"Bi, untuk makan siang nggak usah dibungkus. Nanti aku pulang untuk makan siang. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal yang penting, dan ada tamu penting juga dari Jakarta. Aku ingin menyambutnya datang, dengan jamuan makan siang," tutur Alvin seraya menghenyakkan bokongnya di kursi.
Pria itu tampak rapi dengan setelan jas berwarna maroon yang membungkus tubuhnya yang tinggi, dengan sedikit otot hasil dari olahraga di setiap akhir pekan.
Misbah hanya mengangguk. Alvin yang bisa disebut tidak pernah makan diluar, tentunya akan membawa tamu manapun untuk makan di rumah. Sejak Misbah bekerja dengannya ia sudah mengetahui jika Alvin tidak menyukai makanan cepat saji. Katanya tidak sehat untuk tubuh dan bisa membuat tubuhnya mengembang seperti balon.
"Bi, yang di kamar tamu sudah pernah bertemu belum?" tanya Alvin lagi, ketika menyadari tidak ada Syakila di meja makan. Ketika lewat tadi ia juga melihat pintu kamar tamu yang masih tertutup. Seakan di dalam sana tidak ada kehidupan apa-apa.
Misbah menggeleng. "Belum pernah, Tuan. Tapi, tadi pagi putra saya mengatakan tengah malam tadi keluar dari kamar dan meminta satu botol air mineral. Setelah itu, beliau kembali ke kamar dan belum keluar lagi hingga detik ini," terang Misbah. Menceritakan sesuai dengan apa yang dikatakan Vino, putranya tadi pagi.
Vino mengatakan sangat terkejut dengan sosok Syakila yang tengah membuka lemari pendingin di dapur. Gadis itu ternyata datang ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral. Karena tengah malam hanya ada Vino, maka dari itu kepadanya lah Syakila meminta.
"Hanya air mineral? Dan Bibi pun belum pernah bertemu dengannya? Itu artinya dia tidak makan malam?"
Misbah menganggukkan kepalanya. "Bibi sudah mengetuk pintu kamar beberapa saat setelah Tuan selesai makan malam. Akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali dari istri Tuan. Makanya semalam saya mengetuk pintu kamar Tuan, tapi tidak ada jawaban juga. Karena saya pikir Tuan dan istri lelah menjalani perjalanan jauh, makanya saya tidak mengganggu terlalu lama."
"Begitu, ya," gumam Alvin. Pandangannya tertuju pada pintu ruang makan, yang terletak di dekat kamar Syakila. Berharap gadis itu muncul dan ikut sarapan dengannya.
"Bibi bantu panggil istri, Tuan?"
Misbah menawarkan diri untuk menyeru Syakila ke kamarnya. Karena Alvin tidak kunjung memakan sarapannya, yang sedari tadi hanya diaduk dengan tatapan lurus ke depan.
Namun, Alvin menggeleng. "Biar aku saja, Bi. Syakila orangnya sangat keras kepala. Aku yakin dia tidak akan merespon apapun jika orang lain menyerunya," keluhnya. Sedikit merasa bersalah karena semalam tidak memeriksa dulu keadaan Syakila.
Semalam Alvin lebih mementingkan Rachel, yang terus menerus menghubunginya. Memohon, meminta Alvin datang untuk menjemputnya. Rachel ingin ikut ke Kalimantan untuk beberapa hari kedepan, agar bisa menenangkan diri dari patah hati karena Adrian, dan katanya patah hati juga karena pernikahan mereka yang batal.
Alvin satu malam ini sudah berusaha menolak, tapi Rachel tetap saja memaksa untuk ikut dengannya. Alhasil Alvin luluh dan memesan tiket untuk Rachel berangkat pagi ini. Itu sebabnya Alvin di kantor hanya setengah hari saja, karena harus menjemput Rachel di bandara. Jika tidak ada perubahan rencana, Rachel akan liburan bersamanya untuk satu minggu kedepan.
Dengan alasan menghilangkan suntuk dan menemani Syakila di sana. Sekaligus untuk meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya kepada Alvin. Cukup masuk akal, sehingga kedua orang tuanya melepaskan Rachel pergi. Padahal Ia pergi menyusul Alvin demi menghindari Adrian, yang tidak pernah berhenti mencari dirinya. Ia juga tidak ingin hubungan Alvin dan Syakila membaik jika tinggal bersama.
Usai sarapan, Alvin meminta Misbah menyiapkan sarapan untuk Syakila di atas sebuah nampan. Agar ia bisa membawakan sarapan untuknya, tanpa harus bersusah payah lagi pergi ke dapur.
Misbah segera menata sepiring nasi goreng dan segelas s**u hangat. Satu botol air mineral dan sepotong roti bakar dengan selai coklat di atasnya. Takut Syakila tidak menyukai makanan berat di pagi hari.
"Sya, buka pintunya!" seru Alvin dari luar, seraya mengetuk pintu kamar. Ia mengetuk dan menyeru dengan cukup keras agar Syakila terbangun dari tidurnya.
