Dua hari berlalu dengan normal. Keseharian Jena masih sering ditemani Malik, terkadang Wildan juga menghabiskan waktu bersama gadis itu di sela-sela kesibukannya.
Namun entah mengapa, Jena merasa lebih nyaman saat bersama dengan Malik. Selain karena pria itu lebih bisa mengerti dirinya, sikap Malik juga tidak semesum Wildan yang suka tiba-tiba mencuri ciuman di bibirnya ataupun mengigit telinganya tanpa permisi.
Pagi ini suasana terlalu damai daripada biasanya. Dengan bantuan tongkat yang diberikan Wildan, Jena melangkah keluar kamar dengan hati-hati.
Sesekali gadis itu memanggil nama Malik, berharap pria itu ada di sekitarnya. Namun sayang, suasana pagi itu benar-benar hening, seperti tidak ada orang lain selain dirinya.
“Kemana mereka?” gumam Jena lirih.
“Mencariku?” bisikkan lirih dengan suara berat itu membuat Jena terperanjat.
Hampir saja ia melayangkan tongkat yang dipegangnya ke sembarang arah, sebelum dengan gesit Wildan menahan tangannya.
“Santai, cantik. Ini aku, calon suamimu.”
Bulu kuduk Jena serasa meremang mendengar perkataan lelaki itu. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang terasa aneh juga dalam dirinya.
“Mau apa kau? Di mana Malik?” Jena bertanya waspada.
“Apa yang ku mau? Menjemput calon istriku tentu saja. Dan tolong kurangi ketergantungan mu terhadap Malik, jujur saja kau membuatku cemburu,” katanya membuat Jena merasa ngeri.
Belum sempat gadis itu merespon perkataan Wildan, ia merasakan tangannya lebih dulu digenggam lembut oleh si lelaki, sementara sebelah tangannya sudah mendarat di punggungnya, membawanya untuk mulai berjalan maju ke depan.
“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Jena panik.
Terdengar kekehan lirih dari Wildan. Pria itu mencium sebelah tangan Jena yang digenggamnya, meniup telinga gadis itu lirih hingga menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya.
“Kita akan menikah hari ini,” ujarnya santai.
Apa? Menikah?!
“Kau gila?! Aku tidak mau!”
Jena menghempaskan tangan Wildan kasar. Ia berusaha menjauh namun dengan cepat pria itu merampas tongkat miliknya, membuat Jena terjatuh ke lantai.
“Seharusnya kau sadar jika kesabaranku tidak sebesar itu. Oh, astaga. Bisakah kau menurut saja padaku?”
Ia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Jena yang hanya bisa terdiam ketakutan.
“Aku tidak akan berbuat kasar padamu karena aku menyukaimu, ah tidak. Aku mencintaimu. Tapi tolong, menurutlah padaku kali ini.”
Tubuh Jena terasa merinding saat Wildan mencium tangannya lagi. Gadis itu bahkan tidak bereaksi ketika si pria dengan mudah mengangkat tubuhnya ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil yang memang sudah disiapkan.
Mobil melaju membelah jalanan, sampai kemudian terparkir di depan sebuah gedung bertingkat-tingkat yang terlihat layaknya hotel berbintang.
Dengan lembut Wildan membantu Jena naik ke lantai sepuluh. Keduanya masuk ke sebuah kamar bertuliskan nomor 669.
Pada mulanya Jena berpikir jika Wildan mungkin saja akan melakukan hal gila, atau apapun itu. Tapi nyatanya, begitu ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar, dirinya bisa mendengar dengan jelas suara Malik dan beberapa lelaki lainnya yang tengah bercengkrama.
Omong-omong karena indra penglihatan Jena tidak berfungsi, maka indra pendengaran juga penciuman gadis itu menjadi begitu tajam.
“Duduklah, aku akan menyiapkan sesuatu,” kata Wildan mendudukan Jena di bibir ranjang.
“Semuanya sudah siap? Bisa kita mulai sekarang?”
Entah apa yang pria itu maksud, hanya saja setelah itu Jena merasa seseorang membawa dirinya ke sebuah bangku dan meletakkan sebuah kain di atas kepalanya.
“Baiklah, apa semuanya sudah siap? Jika sudah, kita mulai saja pernikahannya.”
Jena terhenyak. Matanya membulat penuh keterkejutan. Apa katanya tadi? Pernikahan, siapa yang akan menikah?
“Tunggu, pernikahan siapa ini?” Tanya gadis itu terheran.
“Tentu saja pernikahan kita, sayang. Sudah pak, lanjutkan saja.”
Pada mulanya Jena hendaak memprotes, namun genggamandi tangannya juga bisikkan lirih Wildan di telinganya membuatnya hanya bisa terdiam pasrah.
