Keenan dan Kimi sedang dalam perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan di ibu kota. Gadis cantik yang sedang duduk di kursi penumpang, tepat disisi Keenan mengatakan jika dirinya ingin sekali menonton bioskop. Karena, gadis itu sudah lama sekali tidak ke tempat tersebut. Selain ia selalu disibukan dengan kegiatan perkuliahan, gadis itu juga mulai serius mempelajari bisnis milik Kakak tercintanya. Tetapi, kali ini ia sangat ingin ke bioskop, karena ada film yang sudah ia nantikan sejak lama dan sudah di putar di seluruh bioskop sejak dua hari lalu. Jadi, saat Keenan mengajaknya untuk pergi dihari minggu. Ia mengutarakan keinginannya, keberuntungan berpihak pada Kimi, karena Keenan langsung menyetujui keinginan gadis itu.
Keenan masih fokus mengendarai mobilnya, membelah jalanan ibu kota yang hari ini cukup lenggang. Pria itu sesekali melirik gadis cantik di sebelahnya, begitu menyenangkan bagi Keenan bisa menghabiskan waktu dihari libur bersama gadis cantik dan ceria seperti Kimi. Walaupun saat ini gadis itu lebih banyak diam, tapi Keenan sangat mengetahui jika adik dari atasannya itu memiliki sifat yang periang. Entah apa penyebabnya, Keenan pun tak mengetahui kenapa Kimi lebih banyak diam.
“Kamu kok diem terus sih, gak nyaman jalan sama aku ya?” tanya Keenan.
“Kalo gak nyaman, kenapa aku terima ajakan Mas Keenan coba? Aku nyaman kok, Mas. Cuma gak tau aja mau ngobrolin apa, Mas Keenan juga fokus banget nyetirnya.” Jawaban Kimi mampu menohok perasaan Keenan, karena sebagai laki-laki ia merasa terlalu kaku. Ternyata Kimi menunggu ia membuka pembicaraan, itu semua terbukti, dengan satu pertanyaan saja, Kimi menjawab dengan kalimat yang panjang.
“Ya udah, gimana kalo bahas kuliah kamu. Atau bahas udah sejauh mana kamu belajar tentang semua seluk beluk Appu Store dan Appu Garment?” ujar Keenan menjelaskan pendapatnya.
“Mas Keenan, please deh ya. Ini hari libur loh, pembahasannya bisa yang ringan-ringan aja gak?”
“Hmm... Maaf deh, jadi bahas apa dong yang menurut kamu santai?”
“Bahas pasangan gimana? Mas Keenan punya pacar?” tanya Kimi serius, namun pertanyaan itu membuat Keenan tergelak dalam tawa yang begitu menggelikan.
“Kok malah ketawa sih?” kesal Kimi.
“Ya lagian pertanyaan kamu gitu sih, kalo aku punya pacar, ya aku mingguan sama pacar lah. Kenapa malah sama kamu coba?” jawab Keenan seraya berusaha menghentikan tawanya.
“Eh, iya juga ya.” Jawab Kimi Polos.
Akhirnya keduanya membahas masalah pasangan dalam hidup mereka, ternyata saat ini mereka sama-sama tak memiliki pasangan. Kimi dan Keenan saling menyebutkan tipe pasangan impian mereka, tanpa saling mengetahui jika yang ada dalam lubuk hati mereka adalah, orang yang saat ini bersamanya, yang diharapan akan menjadi pasangannya suatu hari nanti. Namun, keduanya masih betah menyembunyikan perasaannya. Keenan sebagai laki-laki pun tak ingin tergesa-gesa dalam mengungkapkan perasaaannya. Mengingat kedekatan mereka baru terjalin beberapa hari ini, Keenan masih terus ingin meyakinkan perasaannya. Pria itu ingin Kimi menerimanya karena memiliki perasaan yang sama.
Mobil yang dikendarai Keenan sudah memasuki parkiran, disalah satu pusat perbelanjaan. Setelah mendapatkan tempat parkir, Keenan mematikan mesin kendaraannya. Setelah melepaskan sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya, Keenan bergegas keluar dan melangkahkan kakinya lebar memutari bagian depan mobil, lalu ia ke sisi kiri untuk membukakan pintu mobil untuk Kimi. Gadis cantik yang masih terduduk di tempatnya, merasa sangat istimewa di perlakukan seperti itu oleh pria yang ia kagumi.
Setelah Kimi keluar, Keenan kembali menutup pintu mobil sisi kiri. Sesaat Kimi terperanjat, gadis itu terkejut saat akan melangkahkan kaki, Keenan menautkan jari jemari mereka berdua. Wajah Kimi seketika merona kemerahan, gadis itu menundukan kepalanya karena merasakan gugup. Wajahnya seakan memanas, Keenan begitu memperlakukan dirinya dengan istimewa.
“Ayo, kita masuk. Nanti keburu mulai loh,” ucap Keenan dengan nada menggoda, karena memperhatikan Kimi yang terpaku ditempatnya berdiri saat ini.
Tanpa menjawab Kimi mengikuti langkah kaki Keenan memasuki tempat tersebut, dengan tangan yang saling menggenggam. Jantung Kimi berdetak cepat, semuanya terasa tak menentu. Memasuki area bioskop Keenan segera memesan dua tiket untuk mereka, tetapi Keenan tetap melibatkan Kimi untuk memilih tempat duduk. Setelah mendapatkan tiket, Keenan mengajak Kimi untuk membeli popcorn dan minuman untuk mereka berdua.
Jika tadi Keenan menggenggam tangan Kimi, kali ini sambil menunggu pesanan mereka Keenan merangkul pundak gadis cantik itu. Kimi yang dua belas tahun lebih muda dari Keenan tak merasa risih, dengan perlakuan pria itu. Karena menurutnya apa yang dilakukan Keenan masih dalam batas wajar. Lagi pula, walaupun mereka terpaut usia yang lumayan jauh, Keenan yang masih bisa mengimbangi penampilannya saat bersama Kimi, tak terlihat seperti pria berusia tiga puluh dua tahun.
Setelah mendapatkan popcorn dan dua gelas minuman ringan, keduanya segera memasuki ruangan teater. Karena dalam waktu sepuluh menit lagi film akan segera diputar, Kimi sangat pandai memilih tempat duduk. Tak terlalu depan dan juga tak terlalu belakang, setelah Kimi duduk dengan nyaman Keenan baru menyusul untuk duduk disisi kanan gadis cantik itu. Film yang akan mereka saksikan saat ini bergenre horor, karena Kimi memang sangat menyukai film dengan genre tersebut. Walaupun kenyataannya ia sangat penakut.
Lima belas menit berlangsung, Kimi masih bisa menikmati popcorn yang ada di pangkuannya. Namun selanjutnya, gadis itu sibuk bersembunyi dibalik lengan Keenan. Keenan hanya terkekeh melihat gadis yang ia sukai begitu ketakutan. Akhirnya Keenan memutuskan untuk merangkul pundak Kimi dengan tangan kirinya, lalu Kimi bisa menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Keenan.
“Gila, bisa gila gue. Mas Keenan wangi banget, duh pingsan deh nih gue mabok wangi maskulin Mas Keenan.” Ucap Kimi dalam hati.
Gadis itu sudah tak bisa menikmati alur film yang sedang diputar, ia lebih menikmati memeluk tubuh tegap dan kekar Keenan. Sampai film selesai diputar, Kimi masih terus memeluk Keenan dengan erat. Bahkan ia tak menyadari jika lampu sudah menyala kembali, dan menerangi ruangan tersebut. Keenan terus memperhatikan Kimi yang tak kunjung melepaskan pelukan tangannya, dan terus menyembunyikan wajahnya di d**a bidang miliknya.
“Betah ya dipelukan aku?” goda Keenan. Mendengar pertanyaan itu, Kimi segera melepaskan pelukan tangannya dan segera menegakan posisi duduknya. Gadis itu mengedarkan pandangannya, melihat ke sekitar dan merasa malu saat melihat ruangan itu sudah kososng. Hanya ada beberapa petugas yang sedang membersihkan ruangan tersebut.
Kimi segera berdiri, ia berlalu pergi meninggalkan Keenan yang masih tersenyum geli melihat kepanikan yang sangat nampak jelas di wajah Kimi. Dengan berlari kecil, Kimi meninggalkan ruangan teater disusul oleh Keenan dibelakangnya. Setelah keluar dari ruangan tersebut, Kimi mengatakan pada Keenan jika dirinya ingin ke toilet. Tanpa menunggu jawaban, Kimi kembali meninggalkan Keenan. Dengan senyum yang tak pernah luntur, Keenan mengikuti langkah kaki gadis itu. Sampai ia menunggu tepat didepan pintu masuk toilet khusus wanita.
Kimi keluar dari toilet dengan senyum manisnya, senyum yang mampu meluluhlantakan hati Keenan. Gadis itu menghampiri Keenan lalu dengan perlahan ia mencubit lengan Keenan, yang di respon dengan kekehan oleh pria itu.
“Kenapa nyubit sih?” tanya Keenan.
“Tadi kok gak bilang sih, kalo filmnya udah selesai.”
“Abisnya aku nyaman dipeluk kamu,” goda Keenan lagi.
“Nyebelin,” ketus Kimi seraya mengerucutkan bibirnya.
“Sekarang mau kemana?” tanya Keenan untuk mengalihkan pembicaraan, walaupun menggemaskan melihat Kimi merajuk. Namun, ia tak mau gadis itu berlarut-larut dalam kekesalannya.
“Makan ya, Mas. Aku laper,” ujar Kimi dan di angguki oleh Keenan.
Meninggalkan area bioskop, keduanya berjalan menuju tempat makan yang diinginkan oleh Kimi. Hari ini, Keenan sangat memperlakukan Kimi dengan spesial, pria itu mengikuti apapun yang diinginkan Kimi. Termasuk memilih tempat makan siang kali ini, Keenan selalu mengabulkan apa yang diinginkan Kimi. Bahkan makanan yang akan ia makan pun, ia meminta agar Kimi yang memilih menunya. Untung saja, makanan yang dipesan oleh Kimi untuknya makanan yang ia sukai.
Setelah makan siang, Keenan menemani Kimi berkeliling untuk mencari beberapa barang yang sedang ingin gadis itu beli. Bahkan Keenan membayar setiap apapun yang dibeli oleh Kimi, gadis itu terus menolak dan akan membayarnya sendiri. Tetapi, Keenan selalu mengatakan jika Kimi tak boleh menolak rejeki, akhirnya gadis itu hanya mampu mengalah. Walaupun ia merasa tak enak hati, karena antara dirinya tak ada hubungan spesial dengan Keenan. Kimi tak ingin jika Keenan menilainya perempuan matre atau memanfaatkan laki-laki. Tanpa Kimi ketahui, Keenan tak memiliki pemikiran buruk sedikitpun terhadapnya. Pria itu sangat senang bisa membelikan apapun, yang diinginkan oleh gadis yang sedang berusaha ia dekati.
Tanpa terasa hari sudah malam, Keenan mengajak Kimi untuk pulang. Karena ia tak mau memberi kesan buruk dihadapan Arawinda, jika pertama kali bepergian dengan putri bungsunya pulang terlalu malam. Namun, kali ini keberuntungan tak berpihak pada keduanya, jalanan begitu padat dan perjalanan mereka cukup lama hingga sampai rumah Kimi. Saat Keenan memarkirkan kendaraannya, ia melihat jika mobil sahabatnya masih ada disana. Keenan dan Kimi sudah turun dari mobil, dan tak lama mereka melihat Janu dan Delya sedang berjalan entah darimana mereka. Keenan bersama Janu segera berpamitan pada Ibu Arawinda dan berlalu pulang dengan kendaraannya masing-masing tanpa ada perbincangan, karena mereka sama-sama merasa lelah dan segera ingin sampai kerumah untuk istirahat.