BAB 8

1609 Words
Tidur nyenyak Delya terganggu, saat wanita itu merasakan hembusan nafas yang hangat di tengkuknya. Lengan kekar pria yang sangat ia cintai memeluknya dengan begitu erat. Delya perlahan membuka kedua kelopak matanya, memulihkan pandangannya sampai ia mendapatkan kembali penglihatannya dengan sempurna. Perlahan Delya membalik tubuhnya, hingga berhadapan dengan Janu yang masih memejamkan mata, pria itu begitu nyenyak, karena  terdengar dengkuran kecil dari bibirnya. Delya membelai pipi tunangannya, dan belaian itu terus menyusuri setiap inci wajah Janu. Sampai tangan wanita itu menyentuh rahang tegas Janu. Delya mengerutkan dahinya, wanita itu sangat bingung, karena ia melihat ada beberapa tanda kemerahan dileher Janu. Pria itu saat ini mengenakan kaos berkerah, namun dua kancingnya terbuka, tidak seperti saat datang tadi yang masih terpasang dengan rapi. Delya terus memperhatikan setiap tanda kemerahan yang ada pada leher tunangannya. Wanita terus berusaha untuk tidak berpikir yang macam-macam, namun Delya tetaplah wanita biasa, yang memiliki rasa cemburu dan curiga. Sesaat Delya tenggelam dalam lamunannya, memikirkan hal-hal buruk yang dilakukan oleh Janu tanpa sepengetahuannya. Sampai ia tidak sadar, jika pria di hadapannya kini sudah membuka mata, dan sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Sayang, kok ngelamun?” tanya Janu dengan suara seraknya khas orang bangun tidur, pertanyaan yang mampu membuyarkan lamunan Delya atas semua pemikiran buruknya terhadap Janu. “Enggak kok, Mas. Aku gak melamun, Mas udah bangun?” jawab Delya mencoba menetralkan perasaannya, walaupun kenyataannya kegugupan tetap nampak dengan jelas. “Udah sayang, Mas bangun malah liat kamu lagi melamun. Mikirin apa sih?” tanya Janu lembut seraya membelai rambut panjang Delya, pria itu juga mengulurkan tangan kirinya untuk dijadikan bantalan oleh tunangan tercintanya. Ia bawa tubuh mungil Delya kedalam pelukan hangatnya. “Gak mikirin apa-apa kok, Mas.” jawab Delya pelan, wanita itu membalas pelukan Janu dan menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang tunangan tercintanya. Bulir air mata, mengalir begitu saja dari kedua sudut mata Delya, namun Janu tak mengetahuinya. Pria itu tetap memeluk wanitanya dan terus membelai rambut panjangnya, serta sesekali mengusap punggung Delya, menyalurkan kasih sayang yang begitu dalam. Tanpa bisa dicegah, air mata Delya terus mengalir, sampai suara isak tangis mulia memasuki pendengaran Janu. Pria itu bingung dengan keadaan saat ini, ia tak merasa berbuat salah hingga membuat Delya menangis. Tetapi ia sempat berpikir, apakah ikut tertidur bersama Delya adalah sebuah kesalahan, apa karena perbuatannya itu sampai membuat tunangannya menangis begitu pilu. “Sayang, kamu kenapa? Kenapa nangis? Mas buat salah sama kamu?” serentet pertanyaan keluar dari bibir Janu, karena lelaki itu tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia sangat ingin tahu apa penyebab Delya menangis saat ini. Tetapi Delya tak kunjung memberi jawaban, wanita itu malah semakin erat memeluk tubuhnya. Janu kembali memeluk Delya, membelai punggung wanitanya untuk memberi ketenangan dan rasa nyaman. Lima belas menit berlalu, suara isak tangis Delya sudah tak terdengar lagi. Pria itu melonggarkan pelukan tangannya, menarik perlahan dagu Delya agar ia bisa menatap wajah tunangannya itu. Dengan mata yang sembab, Delya menatap Janu dengan tatapan yang tak bisa pria itu artikan. Kebingungan menyelimuti perasaan dan pikiran Janu, ada apa yang sebenarnya terjadi, hingga membuat wanita tercintanya sangat bersedih sore ini. “Sayangnya Mas kenapa nangis? Hmm...” tanya Janu lembut, Delya hanya menjawab dengan gelengan kepala. “Kok sekarang gitu sih, ada apa-apa gak mau bilang sama Mas. Kamu kenapa, sayang?” tanya Janu lagi. “Mas...” lirih Delya. “Iya, sayang. Kenapa?” “Mas gak selingkuh dari aku, kan?” tanya Delya pelan, karena wanita begitu takut untuk menanyakan hal tersebut. “Cantiknya Mas, kenapa nanya begitu?” “Itu Mas, aku liat ada banyak bekas kemerahan dilehernya, Mas.” Gumam Delya pelan, karena ia begitu ragu. “Memangnya, menurut kamu tanda merah itu apa, Sayang?” “Bukannya itu tanda cinta ya, Mas?” “Kapan kamu bikin tanda cinta itu, hmm?” “Gak pernah.” “Terus kenapa berpikiran begitu?” “Ya gak tau, aku pikir Mas punya perempuan lain dibelakang aku.” “Sayangnya Mas, yang super cantik ini. Dengerin Mas ya, ini tuh bukan tanda cinta seperti yang kamu pikir. Tadi malam, Mas gak sengaja makan kacang. Kamu tau kan, kalau Mas itu alergi kacang. Nah, karna alergi Mas kambuh, Mas gak tahan sama gatelnya. Jadi, Mas garuk terus sampe berbekas deh merah-merah. Jangan pernah, berpikir macam-macam sayang. Sebentar lagi kita kan mau nikah, kepercayaan sangat penting buat hubungan kita kedepannya.” Janu menjelaskan dengan kalimat panjangnya, serta menghapus air mata yang terus mengalir dari mata indah Delya. “Maaf ya, Mas. Aku udah curiagin Mas kayak gitu, seharusnya aku percaya sama Mas.” “Iya, Sayang. Gak apa-apa, jangan diulang lagi ya, kamu harus percaya terus sama Mas, seperti Mas percaya sama Kamu.” Karena hari sudah menjelang malam, Ibu Delya juga baru saja pulang. Delya meminta ijin pada Janu untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sedangkan Janu menunggu Delya diruang tamu rumah itu. Lagi-lagi Janu disibukan berbalas pesan dengan seseorang, sesekali tertawa ringan dan tersenyum sangat bahagia. Delya yang sudah selesai dengan kegiatannya membersihkan diri, bergegas mengenakan pakaian dan merapikan penampilannya. Wanita itu keluar dengan senyum yang tercetak jelas di kedua sudut bibirnya. Walaupun mata sembabnya tak mampu ia tutupi, namun ia membenarkan ucapan Janu, jika dirinya harus selalu percaya pada tunangannya itu. Saat melihat Delya berjalan kearahnya duduk saat ini, Janu segera memasukan ponsel yang sejak tadi ia pegang ke dalam saku celana miliknya. Melihat senyum Delya yang sangat cantik, Janu membalas dengan senyuman tak kalah manis, menghiasi wajah tampannya. Kini, Delya sudah duduk disisi kiri Janu, bersandar pada bahu tegap Janu yang selalu membuatnya nyaman. Keduanya terlibat perbincangan ringan untuk membahas persiapan pernikahan mereka. Pukul tujuh malam, Arawinda mengajak Delya dan Janu untuk makan malam bersama. Mereka melewati makan malam kali ini hanya bertiga saja, karena Kimi masih belum pulang. Arawinda sesekali menanyakan sejauh mana persiapan pernikahan putri sulungnya itu. Delya dan Janu benar-benar mempersiapkan acara pernikahan mereka hanya  berdua saja. Mereka tak ingin merepotkan siapapun, termasuk Ibu Delya. Karena, mereka sangat ingin mewujudkan impian pernikahan yang selalu di dambakan selama ini. Selesai dengan kegiatan makan malam, Delya membantu Ibunya, membersihkan piring kotor yang tadi digunakan untuk makan. Sedangkan Janu kembali ke ruang tamu, untuk menunggu wanitanya selesai dengan kegiatannya di dapur. Setelah itu Janu mengajak Delya untuk jalan santai ke taman dekat rumah Delya. Delya menyetujui ajakan Janu untuk sekedar jalan ke taman, karena kegiatan apapun itu, selama bersama Janu, wanita itu akan merasa bahagia. Sangat sederhana untuk meraih kebahagiaan bagi Delya. Berjalan menyusuri perumahan menuju taman, Janu terus merangkul pundak tunangannya penuh cinta. Wanita itu pun membalas dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Janu. Berjalan santai, keduanya saling mengungkapkan rumah tangga seperti apa yang mereka harapkan. Baik Janu atau Delya, memiliki keinginan yang sederhana, memiliki pasangan yang selalu mencintai dirinya hingga akhir, memiliki dua anak bagi mereka sudah cukup untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Tak perlu memiliki harta berlimpah, rumah mewah. Hidup berkecukupan dengan pasangan yang dicintai, membesarkan anak-anak dengan cinta dan kasih sayang, itulah impian kehidupan rumah tangga Janu dan Delya. Sesampainya di taman, Janu mengajak Delya untuk duduk disalah satu bangku kayu yang ada disana. Keduanya duduk bersamaan, Delya yang kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Janu. Semua rasa lelah seakan luntur begitu saja jika sudah bersama Janu. Wanita itu seakan ingin memutar waktu agar pernikahan mereka segera berlangsung. Karena, Delya membayangkan bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Janu setelah menikah. Walaupun lelah bekerja, semua akan terbayarkan jika dirumah sudah bertemu suami tercinta. Bahkan membayangkan saja sudah membuat hati Delya berbunga-bunga. “Mas...” gumam Delya. “Iya, Sayang.” “Gimana kalo acara pernikahan kita dipercepat?” tanya Delya, lalu wanita itu menegakan posisi duduknya. Menoleh ke sisi kanannya agar bisa menatap Janu. “Kenapa mau dipercepat, Sayang?” “Gak apa-apa sih, tapi enam bulan lagi kayaknya lama banget. Gimana kalo tiga bulan lagi?” tanya Delya antusias. “Kamu yakin, Sayang?” “Gak yakin sih, persiapan pernikahan kita aja masih banyak yang belum selesai. Mas juga masih sibuk terus, tapi kalo kita mau ya bisa aja kan?” Delya mencoba meyakinkan Janu. “Sayang, dengerin Mas ya. Kita nikah itu sekali seumur hidup, kamu juga kan mau mewujudkan semua impian pernikahan kamu. Apa bisa kita wujudkan itu, jika tergesa-gesa karna mempercepat dari waktu yang sudah di tentukan?” “Jadi, gimana Mas?” tanya Delya linglung, ia ingin mempercepat acara pernikahannya. Namun, apa yang di ucapkan Janu memang benar. Semuanya sudah diatur, pernikahan mereka akan di selenggarakan dalam waktu enam bulan lagi, karena begitu banyak pertimbangan. Dirinya dan Janu juga memiliki pekerjaan, yang harus diselesaikan sebelum pernikahan mereka berlangsung. “Mas ikut maunya kamu aja, Sayang.” Jawab Janu lalu mengecup kening Delya cukup lama. “Ya udah sesuai waktu yang udah di tentuin aja, Mas.” Ucap Delya saat Janu sudah selesai dengan kegiatannya. Lalu wanita itu memeluk erat tunangan tercintanya, dan Janu pun membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang. Keduanya kembali berbincang ringan, seputar pekerjaan atau membahas akan memulai dari mana untuk mengurus kembali, semua keperluan acara pernikahan mereka. Karena begitu banyak yang harus dipersiapkan, tetapi keduanya masih begitu di sibukan dengan pekerjaan. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Delya mengajak Janu untuk pulang kerumah, mengingat esok hari mereka harus kembali beraktifitas seperti biasa. Sesampainya di rumah, Kimi baru saja masuk bersama dengan Keenan. Setelah Janu dan Keenan berpamitan pada Arawinda, kedua pria itu bergegas pamit pulang. Hari sudah begitu larut, kegiatan mereka masing-masing juga cukup melelahkan hingga mereka harus segera pulang dan beristirahat. Janu dan Keenan pulang kerumah mereka masing-masing, dengan perasaan yang sama-sama bahagia. Mereka begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktu seharian ini bersama orang yang dicintai. Begitu juga dengan Kimi dan Delya yang terus tersenyum seraya mengingat kegiatan mereka hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD