DURJANA

243 Words
Dengarlah bisikkan lirih angin perbukitan Tentang cerita burung-burung yang terbang di perbatasan hutan Rumput liar adalah saksi Ketika caci maki dari batang merunai yang rimbun rapat, tak sempat terucap Gairah basah, kadung mencipta nyawa baru Jiwa yang dikultuskan ada Namun dibiarkan tersesat tanpa sempat merindu Aduhai, kuncup melati redup Kau, tak perlu lagi menjilati aibmu! Sebab cacing tanah telah menggemburkan duka. Langit tercurah meneteskan darah. Angin tergerai menabur musibah. Dan Ombak terangkum melebur binasa. Bumi, tak seharusnya melahirkan bidadari kecil dengan setengah darah iblis mengalir di tubuhnya… ******* AWAL Agustus 1980 Wanita berkerudung dan anak lelakinya itu tampak melangkah lesu menuju ruangan bayi. Dari jendela kaca, seorang perawat nampak tergesa meletakkan bayi putih pucat dengan pipi bulat kemerahan di atas tempat tidur, tepat di hadapan mereka. "Bagaimana mungkin dia telah menyebabkan begitu banyak masalah besar bahkan sebelum dia lahir?" tanya anak lelaki yang masih remaja itu. Tetapi Ibunya, tampak diam saja. Kepalanya mendadak pusing saat memandang bayi berselimut kain merah itu. Itu, cucunya. Tetapi bukan cucu yang diinginkannya. Dia telah punya seorang cucu sebelumnya dari putra sulungnya. Cucu kesayangan, karena hadir dari sebuah pernikahan. Berbeda dengan bayi yang kini tergolek lelap di hadapannya. Bayi itu anak hasil perzinahan putri keduanya dengan pemuda berandalan. Bayi yang menyebabkan musibah beruntun, bahkan sejak dia masih terkandung. Anak pertamanya jadi pembunuh bapak biologis bayi itu. Lalu berlanjut mati di penjara, yang membuat suaminya juga mendadak mati terkena serangan jantung. Membuat Pondok Pesantren besar mereka kini seakan lumpuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD