Misi Rahasia

2449 Words
Tara menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan senyum Stevan padanya. “Bibir Lo robek ya?” tanya Tara, Stev masih pada posisinya. Lebih tepatnya, Stev semakin melebarkan senyumnya. “Gila.” ucap Tara, semua orang sudah masuk ke dalam kelas. Tapi belum mulai pelajaran pertama, sehingga mereka masih sibuk mengobrol dan juga menyalin pekerjaan rumah. “Gue suka kalau Lo ajak ngobrol Gue lebih dulu.” Tara masih dengan kegiatannya, memainkan game di ponsel pintarnya. Stev juga memperhatikan Tara dari tempat duduknya yang satu meja dengan gadis itu. Hidung Tara yang mancung, rambut hitam yang panjang dan juga poni yang menutupi area dahinya. “Terserah Lo.” ucap Tara acuh, tangannya terus bergerak memainkan player yang ia pilih bersama anggota timnya. Tara juga memakai earphone silikon di telinga kanannya, agar ia bisa mendengar saat orang lain bicara sekaligus ia bisa mendengar backsound dari game yang ia mainkan. “Lo jago juga main pada level itu?” Tara hanya mengangguk, malas menanggapi dan ia sangat berkonsentrasi pada permainannya. “Lo sudah sarapan?” tanya Stev memecah keheningan lagi. Stev memperhatikan Tara sejak tadi, dan ia memang ingin bertanya banyak hal pada Tara. Tara tidak menanggapi Stev, karena Tara tahu jika saat ini banyak pasang mata. Terutama para siswi yang mengidolakan sosok Stev, menatap kearahnya dengan tidak suka. Sebenarnya sudah biasa bagi Tara, banyak cowok tampan di sekolah yang sering mengajaknya jalan ataupun dengan terang-terangan menyatakan cinta. Tapi Tara sama sekali tidak menggubris mereka, nah dari itulah para siswi seolah mengucilkannya. Mulai dari mengatakan bahwa dirinya sok jual mahal, hingga menghujatnya dengan kata-kata provokasi kepada semua siswi yang lainnya. Tara tidak butuh teman yang hanya dekat dengannya karena kepandaiannya atau kekayaannya, ia butuh teman yang menerimanya. Dan ia dapatkan itu semua dari Ihsan, teman yang baru ia kenal namun membuat Tara begitu nyaman. Padahal awal kebersamaan mereka, Ihsan seperti enggan untuk berbicara padanya. Meski pada akhirnya mereka begitu akrab dan saling terbuka satu sama lain, Ihsan juga mendapat perlakuan yang berbeda karena bersahabat dengan Tara. Tapi keduanya memilih masa bodoh, asalkan mereka tidak mengganggu dan hanya menghujat. Tidak jadi masalah, toh mereka hanya bertemu saat di sekolah saja. Tara jadi ingat cowok berkacamata itu, Tara tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya. Tara mengetikkan pesan yang membuat Tara begitu bahagia, sampai orang yang di sebelahnya menatapnya. ‘Nanti jangan lupa latihan.’ Tara mengetikkan satu pesan pada Ihsan yang langsung dibalas. Tara bahkan tidak hiraukan adanya Stevan yang terus menatapnya dalam diam. ‘Ok, Ta Ra.’ Tara tersenyum, namun juga berdecak. Ia tidak habis pikir dengan pria berkacamata itu, kenapa selalu memanggilnya dengan spasi? Bahkan saat berkirim pesan juga. Tara bahkan membelikan ponsel untuk Ihsan karena pria itu ternyata tidak memilikinya saat Tara ingin bertukar ID chat. Tara awalnya tidak percaya, tapi setelah melihat di mana Ihsan tinggal, barulah ia tahu. Ihsan bukanlah orang yang beruntung seperti dirinya, dan Tara meyakinkan diri bahwa ia tidak salah dengan menganggap Ihsan sebagai sahabatnya. Saat pulang Tara dari kantor pusat intelegent yang lalu, Tara merengek pada Nando agar berhenti di galeria. Tara tidak segan membelikan Ihsan ponsel dengan keluaran terbaru lalu ia berjanji akan mentransfer pulsa tiap bulannya. Jangan tanyakan reaksi Ihsan, Dia menolak cukup keras bahkan mengancam Tara bahwa ia tidak mau berteman dengannya lagi, tapi Tara tidak bodoh. Ia menangis, pura-pura menangis tepatnya di hadapan Ibunda Ihsan dan lebih dari tiga puluh anak yang menyaksikan drama langsungnya. Padahal Tara sudah membelikan ponsel itu sebelumnya, sebelum kembali ke panti. Nando tentu tertawa hingga mereka sampai ke Mansion, Nando bahkan melupakan rasa marahnya yang meluap ketika melihat Tara terluka sebelumnya. Nando melihat bagaimana keras kepalanya Tara. Hal penting bagi Tara adalah misinya berhasil dan Tara sangat senang juga, teman satu-satunya itu tetap aman bersamanya. Tidak memedulikan Nando yang tertawa padahal Nando cukup marah melihatnya babak belur juga. ‘Nanti Kita pakai misi rahasia.’. ‘Misi? Rahasia?.’. ‘Temui Gue di pintu belakang sekolah.’. ‘??’. Tara tersenyum geli dan misterius, Tara menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya. Lalu menaikkan alisnya saat Stevan terus menatapnya, Tara sudah merasa risih akibat tatapan itu. “Mau Gue congkel tuh mata?” tanya Tara ketus, bukannya marah Stevan malah terkekeh. “Lo selalu lucu Aloved.” Tara menegang, ia menatap Stevan yang menatap depan memperhatikan guru setelah mengatakan itu. Dan Tara baru sadar jika saat ia berkirim pesan dengan Ihsan, jam pelajaran pertama sudah dimulai. ‘Mungkin dia tidak sengaja panggil Gue begitu. Dia kan setengah gila.’ batin Tara. *** Sesuai dengan apa yang direncanakan Tara dan Ihsan hari ini, keduanya akan melaksanakan misi rahasia yang sebenarnya hanya Tara saja yang tahu, tapi tidak dengan Ihsan. Ihsan bingung dengan tempatnya berada saat ini, terlebih melihat bagaimana santainya Tara menatapnya. ”Ta Ra Kita ngapain di sini?” tanya Ihsan dengan panggilan yang membuat Tara memutar mata malas, sedangkan Ihsan tertawa kecil melihat reaksi tidak suka dari Tara. “Bisa enggak sih Lo Ih San, kalau panggil Gue pakai Tara langsung jangan di spasi?” Ihsan mengangkat bahunya tidak peduli, ia sudah nyaman memanggil Tara dengan sebutan seperti yang dia ucapkan saat ini. “Gue suka.” Tara tersenyum misterius dengan menatap Ihsan. “Jangan-jangan Lo suka sama Gue ya?” pertanyaan Tara sontak membuat pria itu bereaksi seolah-olah ingin muntah, Tara dibuat tertawa olehnya. Ihsan menatap Tara dengan pandangan jijik yang dibuat-buat, seolah Tara adalah wanita dekil yang mendambakan pria tampan seperti Ihsan. “Ih ogah Gue sama cewek bar-bar kaya Lo.” ucap Ihsan ketus, ia akui Tara bukan hanya cantik tapi juga kaya. Tapi bukan itu yang Ihsan mau, melainkan menjadi sahabat Tara saja Ihsan begitu bersyukur, lalu untuk apa ia meminta lebih? Dan ucapannya ini adalah sebuah candaan agar Tara tidak bisa menindas atau merasa tidak nyaman dengannya. Ihsan hanya mencoba membiasakan diri dengan Tara, bukan soal materi tapi lebih ke apa yang dibutuhkan Tara dengan berteman dengannya. Tara tertawa, yah ini yang ia mau. Punya sahabat yang tidak pernah memandangnya satu arah, tapi mau mengenal Tara dari sisi manapun. Tara merangkul bahu Ihsan dengan santai, benar-benar seperti sahabat yang sudah sangat lama kenal dan hidup bersama. “Yuk, sebelum pawang Gue tahu keberadaan Kita.” di sini Ihsan tahu maksud pawang dari Tara. “Kita mau ngapain di sini?” Tara menaikkan satu alisnya, lalu Tara memperlihatkan tab mewah berwarna gold nya. “Gue bilangkan tadi, kalau Kita akan punya misi rahasia.” Ihsan sudah tahu itu, namun tetap saja Ihsan sangat penasaran dengan misi yang dikatakan Tara. “Misi rahasia apaan sih Ta ra? Kenapa harus lewat pintu belakang? Memang Lo punya kunci duplikatnya?” Tara terkekeh lalu menarik tangan Ihsan santai, Ihsan sampai tidak bisa berkata-kata. Tangan Tara yang terampil saat membuka pintu dengan kunci yang entah Tara dapat dari mana. Dan yang pasti, Ihsan tidak tahu dengan apa yang Tara perbuat dengan mengotak-atik tabnya sebelum Tara memasukkan tab itu kembali ke dalam tasnya. 'Ceklek' Pintu terbuka dan di sana sudah ada sebuah motor matic di sebelah warung kecil. Tidak ada yang tahu pasti, jika di belakang sekolah sebuah sungai kecil juga sebuah warung yang lama tidak terpakai. “Ini tempat apa?” tanya Ihsan bingung, selama ini ia tidak tahu belakang sekolahan mereka ada apa saja. Toh para siswa dilarang keras untuk membuka pintu belakang sekolah yang sekarang ini sudah mereka terobos. “Bagus kan?” tanya Tara, Ihsan mengangguk. Pemandangan di sini cukup menyenangkan, karena di seberang sungai terdapat tumbuhan merambat yang merambat liar pada tembok tinggi dan besar. Tumbuhan liar lainnya juga memenuhi sepanjang aliran sungai yang sepertinya sudah tidak ada airnya. “Ini dulu bekas dari tambang pasir, dan kalau dari jalan enggak bakal kelihatan. Karena tertutup sama gedung-gedung tinggi.” jelas Tara dengan mengarahkan dagunya ke gedung-gedung tinggi mengelilingi sungai, dan Ihsan mengangguk mengerti akan penjelasan Tara. “Biasanya tempat ini digunakan untuk jalan setapak warga yang tinggal di sebelah sekolahan, di sana penduduknya padatkan?” Ihsan tentu mengangguk, tahu jika sekolah mereka ini sekolah elit dengan fasilitas lengkap. Termasuk keamanan dan CCTV nya, entah kenapa Ihsan bisa masuk ke sekolah mewah ini. Padahal ia berharapnya, Bunda pantinya tidak menyekolahkan dirinya ke sekolah mewah. Pasti bulanan sekolahnya mahal sekali, dan itu merepotkan. Karena Bunda panti mengurus lebih dari tiga puluh anak yang membutuhkan pendidikan yang sama dengannya. “Lo tahu dari mana semua ini?”. ”Gue suka jalan.” ucap Tara singkat, Ihsan menatap Tara yang sudah mengambil motor matic merahnya. “Ini motor?”