“Ayah…! Aku gak bisa hidup tanpa ayah…” ucap sambil menangis dan mengusap-usap kuburan ayah. “Aku ingin bersamamu! Aku ingin ikut, Yah!” lanjutku.
Aku merengek entah berapa lama. Sampai tak terasa, aku tertidur di atas kuburan ayah, karena saking capeknya aku menangis. Tak peduli denga kotor atau pun cemas jika ada hewan buas menerkam dan memakanku. Aku tak peduli. Bahkan kalau bisa, hewan itu harus memakanku sampai mati. Agar aku bisa terkubur di sini. Di damping ayah yang kusayangi.
Hingga beberapa jam kemudian, saat mentari sudah berada di ufuk barat. Aku terbangun dari tidurku. Kulihat seluruh diriku yang masih utuh. Tidak mati bahkan tak luka sedikit pun. Yang ada hanyalah bintik-bintik merah bekas isapan darah nyamuk sialan.
Akhirnya, terpaksa aku harus pulang. Aku pun kembali menyusuri rimba hutan dan hutan ilalang untuk jalan pulang.
***
Mentari sudah terbit di ufuk timur. Sinarnya menembus jendela rumah Paman Greg yang kumuh dan berserakan. Debu-debu terlihat beterbangan diterpa angin dan sinar mentari. Dalam sebuah kamar, di dalam rumahnya Paman Greg mendengkur keras tanpa selimut dan baju. Cuaca di Bogor sedang panas. Angin-angin tak membawa butiran hujan sedikit pun.
Keringat bercucuran dari pori-pori kulit Paman Greg. Seluruhnya, mulai dari pori-pori kulit hingga pori-pori kepala. Semuanya basaha, karena keringat. Lampu-lampu rumah masih menyala walau pun hari sudah menjelang pagi.
Tiba-tiba, pintu rumah Paman Greg yang tak pernah dikunci, terbuka didorong oleh seseorang yang berbadan pendek. Dan itu adalah Danang. Ia datang seorang diri menggunakan motor. Setelah berada di dalam, ia membangunkan Paman Greg yang sedang tertidur.
“Greg!” teriak Danang sambil menepuk pipi Paman Greg pelan.
Paman Greg tak terbangun sedikit pun. Ia malah memperkeras suara dengkurannya.
Danang tak sabar, ia pun menamparnya keras. Akan tetapi, Paman Greg belum juga bangun. Sepertinya tamparan Danang tak memberinya pengaruh sedikit pun. Tamparannya hanya terasa seperti nyamuk. Paman Greg hanya mengusap pipinya seperti orang gatal.
“Kebo ni orang. Bukan Cuma badannya, tapi kulitnya sama tidurnya juga bener-bener sama kayak kebo!” ucap Danang kebingungan.
Selanjutnya, ia mencari cara lain untuk membangunkan Paman Greg. Beberapa cara baru lainnya telah ia lakukan seperti; menyiram, menyembur, menendang, dan menyalakan api, tapi cara terseubt belum juga mempan.
Kemudian ia berpikir keras kembali untuk membangunkan Paman Greg. Hingga akhirnya ia pun menyerah. Ia membaringkan badannya di atas kasur yang sama dengan Paman Greg. Kemudian, jemarinya mengusap-usap telapak kaki Paman Greg secara tak sadar. Akan tetapi, dengan begitu Paman Greg mengusikan kakinya. Danang terkejut melihat Paman Greg menggerakkan kakinya. Ia pikir Paman Greg sudah bangun, tapi ternyata belum.
Beberapa saat kemudian, sesuatu melintas dalam pikiran Danang. Ia tertawa sendiri terbahak-bahak.
“Gua tau! Gua tau…!” sahutnya sambil terbahak-bahak.
Setelah itu, Danang menggelitik telapak kaki Paman Greg dengan dua jari. Paman Greg mulai menggerak-gerakkan kakinya. Bahkan, ia sempat tertawa karena tak kuat menahan rasa geli. Hingga akhirnya, lama kelamaan, Paman Greg pun bangun dari tidurnya. Matanya masih setengah terbuka, padahal badannya sudah tegap di atas kasur.
“Belum cukup, yah?!”
Danang kembali menggelitik Paman Greg sampai matanya benar-benar terbuka dan kesadarannya kembali sepenuhnya.
Paman Greg pun tertawa terbahak-bahak karena geli. Matanya terbuka sepenuhnya.
“Aduh, aduh, aduh!” sahutnya sambil terbahak-bahak.
“Bangun, g****k! Bukan aduh, aduh!” teriak Danang.
Paman Greg terkejut. Ia baru menyadari kehadiran Danang.
“Bang! Sejak kapan ada di sini, Bang?!”
“Dari tadi! Gua bingung cari cara buat bangunin, Lu!”
Paman Greg terkekeh-kekeh. “Tapi sekarang udah tau, ya, Bang? Berarti Abang adalah orang kedua!”
“Siapa yang pertama?!”
“Ferdi, Bang!”
Danang mengangguk-angguk. ‘’Kebetulan! Kedatangan gua ke sini mau nanyai tugas yang gua kasih. Gimana hasilnya?”
Wajah Paman Greg mendadak murung. “Beres, Bang! Gua anterin Ferdi sampe rumah. Gua kasian liat Farid. Gua gak tega, Bang!”
“Lu masih kasian sama orang yang udah hianatin, Lu? Bahkan dia hampir membunuh, Lu!”
“Iya, Bang. Gua gak nyangka sama dia. Padahal gua pikir dia baik sama gua. Malah sebaliknya.”
“Untung, Lu gua kasih tau! Kalau enggak, Lu bisa mati!”
“Iya, Bang. Makasih, Bang! Ternyata selama ini dia mau nyelakain gua. Daim-diam dia bersekongkol sama polisi yang berada dekat rumahnya. Mereka mau menghancurkan organisasi kita, Bang! Dasar b******k!” sahut Paman Greg kesal.
“Yaudah. Lu sekarang tidur lagi aja. Gua datang ke sini Cuma mau nanyain perintah gua!” pungkas Danang sambil pergi meninggalkan Paman Greg sendirian di rumahnya.
Benar saja. Paman Greg kembali tidur di atas kasurnya. Sedangkan Danang pergi meninggalkannya.
Danang pegi menggunakan motornya ke suatu tempat yang cukup jauh. Nampaknya, ia hendak pergi ke rumah Dinar. Di sebuah desa terpencil yang ada di Bogor. Ia menempuh perjalanan kurang lebih selama empat puluh menit. Saat itu, ketika ia tiba di rumahnya yang sangat megah. Dinar sedang berada di lantai atas di kamarnya.
Rumahnya dilengkapi dengan sistem keamanan yang sangat ketat. Semua barang yang ada di rumahnya terhubung ke dalam satu monitor yang ada di kamar Danang. Rumah itu ia beli sendiri dengan uang yang ia punya.
Sesampainya Danang di rumah Dinar. Ia langsung menghubunginya.
“Gua di depan rumah!” katanya sambil menelpon.
“Oke!”
Pagar pun terbuka dengan sendirinya. Setelah itu, pintu depannya juga terbuka. Pokoknya, ke mana pun Danang ingin pergi, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Karena sistem yang Dinar buat sudah memferifikasi kedatangannya.