Sisa Kehangatan Malam Itu & Dinginnya Kenyataan
"Vin ... ahh, Gavin ... pelan-pelan ...."
"Kania ... tatap aku, Sayang. Sial, kamu nikmat banget malam ini ...."
"Ahhh ... Gavin ...."
Di bawah temaram lampu kamar hotel malam perpisahan sekolah itu, suara erangan dan desahan napas yang memburu saling bersahutan, memecah keheningan malam. Kulit mereka yang polos saling bersentuhan, terasa panas dan basah oleh keringat. Kania mencengkeram erat bahu kokoh Gavin, merasakan setiap dorongan pemuda itu yang begitu dalam, intens, namun dipenuhi kelembutan yang memuja.
"Aku nggak akan pernah lepasin kamu, Kania. Nggak akan pernah," bisik Gavin parau tepat di ceruk leher Kania, menyalurkan gairah muda mereka yang murni dan meledak-ledak di atas ranjang yang menjadi saksi bisu penyerahan seluruh jiwa raga mereka. Malam itu, di bawah dekapan hangat Gavin, Kania percaya pemuda itu adalah masa depannya.
Namun, Kania tidak pernah tahu bahwa malam penuh pelukan panas itu adalah malam terakhirnya bersama Gavin. Keesokan harinya, Gavin menghilang tanpa kabar, dikirim paksa ke Jepang oleh keluarganya dan memutus seluruh akses komunikasi. Meninggalkan Kania yang beberapa minggu kemudian hanya bisa terduduk lemas di lantai kamar mandi, menangis sendirian sambil memegangi perutnya yang bergejolak hebat, memuntahkan cairan bening berulang kali hingga tubuhnya gemetar tanpa daya.
---
Tujuh Tahun Kemudian ...
Lampu merah di atas pintu ruang resusitasi IGD rumah sakit berkedip-kedip memecah keheningan malam.
Kania berdiri bersandar pada dinding lorong rumah sakit yang kaku dengan tubuh gemetar hebat. Di dalam sana, tim dokter sedang berjuang memasang alat bantu napas ke tubuh kecil Arjuna, putranya yang baru berusia enam tahun. Juna kolaps mendadak di rumah; tubuhnya kejang dan bibirnya membiru pekat akibat sekat jantungnya yang bocor bawaan lahir.
Dengan tangan yang gemetar hebat karena ketakutan, Kania merogoh saku blazernya dan mengambil ponsel. Nama "Rendra" langsung ditekan.
Panggilan dialihkan.
Kania menggigit bibirnya, mencoba lagi. Panggilan kedua, ketiga, hingga kelima, hasilnya tetap sama. Hanya suara mesin operator yang menyatakan bahwa nomor suaminya sedang berada di luar jangkauan.
"Rendra, angkat ... tolong angkat. Anak kamu sekarat," isak Kania frustrasi.
Kania tahu Rendra sengaja mematikan ponsel. Suaminya yang narsistik itu sudah berubah menjadi laki-laki dingin sejak malam pertama pernikahan mereka, saat Rendra mengetahui Kania sudah tidak perawan. Hubungan ranjang mereka yang kasar dan selalu membuat perut Kania kram setelahnya menjadi awal dari siksaan mental dan keuangan selama bertahun-tahun. Rendra membatasi uang sepeser pun untuk Kania, dan malam ini, di saat Juna bertaruh nyawa, laki-laki itu malah menghilang entah ke mana.
Pintu ruang resusitasi mendadak terbuka kasar. Seorang dokter keluar dengan wajah tegang.
"Ibu dari pasien Arjuna?"
Kania langsung menghambur maju. "Iya, Dok! Saya ibunya. Juna gimana, Dok?"
"Kondisi daruratnya sudah kami stabilkan untuk sementara dengan alat bantu napas. Tapi lubang di sekat jantung Juna melebar drastis. Dia harus segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif anak malam ini juga sebelum kondisinya makin drop. Untuk tindakan darurat ini, pihak administrasi membutuhkan uang muka minimal seratus juta rupiah minggu ini, Bu," ujar dokter itu prihatin.
Seratus juta rupiah.
Kania merosot jatuh ke lantai lorong yang dingin. Dia memeluk lututnya sendiri, menangis tergugu di sudut jalan rumah sakit yang sepi. Dompetnya kosong. Rendra memegang seluruh kendali keuangan. Kania teringat pesan dari Maya, sahabatnya, beberapa jam lalu sebelum Juna kolaps, yang menawarinya lowongan darurat sebagai staf kontrak keuangan di kantor pusat holding Pramudya Group dengan gaji besar demi mengumpulkan biaya sendiri. Kania berniat melamar besok, tapi malam ini ... dari mana dia bisa mendapatkan seratus juta dalam sekejap?
"Kania?"
Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan dipenuhi nada keterkejutan yang teramat sangat tiba-tiba memecah keheningan di atas kepala Kania.
Kania mendongak perlahan, mengabaikan air mata yang kabur. Sepasang sepatu pantofel kulit yang mengilat berdiri tepat di depannya. Begitu matanya bergerak naik, Kania terpaku hingga napasnya tercekat.
Seorang pria dengan setelan jas abu-abu mewah sedang berdiri menatapnya. Wajahnya tegas dengan rahang kokoh, dan sepasang mata elang hitam pekat yang dulu pernah menatapnya penuh pemujaan di kamar hotel tujuh tahun lalu, kini sedang menatapnya dengan kilatan emosi campur aduk—antara syok, tidak percaya, dan kemarahan yang tertahan.
Gavin Pramudya.
Pria yang memiliki malam itu bersamanya, kini berdiri kokoh sebagai CEO tertinggi Pramudya Group. Gavin berada di sana setelah menjenguk kliennya di ruang perawatan khusus, tidak pernah menyangka akan menemukan wanita yang mengkhianati janji masa lalu mereka sedang terduduk rapuh di lantai IGD.
"G-Gavin ...?" bisik Kania dengan bibir bergetar, suaranya hampir habis.
Gavin langsung melangkah maju, lalu berlutut di depan Kania tanpa peduli jas mewahnya menyentuh lantai yang kotor. Tatapan dinginnya seketika runtuh melihat kondisi Kania yang begitu berantakan, meski ada kilatan luka di matanya karena mengira Kania telah bahagia menikah dengan pria lain. Kedua tangannya mencengkeram bahu Kania yang gemetar hebat.
"Kania, kamu kenapa? Kenapa kamu bisa ada di sini dan nangis kayak gini?" tanya Gavin, suaranya terdengar panik bercampur tuntutan.
Kania menggelengkan kepalanya pasrah. Rasa ketakutan akan kematian Juna mengalahkan seluruh rasa canggung atau rahasia besar yang dia simpan. Fokusnya murni hanya pada nyawa putranya.
"Anakku, Vin ... Juna," isak Kania pecah, dia meremas lengan jas Gavin seolah pria itu adalah satu-satunya penolongnya. "Dia harus masuk ruang intensif ... tapi aku butuh uang muka seratus juta sekarang. Aku nggak punya uangnya, Vin. Suamiku nggak bisa dihubungi ...."
Mendengar kata 'suamiku' dan melihat air mata Kania yang bercucuran, rahang Gavin seketika mengeras. Amarah dan rasa posesif yang tertahan selama tujuh tahun di Jepang mendadak bergejolak. Melihat Kania yang sekarat secara mental, Gavin langsung meredam egonya dan menatap lurus ke dalam manik mata Kania dengan otoritas mutlak.
"Berapa pun biayanya, aku yang tanggung, Kania. Semuanya." Gavin menggenggam tangan Kania yang dingin dengan erat. "Kamu nggak perlu mikirin uang itu lagi. Aku ada di sini sekarang."
Kania tertegun, tangisnya tertahan melihat sorot mata Gavin yang begitu tegas, persis seperti tujuh tahun lalu saat berjanji melindunginya, sebelum takdir merenggut pria itu pergi dari hidupnya. Gavin segera berdiri, meraih ponsel dari saku celananya, dan menghubungi asisten pribadinya dengan satu gerakan cepat.