. “Motor Gue kalau Gue jalani misi rahasia, naik Lo. Terus pegangan, jangan sampai jatuh.” sebenarnya penjelasan Tara sama sekali tidak mengurangi rasa penasaran Ihsan akan diri Tara, tapi apa boleh buat. Tara tidak mungkin memberitahukan apa yang menurut wanita itu tidak perlu untuk Ihsan ketahui. “Lo enggak takut motor Lo hilang?” tanya Ihsan, Ihsan tahu motor Tara sudah termasuk motor baru anti maling. Tapi di tempat ini sama sekali tidak ada penjaganya, apa Tara tidak takut?. “Kalau hilang beli lagi, repot amat sih.” Ihsan melebarkan mulutnya mendengar jawaban Tara. “Lo enggak merasa sayang?” Tara tertawa. “Kalau motor itu hilang, berarti itu bukan punya Gue lagi. Simpel bukan?” Ihsan kehabisan kata-kata untuk meladeni ucapan Tara kali ini, Ihsan memilih diam. Membiarkan orang kaya dengan segudang ucapannya yang sombong, namun selucu gadis yang memboncengnya ini. Sepanjang perjalanan mereka hanya mengobrol, terlebih obrolan mereka yang sebenarnya tidak penting sama sekali untuk mereka obrolkan. Mulai dari bagaimana mereka bertemu hingga saat ini, rasanya Ihsan juga masih tidak percaya bahwa ia bisa sedekat ini dengan Altara Kenzaro Dowman. “Hari ini Lo mau tanding sama Gue?” tanya Tara, Ihsan segera berdecak. “Ogah, sama orang yang sudah profesional saja Lo enggak kalah. Apalagi sama Gue? Gue yang bakal Lo hajar habis-habisan.” Tara tertawa. “Ta Ra, Fokus sama menyetir Lo.” ucap Ihsan memperingati, Tara bukannya berhenti. Tara semakin mempercepat laju motornya hingga pada akhirnya mereka tiba disebuah gedung tinggi berlantai entah, Ihsan juga tidak mengerti ini lantai jumlahnya berapa. Tara memarkirkan begitu saja sepeda motor maticnya, Ihsan sendiri hanya mengikuti ke mana langkah kaki Tara menuntun jalannya. Ihsan baru tahu jika saat ini mereka sedang ada dipusat perbelanjaan yang sangat terkenal. Ihsan baru pertama kali menginjakkan kakinya di gedung setinggi ini dan sepertinya sangat ramai. Tara membawa Ihsan dengan terus menggenggam tangan pria berkacamata itu, Tara takut Ihsan hilang. “Ta Ra, Kita kenapa ke sini?” tanya Ihsan, Tara yang ditanya tidak menghiraukan Ihsan dan terus melangkahkan kakinya menaiki eskalator. “Ta Ra.” panggil Ihsan namun lagi dan lagi, Tara mengabaikan Ihsan. Ihsan membuang nafas, setidaknya Ihsan sudah tahu jika Tara bukanlah orang yang mudah ditebak. Ihsan sudah mengenal Tara walau beberapa Minggu saja bersama kebiasaan gadis itu, Tara selalu mengabaikan apa yang menurutnya tidak penting. Seperti pertanyaan Ihsan kali ini, mungkin menurut Tara sama sekali tidak penting dan tidak perlu dijawab oleh gadis berambut panjang yang dikepang setengah itu. Ihsan tersenyum kala Tara menggenggamnya dengan erat, sepertinya sangat takut kehilangannya. Tentu sebagai teman dan sahabat, karena Ihsan tahu bagaimana perasaan Tara. Walaupun gadis itu tidak membicarakan hal itu padanya. “Nah, Kita sudah sampai.” Ihsan yang sejak tadi berpikir lain segera menoleh dan pada tempat mereka berdiri saat ini. Pegangan di tangan Tara terlepas dan tangan Tara menunjukkan tempat yang sejak tadi ingin ia tunjukkan pada Ihsan. “Tempat apa ini?” tanya Ihsan, dibalik dinding kaca yang sangat bersih. Ihsan dapat melihat di dalamnya terdapat beberapa layar TV besar dan sejenisnya. “Ini adalah surga bagi Gue.” alis Ihsan tentu saja tertarik. “Ap-?” belum sempat Ihsan bertanya lagi, Tara sudah menarik Ihsan masuk ke dalam toko. Ihsan dan Tara berkeliling, lebih tepatnya Tara yang terus menjelajahi rak-rak yang ada di sana. Seolah menilai kelayakan barang dan apa yang