Namun, itu percuma saja karena Syakila tak kunjung membukakan pintu kamar. Alvin menarik nafasnya dalam-dalam. Tidak mengerti kenapa Syakila tidak mau keluar dari kamar. Padahal dari kemarin gadis itu cuma makan puding dan segelas jus alpukat di bandara. Setelah itu, tidak ada lagi makanan ataupun minuman yang masuk ke tubuhnya, selain air mineral yang dikatakan Misbah tadi.
"Sya …."
"Apa?" sahut Syakila malas. Membuka pintu kamar dengan wajah yang ditekuk.
"Buka pintunya dengan lebar, aku ingin masuk," ucap Alvin dengan mendorong pintu kamar yang hanya terbuka sedikit.
Syakila menggeleng. "Cepat katakan apa yang kamu inginkan?"
Bukannya membuka pintu seperti yang diminta Alvin, Syakila justru balik bertanya. Seakan menantang Alvin yang sudah bersusah payah menyeimbangkan nampan dengan satu tangannya.
"Aku tidak ingin apa-apa darimu. Aku datang untuk mengantarkan sarapan untukmu. Takutnya kamu malah sakit dan malah aku yang disalahkan oleh kedua orang tuamu."
"Tidak perlu khawatir untuk hal itu," tutur Syakila. "Aku bisa hidup dengan caraku sendiri dan berhentilah khawatir." Meraih satu botol air mineral yang ada di nampan. Hanya itu yang membuat Syakila tertarik di antara makanan dan minuman yang ada di tangan Alvin.
"Dua, kamu …?"
Alvin menggeram. Kesal karena sikap Syakila yang dinilai sangat berlebihan. Di matanya saat ini Syakila sengaja mengajak perang, padahal ia sudah mengalah dengan mengantarkan sarapan untuknya.
Namun, apa yang didapatkan? Syakila menolak mentah-mentah sarapan yang telah ia bawakan.
***
Misbah yang telah selesai dengan segala urusan dapur, segera menuju ke kamar Syakila. Memberanikan diri untuk mendekati pintu kamar Syakila yang masih tertutup rapat. Ia sangat khawatir dengan keadaan Syakila di dalam sana. Apalagi sebelum berangkat tadi Alvin memintanya membujuk Syakila agar mau keluar untuk makan. Karena dari kemarin siang Syakila belum pernah makan nasi.
Namun, tanpa diduga sama sekali saat Misbah ingin mengetuk pintu, Syakila sudah lebih dahulu membuka pintu kamar. Ia langsung mengulas senyum saat tatapannya bertemu dengan Misbah.
"Maaf, Nona. Saya tidak memiliki maksud untuk mengganggu atau …."
"Maaf, Bu. Kalau boleh, saya ingin meminta tolong untuk ditemani ke swalayan atau minimarket dekat sini. Saya ingin berbelanja sesuatu untuk kebutuhan sehari-hari," potong Syakila cepat, sebelum Misbah menyelesaikan ucapannya.
"Eh?" Misbah mengerjab. Kedua alisnya saling bertaut karena mendengar ucapan Syakila. Menemani berbelanja kebutuhan sehari-hari? Padahal ia adalah istrinya Alvin? Tidak masuk akal.
"Saya tidak bisa makan dari hasil jerih payahnya Alvin. Karena pernikahan kami hanyalah formalitas semata. Jadi, rasanya sangat tidak elok menumpang hidup pada orang yang bukan siapa-siapa. Dengan memberikan tumpangan disini, itu sudah sangat merepotkan," sambung Syakila, semakin membuat Misbah tidak mampu berkata-kata.
"Bu, maukan temani saya?"
Misbah yang tak kunjung memberikan jawaban membuat Syakila harus melambaikan tangannya. Agar Misbah terbangun dari lamunannya.
"Ah, ya, Non.. Saya akan temani." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi, sebelum pergi saya hubungi anak saya dulu. Karena rumah ini jauh dari jalan utama, jadinya kita tidak bisa berjalan kaki karena swalayan ada di ujung jalan ini. Setengah jam berjalan kaki, saya takut Nona kecapekan."
"Eem, baiklah kalau begitu. Kalau anak Ibu sudah datang panggil saya, ya, Bu. Saya mau siap-siap dulu," tutur Syakila sopan. Sebelum menutup kembali pintu kamarnya. Gadis itu bersikap seolah tengah menumpang tinggal dengan Alvin. Padahal Alvin mengatakan jika mereka adalah pasangan suami-istri.
Saat Syakila bersiap untuk pergi berbelanja seperti yang dikatakannya tadi, Alvin yang baru saja sampai keluar dari mobil tampak kebingungan saat Vino meminta izin untuk pulang ke rumah.
"Bukannya ibumu sudah selesai belanja mingguan?" tanya Alvin memastikan. Seingatnya tadi pagi Misbah sempat bercerita tentang bahan makanan yang baru diganti dengan yang baru saat tahu dirinya akan pulang.
