Suasana yang tadinya ramai, tiba-tiba terasa sunyi. Rasa ini sangat mencekam, seperti sedang duduk sendirian, di tengah kuburan saat tengah malam. Aku dan kak Feli terus melanjutkan langkah. Berlari hingga napas seakan tidak lagi mau diajak kompromi. Semakin lama, aku pun kian merasa lemah. "Apa ada petunjuk tentang pintu masuk itu, Kak?" tanyaku dengan suara yang tercekat. Sebab, kerongkongan ini sudah terasa kering dan sakit, tetapi aku ingin mengetahuinya. "Seperti tanda-tanda khusus?" sambungku yang ingin membantu. Aku sempat mengikat pita berwarna merah menyala di salah satu pohon, sesaat setelah kamu meninggalkanku tadi. Lagipula, kita berada di arah sebaliknya, kan? Kita berada di zona pulang." Suara kak Feli sama sekali tidak berubah, begitu juga dengan intonasinya. Percaya den

