Setibanya di ranjang perawatan papa, aku langsung menyapa Sarah dan Rio. Mereka benar-benar pemuda yang amanah. Bahkan hingga aku kembali, keduanya masih menunggu papa yang masih belum sadarkan diri. "Kamu dari mana?" tanya Sarah sambil berdiri. "Apa semua baik-baik saja?" Aku tersenyum, "Aku hampir kembali tersesat, Kak," jawabku dengan wajah yang tampak bodoh. Sarah menghela napas panjang, lalu menunduk. Tampaknya, ia mengerti maksud perkataanku. "Tapi itu tidak akan terulang lagi," bisikku sambil tersenyum. "Aku sudah cukup tahu tentang mereka dan kita." "Bagus," timpal Rio dalam senyum. Sedang mengobrol, ponsel Rio berbunyi. Ia pun langsung keluar dan mengangkatnya. "Kak, Papa nggak bakalan bangun dalam waktu dekat. Dokter bilang, beliau terluka terlalu dalam." Sarah memiringkan

