Usaha Si Bocah

1536 Words

Malam semakin larut, aku masih berpikir seorang diri dalam kekalutan yang makin tinggi. Entah kepada siapa aku akan bertumpu, mengharap pertolongan demi keselamatan. "Kakak!" panggil bocah itu sambil mengintip dari sisi kiri. 'Anak ini, kenapa dia tidak ikut mamanya kembali ke kamar dan terlelap? Ini sudah sangat malam.' Kataku tanpa suara. 'Aneh sekali, dia lebih suka di sini bersamaku daripada beristirahat bersama mamanya.' "Kakak, ayo main denganku!?" ajaknya seperti biasa. Tapi, kali ini wajahnya begitu sendu. Aku tersenyum tipis untuk membuatnya ceria, "Ma-af ya!" pintaku dengan suara terbata karena tidak pernah mampu memenuhi permintaan sederhana darinya, sejak pertama kali berjumpa. "Kakak harus main denganku!" ujarnya sambil menunduk. Sepertinya, bocah ini begitu banyak beban.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD