Aku mengangkat kepala lebih tinggi. Wajah perempuan yang mengenakan kerudung di hadapanku ini, memiliki cahaya yang terang. "Kak Rio, Cepat!" pintanya sekali lagi sambil menoleh ke arah sopir. 'Barsha ... .' Suara panggilan itu kembali terdengar jelas dan lembab. Rasanya, aku seperti berdiri di tumpukan salju yang mulai mencair. Gadis asing itu, menatap ke depan. Ia seperti dapat melihat Barsha yang sejak tadi mengikutiku. Benar saja, ternyata dia memang istimewa. "A‘udzu bi wajhillahil karimi wa bi kalimatillahit tammatillati la yujawizuhunna barrun wa la fajirun min syarri ma yanzzilu minassama’i, wa min syarri ma ya‘ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min fitanillaili wannahari, wa min thawariqillaili wannahari, illa thariqan yathruqu b

