Wajah kak Sarah belum berhenti menegang. Kecemasan masih berkutat di sana. Anehnya, ia tidak berusaha untuk membantu si ular dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Hal itu membuatku heran dan ingin sekali bertanya. Kak Rio masuk ke dalam ruang perawatan. "Sarah, bagaimana perkembangannya?" "Masih mencari, Kak," jawab kak Sarah dengan mata sayup. Lalu ia kembali beralih pandang ke arah kak Feli. "Tapi jika itu di hutan, jangan sanksi pada mbah Pecek!" sambungnya terlihat penuh percaya diri. "Iya, semoga ini tidak semakin sulit dan runyam!" timpal kak Rio yang memilih untuk duduk di kursi sofa. "Kak, maaf. Itu ularnya, maksudku, bisa berjumpa dengannya bagaimana? Dan, kenapa Kakak tidak membacakan sesuatu untuk membantunya atau mempermudah pencariannya?" Kak Sarah menatap hangat. Sama sekali t