***
Jena duduk menghadap jendela besar dengan tatapan kosong. Tangannya menggengam tongkat yang ada di pangkuan dengan begitu eratnya.
Ia masih tidak menyangka bahwa saat ini dirinya sudah resmi berstatus sebagai istri dari Wildan Wisnu Aditama yang mana ia itu juga berarti dirinya adalah cucu menantu sulung keluarga Aditama.
Oh, sepertinya aku belum menjelaskan siapa itu keluarga Aditama.
Keluarga Aditama adalah sebuah keluarga besar yang namanya cukup tersohor di kota. Keluarga Aditama memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman, properti dan juga pemilik dari beberapa hotel ternama.
Memang, keluarga Aditama bukan keluarga terkaya nomor satu di ibukota, namun eksistensi keluarga konglomerat tersebut juga tidak bisa diremehkan begitu saja.
“Apa yang kau pikirkan?”
Tubuh Jena sedikit terhenyak begitu ia merasakan tepukan halus di bahu kanannya. Malik mengambil tempat di sebelah gadis itu, memperhatikannya lurus-lurus.
“Kau menyesal dengan semuanya?” tanya pria itu lagi.
“Memangnya sejak awal aku punya kesempatan untuk memilih?” tanya Jena balik.
Malik menghela napas, mengangguk-angguk kan kepala sejenak menyetujui ucapan gadis itu. Yah, memang sejak awal Jena tidak diberi kesempatan untuk memutuskan. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
“Wildan memang seperti itu, dia suka sekali bertingkah semaunya. Apa yang ia inginkan harus ia miliki bagaimanapun caranya,” papar Malik dengan suara lirih.
“Termasuk merusak hidup orang lain? Apa itu yang selalu orang-orang kaya seperti kalian lakukan?”
Malik terdiam, ia bisa melihat buku-buku jari Jena yang menggengam tongkat mulai memutih. Dan sedikit dalam benak pria itu merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
“Tidak, bukan seperti itu. Wildan tidak bermaksud untuk merusak hidupmu, dia hanya….”
“Hanya apa? Apa kalian tahu apa yang aku alami sebelumnya sampai akhirnya aku terdampar di rumah bordil dan dibeli olehnya? Awalnya ku pikir terdampar di sana adalah jalan keluar untukku bisa merasa sedikit bebas, bisa sedikit merasa lega. Tapi ku rasa aku salah, hidupku memang tidak pernah ditakdirkan untuk bisa bernapas lega, bahkan hanya sekadar untuk berharap pun aku harus tahu diri.”
Terjadi keheningan sejenak, tangan Malik terangkat hendak mengusap air mata yang menetes di ujung mata Jena, namun pria itu memilih mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya.
“Apa menurutmu bertemu denganku adalah salah satu kesialan di hidupmu?”
Tubuh Jena menegang. Suara yang berasal dari arah belakang itu terdengar rendah juga dingin, Wildan berjalan mendekat, duduk berjongkok di depan Jena yang masih belum bereaksi apapun.
“Tolong tinggalkan kami,” titah Wildan tanpa menatap ke arah Malik.
Mengerti, pria dengan kemeja berwarna coklat itu mengangguk dan berjalan keluar ruangan.
Wildan menggenggam tangan Jena erat, pria itu menunduk sesaat, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Jena, aku tidak tahu ketakutan apa yang membuatmu merasa jika menikah denganku adalah sesuatu hal yang buruk. Tapi aku bisa memastikan jika apa yang ku lakukan sekarang adalah yang terbaik untukmu,” Ucap Wildan lirih.
“Terbaik? Dengan cara memaksakan kehendak mu pada hidup orang lain? Jika kau benar-benar mencintaiku seperti apa yang kau katakan sebelumnya, maka tolong bebaskan aku. Biarkan aku menjalani kehidupanku sendiri,” sahut Jena.
Lagi-lagi Wildan menghela napas, ia masih mencoba sabar dan menjelaskan pada Jena jika apa yang dilakukannya sekarang juga demi kebaikan gadis itu sendiri.
“Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya, suka ataupun tidak kau harus tetap menjadi istriku dan itu adalah keputusan mutlak.”
“Tapi kenapa? Kau bisa mendapatkan….”
Ucapan Jena tertahan begitu ia merasakan benda kenyal dan basah mendarat di atas bibirnya. Tidak lama ciuman itu terlepas dan Jena bisa merasakan hela napas Wildan ketika pria itu berbicara tepat di depan wajahnya.
“Karena aku hanya menginginkan mu. Aku tidak mau yang lain, dan aku melakukan semuanya demi kebaikanmu.”