Dokter keluar dari tuang operasi. "Pasien selamat, tapi kondisinya masih kritis. Sebab, selain lika tembak, ia juga mengalami pendarahan di kepala," jelasnya dengan suara tenang sambil menatapku dalam-dalam. "Apa papa bisa selamat, Dokter?" tanyaku sambil meremas tangan sendiri. "Cuma beliau satu-satunya yang aku punya," sambungku lirih. "Kami sudah berusaha. Selebihnya, hanya Tuhan saja yang berhak. Kamu harus berdoa untuk itu, Nak!" Aku mengangguk paham, "Baik, Dok." Setelah percakapan sederhana itu, dokter meninggalkan kami. Saat itu, Sarah menatapku dan ia tampak berpikir keras. Tak lama, ia mendekat dan langsung memelukku erat. "Sabar ya, Nora!" Aku yang semula tidak ingin menangis, tiba-tiba saja merasa iba dan terenyuh. Ia mengatakannya dengan sepenuh hati dan itu tersampaikan