ia butuhkan. Tara begitu serius dengan otak yang berpikir cermat. “Ini semua adalah peralatan video game, atau bisa dibilang ini merupakan toko yang sangat cocok untuk Kita membeli segala keperluan dunia teknologi.” Ihsan memang merasa bahwa di dalam toko ini, semua barang yang diperlukan untuk peralatan video game tersedia. Mulai dari kaset-kasetnya, hingga layar TV besar untuk menunjangnya. Ada juga beberapa merk komputer yang tentunya akan menguras kantong pembelinya. “Di sini juga bisa servis dan juga barang dijamin original dari pabriknya.” Tara memberi penjelasan pada Ihsan, Ihsan hanya mampu mengangguk. Tara begitu antusias, seolah Tara bukanlah Tara yang ada di sekolah. Tara lebih berekspresi dari sebelumnya, Tara juga berbeda dari saat Ihsan menatap gadis itu di saat mereka latihan. Seperti Tara memiliki banyak hal yang tersembunyi, namun juga memiliki banyak hal yang ingin gadis itu beritahu padanya. Tara juga sudah memilih barang-barang yang ia inginkan, tidak hanya satu. Tara memilih setidaknya tiga layar TV yang besarnya tidak karuan dan juga stik video game. Ada dua set komputer terbaru, Ihsan semakin tidak mengerti kala Tara mengirimkan barang itu di dua alamat yang berbeda. Jelas satu alamat yang sangat Ihsan hafal diluar kepala dan itu membuat Ihsan langsung bertanya pada Tara. “Ta Ra, kenapa Lo tulisnya ke alamat Gue?” tanya Ihsan, Tara menatap Ihsan. “Gue mau saja.” jawaban acuh Tara memang tidak memuaskan Ihsan, sekali lagi Ihsan ingin memastikannya. “Ra, untuk apa Lo kirim barang-barang itu ke rumah Gue?” tanya Ihsan, Tara yang awalnya sibuk kembali melihat-lihat. Kini berhenti dan menatap sahabatnya yang memiliki mata empat. “Gue beli buat anak-anak, soal satu set komputer itu. Gue beli buat Lo.” Ihsan melebarkan matanya, Ihsan tidak percaya dan tidak bisa menerima barang pemberian dari Tara. “Ra, batalkan.” ucapan Ihsan tentu sudah dapat ditebak oleh Tara, meski begitu Tara tetap tersenyum pada Ihsan. “Gue beli buat Lo.” meski acuh namun Tara memang tidak bisa menerima penolakan apapun. “Gue tahu, Ra. Tapi Gue sahabatan sama Lo bukan karena ingin itu semuanya.” Tara merasa tersentuh dengan ucapan Ihsan kali ini, dan Tara mengangguk. “Gue tahu, dan karena Lo tulus sama Gue. Gue juga tulus kasih Lo barang-barang itu.”. “Gue enggak terima penolakan apapun, Lo sahabat Gue dan Gue mau Lo hargai pemberian Gue yang enggak seberapa itu.” Tara memotong kala Ihsan akan kembali memprotes tindakannya. Jika tidak dihentikan sekarang, Tara yakin bahwa perdebatan mereka akan mengundang banyak pengunjung yang menatap kearah mereka berdua. Atau bisa jadi sampai Chandra bisa mendeteksi di mana dia berada saat ini, itu jauh lebih sulit dari sekedar membelikan Ihsan mainan baru. Ihsan membuang nafas lalu mengangguk. “Gue hanya bisa mengucapkan terima kasih karena pemberian Lo itu.”. Ihsan sudah kalah, Tara terlalu dominan dan dia hanya sahabat yang tidak bisa melakukan apapun ketika Tara yang bossy sudah menginginkan sesuatu. Yah, dia adalah Altara Kenzaro Dowman yang terkenal sangat egois, tidak pedulian namun sangat baik di mata Ihsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD