03 - Kenapa aku?

1103 Words
Pagi menjelang layaknya roller coaster. Sinar matahari mulai mengintip dari celah gorden berwarna putih bersamaan dengan terbukanya pintu kayu itu. Wildan terdiam melihat Malik yang masih setia menemani Jena. Keduanya terlelap dengan Malik yang terduduk di samping ranjang dengan dua tangan yang terlilit di atas perut. Perhatian Wildan kembali teralih pada Jena. Pria itu mendekat, duduk di sisi ranjang yang lain dan memperhatikan gadisnya lekat-lekat. Tangan besarnya terangkat, menghapus jejak air mata di sudut mata gadis itu dengan ibu jadinya. “Eungh.” Terdengar leguhan tidak nyaman dari Jena. Gadis itu mulai membuka mata, sedikit menggeliat dan tanpa sadar hal itu membuat sedikit sudut bibir Wildan terangkat. “Malik?” Suara gadis itu serak. Ia meraba ke arah samping dan menggengam tangan Wildan yang Ia kira sebagai Malik. “Kau masih di sini? Terima kasih sudah menenangkan ku dan menemaniku semalam,” katanya lembut. Wildan tidak bereaksi apa-apa, Ia hanya menatap manik mata Jena yang menatap ke arahnya dengan penuh kelembutan. Sementara itu, Malik yang sudah terbangun sejak beberapa saat lalu hanya bisa diam menyaksikan keduanya. Tatapan pria itu sempat teralih pada genggaman tangan Jena dan ekspresi wajah Wildan yang sulit untuk dijelaskan. “Sama-sama. Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku,” kata Malik begitu Wildan memintanya berbicara lewat sorot mata. Jena spontan melepaskan tautan tangannya, sedikit memundurkan tubuhnya dengan ekspresi canggung. “Oh, iya. Silakan.” Malik benar-benar beranjak, meninggalkan Wildan dan Jena berdua di dalam sana. Meski yang terjadi sebenarnya adalah, pria itu sempat berdiri sejenak di depan pintu dan menunggu. Khawatir jika Wildan melakukan hal serupa seperti malam tadi. “Selamat pagi.” Tubuh gadis itu menegang. Tangannya meremat selimut tebal dengan penuh kekuatan. Ia bisa merasakan embusan napas Wildan tepat di sebelah telinganya, terlalu dekat dan membuat perasaan Jena jadi gelisah. “Kenapa kau ada di sini?” tanya Jena berusaha tegas. “Ini rumahku, aku bebas ada di manapun. “Termasuk di dalam kamar calon istiriku,” lanjutnya dengan suara rendah. “Siapa yang kau sebut istrimu? Aku tidak sudi!” Terdengar kekehan kecil. Kemudian wajah Jena terangkat, menoleh ke sebelah kanan dengan paksa akibat ulah Wildan. “Kau terlalu berani, harusnya kau menurut saja. Karena meski kau memberontak, pada akhirnya kau tetap menjadi istriku, kau akan menjadi nyonya Aditama,” kata pria itu mencuri sebuah ciuman di bibir Jena. Dengan kepalan tangan yang kian mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, Jena mengatur napas. Ia tidak boleh menangis sekarang, atau pria itu akan menganggapnya lemah dan kian menindas dirinya seenak hati. “Kenapa harus aku? Aku yakin kau bukan orang bodoh yang menjadikan gadis buta seperti ku sebagai seorang istri, sedangkan kau bisa mendapatkan berpuluh-puluh gadis cantik juga normal untuk kau jadikan kekasih atau bahkan istri.” Lagi-lagi Wildan tertawa. Ia berguling, merebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan mengawang. “Ya, kau benar. Aku bahkan bisa mendapatkan gadis normal yang jauh lebih cantik darimu dengan mudah. Aku bisa membuat mereka berlutut di hadapan ku hanya dengan mengatakan jika aku akan menikahi mereka. Tapi kau tahu kenapa aku justru lebih memilih dirimu?” Wildan mendekat, merebahkan kepalanya di paha Jena dan menjadikannya bantalan. “Karena aku hanya menginginkan mu untuk menjadi menantu sulung keluarga Aditama.” Jena menelan ludah gugup. Bukan hanya soal perkataan Wildan, namun juga pria itu yang secara tiba-tiba mencium perutnya sekilas, membuat sesuatu terasa geli hingga ujung kepala. “Lalu bagaimana dengan keluargamu? Sekalipun kau begitu ingin menjadikan ku istri, keluargamu tentu tidak akan setuju,” ucap Jena masih berusaha mencari celah. “Aku tidak peduli. Yang aku inginkan hanya menikahimu, lagipula mereka tidak akan bisa melakukan apapun selagi aku masih berada di sisimu.” *** Jena berjalan pelan menuju ruang makan dibantu Wildan. Malik yang sejak tadi sudah berkutat di dapur hanya melihat keduanya sekilas sebelum kembali melanjutkan kegiatannya. Dengan gentleman, Wildan menarik sebuah kursi untuk Jena. Pria itu juga mempersiapkan sebuah piring dan mengisinya dengan nasi goreng buatan Malik. “Makanlah, aku harus segera berangkat ke kantor.” Jena menahan napas, mengepalkan tangan di sebelah tubuh tatkala bibir Wildan mendarat di dahi juga sedikit menyapu bibirnya. Kemudian terdengar suara langkah menjauh, menyisakan suasana hening sebelum kemudian terdengar hela napas Malik. “Malik?” tanya Jena lirih. “Ya.” Pria itu meletakkan apron yang sejak tadi dipakainya, menarik kursi di depan Jena dan menuang segelas air putih di sana. “Kau tidak bekerja?” “Aku hanya datang ke perusahan jika Wildan memanggilku. Yah, bisa dibilang pekerjaanku sekarang adalah menjagamu di rumah,” sahut pria itu lirih. Jena mengangguk, ia meraba meja hendak mengambil air minum sebelum Malik dengan sigap membantunya. “Ini.” “Maaf merepotkan,” kata Jena lirih. “Tidak apa. Lagipula ini bagian dari pekerjaan ku.” “Oh, iya. Apa aku boleh bertanya sesuatu?” “Tentu, selama aku bisa menjawab akan ku jawab.” Jena kembali diam, dalam benaknya terbesit rasa ragu untuk bertanya. Namun di sisi yang lain ia juga penasaran. “Jena?” “Oh, maaf sepertinya aku melamun.” “Jadi…. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Mengenai Wildan. Kau sempat mengatakan jika pria itu punya alasan tersendiri kenapa dia mau repot-repot membayar mahal hanya untuk membeli gadis buta seperti ku. Bisakah….” Ucapan Jena menggantung, terdengar hela napas berat dari Malik. Dan hal itu membuat Jena merasa jika dirinya tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari pria itu. “Untuk hal itu, bukankah sudah pernah ku katakan? Aku tidak memberitahumu, kau bisa bertanya sendiri pada Wildan alasannya. Itu semua di luar kuasamu, Jena.” Benar, Jena sudah menduganya. “Lalu kenapa dia berniat untuk menikahi ku? Aku yakin Wildan tidak benar-benar mencintaiku. Kami baru saja bertemu, dan lagipula dia bisa mendapatkan gadis lain yang jauh lebih setara dengan dirinya,” sahut Jena lagi. Tidak ada sahutan. Malik hanya terdiam sambil mengamati gadis di hadapannya lekat, sebelum kemudian menarik kursi dan memilih beranjak. “Aku harus mengerjakan seuatu. Kau makanlah sarapanmu, jika butuh sesuatu kau bisa memanggilku.” Malik melangkah pergi, menyisakan sunyi yang sama sekali tidak Jena mengerti. Gadis itu terdiam, ia sama sekali tidak menyentuh makanannya. Ia merasa jika baik Wildan maupun Malik tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apa? Rencana apa yang sedang mereka lakukan? Apa yang mereka pikirkan untuk melibatkan gadis buta seperti dirinya? Jena benar-benar tidak mengerti. “Kenapa aku merasa seperti akan terjadi sesuatu,” gumam gadis itu lirih. Satu hal yang gadis itu tidak ketahui, ia adalah sosok Malik yang sebenarnya tidak benar-benar pergi dari sana. Pria itu bersembunyi di belakang anak tangga, mengamati Jena yang hanya terdiam di tempatnya. “suatu saat nanti juga kau akan tahu, Jena. Kau hanya perlu bersabar untuk itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD