Annora berlari dengan kencangnya. Mengikuti udara dingin yang berhembus dan berpedoman pada petunjuk Feli. Entah berapa jauh ia melangkah, yang jelas gerakan ini mampu mengebaskan sepasang kaki mungil miliknya. Gadis yang seharusnya bermain dengan rekan-rekan seusianya atau tengah berkumpul bersama keluarga, kini harus berjuang untuk hidup dan terus bernapas. Terkadang, hatinya mengutuk tentang takdir buruk yang hadir di dalam hidup dan menetap. Tapi, ia pun sadar, bahwa dunia ini bukanlah miliknya. Ia hanya pion kecil, di atas papan catur. Kemanapun Sang Pemilik membawanya, ia harus rela dan bersedia. Napasnya tercekat, darahnya mendidih. Gadis itu merasa, sudah begitu jauh melangkah. Namun, kenapa belum juga tiba di pintu pertama, di mana ia masuk ke tempat ini. Lorong masa lalu yang

