Hari ini sesuai dengan rencana, Kimi akan mulai belajar untuk membantu Delya mengelola perusahaan online shopnya. Karena untuk di Pabrik Garment, Delya telah mempercayakan sepenuhnya kepada Gibran sang sahabat yang sudah dia kenal sejak 6 tahun lalu. Gibran si cowok tampan dengan sejuta pesonanya namun betah dengan status lajangnya.
Sepulang kuliah Kimi langsung mendatangi kantor Delya, Kimi masuk ke ruangan setelah mendapat ijin dari asisten pribadi kakaknya.
“Hai kak, maaf aku telat. Tadi aku mampir dulu ke Toko Buku karena ada buku yang harus aku beli.” Ucap Kimi dengan wajah memelas karena merasa bersalah pada Delya
“Iya gak apa-apa de, kamu udah makan siang?”
“Udah kak tadi sebelum kesini. Jangan bilang kakak belum makan karena nungguin aku.”
“Iiihhh PD sekali anda Nona”. Canda Delya yang langsung menimbulkan gelak tawa kedua kakak beradik itu.
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, hampir tiga jam penuh Kimi mempelajari bagaimana cara mengelola perusahaan sang kakak. Ini benar-benar pengalaman yang menyenangkan karena bisa belajar langsung bagaimana mengelola perusahaan dari kakak tercintanya. Walaupun pusing Kimi sangat menikmati gimana memperlajari semuanya. Karena dia sangat menghargai kerja keras sang kakak. Dan dia sangat mengerti bagaimana Delya ingin perusahaannya ini hanya dikelola oleh keluarga, maka dari itu Kimi benar-benar bekerja keras untuk bisa menggantikan Delya mengelola perusahaan. Kimi juga sangat mendukung keinginan Delya jika setelah memiliki anak nanti maka Delya ingin menjadi Ibu Rumah Tangga saja, karena ingin fokus untuk suami dan anak-anaknya. Ya walau sesekali akan membantu Kimi memantau perkembangan perusahaannya. Bagaimanapun perusahaannya sekarang dia rintis semuanya sendiri dari nol. Jadi Delya tidak mungkin meninggalkan begitu saja.
***
Pukul enam sore Delya dan Kimi sampai dirumah mereka, setelah masuk kedalam rumah dan menyapa Arawinda sang Ibu. Baik Delya maupun Kimi langsung masuk ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri. Selesai dari kegiatannya di kamar mandi, Delya duduk di sofa yang ada dikamarnya lalu membuka handphonenya. Raut kecewa yang Delya tunjukan seraya menghembuskan nafasnya kasar, karena semua pesan yang ia kirim untuk Janu tak mendapat jawaban. Bahkan pesannya pun menunjukan kondisi belum terbaca.
“Apa mas sibuk banget ya hari ini?” Monolog Delya bertanya pada dirinya sendiri
Tok...Tok...Tok...
Suara ketukan pintu kamar Delya menyadarkan ia dari lamunannya.
“Apa ?” sahut Delya lemah
Tak terdengar jawaban apapun dari balik pintu, tapi kembali terdengar suara ketukan yang semakin keras. Dengan malas Delya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. Untuk melihat ulah siapa yang mengerjainya disaat dirinya sedang kesal karena tak kunjung menjawab pesannya untuk sekedar memberi kabar. Delya membuka pintu kamarnya seraya membelalakan mata melihat siapa yang berdiri didepan pintu kamarnya. Ya tunangannya berdiri dihadapannya dengan sebucket bunga Lili dan senyum manis terpancar dari wajah tampannya. Baru sehari tidak bertemu saja sudah membuat Delya uring-uringan seperti ini. Rasa rindu begitu menyelimuti hatinya, setelah melihat orang yang sangat dirindukan ada didepan matanya. Delya tak akan mensia-siakan kesempatan dan segera berhambur memeluk pujaan hatinya.
“Mas kok seharian gak kasih kabar?” Kesal Delya memukul punggung Janu
“Kan mas udah bilang sayang kalau hari ini mas sibuk, kamu juga sibuk kan harus ajarin Kimi di kantor?”
“Tapi apa salahnya memberi kabar, aku sudah berpikiran macam-macam.” Suara Delya semakin kecil karena mulai terisak.
Mendengar wanitanya menangis, Janu pun melonggarkan pelukan tangan Delya dari punggungnya. Merangkul pundak Delya dan membawanya untuk duduk di sofa yang ada di kamar Delya. Janu meletakan bunga yang ia bawa, karena sepertinya tidak menarik bagi wanitanya. Lalu Janu menangkup wajah mungil Delya, mengusap air mata yang terus mengalir dipipi chubby itu.
“Maafkan mas karena tidak membalas pesanmu sayang, mas benar-benar tidak sempat hari ini. Tapi mas langsung datang kesini untuk menemuimu. Rupanya kedatangan mas malah membuatmu sedih. Jadi mas pulang saja ya ?”
Delya hanya menggeleng cepat dan langsung berhambur memeluk Janu. Janu membalas pelukan Delya serta mengusap punggung wanitanya dengan sayang untuk menenangkan dan meredakan isak tangis Delya. Setelah puas memeluk tunangannya, Delya melepas pelukannya.
“Mas apa bucket bunganya untukku?” Tanya Delya dengan mata berbinar penuh cinta
“Tentu sayang, bucket bunganya untukmu. Untuk wanita spesial dihatiku.” Balas Janu sambil menyelipkan anak rambut dibelakang telinga Delya.
“Baiklah kalau memang untukku, biarkan saja dulu disitu. Sekarang aku mau makan mas karena aku sangat lapar setelah menangis.”
“Siapa suruh menangis seperti anak kecil saja.”
“Semua karenamu yang tidak memberiku kabar mas, jangan lupakan alasan kenapa aku menangis malam ini.” Ujar Delya dengan nada kesal
“Oke oke, mas minta maaf. Jadi kamu mau makan apa malam ini My Fiance?” Tanya Janu dan setelahnya mengecup bibir Delya yang sudah menjadi candunya selama dua tahun ini.
“Iiihhhh kok pake cium sih nanti kalau keliatan ibu atau Kimi gimana, kan aku malu.” Ucap Delya dengan memasang wajah cemberut
“Jadi kamu mau makan apa?” Janu mengulang pertanyaannya tanpa mempedulikan protes Delya.
“Aku mau makan masakan ibu aja, sepertinya ibu masak makanan kesukaanku hari ini. Tapi aku mau mas suapi aku makan ya ya ya.” Pinta Delya dengan wajah memelas, kalau sudah begini mana sanggup Janu menolak
“Oke sayang, ayo kita keruang makan mas suapi kamu makan. Tapi kamu harus janji tidak akan melewatkan jam makan mu karena kesal pada mas ya. Kalau kamu ulangi mas akan marah padamu.” Kesal Janu kepada Delya karena melewatkan jam makan malamnya.
“Maaf.” Cicit Delya nyaris tak terdengar
Janu dan Delya pun keluar kamar dan langsung menghampiri meja makan, dengan telaten Janu menyuapi pujaan hatinya makan. Dan Delya pun menerima setiap suapan dengan rasa bahagia. Delya berpikir mungkin karena sebentar lagi waktunya siklus datang bulan perasaannya menjadi lebih sensitif. Ia juga selalu mengingat pesan ibunya kalau ujian akan semakin banyak menghampiri pasangan yang akan melangkah ke jenjang pernikahan, mungkin ini salah satu ujian itu. Dimana Delya berpikir yang tidak-tidak terhadap Janu karena seharian ini tidak memberi kabar, dan kenyataannya sang tunangan benar-benar sibuk. Karena saat ada waktu Janu langsung mendatangi rumahnya. Delya berjanji pada dirinya sendiri tidak akan berpikir macam-macam lagi.
Setelah selesai makan, mereka berdua duduk diruang keluarga dengan posisi saling memeluk dari samping. Delya yang mencari kenyamanan di pelukan Janu dan sebaliknya Janu yang memberi kenyamanan untuk wanitanya. Sedikit berbincang-bincang tentang kegiatan mereka masing-masing hari ini, sampai Delya terlelap dalam pelukan hangat Janu. Setelah memindahkan Delya ke kamarnya, Janu berpamitan kepada Arawinda untuk pulang. Dan Janu pulang dengan rasa lelah yang menyelimuti sekujur tubuhnya.