Bab 10

1049 Words
Tidak ada satupun panggilan masuk maupun pesan yang dibalas Syakila. Ia sengaja melakukan itu semua karena merasa tidak memiliki urusan lagi dengan orang-orang yang telah mengambil keputusan secara sepihak. Ia menganggap dirinya kini menjadi anak buangan tanpa kedua orang tua. Dengan diam dan acuhnya saat ini Syakila berharap semua orang paham, disini ia tidak bersalah. Disini ia hanyalah korban dari seorang sahabat yang katanya ingin hidup bahagia tanpa tekanan. Udara segar dari pepohonan yang tersusun rapi di hadapannya, berhasil memenangkan hati Syakila. Seraya duduk di sebuah kursi yang sengaja diarahkan ke jendela. Disana Syakila duduk. Meluruskan kaki dan menyandarkan punggungnya. Tatapannya terarah ke susunan pohon. Sungguh hal yang belum pernah dialami seumur hidupnya. Syakila tidak pernah menyangka bisa menikmati pemandangan yang sangat indah seperti sekarang. Pemandangan yang memanjakan mata dan menyegarkan paru-parunya. "Kamu ini tuli atau apa, Sya? Puluhan panggilan masuk ke nomormu, kenapa tidak ada satupun yang kamu angkat?" cecar Alvin. Tanpa izin masuk ke kamar yang ditempati Syakila, dan mencecarnya dengan pertanyaan. Syakila memejamkan matanya dengan kuat. Baru saja ia mendapatkan ketenangan, Alvin sudah datang mengacaukan. "Ya, aku tuli. Tapi, itu lebih baik daripada orang yang tidak memiliki sopan santun sepertimu. Seenaknya masuk kamar orang lain tanpa izin sama sekali. Marah-marah tidak jelas karena aku tidak mengangkat panggilan, yang merupakan urusan pribadi. Pantaskah itu?" balas Syakila. Memang suaranya sangat datar dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi, tetap saja Alvin bisa merasakan Syakila marah atas apa yang dilakukannya. "Ini rumahku. Tidak ada yang bisa melarang, kemana pun aku pergi. Termasuk keluar masuk kamar yang kamu tempati ini," kilah Alvin, yang tidak mau disalahkan Syakila dalam hal ini. Sedari tadi kedua orangtuanya dan Syakila menghubungi untuk bertanya keadaan mereka, membuat Alvin jengah. Pasalnya ia sedang berbicara dengan Rachel, yang kini menangis sesenggukan karena ditinggalkan. Alvin yang tidak tega mendengar Rachel menangis tentu saja merasa risih dengan panggilan masuk antrian, dan spam chat yang masuk. Ia kesal sehingga masuk tanpa izin ke dalam kamar yang ditempati Syakila. "Ah, ya, lupa ini rumahmu. Aku lupa disini aku hanya menumpang hidup.. Maaf untuk itu," tutur Syakila pelan. Bangkit dari tempat duduknya dan meraih koper yang masih utuh di depan ranjang. Dengan santai ia membawa koper tersebut keluar dari kamar. "Astaga anak ini," keluh Alvin, menyusul langkah Syakila yang mulai menjauh. Bahkan kini gadis itu sudah sampai di ambang pintu utama. "Sya! Jangan mencari masalah denganku!" sergah Alvin dari kejauhan. Agar Syakila segera menghentikan langkahnya. "Apa? Mencari masalah?" Syakila menoleh. "Aku tidak salah dengar?" "Ya, kamu mencari masalah denganku. Pergi begitu saja tanpa permisi sama sekali? Kamu pikir aku ini apa, hah? Dan lagi, kamu mau pergi kemana? Nanti hidupmu terlunta-lunta dan malah aku yang disalahkan oleh kedua orang tuamu," tutur Alvin, meraih koper dari tangan Syakila. Syakila tersenyum tipis. "Aku hanya mengikuti apa yang kamu katakan jadi wajar saja kamu yang harus tanggung jawab. Kamu lupa, beberapa detik yang lalu telah mengusirku secara halus?" "Kapan aku mengusirmu?" tanya Alvin dengan kedua alis yang bertaut. "Baru saja. Dengan masuk sembarangan ke kamar yang aku tempati dan mengatakan jika ini adalah rumahmu. Jadi kamu bisa keluar masuk di mana pun di rumah ini. Dan itu sama saja dengan mengusirku secara halus, karena aku tidak pernah suka ada orang lain yang seenaknya keluar masuk ke kamar yang aku tempati. Meskipun statusku disini hanya menumpang hidup," terang Syakila. Gadis itu mengeluarkan peraturan yang telah biasa ditetapkannya sedari kecil dulu. Tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya, tanpa izin. Meskipun orang tuanya sekalipun. "Oke. Kalau memang itu membuatmu tersinggung. Maaf, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Sekarang kamu kembali ke kamar dan terima panggilan dari kedua orang tuamu. Agar aku bisa melakukan apa yang harus aku lakukan." "Aku akan kembali ke kamar. Dengan segala hormat aku meminta agar ini tidak lagi terulang untuk yang kedua kalinya. Dan untuk kedua orang tuaku, cukup sampaikan kepada mereka aku baik-baik saja. Katakan juga aku akan menghubungi jika mood ku sudah membaik," tutur Syakila untuk yang terakhir kalinya. Membuat mulut Alvin terbuka lebar karena ucapan Syakila yang begitu tegas tak terbantah. "Bisa-bisanya aku menikah dengan gadis yang bentuknya begitu," keluh Alvin, mengusap wajahnya dengan kasar. Bukannya mendengar apa yang diucapkannya, Syakila malah balik memintanya untuk menerima panggilan kedua orang tuanya. Benar-benar sangat mengesalkan bagi Alvin yang tidak suka diatur oleh orang lain. Mau atau tidak, Alvin harus menghubungi kedua orang tua Syakila dan mengabarkan bagaimana keadaannya disini. Seandainya kedua orang tua Syakila banyak bicara, sepertinya Alvin harus mencari cara agar bisa mendapatkan kabarnya dalam bentuk video saja. "Tuan, maaf. Bukankah sebelum pulang kemarin Tuan mengatakan saat kembali akan membawa istri? Lalu kenapa …?" tanya seorang wanita paruh baya, yang telah bekerja dengan Alvin semenjak rumah tersebut ditempati. Sebagai asisten rumah tangga yang sangat dipercaya Alvin, dan telah dianggap sebagai orang tua sendiri tentu saja hanya dirinya yang memiliki keberanian untuk bertanya. Pasalnya yang lain ingin tahu tapi, tidak berani mengungkapkan. Mereka hanya saling sikut dan berbisik saat melihat Alvin datang bersama seorang gadis, tapi terlihat tidak saling akur. Bahkan mereka berdua sempat beradu mulut, sebelum sang gadis kembali ke kamar tamu. Melihat bagaimana interaksi Alvin dan Syakila tentu saja tidak akan ada yang percaya jika mereka adalah pasangan suami-istri. Bukan hanya itu, di tengah rumah ada foto Rachel yang terpajang di sebuah dinding. Berukuran sangat besar, dan selalu disebut album sebagai calon istrinya. Dan tujuannya untuk pulang ke Jakarta, untuk mempersunting Rachel sebelum dibawa pulang ke Kalimantan. "Dia di kamar tamu, Bi. Pernikahanku berjalan tidak sesuai dengan yang aku rencanakan, sehingga istriku bukan Rachel. Tapi, aku juga tidak ingin menganggap gadis itu sebagai istri. Aku tidak mencintainya," tutur Alvin dengan wajah yang ditekuk. Ia juga segera beranjak ke kamar untuk menenangkan diri. Wanita paruh baya yang kerap disapa Bi Misbah tersebut hanya mengangguk. Meskipun belum paham apa maksud dari ucapan Alvin. Tapi, ia sudah tahu yang kini tinggal di kamar tamu adalah majikannya yang baru. Meskipun Alvin mengatakan tidak mencintai istrinya, tetap saja pernikahan mereka sah di mata agama dan hukum. Itu artinya istri Alvin adalah majikannya yang harus dihormati. Bahkan, demi sebuah tali pernikahan yang sangat suci, Misbah bermaksud untuk mencoba menumbuhkan benih cinta diantara mereka berdua. Tidak menutup kemungkinan percikan pertikaian diantara Alvin dan istrinya sangat kental terasa. Tapi, Misbah bisa melihat istri Alvin adalah wanita yang baik dan ramah. Bonus cantik dan berkulit putih, dengan tubuh mungil yang ramping.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD