Hari ini, Delya hanya menghabiskan waktu liburnya dengan bermalas-malasan saja dikamarnya. Sejak kemarin, saat ia banyak kesibukan karena harus mengunjungi pabrik, ia tak saling berkabar dengan Janu. Wanita itu bingung dengan sikap Janu, sebab hingga saat ini tak ada kabar. Semua pesan dan telepon Delya tak ada satu pun yang mendapat jawaban.
Saat ini Delya sedang bersiap untuk membersihkan tubuhnya, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dan segera melakukan kegiatannya dengan cepat. Wanita itu tak ingin berlama-lama, karena perutnya kini sudah merasa kelaparan.
Di ruang tamu rumah itu, Kimi sedang duduk menunggu kedatangan seseorang yang akan menjemputnya. Gadis itu sudah memiliki janji untuk pergi bersama laki-laki yang dua hari lalu makan malam dengannya. Lima menit Kimi duduk di sofa yang ada di ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Gadis itu bergegas menuju pintu utama rumahnya untuk melihat siapa yang datang.
Dua pria tampan berdiri dibalik pintu dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya. Kimi membalas dengan senyum ramah, entah kebetulan atau memang mereka berjanjian untuk datang bersama. Janu dan Keenan kini berdiri di hadapan Kimi.
"Mas Janu, Mas Keenan memang janjian kesininya?" tanya Kimi, pada dua pria tampan yang masih setia berdiri didepan pintu.
"Enggak kok, tadi gak sengaja ketemu di depan. Delya ada dirumah kan?" Janu yang menjawab pertanyaan Kimi, dan langsung menanyakan tunangan tercintanya.
"Kakak ada dikamarnya, Mas Janu langsung kesana aja. Kakak dari pagi belum sarapan Mas, padahal ini udah jam sebelas." Kimi menjelaskan.
"Ibu ada?" Tanya Janu lagi.
"Gak ada, Ibu lagi pergi ke rumah temennya Mas."
"Ya udah, kalo gitu Mas masuk ya." Ucap Janu.
"Gue sama Kimi langsung jalan deh, Nu." Akhirnya Keenan mengeluarkan suaranya.
"Oohhh, kalian mau pergi?"
"Iya, Mas. Mas Janu masuk aja ke kamar Kakak, kita berangkat ya." Pamit Kimi.
"Kalian berdua hati-hati, ya."
Kimi dan Keenan bergegas meninggalkan rumah itu, setelah mobil Keenan berlalu pergi, Janu menutup pintu rumah dan melanjutkan langkah kakinya menuju kamar wanita pujaan hatinya.
Tok... Tok... Tok...
Janu mengetuk beberapa kali pintu kamar Delya, tetapi tak mendapatkan respon apapun. Pria itu pun mencoba untuk membuka pintu tersebut, dan sesaat ia bisa melihat isi kamar Delya. Karena, kamar tersebut tidak terkunci. Namun, kamar tersebut nampak kosong, dengan tempat tidur yang sedikit berantakan. Janu memasuki kamar itu, hingga tak lama ia mendengar suara gemericik air, dan akhirnya pria itu mengetahui jika tunangannya sedang membersihkan diri.
Pria itu duduk di sofa yang ada di kamar itu, lalu ia membuka ponselnya untuk membalas pesan yang masuk. Janu menunggu Delya selesai dengan kegiatannya, sampai pria itu larut dalam keseruannya berbalas pesan dengan seseorang. Sesekali senyum terbit dari kedua sudut bibirnya, begitu ia membaca balasan pesan yang entah dari siapa.
Terdengar suara pintu terbuka, Janu bergegas memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana miliknya. Lalu, ia melihat Delya keluar hanya dengan selembar handuk yang melilit tubuhnya, menutup sebagian tubuhnya, terutama bagian-bagian sensitifnya.
"Mas Janu, kapan dateng?" tanya Delya dengan suara terkejut, saat melihat tunangannya ada didalam kamarnya.
"Sepuluh menit lalu, Sayang." Jawab Janu.
Lalu pria itu mendekati Delya, membawa tubuh wanitanya kedalam pelukan hangatnya. Delya yang merasakan kerinduan pun, membalas pelukan Janu dengan begitu erat. Cukup lama mereka berpelukan, menyalurkan seluruh perasaan yang ada dihati. Hingga keduanya bersama-sama mengurai pelukan mereka, dan Janu memberikan kecupan mesra di kening Delya. Kecupan yang mampu membuat sekujur tubuh Delya menghangat dalam perasaan cinta dan kerinduan.
"Kamu pakai baju dulu, abis itu kita keluar beli makan ya, Sayang. Kata Kimi, dari pagi kamu belum makan apa-apa." Ucap Janu tegas.
"Iya, Mas. Aku gak makan, soalnya lagi kesel sama Mas yang gak ada kabar." Delya mengungkapkan kekesalannya.
"Mas udah bilang loh, kalo Mas gak ada kabar, jangan pernah lupain makan. Mas gak mau kamu sakit, apa kamu lupa?"
"Maaf," cicit Delya, karena tak mampu lagi memjawab pertanyaan Janu. Tunangannya itu seringkali mengingatkan, apapun yang terjadi, dirinya tak boleh melewatkan waktunya untuk mengisi perut. Namun, lagi dan lagi, Delya mengulangi kesalahan tersebut.
Janu meninggalkan kamar Delya, karena tunangannya itu akan segera berpakaian. Ia menunggu tepat di depan kamar wanitanya tersebut. Saat menunggu Delya bersiap-siap, Janu kembali berbalas pesan dengan seseorang. Sesekali senyum kembali menghiasi wajah tampannya. Sampai akhirnya, ia mendengar pintu kamar Delya terbuka, dan menampakan wanita cantik dengan mengenakan pakaian santai serta riasan wajah sederhana. Delya kembali berhambur kedalam pelukan Janu, pria itu pun memeluk tubuh mungil Delya penuh kehangatan.
"Kita mau beli makan kemana, Mas?" gumam Delya pelan, masih dalam pelukan tunangannya.
"Terserah kamu aja, Sayang. Hari ini, spesial buat kamu. Apapun yang kamu mau, aku turutin. Kamu mau apa, mau makan apa, mau kemana, aku temenin. Semuanya buat menebus kesalahan aku kemarin, karena gak jadi jemput kamu, dan gak bisa nemenin kamu ke pabrik." Ujar Janu.
"Beneran Mas?"
"Iya, Sayang. Jadi, sekarang kamu mau kemana?" tanya Janu, lalu melonggarkan pelukan tangannya. Menatap wajah cantik wanita tercintanya, yang kini juga sedang menatapnya.
"Kemana aja deh, dipikirin nanti pas udah dijalan. Ayo, kita berangkat Mas." Ucap Delya penuh semangat.
"Ayo, Sayang."
Sepasang anak manusia yang begitu di mabuk cinta, pergi meninggalkan rumah itu. Senyum selalu menghiasi wajah keduanya, menggambarkan perasaan mereka yang begitu bahagia. Karena, ditengah kesibukan mereka mengurus pekerjaan, hari ini mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di salah satu restoran favorit mereka, dari semenjak pacaran dulu. Melewati kegiatan makan dengan perasaan yang begitu bahagia, sesekali Delya bermanja pada Janu dan meminta prianya itu untuk menyuapinya makanan. Sedikitpun Janu tak pernah menolak, karena baginya hal sederhana ini mampu memperkuat cinta dalam hubungan mereka.
Selesai dengan kegiatan makan siang kali ini, Delya dan Janu memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Delya ingin menghabiskan hari ini dirumah saja, bersama dengan pria yang sangat ia cintai. Janu pun menyetujuinya, karena ia sudah berjanji akan menuruti apapun keinginan Delya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil Janu sudah berhenti di depan rumah Delya. Keduanya keluar dari kendaraan tersebut, dan bergegas memasuki rumah dengan terus bergandengan tangan. Delya bersama Janu langsung menuju kamar wanita itu. Karena, sepanjang perjalanan tadi, Delya terus mengatakan jika ia merasakan kantuk yang luar biasa.
Sampai dikamar, wanita itu segera menaiki tempat tidur dan disusul oleh Janu yang duduk ditepi ranjang tepat di samping kepala Delya. Wanita itu menggeser posisi berbaringnya, hingga kedua paha Janu yang menjadi bantalan kepalanya saat ini. Dengan penuh kasih sayang, Janu membelai kepala tunangannya.
"Temenin aku tidur ya, Mas." Gumam Delya, wanita itu sudah memejamkan matanya.
"Iya, Sayang. Mas temenin." Jawab Janu dan terus membelai dan memberi usapan pada kepala Delya, yang mampu membawa wanita itu segera memasuki alam mimpinya.