Hari hampir pagi, tapi tampaknya tidak untuk alam lain yang diatur sedemikian rupa, oleh makhluk yang memiliki kuasa tempat tersebut, sejak ia menjadi iblis. "Ah ... ," keluh kak Feli tiba-tiba saja, terdengar di telingaku. Pada saat yang bersamaan, kak Sarah mengangkat wajah. Sepertinya, ia juga dapat mendengarkan suara sahabatnya itu. Entah bagaimana, yang jelas, kami bertiga seperti terhubung saat ini. "Kak Feli, Kak!" panggilku yang langsung berdiri dan mendekati Kak Sarah. Padahal, sejak tadi ia berusaha untuk fokus demi memanggil mbah Pecek. Yaitu sosok yang sama sekali tidak aku ketahui. "Ada apa?" tanya kak Rio khawatir. "Sebaiknya kita meminta kepada dokter, agar Feli ditempatkan pada satu ruang khusus. Jangan digabung dengan pasien lainnya! Kondisi Feli berbeda, Kak," tukas

