Lima hari berlalu. Aku merasa semakin lemas dan tak bertulang. Aneh sekali karena seharusnya, aku semakin sehat dan kuat. Tetapi nyatanya, bertolak belakang. Padahal, tante Asih sudah membelikanku obat yang baru. Sekitar pukul 14.00 WIB, suara televisi yang kuat, terdengar. Aku yakin, ada banyak orang di luar sana dan tengah asik menyaksikan acara kesayangan bersama-sama. Aku pun berusaha untuk bangkit dan bergabung dengan semua orang. Tetapi, sambat sulit bagiku untuk mengangkat kepala sendiri. Di dalam kesepian, hatiku bertanya. Kemana bocah laki-laki yang kerap kali mengganggu? Kenapa dia hanya muncul dan menggoda ketika malam tiba? Aku semakin heran jika memikirkanya. 'Eyang, sebenarnya tangan kanan atau kiri yang diinfus? Kenapa semuanya terasa berat bagiku?' Semakin lama, ak

