BAB 3

1157 Words
Pagi ini seperti biasa, Delya sudah dikantor untuk memeriksa beberapa laporan, terutama laporan penjualan dan produksi yang memang wajib ia cek setiap hari.  Begitu serius Delya memeriksa semua laporan yang ada di hadapannya, sampai ia mendengar suara ketukan pintu dan berhasil mengalihkan fokusnya. “Iya masuk." Sahut wanita itu. Laki-laki tampan bertubuh tegap dengan rambut tebal berwarna coklat berdiri di balik pintu yang sudah terbuka, dengan senyum berkembang di kedua sudut bibirnya. Adelion Gibran atau yang biasa disapa Gibran adalah sahabat Delya sejak mereka bersekolah menengah atas dulu. Persahabatan mereka terjalin baik hingga sekarang, bahkan Delya selalu percaya untuk menceritakan segala masalahnya pada Gibran. Baik itu masalah perusahaan atau masalah hubungannya dengan Janu. Gibran kepal produksi, yang mengawasi segala jenis produksi pakaian di Appu Garment. Karena Delya merasa dirinya tidak mampu untuk mengawasi Appu Store dan Appu Garment sekaligus, jadi ia mempercayakannya pada Gibran. Orang-orang yang begitu dekat dengan Delya dan Gibran merasa kagum dengan persahabatan mereka. Karena pasalnya sulit bersahabat dengan lawan jenis tanpa melibatkan perasaan, namun mereka berdua bisa dan bertahan sampai sejauh ini. Gibran memasuki ruangan sahabat sekaligus atasannya itu, lalu duduk di sofa yang ada di ruangan Delya. “Tumben pagi-pagi udah kesini. Ada masalah?” Tanya Delya “Gak ada, pengen aja nyamperin Bu bos pagi-pagi. Biar bisa gangguin pas ngecek laporan.” Jawab Gibran dengan nada candaan. “Isshhh bener-bener lo ya.” Kesal Delya lalu meleparkan pulpen yang ada di mejanya, dan tepat mengenai kening Gibran. “KDRP lo ya Del.” Ucap Gibran seraya mengusap keningnya yang baru saja terkena lemparan pulpen. “KDRP apaan lagi?” Tanya Delya bingung. “Kekerasan dalam ruang perusahaan. Hahahahaha...” jawab Gibran lalu tawanya pecah melihat wajah kesal Delya. “Del entar makan siang bareng yuk.” ajak Gibran setelah tawanya reda. “Ayok, mau dimana?” “Gue pengen makan soto ayam langganan kita waktu kuliah dulu. Mau gak?” “Emang masih jualan?” “Masih lah, kan adek gue kuliah disana. Ya gue tanya dia katanya masih ada.” “Ya udah ayok aja gue mah, apalagi gratis.” “Yyeeee kebalik kali Del, harusnya lo yang traktir gue, kan banyakan duit lo daripada gue.” “Aamiin... Di doain duitnya banyak sih gue aamiinin aja. Ya udah iya gue yang traktir, terus ada keperluan lagi gak sama gue? Gue mau lanjut ngecek laporan nih.” tanya Delya yang merasa harus segera menyelesaikan pekerjaannya mengecek laporan harian. “Gak ada sih udah itu aja.” Ujar Gibran dan langsung berdiri dari tempat duduknya menuju pintu ruangan itu untuk segera keluar, karena sudah ia pastikan sahabatnya itu akan mengamuk. “Gibraaaaaannnnnnnnn gak waras lo ya, ke ruangan gue cuma mau ngajak makan siang bareng, padahal lo bisa chat gue aja.” teriak Delya kesal dan penuh amarah dengan kelakuan sahabatnya. “Tuh kan bener ngamuk, untung gue buru-buru keluar. Kalo enggak bukan pulpen lagi entar yang melayang kena jidat ganteng gue.” Monolog Gibran pada dirinya sendiri sambil terkekeh lalu pergi meninggalkan ruangan Delya. *** Sudah jam dua belas siang, Delya sedang bersiap untuk pergi makan siang dengan Gibran. Namun, sebelum keluar dari ruangannya Delya menyempatkan untuk menghubungi Janu terlebih dulu. Selain untuk menanyakan kabar tunangannya, Delya juga akan memberi kabar, jika siang ini ia akan pergi makan siang bersama Gibran. Walaupun Janu sudah mengenal Gibran sebagai sahabat Delya, tapi tidak ada salahnya jika Delya memberi tahu pada Janu mengenai rencananya hari ini. Karena Delya