“Lo itu manusia yang pantasnya hidup sendiri.”.
“Tidak akan ada seorangpun yang akan mau berteman atau hidup sama Lo.”.
“Lo harusnya sadar diri.”.
“Lo hanya seorang diri.”.
Tara terbangun dari tidurnya, ia mendesah saat menyadari bahwa ini sudah pagi. Ah tidurnya seperti orang mati, ia tidak makan siang dan makan malam. Tara mengusap wajahnya yang terasa lengket. Serta mengendus-endus bau tubuhnya, Tara mengernyit. Tubuhnya benar-benar bau dan seperti orang yang sudah tidak mandi dua hari saja.
Tara menatap langit-langit kamarnya yang gelap, Tara membuang nafas saat otaknya mengingat kejadian kemarin. Tara menelusupkan kepalanya di antara lengan dan kakinya yang tertekuk, lalu saat Tara menengadahkan kepalanya Tara mengeluarkan senyum manisnya.
“Ah! Pasti wajah Gue yang kaya princess berubah jadi seperti cinderella yang jadi babu!” Tara berteriak kesal.
Tara berteriak dengan bantal yang menutupi wajahnya agar suaranya teredam. Tara sampai lupa kalau kamarnya kedap suara, karena saat kepala Tara dipenuhi dengan masalah, Tara lupa akan hal sekecil apapun.
“Argh! Gue pasti jelek banget.” Tara kesal pada dirinya yang seperti ini, terlebih ketika mengingat hal kemarin yang terjadi. Ia dan Chandra bertengkar hebat, dan harusnya bagaimana ia harus menemui bodyguardnya itu hari ini? Entah sejak kapan Tara harus memikirkan hal rumit semacam ini.
Tahukah Tara? Sudut bibir seseorang terangkat melihat tingkah konyol Tara sejak tadi.
“Nona sudah bangun?”.
“Astaga!” Tara terkejut saat menyadari bahwa dirinya tidak hanya sendiri di kamar. Tara melihat kearah sumber suara, suara langkah kaki juga mendekat kearahnya.
“Om sumpah ya, kalau Gue enggak sayang sama Lo, Gue sudah bunuh Lo!” omel Tara, seperti biasa Chandra hanya diam tanpa membalas omelan Tara. Setidaknya Chandra harus bersyukur bahwa Tara lupa kalau dirinya telah membentak gadis itu kemarin.
“Nona sejak kemarin belum makan.” Chandra mendekat kearah Tara dengan nampan berisi makanan serta segelas s**u, Chandra sengaja membawakan untuk Nonanya yang masih menatapnya sinis.
Chandra memang sengaja bersembunyi di tempat yang gelap di bagian kamar Tara, Chandra selalu senang saat melihat wajah bangun Tara untuk pertama kali. Meski Chandra tidak bisa mendekati gadis itu, namun ia tetap akan bertahan di tempatnya selama yang Tara butuhkan untuk bangun.
“Om mau jebak Gue ya?” tanya Tara pada Chandra yang hanya mengangkat satu alisnya, tidak paham dengan apa yang dituduhkan Tara padanya. Chandra benar-benar sudah ada di tepi ranjang Tara, dan Tara dengan tidak elitnya menunjuknya dengan jari telunjuk kecil nan panjang milik Tara.
“Om sengajakan bawa makanan ke sini biar Om bisa mengomeli Gue lagi?” Chandra menarik sudut bibirnya sangat tipis, saat Tara masih mengingat nasehatnya untuk tidak makan di dalam kamar. Chandra membungkukkan badannya, tepat di depan wajah Tara yang langsung reflek mundur. Tara memang bandel dan bebal. Namun untuk kebiasaan yang satu itu, tentu saja Tara mengingatnya. Siapa juga yang ingin tidur dengan semut atau kecoak menggerayangi tubuhnya yang mulus dan cantik.
“Apa yang mau Lo lakukan?” tanya Tara dengan mata galaknya, Chandra lalu kembali meluruskan tubuhnya setelah memastikan sesuatu. Chandra hanya ingin memastikan jika mata Tara tidak terlalu bengkak, setelah semalam ia tidak tidur karena mengompres mata Tara.
“Untuk hari ini pengecualian Nona, Saya izinkan Anda makan di ranjang sebelum mandi.” Tara tidak lantas percaya, ia bersidekap d**a menatap Chandra dengan mata curiga.
“Lo pasti kena azab kalau bohongi princess.” Chandra hanya mengangkat bahunya, lalu menaruh nampan yang ia bawa pada pangkuan Tara, Tara menggeleng.
“Om taruh di nakas.” perintah Tara.
“Tidak Nona, sebelum Anda memakannya.” Tara memutar mata malas.
“Iya nanti Gue makan, Om duduk sini.” Tara menepuk ranjang sampingnya, setelah Chandra menaruh sarapan paginya di atas nakas seperti perintah Tara. Chandra hanya diam membuat Tara memutar mata malas, lalu menarik tangan Chandra hingga membuat tubuh Chandra terhuyung menimpa tubuh Tara.
Tara tersentak, ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya, terutama jantungnya yang tiba-tiba berdebar cepat saat hidung Chandra tidak sengaja bersentuhan dengan puncak hidungnya.
Aroma mint dan musk dari tubuh Chandra membuat Tara menutup matanya, ia merasakan ketenangan hanya karena aroma seorang Chandra. Orang inilah yang Tara inginkan, di bawah orang yang berwajah datar inilah ia mampu mencari perlindungan. Tara tetap diam, mengeratkan pegangannya pada lengan Chandra yang keras.
Chandra sendiri juga sama, entah kenapa ia begitu menikmati kedekatan ini. Bukan kali pertama mereka dekat tapi 'astaga!' batin Chandra menjerit kala Tara memejamkan matanya.
Chandra menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya. Ia segera menarik tubuhnya memberi jarak pada tubuh Tara. Tara membuka matanya saat dirasa Chandra akan beranjak. Tara mencekal tangan Chandra, dengan cepat ia memeluk tubuh tinggi menjulang Chandra dengan erat.
Chandra menahan nafasnya, matanya terbelalak dengan apa yang dilakukan Tara. Kedua tangannya sudah Chandra gunakan sebagai tumpuan, agar badan tegap tingginya tidak sampai menindih tubuh Tara.
“No-!”.
“Tidak Om, biarkan seperti ini. Tara mohon.” Chandra tidak lagi membantah, mendengar nada permohonan Tara yang baru pertama kali Chandra dengar. Chandra membiarkan Tara bersembunyi di balik ceruk lehernya, Chandra memang merasa tidak nyaman dengan kelakuan Tara. Tapi Chandra sangat paham jika Tara butuh pelukannya, atau karena Chandra memang menginginkan hal yang sama terjadi.
Ia tahu bahwa Tara adalah gadis rapuh yang selalu berusaha kuat. Chandra ragu, apakah ia harus membalas pelukan yang Tara lakukan atau hanya diam saja. Wanita ini hanya butuh perlindungan dan terkutuklah jantungnya yang malah berdetak tidak seirama.
“Om jangan pernah tinggalkan, Tara.” Chandra menahan nafasnya, ia ingin mengurai pelukan Tara tapi gadis itu malah mencari kenyamanan dari ceruk lehernya kearah d**a bidangnya.
“Hanya Om yang ada buat Tara.” Chandra memutuskan untuk diam mendengarkan apa yang akan dikatakan Tara, Tara sedikit tenang mendengar detak jantung Chandra yang memang terdengar cepat. Mungkin karena posisi Chandra yang menahan tubuh inilah, yang membuat jantung Chandra berdetak lebih cepat.
“Hanya Om yang tulus lindungi Tara sejak kecil, bisakah Om penuhi maunya Tara?” kata-kata judes itu hilang, Tara mengurai pelukannya lalu menatap Chandra yang juga menatapnya datar tidak terbaca.
Tara berusaha tersenyum.
“Om mau kan? Om harus janji sama Tara, apapun yang akan Tara lakukan Om akan tetap sama Tara. Bagaimana pun perasaan Tara saat itu, Om akan memaklumi dan menerimanya.” Tara terus menatap Chandra dengan pikiran yang bercabang. Terlebih menatap manik mata Tara yang teduh dan penuh kesedihan seperti sekarang ini. Apa yang akan Chandra lakukan? Tanpa Tara minta pun, Chandra tidak akan mungkin meninggalkan Tara.
“Om mau janji sama Tara?” tanya Tara dengan menunjukkan jari kelingkingnya pada Chandra, Chandra diam. Ia ragu antara mengiyakan atau menolak, pikirannya kalut apalagi mendengar serentetan kalimat Tara. Perasaan Chandra mengganjal 'akan ke mana Nonanya? Apa terjadi sesuatu? Apa ia masih marah karena bentakannya?' semua pikiran Chandra buyar saat bunyi jentikan jari tepat di depan wajahnya.
“Promise me?” tanya Tara yang entah mengapa penuh pengharapan besar yang tidak terbaca, Tara tersenyum dengan kelingking tetap ia tunjukan. Chandra mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingnya. Chandra berusaha menepis segala pikirannya.
“I'm promise.” jawaban Chandra ini membuat sudut bibir Tara terangkat lalu Tara kembali memeluk Chandra, Chandra diam-diam tersenyum. Senyum yang tidak akan pernah Tara lihat sebagai senyum bahagia Chandra atas segala pengakuan Tara.
***
Tara terus menempeli Chandra seharian ini, hari ini ia bolos karena malas ke sekolah. Terlebih kejadian kemarin membuat semua orang tentu akan menatapnya aneh, yah walau Tara akui jika setiap hari semua orang menatapnya aneh. Tetap saja, Tara malas jika harus bertemu dengan banyak orang. Akhirnya di sinilah Tara pagi ini, menemani Chandra ke kantor. Padahal Chandra sudah bilang bahwa ia tidak akan ke kantor dan menjaga Tara di rumah saja, Tara tidak mau dan memilih memaksa Chandra memakai kemeja serta jas pilihannya, dan berangkat ke kantor untuk bekerja.
Chandra juga membantu Tara mengoleskan obat pada tubuh Tara, luka di bagian bahu Tara belum kering sepenuhnya. Walau memar yang di derita sudah samar-samar menghilang dari kulit putih mulus Tara. Chandra sempat khawatir karena perlakuannya pada Tara kemarin, mungkin saja membuat memar-memar itu terasa sakit. Tara tidak mengatakan apapun, setidaknya Chandra tenang. Gadis itu saat ini sudah ceria seperti biasanya, hal yang harus ia hindari adalah mengatakan hal sensitif bagi Tara.
“Nona bisa istirahat di dalam jika merasa bosan.” ucap Chandra, Tara melihat ruang kerja Chandra. Tara sebenarnya malas datang ke kantor milik Daddynya ini, tapi Tara tetap memaksa ke sini agar bisa menemani Chandra kerja.
“Om mau ke mana?” tanya Tara, Chandra yang sedang melihat berkas menoleh pada Tara.
“Hari ini ada rapat penting dari Perusahaan klien.” Tara mengangguk, sepertinya usahanya untuk membujuk Chandra untuk ke kantor adalah pilihan yang tepat.
“Gue pinjam komputer Lo ya, Om?” tanya Tara, Chandra mengangguk.
“Nona bisa menggunakannya, atau Nona ingin dibawakan satu set lagi ke sini?” tanya Chandra, Tara menggeleng.
“Enggak usah, Gue pakai punya Om saja.” Chandra menandatangi berkas terakhir dan membereskannya. Chandra berdiri, mempersilahkan Tara duduk di kursi kerjanya dengan nyaman.
“Saya akan selesai pukul 10:00, sebelum makan siang Saya akan ke mari.” Tara hanya mengangguk dengan mata yang sudah fokus pada komputernya, Chandra menggeleng ketika melihat Tara yang seperti tersihir oleh layar kaca komputer. Chandra meninggalkan ruangannya dan disambut Fariz dengan sebuah tab berisikan daftar orang yang akan ikut dalam meeting kali ini.
“Tumben sekali Nona ikut ke kantor?” tanya Fariz, Chandra hanya berdehem sebagai jawaban.
“Semakin dewasa, Nona Tara semakin cantik.” pujian Fariz membuat kaki Chandra yang ingin melangkah terhenti seketika. Chandra menatap Fariz lalu memutar matanya, entah apa yang akan terucap dari bibirnya saat mendengar pujian dari Fariz mengenai Tara. Namun sama sekali tidak bisa Chandra keluarkan menjadi sebuah kalimat, hanya hatinya saja yang merasa tidak rela jika seseorang memuji Tara, terlebih itu seorang pria.