Namun, kini Vino juga meminta izin untuk pulang sejenak karena sang ibu ingin pergi ke swalayan. Bagi Alvin tentu saja itu menjadi sebuah tanda tanya yang sangat besar.
"Benar, Tuan. Baru kemarin ibu berbelanja untuk menyambut kedatangan Tuan dan istri." Vino tampak ragu dalam menjawab pertanyaan Alvin. Bukannya takut atau apa, hanya saja ia juga tidak mengerti kenapa sang ibu mengatakan agar dirinya meminta izin untuk pulang sebentar karena ingin menemani istrinya Alvin untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Lalu? Apakah karena nanti siang ada tamu, sehingga ada barang yang ingin dibeli?"
Alvin mencoba menebak.
Vino menggeleng. "Bukan Tuan. Tapi, ibu ingin menemani istrinya Tuan berbelanja ke swalayan. Katanya ingin membeli bahan makanan untuk kebutuhan."
"Syakila? Astaga, entah apalagi yang akan dilakukan anak itu," keluh Alvin. Tidak paham bagaimana cara Syakila berpikir.
Semalam hampir lari hanya karena dirinya salah berbicara. Sekarang, ia minta ditemani untuk berbelanja bahan makanan. Padahal Syakila tinggal makan atau memasak bahan yang ada di dapur.
"Ya, sudah. Kamu pulang dan ikuti saja apa yang diinginkannya. Begitu selesai kamu segera kembali kesini karena saya ingin pergi ke bandara untuk menjemput seseorang."
Alvin yang tidak memiliki waktu untuk bertanya ini dan itu kepada Syakila, memilih mengalah saja dan membiarkan Vino untuk pulang ke rumah. Lagipula, Alvin tak pernah memiliki akses untuk berbicara langsung dengan Syakila.
Dan kini, bukan hanya Misbah yang tidak paham apa yang membuat Syakila meminta berbelanja. Vino pun sama.
Bahkan, pria berusia dua puluh delapan tahun itu juga merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Syakila. Gadis itu hanya diam, menatap keluar jendela mobil.
Sesampainya di swalayan yang dituju, Vino dan Misbah semakin kebingungan saja. Saat melihat Syakila yang mencoba memasukkan kartu debit ke dalam mesin ATM yang ada di depan swalayan. Dari kejauhan mereka berdua melihat Syakila marah kepada seseorang yang ada di ujung panggilan.
"Maaf, Sayang. Seluruh kartu debit dan kredit yang kamu miliki terpaksa dibekukan sampai kamu mampu menerima pernikahanmu dengan Alvin. Maaf kami …"
"Ayah tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Aku menghubungi hanya untuk memastikan apakah dugaanku salah atau tidak. Takutnya bukan Ayah orang yang melakukan hal setega ini padaku," potong Syakila cepat sebelum mengakhiri panggilannya.
Sedih? Tidak. Syakila tidak merasa sedih ataupun kecewa, karena ia yakin ini pasti akan terjadi. Sebagai hukuman lebih karena telah membuat pernikahan Rachel dan Alvin batal. Sekaligus sebagai care agar hubungannya dan Alvin bisa berjalan seperti rumah tangga yang lainnya.
"Bu, maaf. Bolehkah aku meminjam uang seratus ribu untuk membeli makanan di dalam? Sebagai gantinya saya akan menjaminkan ponsel ini kepada Ibu," ucap Syakila, menyentak Misbah dan Vino secara bersamaan.
Baru kali ini mereka berdua melihat istri seorang pengusaha muda yang tajir, menggadaikan ponselnya kepada asisten rumah tangga. Hanya demi uang seratus ribu, agar bisa berbelanja ke dalam swalayan. Benar-benar tidak masuk akal sama sekali.
"Pakai ini saja, Nona. Nanti saya bisa minta gantinya kepada suami Nona, jika memang tidak ingin berbelanja dengan uang kami."
Vino memberikan uang seratus ribu seperti yang diminta Syakila. Berharap tidak ada adegan gadai menggadai di antara mereka berdua.
Alih-alih menerima dengan percuma, Syakila malah mengganti uang tersebut dengan ponselnya. Membuat Vino gelagapan dan hilang akal. Tapi, Syakila sudah berlari masuk ke dalam swalayan, setelah menggadaikan ponselnya kepada Vino.
"Cepat hubungi tuan Alvin. Ceritakan apa yang nona lakukan. Kalau perlu, minta dia untuk pulang agar bisa berbicara dengan nona. Kasihan mereka. Ibu yakin ada yang tidak beres dengan pernikahan mereka berdua. Terlebih lagi, nona bukanlah wanita yang ada di foto itu," bisik Misbah kepada Vino.
Wanita paruh baya itu merasa ini sudah sangat berlebihan karena Syakila bersikap seperti orang lain. Bukan seperti istri yang dikatakan Alvin. Bahkan mereka tidur di kamar yang berbeda.