Ryn mengambil tasnya yang berada di kursi mobil. Siang ini Ryn berada di depan kantor milik Jinyoung, tadi Yoona menyuruh untuk berkunjung ke sini. Dengan terpaksa ia mengangguk setuju. Padahal gak disuruh juga maunya langsung cusssssss aja. Tapi kan harus pura - pura ya..
Ryn keluar dari mobil. Ia menatap gedung besar dihadapannya, ternyata kantor Jinyoung tidak kalah besar dengan milik papanya. Tidak ingin berlama - lama di luar karena panas matahari yang terik. Ryn berjalan masuk ke dalam gedung.
Ryn takjub dengan interior di dalam gedung. Ryn berjalan menuju meja reception untuk menanyakan apakah Jinyoung berada dikantornya.
"Siang, ada yang bisa saya bantu?"Tanya wanita itu dengan sopan. Ryn tersenyum lebar.
"Jinyoung ada?" Tanya Ryn.
Wanita itu terdiam sebentar sambil menatap Ryn dengan bingung, "Bapak Jinyoung?"Tanya Wanita itu.
Ryn menepuk pipinya karena kesalahan dalam menyebut nama seseorang. Kenapa dirinya hanya menyebut "Jinyoung", tidak memakai "Bapak".
"Iya maksud saya, Bapak. Jinyoung"Ucap Ryn sambil tersenyum malu.
Dirinya benar - benar ingin keluar dari sini sekarang juga.
"Bapak. Jinyoung sedang rapat diluar, mungkin sebentar lagi kembali"Ucap Wanita itu. Ryn yang mengerti hanya mengangguk.
"Anda bisa menunggu di cafeteria"Sambung wanita itu.
Ryn mengangguk dan berjalan menuju cafe yang berada di dekat pintu keluar.
Ia melihat - lihat sekelilingnya. Persis sekali dengan kantor Papanya, apa jangan - jangan Jinyoung meniru?.
"Vanilla Latte nya satu"Ucap Ryn.
Pelayan yang berada didepan Ryn mengangguk dan membuatkan pesanan Ryn. Sambil menunggu, Ryn akan menghubungi Jinyoung bahwa dirinya berada di kantor milik Jinyoung.
"Terimakasih"Ryn memberi uang dan mengambil pesanannya. Ia duduk di salah satu kursi supaya tidak berdiri terus.
Ryn : Jinyoung?
Setelah mengirim pesannya. Tenang, Ryn dan Jinyoung menggunakan bahasa anak muda. Kata mereka ribet dan terlalu kaku. Ryn kembali menatap sekelilingnya, dan matanya tertuju pada seorang wanita yang berpenampilan sexy.
"Dia mau kerja?, atau mau ngapain?"Gumam Ryn sambil menggeleng. Ketika wanita itu masuk kedalam lift, Ryn kembali melihat - lihat. Matanya tertuju kembali, kali ini kepada seseorang yang dikenalnya. Jinyoung berada di depan pintu masuk.
Ryn menenteng tasnya, dan membawa gelas yang berisikan vanilla latte untuk menghampiri Jinyoung. Ryn sedikit berlari, untung Ryn telah terbiasa menggunakan high heels jadi Ryn dapat mengimbangkan larinya.
"Anjir, masa Jinyoung ganteng"Batin Ryn.
"Ehem"
Suara itu membuat Ryn menoleh. Di sampingnya ada seorang lelaki berbadan besar, mungkin lelaki ini pengawal dari Jinyoung.
"Anda siapa?"
Ryn menatap lelaki itu dengan biasa, "Saya calo-
"Saya temennya Jinyoung"Balas Ryn.
Hampir saja dirinya keblablasan, bisa - bisa satu dunia heboh nanti. Bercanda lagi dech. Serius amat.
Ketika Jinyoung menatap Ryn. Ryn tersenyum kecil dan memasang wajah kepada Jinyoung untuk segera menghampirinya.
"Kalian bisa kembali. Saya ingin berbicara terlebih dahulu" Perintah Jinyoung. Pengawalnya itu mengangguk dan pergi meninggalkan Jinyoung dan Ryn.
"Tumben?" Tanya Jinyoung.
Ryn mendengus kesal, "Mam repot!"Balas Ryn.
Jinyoung tertawa geli melihat Ryn.
"Keruangan aku aja ya"Ucap Jinyoung.
Ryn mengangguk dan berjalan beriringan menuju lift. Dan masuk kedalam lift.
Ketika Ryn keluar dari lift, dirinya menatap wanita sexy yang tadi dilihatnya di lobby. Wanita itu sangat terlihat sombong dari wajahnya.
Ingin rasanya Ryn bertanya kepada Jinyoung siapa wanita yang berada dimeja itu. Ketika mereka berdua melewati wanita itu, Jinyoung menyapanya dengan tersenyum walaupun kecil dan dibalas oleh wanita itu. Sedangkan Ryn?, hanya dibalas dengan tatapan sinis.
"Masih gue liatin. Belom gue tendang" Batin Ryn gemas. Galak juga ya Ryn..hihihihi.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Jinyoung. Jinyoung menyilahkan Ryn untuk duduk di sofa terlebih dahulu, sedangkan dirinya ingin ke kamar kecil.
Mata Ryn tertuju pada sebuah bingkai kecil dimana Jinyoung dan seorang wanita di foto itu. Pikiran Ryn langsung tertuju kepada teman kecilnya, yang entah dimana keberadaannya kini.
"Mirip Ara"Gumam Ryn.
Ketika mendengar suara pintu terbuka, buru - buru Ryn menaruh bingkai itu kembali. Dan bersikap normal. Ia ingin bertanya tetapi tidak enak.
"Ngapain?"Tanya Jinyoung.
Ryn menggeleng, ia menatap Jinyoung dari atas sampai bawah. Jas hitam dan kemeja putih ditambah dengan dasi panjang membuat Jinyoung terlihat berwibawa. Gak lupa juga, gantengnya.
"Kamu sibuk, gak?"Tanya Ryn.
"Kenapa?"
"Anterin aku?"
"Kemana?"
"Mall"Balas Ryn. Jinyoung melihat jam yang melingkar di tangannya, lalu mengangguk setuju. Ryn yang melihat persetujuan dari Jinyoung tersenyum lebar.
"Aku lapar"Ucap Ryn sambil menyengir lucu.
Jinyoung menggeleng dan menunjuk telpon.
"Kenapa?"
"Lapar kan?"
Ryn mengangguk.
"Pesen aja. Suruh bawa kesini"Kata Jinyoung.
Ryn langsung berlari menuju telpon yang berada di atas meja.
"Satu roti keju. Sama Vanilla lattenya satu"Ryn berbicara dengan wanita di telpon. Setelah menelpon. Ryn kembali ke sofa.
"Vanilla latte?, lagi?"Tanya Jinyoung.
Ryn mengangguk - anggukan kepalanya.
Ryn menyukai coklat dan vanilla.
"Aku balik ke Korea 2 hari lagi"Ucap Ryn. Jinyoung yang duduk dikursinya lantas menatap Ryn.
"Bareng Mark dan David?"Tanya Jinyoung.
Ryn mengangguk. Karena Mark harus masuk sekolah dan David harus mengurus kantornya disana, jadi mereka bertiga akan kembali ke Korea bersama.
Jinyoung mengangguk. Rasa kesal muncul tiba - tiba dibenak Ryn, karena melihat ekspresi Jinyoung yang biasa saja. Tanpa ada rasa terkejut atau semacamnya. Belom nikah udah kesel.
/tok - tok/
Suara ketukan pintu membuat Ryn berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dengan wajah tenangnya, Ryn membuka pintu ruangan dan tersenyum ketika melihat seorang pelayan yang melayaninya tadi.
Ryn mengambil pesanannya dan menoleh ke arah Jinyoung. Dengan wajah polosnya Jinyoung menatap Ryn dengan bingung. Ingin rasanya Ryn membunuh Jinyoung sekarang. Gak peka banget.
"Sebentar ya"Ucap Ryn.
Pelayan itu mengangguk mengerti. Sedangkan Ryn menghampiri Jinyoung dan menadah tangan seperti anak yang meminta uang kepada orangtuanya.
Jinyoung mengeluarkan dompetnya dan memberi selembar uang berwarna merah. Ryn kembali berjalan ke pintu untuk memberi uang.
"Ambil aja kembaliannya"Ujar Ryn. Pelayan itu menatap Ryn dengan terkejut. Seakan mengerti Ryn mengangguk tidak apa apa.
"Gak apa - apa, ambil aja kembalinya"
"Terimakasih"ucap pelayan tadi sambil menundukkan kepalanya.
Ryn menutup pintu kembali sambil membawa pesanannya Ryn berjalan mendekat ke sofa. Ryn menaruh makanannya di atas meja Jinyoung.
"Eh, cewek yang tadi di depan siapa?"Tanya Ryn.
Rasa penasaran Ryn kembali muncul, jadi lebih baik ia bertanya dari pada memendam rasa penasaran.
"Sekretaris" Jawab Jinyoung datar.
Ryn menatap Jinyoung dengan tatapan terkejut, "Hah. kamu dapet cewek kaya gitu dimana?"Ryn terbahak.
Jinyoung menggeleng mendengar balasan dari Ryn, "Gitu - gitu juga manusia"Balas Jinyoung.
Tawa Ryn langsung berhenti. Ia menata poninya dengan satu tangan dan kembali bersikap normal, ia tak habis pikir bahwa Ryn memilih seorang sekretaris seperti itu.
"Namanya siapa?"Tanya Ryn dengan serius.
Tawanya sudah hilang, dan sekarang berganti menjadi keadaan serius.
"Makan udah. Gak usah kepo"Balas Jinyoung. Ryn mendengus kesal. Lalu menatap makanannya.
" Trus kembaliannya mana?"Tanya Jinyoung.
Ryn mendengus, sudah kaya tapi masih saja menanyakan kembalian.
"Aku kasih ke mbak - mbaknya"Balas Ryn santai. Ia kembali menikmati makanannya lagi.
"Waduh?. Banyak itu"
"Suttt. Jangan berisik, aku lagi makan"
Jinyoung terdiam sambil tersenyum kecil melihat tingkah Ryn. Dan Jinyoung kembali menatap berkas - berkas pekerjaan di hadapannya.
****