“Kenapa?” Chandra menggeleng, lalu kembali melangkahkan kakinya ke ruang meeting. Di dalam ruang meeting, kehadiran Chandra sudah di nanti. Seorang pria berjas formal menyalami Chandra, Chandra membalasnya dengan mempersilahkan duduk.
“Bagaimana persiapan penjagaan yang Saya minta?” tanya pria yang kira-kira berusia empat puluh tahun itu pada Chandra.
“Segala persiapan telah Perusahaan kami lakukan, alat pemindai bagi semua tamu dan juga penjaga bayangan yang akan bersiaga jika kami kecolongan.” pria itu mengangguk dengan senyumnya mendengar penjelasan Chandra.
“Saya ingin dipasangkan sensor wajah bagi para tamu maupun pihak dari Perusahaan Saya sendiri. Saya berinvestasi lebih dari puluhan milyar untuk penciptaan mesin ini.” Chandra mengangguk mengerti, tidak sulit untuk melakukan pemasangan alat yang Perusahaannya miliki. Toh Perusahaannya yang akan untung banyak, ketika mendapatkan klien yang rela membayar mahal hanya untuk sebuah alat yang Perusahaannya produk sendiri.
“Apakah mesin ini akan dijual secara global?” tanya Chandra, memastikan bahwa mesin dengan penjagaan dan dana yang fantastis itu legal.
“Tentu, Perusahaan lain sudah sangat tertarik pada mesin ini.”.
“Jika Anda berkenan, ini adalah daftar Perusahaan yang akan membeli mesin kami itu.” Chandra mengambil berkas, Chandra memang tidak asing dengan beberapa nama Perusahaan yang ada di dalam daftar. Namun bukan Chandra jika akan mempercayai nama-nama Perusahaan dalam berkas, tanpa ia selidiki dulu. Chandra tidak akan menggali lubang untuk Perusahaannya terperosok ke dalamnya.
“Baik, Saya akan memasang alat yang Anda inginkan saat demo.” pihak klien mengangguk.
“Saya harap tidak ada hal yang membuat demo kami memiliki masalah.” ucap klien dengan beranjak dari kursinya, mereka hanya mengajukan alat tambahan untuk keamanan. Sehingga Chandra tidak harus berlama-lama di ruang meeting.
“Saya harap Perusahan Anda dapat bekerja sama lagi dengan Perusahaan kami.” ucap Chandra, sebenarnya tanpa Chandra bicara seperti itupun mereka tetap akan menggunakan Perusahaan yang dikelola Chandra. Mereka adalah pelanggan yang sudah lama menggunakan jasa keamanan dari Perusahaan Chandra.
“Baiklah, kalau begitu kami permisi.” pamit mereka, tangan Chandra mempersilahkan. Fariz mengambil alih dengan mengantar mereka sampai di depan ruang meeting, dan akan diteruskan oleh resepsionis yang akan mengantar mereka sampai lift.
Fariz masuk kembali ke dalam ruang meeting, melihat Chandra yang memegang tabnya.
“Ada masalah apa?” tanya Fariz, Chandra membuang nafas pelan lalu menatap pada sahabatnya itu.
“Andro kembali mendatangi Nona.” saat kata-kata itu meluncur bebas dari mulut Chandra, Fariz mengepalkan tangannya.
“Kenapa dia tidak menyerah saja?” tanya Fariz, Chandra menatap bawahan sekaligus sahabatnya itu.
“Nona Tara bisa saja menjadi bom waktu untuk mereka.” Fariz malah terlihat kesal.
“Kalau mereka sebegitu takutnya pada Nona Tara, akan lebih baik bagi mereka untuk tetap diam di kursi kehakiman mereka.” Chandra tersenyum kecil kala mendengar ucapan Fariz yang juga terlihat kesal karena masalah ini, Fariz tahu apa yang mereka inginkan dari Tara.
“Gue harap Nona akan cepat dewasa dan dapat melindungi dirinya lebih baik lagi.” Fariz malah bergidik mendengar ucapan Chandra.
“Lo juga korban bantingan Nona Tara, Lo jangan lupa itu.” ejek Fariz.
“Gue tahu kemampuannya, namun dia adalah gadis lemah di mata Gue.”.