BAB 6

1078 Words
Kimi dan Keenan duduk berdampingan, di sofa yang ada diruangan tersebut. Dengan laptop dan beberapa berkas yang ada di hadapan mereka, Gadis itu memperhatikan dengan serius apa yang di jelaskan oleh Keenan. Ia bersyukur, hatinya mampu diajak bekerja sama. Akal sehatnya masih bekerja dengan baik, walaupun memiliki rasa kagum pada pria di sampingnya, tetapi saat seperti ini ia bisa memahami setiap detail penjelasan mengenai laporan-laporan keuangan. "Sejauh ini, gimana? Paham gak?" tanya Keenan, karena sejak awal Kimi hanya memperhatikan, tak pernah bertanya sedikitpun. "Paham Mas, tapi kayaknya hari ini cukup dulu deh. Biar aku bisa pelajarin dulu, sisanya bisa di lain kesempatan kan, Mas?" "Ya bisa dong, rencana pernikahan Janu sama Delya juga masih jauh. Kamu masih punya banyak kesempatan, buat belajar tentang semua seluk beluk perusahaan ini. Lagian ya, Delya gak akan mungkin ninggalin perusahaan yang udah dia rintis dari nol begitu aja. Bener gak?" tanya Keenan meminta persetujuan. "Iya bener banget, Mas. Kak Delya pasti percayain semuanya ke aku, saat dia udah yakin kalo aku mampu." "Abis ini kamu mau kemana?" tanya Keenan, saat melihat Kimi sudah membereskan barang bawaannya dan bersiap bangun dari tempat duduknya. "Mau ke ruangan Kakak." jawab Kimi polos. "Bukan itu maksud ku, tapi habis dari sini kamu mau kemana?" Keenan menjelaskan maksudnya. "Oh, gak kemana-mana sih Mas. Langsung pulang ke rumah." "Makan malem sama aku, mau gak?" tanya Keenan, seraya menatap gadis manis yang kini sudah berdiri disampingnya. "Aduh, jawab apa nih gue?" tanya Kimi pada dirinya sendiri, tentu saja pertanyaan itu ia ucapakan hanya dalam hatinya saja. Lama terdiam, Kimi memikirkan harus menjawab apa. Karena jika bertanya pada hatinya, tentu saja ia tak akan menolak. Makan malam bersama dengan pria yang disukai, siapa yang akan mampu berkata tidak mau. Tetapi, pikirannya terus berlawanan, ia harus sedikit jual mahal. Karena, gadis itu tak ingin rasa sukanya akan nampak dengan jelas. "Gimana?" tanya Keenan lagi, saat tak kunjung mendapatkan jawaban. "Maaf Mas, hari ini aku gak bisa. Soalnya aku masih ada tugas kuliah yang belum selesai, jadi aku harus cepet pulang ke rumah." Akhirnya Kimi menolak ajakan Keenan, walaupun hatinya sudah bersorak gembira mendapat ajakan tersebut. "Kita makan malam, terus aku bantuin kamu kerjain tugas kuliah kamu. Deal?" ujar Keenan seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Kimi, meminta persetujuan yang tak ingin terbantahkan. "Oke, kalo gitu." Kimi membalas uluran tangan Keenan, dan keduanya berjabat tangan tanda persetujuan. Kimi sudah meninggalkan ruangan Keenan, gadis itu terus tersenyum seraya melangkahkan kaki menuju ruangan Kakak tersayangnya. Hatinya begitu berbunga-bunga, akan makan malam bersama pria tampan, yang beberapa bulan terakhir begitu ia kagumi. Bahkan secara diam-diam, Kimi seringkali memperhatikan setiap unggahan foto Keenan di sosial medianya. Seperti gadis seusianya, Kimi sedang merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, sejauh ini gadis itu masih nyaman dengan memendam perasaannya sendiri. *** Delya baru saja akan bergegas pulang, hingga fokusnya teralihkan saat ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Wanita itu tersenyum saat membaca pesan dari Janu yang mengatakan jika malam ini, pria itu akan berkunjung ke rumahnya. Dengan cepat Delya membalas pesan tunangannya, dan mengatakan jika ia akan menunggu dirumah. Wanita itu melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran, seluruh penat dan lelah yang ia rasakan seketika sirna. Semuanya tergantikan oleh rasa antusias menanti kedatangan pujaan hatinya, pria yang begitu menguasai relung hatinya. Delya mulai melajukan kendaraannya, meninggalkan perusahaan yang selama bertahun-tahun ini ia perjuangkan dengan seluruh tenaga dan air mata. Menikmati jalanan ibu kota yang padat oleh kendaraan roda dua dan roda empat, mendengarkan alunan lagu yang mendamaikan suasana hatinya. Sebelumnya, Kimi sudah meminta ijin padanya jika akan makan malam bersama Keenan. Tentu saja Delya mengijinkan, karena ia tahu jika Keenan adalah laki-laki yang baik. Itu sebabnya, ia pulang seorang diri tanpa Kimi. "Apa Keenan suka ya sama Kimi? Tumben banget ngajak makan malem." Monolog Delya dalam hati. *** Pukul delapan malam, Delya dan Janu sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu, rumah orangtua Delya. Delya dengan possi yang sedang menyandarkan kepalanya, pada bahu tunangannya, yang selalu membuatnya merasa nyaman. Janu dengan penuh kasih sayang membelai rambut panjang wanita tersayangnya. "Gimana pekerjaan hari ini?" tanya Janu memecah kesunyian, karena rasa lelah bekerja yang keduanya rasakan, membuat mereka cukup saling melepaskan kerinduan dalam pelukan hangat. "Lancar, Mas. Besok kayaknya aku mau ke pabrik, udah lama aku gak kesana." "Mas temenin ya, besok kan Mas libur." "Beneran Mas?" tanya Delya antusias. "Iya bener dong, Sayang. Besok Mas jemput, ya." "Makasih ya, Mas. Padahal aku sendiri juga gak apa-apa." "Tapi, Mas mau nemenin calon istri Mas yang cantik ini," ujar Janu, lalu membawa Delya kedalam pelukan yang penuh kasih sayang. Delya menceritakan jika malam ini, Keenan mengajak Kimi untuk makan malam bersama. Ia juga mengutarakan pemikirannya, bahwa sahabat Janu itu memiliki ketertarikan pada adik satu-satunya itu. Pada akhirnya, Janu menceritakan pada Delya, jika memang benar Keenan menyukai Kimi. Bahkan, itu sudah berlangsung cukup lama. Tetapi, selama ini sahabatnya itu tak pernah berani melangkah untuk mendekati gadis yang disukai. Janu bercerita, jika Keenan sangat menghargai Kimi sebagai adik dari atasannya dan juga calon adik ipar dari sahabatnya. Oleh sebab itu, ia lebih memilih menyembunyikan perasaannya. Namun, kali ini sepertinya Keenan sudah mulai berani untuk lebih dekat dengan Kimi, terlebih ia memiliki kesempatan untuk sekedar mengajak makan malam bersama. Satu setengah jam berlalu, Kimi pulang diantar oleh Keenan. Menyadari ada mobil Janu dirumahnya, Kimi meminta Keenan untuk mampir dulu kedalam. Tanpa penolakan, Keenan mengiyakan ajakan Kimi. Masuk kedalam rumah dan langsung bertemu dengan sahabatnya yang sedang memeluk atasannya dengan penuh cinta. "Nikahnya dipercepat aja mendingan, daripada peluk-pelukan ditempat umum." Cibir Keenan, sesaat setelah dipersilahkan duduk oleh Kimi. Gadis itu langsung menuju dapur, untuk membawakan segelas minuman dingin untuk Keenan. "Ya gak bisa gitu lah, Nan. Semua kan ada prosesnya," Delya yang menanggapi. "Abis dari mana aja lo? Masa makan doang sampe jam setengah sepuluh," tanya Janu pada sahabatnya. "Selesai makan bantuin kerjain tugas kuliah, makanya sampe malem," jawab Keenan datar. Karena ia sudah paham jika sahabatnya itu akan terus meledek dirinya. "Kalo suka langsung nyatain, Nan. Jangan lama-lama nanti diambil orang," bisik Delya pada Keenan, karena ia menyadari Kimi sudah berjalan ke ruangan tersebut dengan satu gelas minuman. Keenan pun tak bisa menanggapi ucapan Delya, karena Kimi sudah duduk disampingnya saat ini. Keempatnya berbincang, membicarakan seputar kegiatan masing-masing. Delya juga banyak bertanya pada Keenan, mengenai adiknya yang tadi belajar mengenai laporan keuangan. Sampai satu jam berlalu, Janu dan Keenan berpamitan pulang. Keduanya, meninggalkan rumah tersebut dengan kendaraannya masing-masing. Delya dan Kimi bergegas masuk ke kamarnya masing-masing, saat kendaraan dua pria tampan itu tak terlihat lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD