Bagai melihat pasien yang sudah lama mengidap penyakit stroke, aku yakin papa begitu kesakitan dan menderita. Tetapi beliau tidak memiliki pilihan. Sebab, aku tidak berniat pergi, sebelum Papa berjuang hidup bersamaku. Setelah sepuluh menit, sepasang kaki itu, tampak bergetar hebat. Namun, wajahnya terus saja memperlihatkan usaha yang gigih dan aku baru menyadari bahwa selama ini beliau begitu menyayangiku. "Aku bantu ya, Pa?" tanyaku sekalian lagi. Papa mengangkat tangan kanannya, tanpa bicara. Sementara wajahnya kian memerah dan keringat dalam ukuran besar, sudah menetes deras. 'Itu pasti sakit.' Kataku tanpa suara. Punggung Papa menempel di tembok. Dengan bantuan susunan batu itulah, beliau berjuang. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang jelas terus saja memperhatikannya. Napas

