Satu setengah bulan berlalu, persiapan pernikahan Delya dan Janu masih banyak yang belum terselesaikan. Janu yang terus sibuk dan tak memiliki waktu luang, untuk menemani Delya menemui pihak wedding organizer, yang akan mengurus segala rangkaian acara pernikahannya nanti. Delya selalu memberi kabar pada Janu untuk bertemu, karena banyak hal untuk dibahas bersama, tetapi Janu selalu mengatakan dirinya lelah setelah seharian beraktifitas dengan segudang pekerjaan dikantornya.
Sore ini Delya berencana untuk mendatangi apartemen mereka, karena yang Delya ketahui jika hari libur, tunangannya itu lebih suka menghabiskan waktu di apartemen dibandingkan dirumah orangtuanya. Apartemen yang mereka beli bersama sejak satu tahun lalu, apartemen yang akan mereka tempati setelah menikah nanti. Wanita itu sedang bersiap-siap didepan cermin, memoles wajahnya agar terlihat lebih segar. Walaupun ia tetap terlihat cantik tanpa polesan makeup. Namun, karena akan menemui pria yang begitu ia cintai, membuatnya bersemangat untuk menunjukan penampilan terbaiknya.
Wanita cantik dengan dress selutut tanpa lengan, baru saja memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari dalam mobil dengan membawa paper bag berisi kue kesukaan tunangan tercintanya, yang sebelumnya ia beli saat di perjalanan tadi. Wanita itu berjalan menelusuri lorong apartemen setelah keluar dari lift, sampai ia berhenti didepan pintu apartemen yang sudah lama sekali tak ia kunjungi. Dibanding dirinya, Janu lebih sering berkunjung ke apartemen tersebut. Delya segera memasuki apartemen tersebut, karena ia juga memiliki card lock unit apartemen itu.
Pertama kali Delya memasuki tempat itu hanya ada rasa sunyi, namun ia mengetahui jika Janu ada disana. Karena tepat didekat pintu masuk tadi, ada sepatu milik tunangannya. Wanita itu meletakan barang bawaannya diatas sofa, kakinya terus melangkah menuju kamar utama. Ia berpikir jika Janu sedang tidur, oleh karena itu ia membuka pintu dengan perlahan. Delya tak mau mengganggu waktu istirahat Janu, karena tunangannya itu pasti sangat lelah karena selalu sibuk bekerja.
Tempat tidur berantakan adalah hal pertama, yang Delya lihat dalam kamar tersebut, baju berserakan dilantai dan wanita itu menyadari jika Janu tak sendirian disana. Karena Delya melihat dengan jelas ada sepatu, tas dan pakaian wanita didalam kamar itu. Wajah Delya seketika memanas, air mata sudah siap meluncur dari mata cantiknya. Tetapi Delya meneruskan langkah kakinya, ia semakin mendekati tempat tidur yang ada dikamar itu. Pandangannya terus berputar melihat satu per satu barang-barang milik wanita lain. Pakaian dalam yang juga tergeletak dilantai, Delya semakin bingung dibuatnya karena tak kunjung menemukan Janu dan orang lain yang ada bersama pria itu.
Sampai pada saat, Delya berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Terdengar suara gemericik air dari shower yang terus mengalir. Hatinya begitu sakit, dadanya sesak, kakinya terasa begitu lemas saat ia mendengar suara desahan seorang wanita yang terus menyebutkan nama tunangannya. Desahan demi desahan bersahutan dengan suara Janu, yang begitu ia kenali. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Kedua pipinya sudah basah oleh tangisnya yang sudah pecah. Suara penyatuan antara pria dan wanita semakin jelas terdengar oleh Delya saat suara gemericik air sudah tak terdengar lagi.
Pertahanan kaki wanita itu sudah tak kuat lagi, tubuhnya luruh ke lantai dengan perasaan yang begitu hancur. Dikhianati oleh pria yang begitu ia cintai, didalam apartemen yang mereka beli bersama untuk ditempati setelah menikah nanti. Tetapi, Janu menodainya dengan perbuatan yang sangat kotor. Membawa wanita lain, dan melakukan hubungan intim didalam kamar mereka, ditempat tidur yang sudah mereka siapkan, bahkan sampai kedalam kamar mandi tanpa mengenal lelah. Semuanya nampak jelas keduanya begitu menikmati kegiatan mereka didalam sana, karena suara mereka yang begitu semangat menikmati kegiatan untuk mencapai nikmatnya surga dunia.
Delya terhanyut dalam isak tangisnya, perasaannya begitu kacau saat ini. Ia tenggelamkan wajahnya diantara kedua kaki yang ia tekuk tepat didepan tubuhnya. Sampai ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Wanita itu menengadahkan kepalanya, melihat wanita cantik keluar hanya dengan handuk yang melilit tubunnya. Tatapannya turun dan melihat sebuah tangan melingkar dipinggang ramping wanita tersebut. Tangan yang sangat ia kenali, dengan cincin yang melingkar dijari manis pria itu. Cincin pertunangan mereka yang beberapa bulan lalu, sama-sama mereka sematkan untuk melangkahkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.
“Sayang, kamu ngapain disini?” tanya Janu panik, saat pria itu sudah benar-benar keluar melewati pintu kamar mandi. Ia melihat Delya dengan penampilan yang begitu kacau, mata yang sembab dan rambut yang berantakan. Wajahnya sudah begitu basah oleh air mata.
Sekuat tenaga Delya berusaha untuk berdiri, walaupun kakinya masih terasa begitu lemas. Namun, Delya tak ingin terlihat lemah disaat seperti ini. Bahkan wanita itu sedang merutuki dirinya sendiri dari dalam hati. Kenapa ia harus terlarut dalam tangisan, bukankah seharusnya ia pergi meninggalkan tempat ini. Janu membantu Delya untuk berdiri, namun secepat mungkin Delya menepis kedua tangan Janu yang ingin membantunya. Melihat kondisi saat ini, wanita yang baru saja rapi berpakaian segera pergi meninggalkan apartemen tersebut, setelah berpamitan pada Janu yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala.
Melihat wanita itu pergi, Delya keluar dari kamar itu menuju sofa. Merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, menghapus jejak air mata di wajahnya dan menyisir rambutnya yang sedikit kusut. Delya melangkahkan kakinya untuk keluar dari apartemen tersebut, namun Janu dengan cepat mencekal pergelangan tangan Delya.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Janu dengan suara bergetar. Pria itu takut jika Delya tak akan memaafkannya, karena sudah bisa dipastikan, jika tadi Delya mendengar segala kegiatannya didalam kamar mandi. Janu juga tak mengetahui, sudah berapa lama Delya berada disana.
“Mau pulang, Mas. Tolong lepasin tangan aku,” ucap Delya pelan namun tegas.
“Mas gak akan jelasin apapun sama kamu, Sayang. Tapi tolong, kamu jangan pergi dulu, Mas bener-bener minta maaf. Mas khilaf, sayang. Kamu percaya sama Mas, kan?” Janu memohon maaf pada Delya dengan suara bergetar. Tangannya yang menggenggam pergelangan Delya juga sudah berubah menjadi dingin.
“Mas, aku mohon biarin aku pergi sekarang. Mas memang gak perlu jelasin apapun ke aku, karna aku udah denger semuanya. Jadi, kali ini biarin aku sendiri Mas. Kasih aku waktu satu minggu, nanti aku yang akan temuin Mas untuk membicarakan kembali rencana pernikahan kita.” Delya melepaskan genggaman tangan Janu, lalu dengan yakin meninggalkan pria yang sudah menorehkan luka begitu dalam dihatinya.
Janu terpaku menatap punggung Delya meninggalkan dirinya, ia sudah begitu menyakiti wanita yang selama ini begitu mencintainya. Lebih sakit saat ia melihat paper bag yang berisi kue kesukaannya. Tunangan cantiknya itu, pasti sengaja datang untuk menikmati kue bersama dengannya. Akhir-akhir ini dirinya sangat sulit ditemui, dan sangat jarang memberi kabar pada Delya. Mungkin hal itu yang menyebabkan, Delya datang kesini hari ini, tak bisa dipungkiri jika Janu juga merasakan kerinduan teramat dalam pada Delya. Tetapi hasrat gilanya mengalahkan itu semua, sehingga ia malah menghabiskan waktunya hari ini bersama Kyla Kaili. Ya, wanita tadi adalah Kyla Kaili, adik kandung Keenan Kaili sahabat Janu sekaligus karyawan yang bekerja di perusahaan Delya. Pria yang sedang dekat dengan adik kandung Delya.
***
Delya menepikan kendaraannya tepat di depan pagar rumah Gibran, ia tak mengerti kenapa, saat ini dirinya sangat ingin menemui Gibran. Wanita itu mencoba untuk menghubungi Gibran, dan mengatakan jika dirinya ada didepan rumah sahabatnya itu. Setelah Gibran mengatakan akan segera keluar dan memutus panggilan teleponnya. Tiba-tiba saja air mata kembali membasahi wajah cantik Delya.
Gibran baru saja membuka pagar rumahnya, ia menghampiri mobil Delya namun sahabatnya itu tak kunjung membuka jendela mobilnya. Padahal Gibran ingin meminta Delya untuk memasukan mobilnya. Akhirnya pria itu memutuskan untuk berjalan ke sisi lain kendaraan tersebut. Saat mencoba membuka pintu mobilnya, benar saja tak terkunci. Gibran segera masuk kedalam mobil dan mendapati Delya yang sedang terisak dalam tangisnya, yang begitu memilukan bagi siapa saja yang mendengar.
“Del, kok lo nangis. Kenapa?” tanya Gibran panik, sahabatnya itu seketika berhambur memeluk tubuhnya. Delya semakin menangis pilu dalam pelukan Gibran, pria itu hanya membalas memeluk sahabatnya tanpa bertanya apapun lagi. Ia hanya akan menunggu sampai Delya akan menceritakan masalahnya.
Delya melepaskan diri dari pelukan Gibran, dalam isak tangis yang sesekali masih terdengar, wanita itu menceritakan semua yang sudah terjadi hari ini pada sahabatnya itu. Tanpa mengurangi atau melebihkan, Delya menceritakan hal terburuk yang terjadi selama ia menjalani hubungannya bersama Janu. Seketika rahang Gibran mengeras saat mendengar seluruh cerita Delya, ia tak menyangka Janu mampu menyakiti Delya seperti ini. Pengkhianatan yang sangat menyakitkan, Gibran sangat yakin jika Delya benar-benar terpukul kali ini. Wanita kuat yang selama ini ia kenal, seketika menjadi sosok yang rapuh.
“Apa yang bisa gue lakuin buat lo, Del?” tanya Gibran, saat Delya sudah selesai menceritakan semuanya. Ia memang memiliki perasaan lebih dari seorang sahabat pada Delya, tapi dirinya tak mungkin memanfaatkan keadaan ini. Gibran hanya bisa membantu menenangkan sahabatnya, memberi kekuatan dan keyakinan jika semuanya akan bisa terlewati. Selama bukan emosi yang menguasai hati dan pikiran, karena tidak akan menyelesaikan masalah jikan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.
“Gue gak tau, hubungan gue ke depannya harus seperti apa sama Mas Janu. Gue sakit hati, gue kecewa dan gue terluka, tapi gue masih sayang banget sama dia.” Lirih Delya.
“Kalo lo sayang sama dia, lo harus temuin dia, kalian bicara berdua dari hati ke hati. Tapi, gue minta jangan sekarang lo ngobrol sama dia, keadaannya masih sama-sama panas, gue takut emosi menguasai kalian berdua.”
“Kalo sampe pernikahan gue batal, gimana sama Ibu?” tanya Delya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Gibran.
“Kenapa Ibu?”
“Gue harus jelasin apa sama Ibu?”
“Maka dari itu, Del. Lo harus bener-bener tenangin diri lo dulu sekarang, lo harus pikirin langkah apa yang akan lo ambil. Semua keputusan ada di diri lo, kedepannya lo akan menjalani semuanya. Jadi, jangan pernah ambil keputusan sekarang. Lo udah makan?” Gibran bertanya karena melihat wajah Delya yang begitu pucat, dengan telapak tangan yang begitu dingin berada dalam genggamannya.
“Belum,” jawab Delya singkat, pikirannya masih terus berpikir keras akan seperti apa hubungannya dengan Janu kedepannya. Begitu banyak kemungkinan yang ia pikirkan, itu semua membuatnya semakin pusing.
“Masuk ke dalem yuk, kita makan. Nanti abis makan, gue anterin lo pulang.” Ajak Gibran.
“Gak mau ke dalem ah, malu. Muka gue kusut banget gini, pasti ada Om sama Tante didalem.”
“Ya udah, lo tunggu sini. Gue ambilin makanan ke dalem ya, nanti lo makan disini aja. Patah hati boleh, tapi lupa makan jangan. Apalagi kalo sampe sakit, gue marah sama lo.”
Mendengar ucapan Gibran, Delya hanya menganggukan kepalanya. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada kursi mobil, pikirannya melayang terus terbayang suara yang ia dengar dari wanita tadi saat bersama Janu. Melakukan kegiatan yang seharusnya, nanti ia lakukan bersama Janu setelah mereka resmi menjadi suami istri. Tetapi, Delya kembali berpikir jernih, tak ingin berlarut dalam kesedihan. Seperti yang dikatakan Gibran, semuanya akan bisa terlewati dengan mudah.
Gibran sudah kembali masuk kedalam mobil dengan sepiring nasi beserta lauk pauk dan juga sayur. Tak lupa, pria itupun membawa satu botol air mineral. Gibran menyodorkan makanan yang tadi ia bawa dari dalam rumah. Delya menerimanya, dan mulai memakannya perlahan. Perasaannya memang sangat hancur saat ini, tetapi ia tak boleh melupakan kesehatannya. Terlebih ia juga memiliki tanggung jawab besar terhadap perusahaan, masalah pribadinya tak boleh mengganggu kinerjanya esok hari.
Dengan setia Gibran menemani Delya, yang perlahan menghabiskan makanannya, pria itu terus menatap Delya. Ia merasa kasihan, namun tak bisa berbuat banyak, karena ia menyadari posisinya saat ini hanyalah seorang sahabat, yang tak bisa dengan sesuka hati ikut campur dalam hubungan Delya bersama Janu. Walaupun sebenarnya, Gibran sangat ingin menemui Janu saat ini, untuk memberinya pelajaran. Tapi keinginannya ia urungkan karena mengingat, perasaan Delya yang paling penting saat ini.
Delya sudah selesai dengan kegiatannya mengisi perut, wanita itu juga sudah meminum air yang dibawakan oleh Gibran. Wanita itu sangat bersyukur memiliki Gibran didalam hidupnya, karena Gibran adalah sosok sahabat yang baik, selalu berpikir tenang dalam menghadapi masalah. Delya berharap, jika bukan Janu, suaminya nanti adalah sosok pria seperti Gibran yang begitu lembut dan tenang.
Gibran kembali keluar dari dalam mobil, untuk menyimpan piring yang tadi dipakai Delya untuk makan. Setelah itu ia berniat mengantar Delya pulang kerumahnya, walaupun Delya membawa kendaraan sendiri, tapi Gibran tak mengijinkan untuk Delya mengendarai mobilnya. Ia akan mengantarkan Delya sampai kerumahnya, nanti dirinya bisa pulang kerumah naik taksi atau meminta Kakaknya untuk menjemput. Lagi pula rumahnya dan rumah Delya tak begitu jauh.
Gibran kini sedang mengendarai mobil Delya, pria itu memberikan kalimat yang mampu menenangkan perasaan sahabatnya. Gibran selalu mengatakan jika Delya beruntung mengetahui hal ini lebih cepat, karena akan jauh lebih menyakitkan jika kejadian hari ini terjadi saat Delya dan Janu sudah menikah. Delya mendengarkan semua pesan yang di ucapkan Gibran dengan baik. Sahabatnya ini memang sosok laki-laki terbaik yang ia kenal selain Ayah kandungnya. Bahkan, Janu sekalipun tak memiliki sifat seperti Gibran, padahal usia Gibran lebih muda dari dirinya dan Janu. Tapi, memang betul jika banyak orang yang mengatakan, kedewasaan seseorang tak bisa diukur dari usianya.
Mobil yang ditumpangi Delya dan Gibran sudah memasuki area pelataran rumah, milik keluarga Delya. Namun, seketika hati Delya kembali tercubit saat melihat mobil Janu terparkir tepat di depan pintu rumahnya. Selain mobil Janu, ada juga mobil Keenan terparkir tepat disamping mobil tunangannya itu. Ada apa sampai harus Keenan ikut datang kerumahnya, tidak mungkin Keenan datang untuk menemui Kimi, karena hari ini Kimi sedang mengikuti acara kampus diluar kota. Kimi baru akan kembali lusa, berbagai pertanyaan mengelilingi pikiran Delya. Sampai Gibran benar-benar mematikan mesin kendaraannya, lalu keduanya sama-sama keluar dan melangkah untuk masuk kedalam rumah.