sangat menghargai hubungannya dengan Janu, apalagi sekarang statusnya sudah bukan hanya berpacaran. Tapi sudah berubah menjadi bertunangan, yang pastinya akan melangkah ke jenjang lebih serius. Panggilan pertama, kedua dan ketiga Delya masih belum mendapat jawaban. Sampai pada akhirnya Delya memutuskan untuk mengirim pesan saja pada janu, karena wanita itu berpikir mungkin tunangannya sedang sibuk. Namun belum sempat Delya mengetik pesan, tiba-tiba saja orang yang tadi ia hubungin menelpon. Dengan cepat Delya menggeser ke kanan ikon bergambar gagang telpon berwarna hijau untuk menerima panggilan itu. “Hal, Mas. Masih sibuk ya? Aku ganggu ya?” tanya Delya setelah meletakan ponselnya tepat di depan daun telinga kanannya. “Halo, Sayang. Mas tadi lagi ke toilet. Tunangan cantiknya Mas, gak akan pernah ganggu dong. Ada apa, Sayang? Sampai telpon berkali-kali, kangen ya?” ujar Janu dari seberang telpon. “Kangen mah setiap menit, Mas. Aku mau ijin, hari ini makan siang sama Gibran ya mas.” Delya mengutarakan tujuannya menghubungi Janu. “Wahh udah jadi bucinnya Mas nih ya si cantik, ya udah boleh Sayang, kalau mau makan siang sama Gibran. Mau makan dimana memangnya?” Tanya Janu lembut. “Tau nih semenjak tunangan aku jadi bucin banget sama Mas, pengennya bisa ketemu setiap hari. Tapi kita sama-sama sibuk, makanya kalau udah nikah nanti, mudah-mudahan Kimi udah bisa ngurusin Appu Store sama Appu Garment. Biar aku ngikutin Mas terus aja, hehehehe. Oh iya, Gibran minta ditemenin makan soto ayam langganan kita waktu kuliah dulu.” cerocos Delya dengan kalimat panjangnya. “Mas juga jadi bucin banget sama kamu, Sayang. Ya udah kalau nanti udah nikah, kamu gak usah kerja lagi. Mas usahain bisa bantu Kimi di perusahaan kamu Sayang, jadi gak usah khawatir masalah itu. Kamu hati-hati dijalan ya, Sayang. Inget pesan Mas, makan sambelnya gak boleh banyak-banyak. Mas gak mau kamu sakit, Sayang.” “Oke siap Mas. Terima kasih ya, Mas. I love you.” ucap Delya lembut. “I love you too, tunanganku. Nanti malem Mas gak kerumah dulu ya, besok Mas baru usahain mampir buat ketemu si cantik, yang pastinya sekarang lagi senyum-senyum.” ujar Janu dengan nada menggoda. “Ih, Mas tau aja aku lagi senyum-senyum. Ya udah besok aku tunggu ya Mas, aku matiin telponnya. Bye...” “Bye sayang.” jawab Janu, lalu Delya pun mematikan panggilan telponnya. Wanita itu bergegas keluar meninggalkan ruangannya menuju parkiran, karena ia baru saja membaca pesan dari Gibran, jika lelaki itu sudah menunggunya di parkiran kantor. Delya sudah melihat mobil Gibran dari kejauhan, dan sang pemilik sudah duduk dibalik kemudinya. Ia pun semakin mempercepat langkahnya, karena tak ingin sahabatnya itu menunggu terlalu lama, walaupun sebetulnya Gibran sudah menunggu lumayan lama, karena Delya yang asik berbincang-bincang di telpon dengan Janu. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil disisi penumpang dan langsung duduk dengan nyaman. “Kirain lupa punya janji makan siang bareng gue.” ujar Gibran ketus. “Ih laki sih ngambekan, ya gak lupa lah cuma kan tadi ijin dulu ke Mas.” “Ya ya ya... Susah deh kalo ngomong sama orang bucin, pasang seat belt buruan. Gue udah laper nih.” ucap Gibran dengan nada sedikit galak. “Iya iya ini mau dipasang, gak usah galak-galak entar gak ada cewek yang mau deket.” Delya pun segera memasangkan sabuk pengaman dengan benar sesuai perintah Gibran, ia tak mau sahabatnya semakin kesal. “Gak apa-apa kalo gak ada cewek yang mau deket sama gue, yang penting lo slalu ada di deket gue, Del.” jawab Gibran yang tentu saja hanya di ucapkan dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD