Happy reading.
Di sudut lain, suasana berbeda tidak terasa hangat. Lavia membanting ponselnya ke atas meja rias dengan kasar, menimbulkan suara benturan yang nyaring. Wajahnya yang cantik tampak kusut karena amarah dan kurang tidur. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah pantulan dirinya di cermin.
"Sialan!" umpatnya lirih, giginya bergelatuk menahan geram.
Rencana yang disusunnya selama berminggu-minggu hancur berantakan. Harusnya pagi ini media sosial atau halaman berita ibukota sudah ramai dengan foto-foto Lara yang teler, muntah-muntah, atau setidaknya bertingkah memalukan di pesta semalam. Lavia sudah menyiapkan campuran minuman yang cukup kuat untuk meruntuhkan pertahanan Lara, namun semua itu gagal total karena kedatangan Rasya.
"Kenapa harus selalu Rasya yang menolong Lara?" Lavia menyapu semua botol parfum di meja riasnya hingga jatuh berserakan ke lantai. "Sejak dulu sampai sekarang, dia selalu ada dimana saja, menjaga Lara kapan saja. Padahal, aku sudah melihat jadwal kepulangan Rasya. Kenapa jadi kacau balau seperti ini?"
Lavia mondar-mandir di kamarnya yang luas. Kekesalannya bukan hanya karena rencananya gagal, tapi karena ia menyadari satu hal yang lebih menyakitkan. Semalam adalah titik balik bagi hubungan Rasya dan Lara. Ia bisa merasakan kedekatan di antara mereka berdua, sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dari hubungan mereka berdua.
Ia mengambil kembali ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh salah satu temannya pagi itu. Foto itu diambil dari jarak jauh, menunjukkan Rasya yang sedang membimbing Lara masuk ke dalam mobil dengan sangat protektif.
"Aku pikir kalian tidak seperti dulu, ternyata aku salah besar." gumam Lavia dengan senyum miring yang terlihat sinis. "Lara, kamu mungkin selamat semalam. Tapi aku nggak akan membiarkan kamu bahagia Lara, dulu atau sekarang."
Ia meraih sebuah botol lipstik merah menyala, memulas bibirnya dengan kasar, lalu menatap bayangannya sekali lagi. Baginya, kegagalan semalam hanyalah pembuka dari permainan yang lebih panjang. Jika ia tidak bisa membuat Lara malu karena mabuk, maka ia akan mencari cara lain untuk menghancurkan apa pun yang baru saja dimulai antara Lara dan Rasya.
Lavia menyambar tas desainer miliknya dan melangkah keluar kamar dengan deru sepatu hak tinggi yang beradu tajam dengan lantai marmer. Pikirannya berputar cepat, mencari celah. Ia tahu betul bahwa menghancurkan Lara tidak bisa lagi dilakukan dengan cara kasar seperti membuat gadis itu mabuk. Rasya sudah terlalu waspada.
"Kalau tidak bisa dihancurkan dari luar, kita hancurkan dari dalam," bisiknya pada diri sendiri saat memasuki mobilnya.
Lavia memacu mobilnya menuju sebuah kafe yang biasa menjadi tempat berkumpul lingkaran pertemanan mereka. Di sana, sudah duduk suaminya Andre yang sedang menunggu kedatangan dirinya.
Lavia duduk di hadapan Andre tanpa menyapa, langsung menyodorkan ponselnya yang menunjukkan foto Rasya dan Lara dari malam tadi.
"Kamu lihat ini?" tanya Lavia tanpa basa-basi. "Semalam Lara mabuk dan dibawa pulang dengan pria misterius, itu sangat memalukan untuk keluarga kita."
Riko mengernyit, menyesap kopinya dengan malas. "Itu Rasya suaminya sendiri, buat apa memalukan. Yang memalukan itu jika seorang kakak menjerumuskan saudara kembarnya sampai mabuk seperti semalam," jawab Andre pelan.
"Aku sama sekali tidak menjerumuskan Lara, semalam aku sudah tidur. Kamu saja yang nggak tahu istrimu sedang apa semalam, aku menunggu kehadiranmu."
Andre menatap wajah Lavia, ia lalu menghembuskan nafasnya pelan. Apa yang dilakukan Lavia semalam sudah ia ketahui sebelum kedatangan Rasya, namun ia tidak peduli apa yang dilakukan Lavia kepada Lara. Yang terpenting di dalam hidupnya Andre telah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Aku pergi dulu, pekerjaanku sudah menunggu."
"Huft, menikah dengan si gila itu adalah hal yang sangat aku benci. Tapi, aku butuh uang, dan kekayaannya."
Lavia menyesap iced americano-nya dengan elegan. Rasa pahit kopi itu seolah menjadi pelengkap sempurna bagi rencana barunya. Ia tidak lagi peduli pada rasa kesalnya dengan Andre. Fokusnya kini adalah memastikan bahwa kebahagiaan yang dirasakan Rasya dan Lara saat ini hanya akan bertahan sekejap mata.
"Mari kita lihat," gumam Lavia sambil menatap jalanan dari balik kaca kafe. "Seberapa kuat cinta mereka saat dunia mulai menentangnya."
***
Cup.
"Sarapan pagi ini untukmu, silahkan makan. Ra,"
Lara tersenyum kecil, menatap wajah pria yang semalam menemaninya tidur. Sudah hampir satu Minggu ia menjadi istri dari seorang Rasya Hadiwijaya, dan pagi ini ia melihat perubahan yang signifikan.
"Sya, maafkan aku soal semalam. Lavia datang ke rumah dan mengajakku pergi hingga larut malam, dan akhirnya aku mabuk."
"Lavia sejak dulu tidak menyukai mu, kenapa kamu masih saja berbuat baik kepadanya?"
"Dia, saudaraku. Dan, aku begitu menyayanginya."
Rasya menghela nafas panjang, Lara selalu seperti itu berbuat baik kepada Lavia. Padahal, Lara tahu kalau Lavia begitu benci dengannya. Bahkan, Lavia pernah membuat Lara celaka hingga wajah Lara harus mendapatkan jahitan karena ulah Lavia.
"Mulai sekarang kamu harus menjauh dari Lavia, saudara mu itu nggak suka kamu hidup bahagia."
"Tapi, aku nggak bisa-"
"Bisa, Ra. Aku ada ide untuk itu, kamu ikuti saja apa kataku."
Rasya tidak pernah menyukai kekerasan, tetapi melihat Lavia terus-menerus mengusik ketenangan hidup istrinya, kesabarannya sudah selesai. Baginya, Lavia bukan sekadar pengganggu, dia adalah parasit yang merasa kebal hukum karena kelicikannya.
Malam ini, di ruang kerjanya yang hanya diterangi lampu meja, Rasya menyusun sebuah rencana. Ia tidak ingin membalas dengan kejahatan fisik itu terlalu rendah. Ia ingin memberikan sesuatu yang jauh lebih santai untuk Lavia.
Rasya tahu titik lemah Lavia adalah obsesinya terhadap citra diri dan ketakutannya akan kekurangan, dan Rasya tahu apa yang harus ia lakukan untuk iparnya itu.
"Selama ini kamu selalu membuat Lara tersakiti, kini giliran kamu Lavia."
Rasya mulai mengirimkan rekaman suara Lavia sendiri saat sedang merencanakan niat jahat, namun diubah frekuensinya hingga terdengar seperti bisikan hantu.
"Setiap langkah yang kamu ambil untuk menyakiti istriku, sebenarnya adalah satu langkah lebih dekat menuju kehancuranmu sendiri, Lavia. Pilihlah, menghilang dengan tenang, atau biarkan dunia melihat siapa dirimu sebenarnya."
Lavia jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi. Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Hanya ada ketakutan yang mendalam bahwa setiap sudut gelap di rumahnya kini dihuni oleh pengawasan Rasya.
Rasya tersenyum puas, rencananya berhasil dengan sempurna. Hanya tinggal menunggu saja Lavia pergi meninggalkan Laras istrinya, ia sangat yakin jika sebentar lagi Lara akan hidup tenang tanpa gangguan Lavia.
"Mau main-main denganku, itu tidak mungkin Lavia. Aku akan melakukan apapun agar Lara bahagia," kata Rasya dalam hatinya.