BAB 4

1088 Words
Gibran baru saja menepikan mobil yang di kendarainya tepat disamping penjual soto ayam langganannya, semasa kuliah dulu. Tak berselang lama, Gibran dan Delya sudah keluar dari mobil dan memasuki pedagang kaki lima dengan tenda sederhana yang selalu ramai pengunjung. Keduanya memesan makanan sesuai dengan selera mereka masing-masing, lalu mencari tempat duduk untuk mereka nanti menikmati soto ayam yang sudah lama sekali tak mereka kunjungi. “Gimana persiapan acara pernikahan lo, Del?” tanya Gibran membuka perbincangan mereka, Delya yang sedang sibuk dengan ponselnya, langsung mengalihkan pandangannya menatap Gibran yang duduk tepat dihadapannya. “Hmm... Baru sekitar 40% sih, Mas Janu lagi sibuk terus.” jawab Delya lalu ia kembali sibuk menatap ponselnya. “Gimana sih lo, nikah berdua sibuknya sendirian,” ucap Gibran dengan nada sindiran, namun Delya enggan untuk menanggapi. Setelah itu, tak lama makanan dan minuman pesanan mereka datang. Keduanya asik menikmati makanan dihadapan mereka, makanan yang sering mereka nikmati bersama. Sesekali keduanya berbincang ringan seputar pekerjaan ataupun percintaan. Selesai makan siang, Gibran mengantarkan Delya sampai kantor, sedangkan dirinya langsung pergi menuju pabrik. Karena ada beberapa hal yang perlu ia periksa, dan ia harus mengumpulkan data untuk membuat laporan yang akan diserahkan pada Delya di akhir pekan nanti. Ya, perusahaan Delya menerapkan laporan mingguan, agar dirinya tak terlalu di pusingkan karena laporan akan lebih singkat. *** Pukul tujuh malam, Delya baru saja bersiap untuk pulang. Begitu banyak laporan yang ia periksa hari ini, sampai membuatnya tak sadar jika matahari sudah tenggelam. Wanita itu sedang merapikan barang bawaannya. Saat akan melangkahkan kaki menuju pintu keluar ruangannya, Delya terkejut dengan kehadiran pria yang begitu ia cintai dengan senyum terbit dari kedua sudut bibirnya. Dengan langkah cepat Delya menghampiri Janu, wanita itu menyalami tangan tunangannya lalu mencium punggung tangannya yang dibalas dengan kecupan singkat di keningnya. “Mas kok kesini gak bilang?” tanya Delya dengan tatapan penuh tanya. “Coba cek hp kamu, Sayang,” jawab Janu seraya membelai wajah lelah sang wanita pujaan hati. Mendengar ucapan Janu, Delya dengan segera mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas. Lalu wanita itu melihat layar ponsel, dan begitu terkejut dengan banyaknya pesan dan panggilan tak terjawab dari Janu. “Maaf, Sayang. Tadi hpnya emang gak aku bisukan. Biar fokus ngecek laporannya, maaf ya.” Ucap Delya penuh penyesalan. “Gak apa-apa, Sayang. Sekarang Mas anterin pulang ya, mobil kamu tinggal disini aja.” “Oke Mas sayang.” sahut Delya antusias. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan kantor Delya, dan segera menuju tempat parkir dimana Janu memarkirkan mobilnya. Selama perjalanan keduanya, terlibat perbincangan yang seru, membahas rencana pernikahan mereka. Delya selalu mengutarakan rencana pernikahan impiannya, kebaya seperti apa yang akan dikenakan saat akad nikah, dan gaun apa untuk resepsi. Janu dengan setia mendengarkan celotehan yang keluar dari bibir manis tunangannya. Janu juga selalu mendukung apapun yang diinginkan oleh Delya. Tanpa terasa mobil yang dikendarai Janu sudah memasuki halaman rumah Delya, sesaat Janu menghentikan laju kendaraannya, lalu mematikan mesin mobil. Tak ada adegan romantis dimana pria yang akan membukakan pintu mobil untuk sang wanita, karena Delya tak terbiasa di perlakukan seperti itu. Ia lebih senang, bisa keluar dari mobil dalam waktu yang bersamaan dengan sang tunangan tercinta. Janu menghampiri Delya yang sudah berdiri di sisi lain mobilnya, lelaki itu merangkul pundak wanita tercintanya, yang dibalas dengan pelukan hangat Delya di pinggang Janu. Janu mengecup puncak kepala Delya beberapa kali, menyalurkan rasa cinta dan kerinduan. Akhir-akhir ini memang keduanya jarang sekali memiliki waktu untuk berduaan, karena akhir bulan seperti ini mereka akan sangat disibukan dengan segudang pekerjaan yang mereka miliki. “Mas mau mampir dulu atau langsung pulang?” tanya Delya, wanita itu pun menengadahkan kepalanya agar bisa menatap wajah tampan Janu, yang juga sedang menatapnya. “Mas langsung pulang aja ya, Sayang. Udah malem juga, kamu pasti cape banget, biar kamu istirahat. Nanti, kalo lagi sama-sama senggang, baru kita jalan-jalan berdua. Atau, kita habisin waktu berduaan di rumah,” jawab Janu dengan sangat lembut. Pria itu begitu mencintai wanitanya, semua sangat tergambar jelas dari perlakuan dan tutur kata yang keluar disetiap ucapannya. Delya pun selalu dengan mudah mengerti, dengan apa yang dikatakan Janu, karena apapun yang dikatakan sang tunangan selalu benar dan yang terbaik untuk keduanya. “Ya udah, Mas hati-hati dijalan pulang ya,” ujar Delya dan gadis itu melepaskan pelukan tangannya dari pinggang Janu. “Iya, Sayang. Besok pagi Mas jemput ya, kan mobil kamu di kantor.” “Oke Mas, jangan sarapan di rumah ya besok. Mas kesini pagi-pagi, aku mau sarapan bubur ayam yang waktu itu pernah kita beli.” “Oke, Sayang. Ya udah, kamu masuk deh. Mas pulang, ya.” Setelah mendengar ucapan Janu, Delya berhambur memeluk tubuh tunangannya yang sangat ia cintai. Pria yang selalu memberikan kenyamanan dan kasih sayang berlimpah, pelukan Delya pun terbalaskan. Janu memeluk tak kalah erat dari wanita yang selalu ia lindungi dengan sepenuh hati, Janu selalu berusaha membahagiakan tunangan cantiknya. Kini Janu sudah benar-benar meninggalkan rumah Delya, setelah terjadi drama beberapa saat karena Delya yang tak ingin melepaskan pelukannya. Namun, dengan sabar Janu menunggu sampai Delya bisa ditinggalkan. Setelah mobil Janu tak lagi terlihat, Delya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Wanita itu bertemu dengan sang Ibu yang sedang menyaksikan acara disalah satu stasiun TV. Setelah menyapa dan mencium punggung tangan Ibunya, Delya melanjutkan langkah kakinya menuju kamar, dilanjutkan dengan kegiatan membersihkan diri. *** “Kamu gak makan malem, Kak?” tanya Arawinda, saat melihat putri sulungnya sedang membuat satu gelas s**u coklat. “Enggak deh, Bu. Aku minum s**u aja,” jawab Delya dengan tetap fokus pada kegiatannya menuangkan air hangat pada gelas. “Ya sudah, abis ini kamu langsung istirahat ya. Ibu masuk kamar duluan.” “Iya, Bu. Selamat istirahat ya, Bu.” Arawinda berlalu meninggalkan dapur dan menuju kamarnya, sedangkan Delya menuju meja makan dengan satu gelas s**u, yang sudah ia buat dan hanya tersisa setengah. Wanita itu duduk disalah satu kursi dan meletakan minuman miliknya diatas meja. Tangan kanannya sibuk dengan ponsel yang ada di genggamannya, ia sedang berbalas pesan dengan Janu, pria yang sudah sangat menguasai hatinya beberapa tahun terakhir. Sesekali wanita itu tersenyum, saat membaca isi pesan dari Janu yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang. Namun, diselingi candaan yang mampu membuat hati Delya berbunga-bunga. Delya sudah menghabiskan minuman hangat, yang mampu mengenyangkan perutnya malam ini. Wanita itu juga, sudah mencuci kembali gelas yang tadi ia gunakan. Tetap dengan kegiatannya berbalas pesan dengan Janu, wanita itu berjalan menuju kamarnya. Ingin sekali segera terlelap dalam tidur yang nyenyak dan pagi segera menyapa. Wanita itu sudah tak sabar menantikan hari esok, karena ia sudah sangat merindukan tunangan tampannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD