Bab 2. Mengundurkan Diri

2707 Words
Rumah menjadi tempat ternyaman bagi Ayesha. Meski hidup sederhana dan apa adanya, rumah menyimpan banyak kenangan masa kecil bersama almarhum kedua orang tuanya. Ayesha Syaquilla menghabiskan usianya untuk belajar di pondok pesantren sejak berusia 6 tahun hingga lulus setingkat Madrasah Aliyah. Setelah itu, ia mendapat beasiswa kuliah di Mesir mengambil jurusan yang sama. Selama itu pula, ia sudah terbiasa hidup mandiri. Ketika almarhum ayahnya tiada, Ayesha masih mengemban pendidikan di Mesir. Dia kembali ke tanah air dalam keadaan ayahnya telah dikebumikan. Begitu juga kejadian dan kondisi yang sama ketika ibundanya tiada. Namun, terakhir kali ketika ibundanya wafat, Ayesha telah mengurus semua berkas kepulangan. Ia memutuskan untuk menetap di Indonesia dan meneruskan usaha toko bunga almarhumah sang ibunda. Adalah keadaan sulit ketika Ayesha tidak menyaksikan kepergian kedua orang tuanya bahkan tidak sempat mengecup wajah mereka. Meski keluarga dari almarhum kedua orang tuanya masih memperhatikan dirinya, tapi Ayesha tetap saja merasa hidup sebatang kara. Pilihan untuk mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Ar-Rahman supaya dirinya tidak perlu bekerja jauh dari rumah dan toko bunganya. Jarak yang ditempuh hanya 15 menit saja. Selain itu, Ayesha tidak ingin keluar dari lingkungan perkampungan. Ia hanya ingin membatasi langkah kaki dan pandangan sesuai pesan dari almarhum sang ayah. Sayang sekali, Madrasah yang selama ini membuatnya nyaman justru menjadi tempat pertama yang dibenci. Ayesha tahu bahwa Madrasah tersebut tidak salah, yang salah hanya salah seorang saja. Namun, begitulah perasaan tidak bisa dibohongi. Dilema dalam menentukan pilihan, antara resign atau bertahan. Namun, hati Ayesha masih tidak terima kalau dituding sebagai wanita Muslimah yang tidak beretika dan beradab, apalagi dicap berniat menggoda. Sebenarnya, Ayesha masih tidak percaya jika Khalid, anak dari pria yang dihormati dan disegani bisa bersikap seperti itu kepada guru yang mengajar di Madrasah mereka. Dia memang berstatus guru honor biasa dan baru beberapa bulan mengajar, tetapi ia tidak melupakan sikap professional dalam bekerja. Termasuk membedakan sikap ramah ketika berhadapan dengan rekan satu profesi dan siswa-siswi. *** Selama semalaman suntuk, Ayesha membereskan semua berkas yang berhubungan dengan tanggung jawabnya di Madrasah. Dia akan menyerahkan semua pekerjaan itu dan mengalihkannya kepada teman yang dipercaya. Entah diterima atau tidak, tetapi Ayesha sudah bulat dengan keputusannya. “Assalamu’alaikum, Ustadzah. Tumben pagi sekali Ustadzah sudah datang?” tanya salah satu rekan kerjanya yang selama ini menjadi teman dekatnya. “Wa’alaikumussalam. Eh, Bu Novi. Iya nih, mau langsung ngantar surat pengunduran diri ke Ustadz Khalid. Bu Novi sudah sarapan?” Ayesha berbalik tanya sambil tersenyum. “Alhamdulillah sudah, Ustadzah. Tapi, saya masih belum percaya kalau Ustadzah buat keputusan ini. Padahal baru kemarin serah terima jabatan Ustadzah Khalid gantiin posisi Buya Hamzah. Apa gak nunggu satu minggu dulu, Ustadzah?” tanya Novi dengan wajah sedih. Ayesha tersenyum. “Tidak bisa, Bu Novi. Saya takut mepet waktunya. Jadi, lebih baik dari sekarang aja. Lagian, Ustadz Khalid pasti tidak mungkin langsung baca ‘kan, Bu. Sambil nunggu disetujui, saya nanti mau ngabisin waktu terakhir sama anak-anak,” jelasnya. Novi langsung mendekati Ayesha dengan mata berkaca-kaca. “Ustadzah, kok saya jadi sedih. Coba Ustadzah cerita sama saya. Apa ada guru yang tidak suka sama Ustadzah di sini? Atau apa ada anak yang nakal?” Ayesha menerima pelukan dari Novi. “Tidak ada kok, Bu. Semua guru-guru di sini baik semua. Anak-anak juga saleh dan salehah semua, insya Allah. Tapi ini memang keputusan saya sendiri karena ada hal yang gak bisa saya jelasin.” “Assalamu’alaikum, Ustadzah, Bu Novi. Kok saya dengar ngabisin waktu terakhir? Ada apa ini, Ustadzah?” tanya seorang pria masuk ke dalam ruangan guru. “Wa’alaikumussalam,” jawab mereka berdua kompak. “Ini, Pak. Ustadzah Ayesha mau mengundurkan diri hari ini.” “Hah? Saya gak salah dengar, Ustadzah?” Ayesha tertawa geli sambil mengambil berkasnya di sana. “Biasa aja lah, Pak. Kayak denger berita yang aneh aja,” sahutnya. “Tapi ini serius atau bercanda aja, Ustadzah??” Kakinya melangkah menuju pintu ruangan. “Ya seriuslah, Pak. Ini saya mau ngantar berkas ke ruangan Ustadz Khalid. Kira-kira Beliau sudah datang belum ya, Pak?” Salah seorang guru wanita masuk ke dalam ruangan sambil menjawab, “Sudah, Ustadzah. Itu mobilnya baru aja masuk parkiran.” “Oh, alhamdulillah. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu, Pak. Soalnya pagi ini udah janji mau belajar di Musholla sama anak-anak.” “Oh, iya-iya, Ustadzah. Silahkan, Ustadzah.” “Iya, Ustadzah. Semoga Ustadz Khalid menolak surat pengunduran dirinya.” “Hehh … kok malah gitu doanya, Bu Novi? Ayo, aminkan!” “Owalah, Buk. Yaudah, kita sama-sama aminkan saja ….” “Ammiinn ….” Semua orang tertawa dan menjadikan niat serius Ayesha sebagai candaan. Mereka berharap Ayesha tidak mengundurkan diri dan mengurungkan niat. Sebab sejak kehadiran Ayesha, Madrasah ini semakin maju dalam menjalin silaturrahmi bersama Madrasah lain dalam satu Provinsi. Setelah kepergian Ayesha, guru-guru membicarakan keputusan guru terbaik di Madrasah mereka. Tidak sedikit pertanyaan dan pernyataan mengenai kemungkinan salah satu guru menyakiti hatinya atau ada orang tua anak murid yang mungkin merendahkannya. Ayesha berlalu dari ruangan guru sambil melebarkan senyuman. Hatinya yang sempat sedih mendadak bahagia sementara. Semua pendidik di sini sangat baik dan ramah. Hanya saja, kondisi hatinya sudah tidak memungkinkan lagi mengajar di sini. “Gak apa-apa. Rezeki sudah diatur Allah. Mungkin akan ada rezeki lain setelah ini. Atau nanti nerima undangan kajian aja. Siapa tahu ada yang memintaku untuk ngisi ceramah,” batinnya berharap sambil menatap langit biru. Ayesha sengaja duduk di kursi yang terletak di depan ruangan Khalid sambil membaca doa Al-Insyirah dalam hati. Ia berharap pria itu segera menyetujui surat pengunduran dirinya supaya dirinya tidak lagi pergi ke Madrasah dan menyimpan luka lebih lama. “Tidak ada kesukaran melainkan Engkau akan memberikan kemudahan ya Allah. Berilah aku kekuatan melewati ujian-Mu di dunia ini,” gumamnya dalam hari sambil menghela napas panjang, menyeka ujung mata yang hendak menitikkan buliran bening. Terdengar sapaan salam dari anak-anak terhadap sosok berkemeja batik coklat berjalan melewati ruangan demi ruangan. Ayesha segera berdiri untuk menghormatinya. Tahu bahwa Khalid menatap tajam dirinya dari kejauhan, Ayesha segera menundukkan pandangan. Sekali lagi, hatinya berusaha ikhlas dan tidak mau menyimpan dendam sedikit pun. Hentak kakinya semakin jelas terdengar. Ayesha segera menyapa, “Assalamu’alaikum, Ustadz.” “Wa’alaikumussalam.” Khalid berhenti sambil memperhatikan sekitar mereka. “Taruh saja di meja kerja, nanti saya periksa.” Ayesha mengangguk. “Iya, Ustadz.” Ia masuk ke dalam ruangan setelah Khalid masuk lebih dulu. Dia pikir, apakah Khalid sudah tahu mengenai keputusannya untuk mengundurkan diri. Khalid mencuci tangan di wastafel sambil melirik Ayesha masih berdiri di sana. “Tidak perlu ditunggu. Kau bisa mengambilnya setelah jam sekolah selesai,” titahnya sambil mengeringkan tangan dengan tissue. Hatinya sudah mantap. Ayesha harus menegaskan supaya semua urusannya segera selesai. “Maaf, Ustadz. Kalau diizinkan, saya mau menjelaskan tanggung jawab yang saya emban selama mengajar di sini.” Kening Khalid mengerut seketika. Seperti ada yang aneh dengan kalimat yang dilontarkannya barusan. “Maksud kamu?” Sambil tersenyum tipis, Ayesha membuka satu dokumen berwarna merah. “Ini beberapa tanggung jawab yang Buya Hamzah tugaskan kepada saya selama ini, Ustadz. Saya sudah berbicara kepada Bu Novi. Beliau bersedia menerima tanggung jawab saya setelah saya keluar dari sini. Dan …,” papar Ayesha seketika menghentikan ucapan. Kemudian, ia menyodorkan amplop putih berisi surat penting. “Ini surat pengunduran diri saya, Ustadz.” Khalid memperhatikan sikap Ayesha sejak awal mengucap salam sampai ia menjelaskan berita yang membuatnya terkejut. Wanita ini tidak membalas tatapannya sedikit pun. “Surat pengunduran diri?” Ia langsung duduk di kursi kebesaran sambil membaca isi dokumen di sana. Ingatannya kembali mengulang kejadian pagi kemarin. Mungkinkah Ayesha sakit hati atas perkataannya sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri, pikirnya. “Kau mau mengundurkan diri?” tanyanya sambil membuka amplop putih di sana untuk melihat alasan Ayesha dalam surat tersebut. “Iya, Ustadz.” Ayesha berusaha menjaga jarak dari meja. “Silahkan duduk.” “Terima kasih, Ustadz. Saya hanya sebentar saja di sini.” Khalid melirik Ayesha sekilas lalu membaca isi surat pengunduran diri tersebut. Alasannya karena dia harus beristirahat untuk memulihkan kesehatan. Hati Khalid merasa kalau alasan ini hanya sekedar alasan semata. Dia melipat kembali surat pengunduran diri itu, lalu merapikannya ke dalam amplop semula. “Apa kau sakit hati atas ucapanku kemarin?” Ayesha terdiam sesaat mendengar pertanyaan Khalid. Sikap diamnya kembali direspon pernyataan oleh pimpinan baru Madrasah. “Begini, Ustadzah Ayesha—” “Maaf saya menyela, Ustadz. Panggil saja saya Ayesha.” Khalid menghela napas berat sambil mengangguk. “Ah, baiklah. Begini, Ayesha. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu, tapi ketahuilah saya hanya mengingatkan saja. Dan … kemarin saya sedikit lelah, jadi saya khilaf mengatakan itu kepadamu.” Ayesha tersenyum tipis. Dia tahu bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan memang tempatnya berbuat khilaf. “Tidak, Ustadz. Saya yang salah. Tidak seharusnya saya lancang masuk ke ruangan Anda. Saya tahu kalau Buya Hamzah akan digantikan oleh Anda, seharusnya saya mengerti bahwa peraturan akan berubah dan tidak akan sama. Tapi mengenai pengunduran diri saya, ini murni karena saya ingin beristirahat untuk memulihkan kesehatan saya,” jelasnya tersenyum sambil menjaga pandangan. Khalid mulai bingung. Dia baru saja duduk jabatan menggantikan posisi sang Buya, tetapi satu guru justru mengundurkan diri. Apa yang akan ia katakan kepada sang Buya dan beberapa guru lain nantinya. “Mengenai alasan ini, Anda boleh beristirahat sampai kondisi kesehatan Anda membaik, Ustadzah. Dan tidak perlu memakai surat pengunduran diri. Sebaiknya Anda ambil kembali surat ini. Saya akan menyuruh Pak Imran untuk membantu biaya pengobatan Anda.” Ayesha tersenyum lalu menatap Khalid. “Terima kasih atas kebaikan Anda, Ustadz. Tapi Anda tidak perlu repot-repot. Keputusan saya sudah bulat mau mengundurkan diri. Saya tidak tahu kapan bisa mengajar kembali, tapi saya mau fokus sama kesehatan untuk sementara waktu. Saya harap Ustadz memaklumi alasan saya.” Khalid terdiam sesaat. Terbesit perasaan bersalah atas sikapnya terhadap Ayesha, tapi dia merasa sudah bersikap benar kemarin. “Baiklah, saya akan menyetujuinya. Tapi, beritahu anak-anak mengenai keputusan Anda agar tidak ada tanda tanya besar di benak mereka.” “Baik, Ustadz. Rencananya hari ini saya memang mau memberitahu mereka. Mungkin hanya beberapa kelas saja. Selebihnya, biar mereka tahu dari teman-temannya yang lain atau dari guru-guru.” Bahasa tubuh Ayesha mengisyaratkan rasa takut. Tapi apa yang dia takuti, pikirnya. Padahal, dia tidak bersikap kasar dan tidak berbicara dengan nada tinggi. “Kalau begitu, saya permisi mau masuk kelas, Ustadz.” “Ah ya, silahkan.” Khalid mengayunkan tangan ke arah pintu ruangan. “Assalamu’alaikum, Ustadz.” “Wa’alaikumussalam.” Kepergian Ayesha menimbulkan tanda tanya besar di hati Khalid. Terlebih ia masih mengingat jelas kejadian kemarin siang, Ayesha mempersilahkan supirnya untuk beristirahat dan duduk di dalam toko. Terbesit rasa penasaran di benaknya, ia pun mencari tahu mengenai riwayat hidup Ayesha. Khalid membongkar lemari dan mencari berkas mengenai Ayesha. Setelah menemukannya, ia membaca berkas tersebut dengan teliti. Di Musholla Madrasah, Ayesha biasa melakukan banyak permainan guna memperkuat hapalan surah-surah pendek. Anak-anak duduk tertib sambil mendengarkan guru mereka berbicara. “Oke, sebelum masuk ke dalam permainan, Ustadzah mau tanya sama kalian semua. Apakah kalian senang kalau Ustadzah menjadi guru kalian?” “Senang, Ustadzah!” “Tentu saja senang, Ustadzah! Karena Ustadzah cantik!” Anak-anak kompak menjawab dengan jawaban yang membahagiakan hatinya. “Kalau kalian senang, coba dengar pesan Ustadzah. Tenangkan hati, baca Bismillah dalam hati, baca shalawat dalam hati, lalu dengarkan Ustadzah baik-baik,” tuturnya sambil tersenyum. Hening selama beberapa detik, ia memberi kesempatan untuk para murid melakukan apa yang ia perintahkan. “Waktu lalu, kalian sudah belajar mengenai cara Rasulullah dan Sayyidah Khadijah berdagang. Sudah dijelaskan oleh Ustadz lain, benar?” “Sudah, Ustadzah!” “Nah, sekarang Ustadzah hanya mau menambahkan sedikit saja dan kalian harus ingat, karena ilmu ini penting bagi seorang pedagang atau pengusaha supaya usahanya laku di pasaran.” Para murid sangat menghormati Ayesha yang duduk di hadapan mereka. “Ada suatu cerita, seorang pedagang mempunyai kualitas dagangan yang bagus. Bisa dibilang, dagangannya seharusnya laku keras di pasaran. Selain harganya terjangkau, kualitas bagus, dan ada bonus kalau mau diajak kerja sama.” Ia berbicara sambil menatap lekat murid-murid satu persatu demi mengambil perhatian penuh supaya mereka tidak merasa bosan. “Tapi, beberapa pedagang lain heran ngeliat dagangan si Fulan kok tidak laku-laku. Jadi, tetangga si Fulan ini bertanya dong sama si Fulan. Hey, Fulan. Kami perhatikan, kenapa daganganmu sepi? Padahal kualitas barang-barangmu bagus. Bangunan tokomu juga bagus. Tapi lihat si Fulan yang di sebelah sana, tokonya usang tetapi dia laris manis. Apakah ada yang salah dengan tokomu?” Senyuman manis tidak berhenti terpatri di wajah Ayesha. Ia masih melanjutkan ceritanya. “Akhirnya, si Fulan ini merasa penasaran. Dia pun menjumpai pedagang yang katanya, tokonya usang tapi laris manis. Sudah begitu, Fulan bertanya kepada si pemilik toko di saat tokonya sudah mau tutup. Si Fulan bertanya, Fulan bin Fulan, aku mau bertanya padamu. Silahkan, jawab si yang punya toko.” Anak-anak tampak serius mendengarkan cerita dari sang Ustadzah kesayangan. “Nah, setelah mereka berbincang panjang lebar. Barulah si Fulan ini menyadari kesalahannya dalam berdagang. Kalian tahu apa salahnya?” Semua murid lantas menggelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu. Ayesha langsung tersenyum. “Karena si Fulan ini tidak ramah. Dia tidak murah senyum, dia tidak memperlihatkan sikap dan wajah yang bersahabat kepada pengunjung yang berlalu lalang di pasar. Dan dia juga tidak berusaha akrab dengan calon pembeli yang sedang bertanya-tanya mengenai dagangannya. Nah, jadi kita bisa mengambil pelajaran dari si Fulan ini.” Ayesha lantas berdiri sambil merapikan gamis panjangnya. Ia memegang sebuah buku. “Anggap buku ini adalah bunga yang saya jual setiap hari. Kalau saya mau bunga saya laku dan pembeli saya balik lagi, tentu saya harus bersikap ramah sama semua pembeli. Baik pembelinya itu laki-laki atau perempuan.” Lalu, seorang anak menyahut. “Tapi ‘kan ada batasan antara laki-laki dan perempuan, Ustadzah! Kami sebagai wanita harus menjaga pandangan dari laki-laki!” Ayesha semakin melebarkan senyuman kala mendapat respon. “Itulah yang mau Ustadzah sampaikan pada kalian. Kita semua tahu kalau Sayyidah Khadijah RadhiyAllahu ta’ala anha adalah seorang pedagang yang sukses di zamannya. Semua orang hormat pada Beliau. Lalu, apakah Beliau hanya menerima kerja sama dari kalangan wanita saja? Tentu saja tidak. Beliau juga menerima pria yang mau mengambil modal dari bisnisnya. Lantas, bagaimana mungkin semua orang senang melihat kepribadian Beliau?” Anak-anak mengangguk paham. “Itu karena Beliau orang yang ramah dan taat ibadah. Jadi, walau disegani oleh masyarakat, semata-mata tidak membuat Beliau sombong. Karena Beliau ramah dan bersahabat yang menjadikan Beliau sebagai orang sukses di kalangannya. Jadi, keramahan Beliau ini terbawa sampai di lingkungan sekitarnya. Setiap kali bertemu dengan siapa pun, Beliau ramah. Menebarkan senyuman, bertanya kabar, atau memberi sesuatu untuk menjaga silaturrahmi dan memberikan kesan baik.” “Jadi, walaupun kita berdagang, kita tetap boleh ngomong sama lawan jenis ya, Ustadzah?” “Tentu boleh. Kita ‘kan berdagang untuk mencari rezeki dari Allah. Yang penting, kita tetap berdagang sesuai dengan syariat Agama. Jadi, seorang wanita boleh ramah asal ada faktor yang diharuskan, contohnya seperti berdagang. Di luar berdagang, seorang wanita wajib menjaga marwahnya.” Ia memberi pengajaran dengan sikap dan bahasa yang tenang serta mudah dipahami. Beginilah yang selalu dilakukan Ayesha dalam memberi makna kehidupan kepada anak-anak, agar mereka paham. “Dan satu lagi, ketika kita mendapat keramahan dari seorang wanita, bukan berarti wanita itu tidak mempunyai harga diri. Tetapi karena dia sudah terbiasa bersikap ramah sama semua orang. Jadi, Ustadzah ingatkan sekali lagi, kita tidak boleh suudzhon sama seseorang. Siapa pun dia. Karena sifat suudzhon sangat dimurkai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Paham sampai di sini?” “Paham, Ustadzah!” “Paham, Ustadzah! Nanti kalau sudah besar, saya mau jadi pedagang sukses seperti Sayyidah Khadijah!” “Saya juga mau sukses dunia akhirat seperti Rasulullah!” Ayesha bahagia karena anak-anak bisa mencerna nasihatnya. Sejak awal mengajar, Ayesha memang tidak pernah memberi pelajaran berat untuk anak-anak. Materi yang ia bawa hanya seputar kehidupan bermasyarakat yang berprinsip pada Tauhid. Selama proses mengajar, ada seseorang yang mendengarkan ceramah Ayesha secara diam-diam dari luar Musholla. Namun, pesan terakhir Ayesha sontak menyindir dirinya. Setelah ia tahu siapa Ayesha, latar belakang pendidikan, serta keluarganya, Khalid mulai merasa bersalah. “Apa kau mengundurkan diri karena sakit hati dengan ucapanku?” Ia berdiri di depan pintu dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. “Ustadz Khalid?” “Astagfirullahal’adzim!” Suara terkejut Khalid terdengar oleh mereka yang berada di dalam Musholla. “Siapa di sana?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD