Garda terdepan

1011 Words
Happy reading. Suasana sore di depan pagar besi bercat putih itu terasa lebih dingin dari biasanya. Lara berdiri mematung, jemarinya meremas tali tas kecil yang sedang ia pakai. Sudah beberapa hari ini ia tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Semenjak ia menikah dengan Rasya, Lara belum menemui kedua orang tuanya. Dengan helaan napas panjang, ia menekan bel rumah yang selama ini menjadi saksi bisu ketidakadilan antara dirinya dengan saudara kembarnya. Pintu terbuka pelan. Di sana berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian rumahan namun masih terlihat mewah. Begitu mata mereka bertemu, senyum wajah Sang Mama menggambarkan kebahagiaan. "Lara?" bisik Mamanya, suaranya bergetar pelan. "Mah." Lara melangkah maju, hendak mencium tangan Mamanya, namun sebuah dehaman berat dari arah ruang tengah menghentikan gerakan mereka seketika. Di sana, di atas kursi kayu jati favoritnya, duduk seorang pria dengan wajah yang masih sama seperti sebelumnya. Beliau tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada koran di tangannya, seolah-olah kehadiran Lara hanyalah hembusan angin lalu yang mengganggu ketenangannya. "Mau apa lagi kamu ke sini?" Suara itu datar, namun tajam seperti sembilu. Laras menunduk, matanya mulai memanas. "Lara mau minta maaf, Pah. Lara tahu Lara selama ini mengecewakan Papa," kata Lara pelan. Raditya perlahan melipat korannya, gerakannya sangat pelan seolah menahan ledakan emosi di balik dadanya. Ia akhirnya menatap Lara, tatapan yang dulu penuh kebanggaan, kini hanya menyisakan kekecewaan yang mendalam. "Kenapa baru datang hari ini, Ra," ujar Bapak dengan suara yang bergetar karena emosi. "Kamu itu memang nggak bisa Papa banggakan, nggak seperti Lavia." Laras mencoba menyentuh lengan Raditya, mencoba meredam suasana. "Mas, sudahlah. Anakmu baru saja pulang, kenapa harus membicarakan hal yang sudah lalu." "Penolakan nya membuat Papa malu, padahal Papa sudah mencari suami baik-baik seperti Andre." potong Bapak cepat. Beliau berdiri, dengan wajah tegas seperti biasanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Raditya berjalan melewati Lara menuju kamar, menutup pintu dengan bunyi dentum yang pelan namun terasa seperti palu hakim yang mengetok vonis akhir. Lara berdiri terpaku di ruang tamu yang kini terasa sangat asing. Ia melihat foto keluarga di dinding, foto wisuda dirinya kala itu di mana ia masih tersenyum lebar dengan kuncir kuda. Laras mendekat, mengusap bahu Lara salah satu Putri kembarnya tanpa kata. Di rumah ini, ia menyadari bahwa Raditya memang tidak menyukai putrinya Lara. Ada perbedaan yang sangat besar antara kedua putri mereka. Suasana semakin mencekam terasa, mendadak pecah oleh suara tawa sinis dari arah tangga. Lara menoleh dan mendapati Lavia, saudara kembar identiknya, sedang bersandar di pegangan tangga dengan tangan bersedekap. Penampilannya kontras dengan Lara yang terlihat sederhana, sedangkan Lavia terlihat glamor dan mewah khas wanita sosialita. "Wah, akhirnya kamu tahu jalan pulang juga?" sindir Lavia, langkah kakinya terdengar angkuh menuruni anak tangga. "Kenapa, Ra? Suamimu itu nggak bisa menafkahi kamu karena jabatannya tidak sepadan dengan Andre?" Lara hanya bisa terdiam, bibirnya bergetar. Kalimat Lavia barusan bukan sekadar pertanyaan, melainkan umpan yang sengaja dilempar untuk memancing Sang Papa yang berada di balik pintu kamar. "Pah, lihat Lara nih. Ternyata, setelah menikah dengan Rasya. Lara nggak berubah, masih seperti dulu." Tepat saat Raditya hendak melontarkan kalimat pengusiran yang kejam, pintu depan terbuka dengan kasar. Seorang pria dengan jas mahal datang tanpa mengucap salam terlebih dahulu "Cukup, Lavia!" suara bariton Rasya menggelegar, seketika membungkam tawa mengejek yang keluar dari bibir Lavia. Rasya melangkah lebar, langsung berdiri tepat di depan Lara, memposisikan dirinya sebagai tameng hidup. Ia menatap Lavia dengan tajam, lalu beralih menatap Sang Mertua dengan tatapan yang lebih tenang namun penuh ketegasan. Rasya kemudian memutar tubuh, menghadap Sang Mertua Raditya qyang masih berdiri kaku di ambang pintu kamar. "Pah, Lara nggak salah, kita semua tahu itu. Seharusnya, Papa juga sayang lara bukan hanya Lavia saja," ujar Rasya dengan nada rendah yang berwibawa. "Sejak dulu sampai sekarang, Papa nggak suka sama Lara. Padahal Lara dan Lavia itu sama, sama-sama anak Papa dan Mama." Lara meremas ujung jas Rasya dari belakang, air matanya tumpah tanpa suara. Di tengah badai penolakan Raditya Sang Papa dan kebencian Lavia, punggung lebar Rasya terasa seperti satu-satunya dermaga yang aman untuknya bersandar. Raditya terdiam, menatap menantunya dan putrinya yang malang itu bergantian. Suasana kembali hening, namun kali ini, ketegangan itu mulai sedikit mencair di bawah perlindungan teguh seorang Rasya. Rasya melangkah maju, mempersempit jarak antara dirinya dan sang Mertua. Ia tidak sedang menantang, namun sorot matanya menunjukkan tekad yang tidak bisa diganggu gugat. Ia menoleh sekilas pada Lavia yang masih memasang wajah masam, lalu kembali memfokuskan seluruh energinya pada pria tua di depannya. "Papa boleh tutup pintu buat siapa pun, tapi jangan buat Lara," suara Rasya terdengar berat namun stabil. "Selama ini, aku tahu Papa nggak suka sama Lara. Tapi, bagaimanapun juga Lara itu putri Papa sama seperti Lavia. Kenapa Papa selalu membeda-bedakan keduanya. Padahal, antara Lara dan Lavia itu tidak ada bedanya. Kenapa Papa begitu membedakan keduanya?" Raditya terdiam, rahangnya mengeras, namun Rasya tidak berhenti. "Lavia, berhenti cari muka dengan cara menjatuhkan saudaramu sendiri. Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang sebenarnya paling sering membohongi Papa dan Mama? Kamu itu hanya iri sama Lara saja dengan Lara, dan seharusnya kamu itu sadar atas kesalahan mu." Lana mendengus, memalingkan muka dengan gugup, sementara Rasya kembali menatap Raditya. "Pah, dengar Rasya sekali saja. Tolong jangan membeda-bedakan lagi, Lara dan Lavia sama. Mereka adalah putri Papa dan Mama, bukan orang yang berbeda. Rasya memutar tubuhnya, merangkul bahu Lara yang masih bergetar hebat. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat teduh, kontras dengan ketegasannya barusan. "Hapus air matamu, Ra. Kamu tidak perlu sujud di kaki orang yang tidak menghargai mu, walaupun itu orang tua mu sendiri." Rasya memberikan tatapan peringatan terakhir pada Lavia, sebuah isyarat untuk memperingatkan Lavia. "Ini terakhir kalinya kamu membuat Lara menangis, setelah ini akan aku pastikan kamu yang menangis. Aku nggak peduli kamu istri adikku, atau menantu kesayangan kedua orang tua ku." ucap Rasya kepada Lavia sebelum akhirnya ia menuntun Lara melewati ruang tamu, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di belakang mereka. Senyum terpancar dari wajah Lara, ia pada akhirnya merasa bahwa meski dunia menolaknya, ia masih punya satu orang yang akan menjadi garda terdepan dari semua orang yang membencinya. "Terima kasih Mas, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya dihargai dan dihormati."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD