Sentuhan

1500 Words

Rasanya, malam begitu sunyi tetapi tidak damai. Aku terus berusaha untuk terlelap dan membiarkan mimpi membujukku agar bahagia. Dunia ini memang hampa, tapi jiwaku terlebih lagi. Hanya nyanyian tengah malam yang mengisi laraku hingga pagi menjelang. Suara tawa seru kembali terdengar, tatkala sinar mentari menyinari alam dan sebagian wajahku yang sudah mulai dapat merasakan sakit. "Sttt ... ," desisku memenuhi rongga telingaku sendiri. Aku mengangkat kelopak mata dan dapat melihat waktu. Jam dinding menunjukkan pukul 19.00 WIB. Di musim liburan ini, aku tidak sendiri seperti perkiraanku sebelumnya. Namun entah mengapa, hati ini belum juga bahagia dan aku terus merasa ketakutan. "Selamat pagi, Nora!" sapa tante Asih lembut, seperti sebelumnya. "Sarapan dulu yuk!" tawarnya yang sudah mem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD