BAB 5

1149 Words
Sinar matahari mulai memasuki setiap celah jendela kamar, mengusik tidur nyenyak wanita cantik yang masih betah memejamkan mata, dibalik selimut tebal yang selalu membuatnya nyaman. Namun, seketika wanita itu membuka matanya perlahan, dan langsung menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Menormalkan pandangannya dan sedikit memberikan peregangan pada otot-otot tubuhnya. Senyum manis menghiasi wajah cantiknya, saat ia ingat bahwa pagi ini, Janu sang tunangan akan menjemputnya dan akan sarapan bersama. Delya melangkahkan kaki memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan segera, wanita itu tak ingin membuat Janu menunggu nantinya. Maka, ia akan segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Lima belas menit berlalu, Delya sudah keluar dengan wajah yang lebih segar, wanita cantik itu segera bergegas mengenakan pakaian dan sedikit memoles wajahnya. Tak berlebihan, Delya hanya memberi makeup natural saja. Wajahnya yang sudah begitu cantik, hingga tak membutuhkan banyak perias wajah. Sudah dua puluh menit Delya menunggu di ruang tamu rumahnya, tetapi Janu tak kunjung datang. Tak ada satu panggilan pun yang dijawab oleh lelaki tercintanya itu. Begitu juga dengan sepuluh pesan Delya yang terkesan diabaikan. Delya tetap berpikir jernih, ia tak mau menuduh macam-macam. Karena pada akhirnya ia yang akan merasa malu jika kecurigaannya tak terbukti. Dering ponsel menyadarkan lamunan Delya, wanita itu bergegas melihat siapa yang melakukan panggilan padanya. Nama My Fiance tertera pada layar ponselnya, hal itu mampu membuatnya merasa jauh lebih lega. Kecurigaannya jika Janu berbohong padanya untuk menjemput pagi ini tak terbukti. “Halo, Mas.” ucap Delya, sesaat setelah menerima panggilan telepon dari tunangan tercintanya. Tetapi Delya tak kunjung mendapat jawaban, wanita itu berulang kali memanggil Janu dengan panggilan seperti biasanya. Namun, hanya ada suara bising dari seberang sana. “Mas... Mas...” panggil Delya lagi, ia masih berusaha panggilannya mendapatkan jawaban dari Janu. Karena sesungguhnya perasaan Delya sudah berkecamuk tak menentu, pikirannya sudah memikirkan banyak hal buruk terjadi. “Sayang...” suara pria tercintanya, terdengar dengan nafas yang memburu, namun mampu membuat Delya menghembuskan nafas panjangnya, karena merasa jauh lebih lega setelah mendengar suara Janu. “Ya Ampun, Mas. Kamu tuh lagi apa sih, aku panggil berkali-kali gak jawab,” cerocos Delya. “Maaf, Sayang. Ban mobilnya bocor, ini Mas lagi mau ganti ban dulu, kamu kesiangan gak kalau nunggu Mas?” “Duh, kenapa gak telpon bengkel aja sih, Mas?” “Gak apa-apa, Sayang. Mas ada ban cadangan kok. Cuma ya pasti agak lama gantinya, kamu mau nunggu Mas apa gimana?” tanya Janu. “Aku duluan aja ya, Mas. Soalnya hari ini kerjaan aku masih banyak banget, takutnya gak selesai hari ini, kalau aku datang siang.” “Ya udah, kamu hati-hati ya, Sayang. Maafin Mas ya, Sayang.” ujar Janu dengan nada penuh penyesalan. “Iya, Mas sayang. Gak apa-apa, aku minta disamper Gibran ya. Jam segini pasti dia baru berangkat, dia juga pasti lewat sini. Boleh kan?” pertanyaan dari Delya yang seakan seperti pernyataan. “Boleh, Sayang. Kamu hati-hati ya, sekali lagi Mas minta maaf, ya. Telponnya Mas matiin dulu ya, Sayang. I love you.” “Love you more, Mas.” Panggilan telepon pun terputus, Delya segera mengirimkan pesan singkat pada Gibran, agar sahabatnya itu mampir ke rumahnya. Setelah mendapatkan balasan dari Gibran yang mengatakan iya, wanita itu kembali dibuat menunggu pagi ini. Biasanya ia adalah wanita yang mandiri, semenjak merintis usahanya, Delya sudah terbiasa melakukan banyak kegiatan tanpa bantuan siapapun. Namun, wanita itu sesekali bersikap manja di hadapan pria yang begitu ia cintai. *** Pukul tiga sore, Delya sedang menunggu kedatangan Kimi. Hari ini, adiknya itu akan kembali belajar banyak hal tentang mengelola perusahaan milik Delya. Delya yang sedang di sibukan dengan beberapa pekerjaan, seketika menengadahkan kepalanya lalu menatap kearah pintu saat terdengar suara ketukan beberapa kali. Ia pun mempersilahkan masuk, walaupun sebenarnya ia tidak tahu siapa yang datang. Biasanya sekertarisnya yang akan memeberitahukan lebih dulu, tetapi kali ini tidak. Delya berpikir mungkin Kimi yang datang, sesaat pintu terbuka, dan yang berdiri dibalik pintu itu bukan Kimi, melainkan pria tampan berkulit putih, berbadan tegap dengan ukuran tubuh yang sangat proposional. Delya mempersilahkan masuk, pria itu pun segera masuk dan duduk di kursi kosong yang berada tepat dihadapan Delya. Keenan Kaili, Manager Keuangan di perusahaan milik Delya, sekaligus sahabat Janu yang merupakan tunangan sang pemilik Appu Store dan Appu Garment. “Ada apa, Nan?” tanya Delya langsung tanpa basa basi. Walaupun Keenan adalah sahabat Janu, tetapi pada jam kerja Delya harus tetap bersikap profesional. Wanita itu hanya terbiasa bersenda gurau bersama Gibran disaat jam kerja. Selebihnya ia selalu menempatkan diri sebagaimana mestinya. “Mau kasih laporan minggu ini, Del.” jawab Keenan, seraya memberikan map yang berisi laporan keuangan yang sudah dibuatnya. Delya memang selalu berusaha bersikap profesinal pada seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan miliknya. Tetapi, untuk panggilan Delya membebaskan apapun itu, selama sopan dan membuat karyawannya nyaman. Termasuk Keenan yang terbiasa memanggil hanya dengan sebutan nama saja. “Ini kan baru hari Jum’at Nan, biasanya juga besok siang.” “Ya gak apa-apa sih, lagian kan udah beres. Kalo emang besok ada tambahan, ya tinggal revisi aja. Biar bisa di cek bertahap juga kan,” “Oh oke deh, oh iya Nan. Adek gue kan mau kesini, nanti dia yang bakal gantiin posisi gue disini. Gue minta tolong lo jelasin segala macam laporan keuangan di perusahaan kita ya.” ucap Delya. “Boleh, kapan?” tanya Keenan. Belum sempat Delya menjawab, fokus keduanya teralihkan saat mendengar ketukan pintu, dan tak lama daun pintu ruangan Delya pun terbuka. Adik perempuan Delya satu-satunya berdiri disana, dengan senyum manis menambah kadar kecantikan di wajahnya. Gadis itu pun segera masuk dan menyalami tangan kakak tersayangnya. “Sekarang gak apa-apa, Nan. Nih anaknya udah dateng,” ujar Delya menanggapi pertanyaan Keenan sebelumnya, yang sempat tertunda. Keenan dan Kimi memang sudah saling mengenal, namun keduanya tak pernah terlibat perbincangan lebih. Tanpa ada yang mengetahui, Kimi begitu mengagumi sosok Keenan Kaili. Pria yang begitu tampan menurut pandangan Kimi, tetapi gadis itu tak pernah mengungkapkan atau bercerita pada siapapun mengenai kekagumannya itu. Ia selalu mengingat pesan Ibu dan Kakaknya yang berpesan, untuk fokus kuliah terlebih dahulu. Karena, akan ada masanya untuk menikmati masa-masa mencintai atau dicintai. “Ya udah, Kimi berarti ke ruangan gue ya, Del. Soalnya kan data banyaknya di komputer gue.” ucap Keenan. “Ikut Keenan ke ruangannya ya, De. Mumpung Keenan lagi ada waktu luang, kamu bisa belajar masalah laporan keuangan yang nantinya harus kamu kuasai.” Delya menjelaskan pada sang adik. “Oh gitu, oke deh. Kirain sama Kakak belajarnya.” “Keenan bisa jelasin lebih detail.” Keenan bangun dari posisi duduknya, pria itu pun segera mengajak Kimi menuju ruangannya. Tentu saja setelah berpamitan pada Delya. Keduanya pergi meninggalkan ruangan Delya, dan segera menuju ruangan Keenan yang berjarak tak begitu jauh. Perasaan berdebar melingkupi hati Kimi, gadis itu berharap ia tetap bisa fokus menerima pelajaran mengenai laporan keuangan, yang akan dijelaskan oleh Keenan. Ia memantrai dirinya sendiri, agar hati dan otaknya bisa diajak bekerja sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD