melangkah, tetap semangat, yeh…
Oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, yeah…
Woy!
Maju tak gentar membela yang benar, tetap semangat
Woy! Pantang menyerah, terus melangkah, tetap semagat!
Woo, woo, wo, woo, woo
Woo, woo, wo, woo, woo.”
Lagu berakhir. Aku melempar mike ke atas kemudian kutangkap lagi. Begitu pun dengan Heru. Ia melakukan hal yang sama. Saat aku menyanyi, Heru juga sangat sibuk dengan sapu ia membayangkannya bahwa sapu tersebut adalah gitar.
Empat lagu dari Bondan Prakoso sangat membuat kami lelah. Kami pun beristirahat di atas sofa dengan merebahkan diri sambil mengobrol.
“Seru banget, yah!” ucap Heru sambil tersenyum.
“Ya, memang seru! Bondan Prakoso memang nomor 1!” lanjutku.
“Yang paling seru itu ketawanya, bukan nyanyinya,” lanjutnya sambil tertawa.
Aku pun ikut tertawa. Lalu berhenti dan menghentikan tawa Heru.
“Ehh! Aku belajar banyak barusan!”
“Belajar nyanyi?!”
“Hmmm, iya. tapi yang aku maksud bukan itu.”
“Lalu?!”
“Aku belajar dari lirik-lirik lagu itu. Lagu pertama yang berjudul Ya Sudahlah mengajarkanku untuk merelakan semuanya. Termasuk merelakan kepergian ayah. Karena semuanya akan baik-baik saja. Everything’s gonna be okay.” Aku berhenti sejenak dengan ceritaku. Heru mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah itu aku melanjutkan ceritaku. “Terus lagu kedua itu berjudul Bumi ke Langit. Itu adala kelanjutan dari lagu sebelumnya. Setelah kita merelakan, kita juga harus bersiap-siap untuk meluncur dari bumi ke langit! Lagu ketiga itu Linting Daun, mengingatkanku bahwa bunuh diri itu dilarang. Benar, kan? Seperti barang haram lainnya, kayak narkotika. Dan yang terakhir, berjdul Kita Slamanya. Nah kalau itu, mengajrkanku tentang pertemanan. Kita selamanya, kayak pertemanan kita, kan?! Selamanya!” pungkasku sambil menatap Heru.
“Ya, kau benar. Sangat benar!” jawab Heru sambil memblas tatapanku.
“Apa bukti dari pertemanan kita yang selamanya ini?”
“Maksudmu?”
“Ya, seperti janji. Tapi janji itu ada butinya.”
“Oh, ya. Aku faham. Bagiamana kalo kalung?”
“Kalung? Ah, biasa! Cari yang agak bagus dan aneh!”
“Kalung, liontinnya pake janji darah!”
“Maksudnya?!”
“Kita buat tulisan dan tanda tangan kita di atas kertas pakai darah masing-masing. Habis itu kertas kita jadikan liontin di kalung.”
“Keren banget! Menantang! Gua setuju, Ru!” sahutku dengan semangat.
Setelah itu, kita langsung mencari dua lembar kertas. Kemudian mulai membuat janji masing-masing di atas kertas yang berbeda. Aku membawa jarum pentul dari kamar. Kemudian mulai menusukkannya ke ujung jari telunjukku dengan perlahan. Itu sengaja kulakukan untuk membuat darahku keluar.
“Awww!” lirihku kesakitan.
Namun apa boleh buat. meski pun sakit. Janji harus tetap dibuat.
Jarum yang aku tusukkan itu mulai menghasilkan sesuatu. Darah merah bersih dari telunjukku mulai keluar secara perlahan. Tapi sedikit, darah itu hanya cukup untuk membuat satu garis pendek sepanjang lima cm. Akirnya aku mulai membuat darah lagi dengan cara menusukkannya ke ujung jemariku yang lain.
Janji yang kami buat dalam secarik ertas itu adalah ungkapan bahwa “Kami adalah sahabat untuk selamanya.” Lalu di bawahnya ada tanda tanganku dan tanda tangan Heru. Kami membuatnya dua. Karena yang satu untukku dan satu lagi untuk Heru tentunya.
Saat aku melakuka janji, Heru juga mulai menyakiti dirinya dengan cara yang sama sepertiku. Akan tetapi, ia sangat lama. Ia kebanyakan merintih kesakitan.
“Payah! Jangan ragu-ragu. Tusukkan saja!” ucapku.
“Sakit, Rid!” sahutnya.
“Iya, yang bikin sakit itu ragu-ragu. Kalo nggak ragu-ragu gak bakalan sakit. Atau nggak, biar aku aja yang nusuk, biar gak ragu-ragu?!”
“g****k! Gak bisa!”
“Yaudah, cepetan! Kan lu sendiri yang punya usulan bikin kayak gini!” pungkasku.
Setelah itu Heru mencobnya lagi dengan serius, tanpa ragu-ragu.
Oh, ya. Aku teringat. Heru kan oragnya penakut. Saat qurban, menyembelih sapi di rumahnya ia tak pernah berani melihatnya. Sama seperti anak-anak lainnya. Ya, berbeda denganku yang tak pernah takut melihat darah sebanyak aapa pun dari leher sapi yang digorok itu. Bahkan, aku selalu merasa senang ketika ada penyembelihan. Hmm, apa mungkin itu ada hubungannya?! Soalnya, ekspresi Heru saat ini sama persis dengan ekspresinya ketika melihat penyembelihan hewan qurban di rumahnya.