Satu jam telah usai. Haikal mengingatkan Akyas untuk kembali. Ia menelepon Om Alan apa sudah selesai dengan bisnisnya. Mereka masih berjalan berkeliling di setiap kios ke kios lain. Kemudian melangkah ke tempat semula mereka janjian dengan Om Alan.
Pukul dua siang. Keramaian tetap terlihat di setiap penjuru Mall. Mungkin bagi mereka ini adalah hari yang sibuk. Belanja sesuatu atau ada bisnis di Mall ini, semua serba sibuk.
Mereka menunggu di tempat yang sudah di tentukan. Om Alan terlihat melangkah ke arah mereka. Dengan wajah puas, dan mengembangkan senyum.
“Bagaimana Om? Lancar?” kata Haikal.
Om Alan membenarkan jasnya, wajahnya tetap terpampang ceria. “Teman Om satu itu benar-benar sudah gila. Meminta saham besar sekali, miliaran. Puh mana ada Om uang sebanyak itu. Ia ingin menjalankan bisnis super mega, otomotifnya akan mencabang di berbagai penjuru dunia. Kalau semua itu Om belum yakin, Om beri pelajaran penting. Bahwa di muka bumi ini tidak ada yang abadi, bukan berarti Om melarang ia melakukan semua impiannya. Tapi ingat, dulu ketika Om bersamanya melakukan bisnis kecil-kecilan, tidak semua hal harus di pertaruhkan sepenuhnya dengan skala besar, jadi saran Om untuknya hanya perlu melakukan registrasi dengan bisnis kecil dulu, kalau interaksi sudah terjalin dengan mapan, maka boleh di perbesar secara pelan-pelan,” Terang Om Alan.
Haikal mengerti apa yang di katakan Om Alan. Ia juga pernah kuliah, paham sedikit dengan bisnis seperti itu. Kadang pebisnis harus menerima resiko besar dengan penjualan produknya yang melambung, baik dari keuntungan yang tiba-tiba melesat atau kerugian yang cukup besar. Om Alan juga menjelaskannya tadi.
“Terus kita pulang, Om?” Kata Haikal.
“Tidak, kita berkeliling sebentar ada sedikit yang ingin aku jelaskan kepada kalian.”
Tak lama Om Alan mendahului, mereka berdua mengikuti langkahnya. Mereka semua menuju salah satu kios menjual barang suku cadang. Ada penjaga di sana. Om Alan melihat salah satu suku cadang yang ada di etalase dan sedikit bertanya kepada penjual. Haikal dan Akyas menyimak apa yang di lakukan Om Alan. Kemudian memanggil Akyas untuk mendekat, Om Alan melihatkan salah satu suku cadang yang bentuknya seperti seruling. Entah apa kegunaannya, Om Alan melakukan transaksi. Penjual itu cekatan menerima uang dan memberikan kembalian.
“Maaf, untuk apa Om beli suku cadang ini? Setahu ku ini untuk mesin diesel,” Tanya Akyas, ia penasaran.
“Tepat sekali. Memang suku cadang ini untuk diesel dan sekarang ini untuk mu.” Om Alan memberikannya kepada Akyas. Entah apa yang di maksud Om Alan, tapi Akyas tahu kegunaan benda ini. Bentuknya seperti busi, tapi ini lebih besar sedikit.
Akyas menerimanya dengan lapang d**a, mungkin maksud Om Alan sewaktu-waktu benda ini akan sangat berguna. Akyas memasukkannya ke dalam kantong.
Pukul tiga tepat. Setelah semua di rasa selesai. Mereka menuju mobil. Berkunjung mereka di Mall cukup. Walau masih banyak tempat yang belum Akyas dan Haikal kunjungi tapi sekali lagi mereka datang ke sini bukan untuk liburan. Melainkan menemani Om Alan saja.
Mobil menggerung ketika mesin di nyalakan. Om Alan lincah memainkan persneling, menundukkan mobil, dan meluncur meninggalkan parkiran Mall yang luas itu.
Hari semakin gelap. Mereka belum solat ashar. Om Alan berencana mencari masjid di tepi jalan saja, supaya tidak terlalu mepet waktunya. Juga bertanya ke Haikal dan Akyas apa mereka setuju makan malam di jalan saja.
Haikal bilang terserah Om saja. Tapi apa tidak mengapa dengan Bibi Shofia. Km Alan seketika juga tertegun, kemudian mengambil jalan tengah. Mereka tetap mencari makan malam di luar, dan Haikal menelepon Bibi Shofia mengabari nya bahwa mereka pulang malam dan tidak usah di buatkan makan malam. Bilang bahwa akan makan malam di luar saja, sekali lagi alasan yang tetap sama agar Bibi Shofia tidak tersinggung, ingin mencoba kuliner kota ini.
---
Semburat jingga memadati langit di bagian barat. Matahari sudah tidak terlihat bolanya. Sudah sepenuhnya tenggelam di kaki lautan.
Lampu-lampu jalanan mulai menyala. Toko-toko di samping kanan dan kiri jalan mulai menyalakan lampu. Bersiap untuk menghadapi malam. Indah sekali suasana kala itu, suasana perkotaan yang tidak kalah indah dari pedesaan Nglanggeran. Gedung-gedung tinggi menjulang, memancarkan pesonanya sendiri.
Mobil sudah sedari tadi terparkir rapi. Mereka sekarang sedang menunggu pesanan siap. Om Alan memilih resto dekat dengan gedung. Pas sekali momen saat itu, sunyi yang menenangkan, terdengar samar-samar suara musik jaz. Nuansa resto itu di balut dengan interior kayu, lampu-lampu neon berwarna kuning bergelantungan di langit-langit. Mereka duduk di dekat akuarium besar.
Sekian menit berlalu. Mereka tidak ada yang bercakap-cakap. Om Alan sibuk dengan ponsel di tangan. Haikal mengetuk-ketuk meja pelan, dan Akyas memikirkan sesuatu. Walau mereka bertiga duduk di satu tempat yang sama, bukan berarti alam bawah sadar mereka juga dalam keadaan yang sama. Saling membara ke mana-mana.
Pelayan membawa pesanan mereka. Akhirnya yang di tunggu datang juga. Om Alan memesan satu paket makanan lokal. Tidak terlalu mewah memang, tapi cukup untuk mengganjal perut.
“Mau tanya Om, sebenarnya poin penting kenapa dalam dunia otomotif itu harus ada usher?” tanya Akyas ia masih belum mengerti mengenai hal itu.
“Dalam setiap dunia otomotif pasti ada penasaran yang biasa di sebut usher. Bisa laki maupun perempuan. Kadang untuk usher perempuan bisa di jadikan sebagai layaknya model wanita. Usher wanita juga bukan sembarang direkrut begitu saja. Melainkan harus melalui wawancara secara mendalam apakah ia bisa memprovokasi orang lain untuk bisa menawarkan produk yang sedang ia pegang. Misal usher memegang satu produk mobil. Ia juga harus bisa memanipulasi dan bisa memikat orang lain untuk bagaimana tertarik dengan produk itu.
“Biasanya usher itu di ambil dari mahasiswa, atau semacamnya. Bukan hanya kecantikan saja, tapi usher juga harus di lihat dari lihainya dalam bekerja. Usher juga kadang di sebut juga pemanis dalam sebuah penghelatan dalam pameran mobil. Ia menjadi bisnis yang di kelola oleh usher.” Tangan Om Alan pasti menyendok dasi. Ia mulai makan. “Itu kurang lebih penjelasan mengenai gadis-gadis cantik yang ada di pameran mobil seperti otomotif. Jangan kalian anggap mereka hanya sekedar model saja, ia adalah klien handal yang bekerja di agensi dengan skema kinerja profesional.”
Mereka berdua mangut-mangut dengan penjelasan Om Alan. Tak lama mereka mulai menghabiskan makanan masing-masing. Haikal mulai menyantap hidangannya.
---
Pada malam yang sama. Tapi berbeda tempat. Kesunyian yang sesungguhnya. Suasana pedesaan. Sakinah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Dalam biliknya ia sendiri, meratap kepada Tuhan seru sekalian alam. Meminta petunjuk atas masalah hati yang sedang ia alami. Ia tidak mau bahwa kehidupannya ini hanya segelintir dosa yang ada. Hanya ada kebiasaan buruk yang merujuk pada maksiat. Cinta yang suci ia taburkan dalam hati tanpa adanya hubungan di luar semua itu. Alias ia tak mau di nodai oleh siapa pun dengan yang bukan mahramnya.
Tetua mengetuk pintu kamar Sakinah. Ia tersadarkan, dan cepat membuka pintu. Sakinah masih mengenakan mukena. Tetua duduk di atas kasur. Ia ingin bicara dengan anaknya satu itu.
“Nak, Bapak ingin berbicara dengan mu. Kau adalah anak perempuan satu-satunya yang Bapak punya. Kedua kakak mu sudah pada menikah. Hanya tinggal engkau saja.” Sakinah memperhatikan, ia duduk di samping bapaknya.
“Apa kau belum mempunyai calon lain? Maksud bapak lelaki yang benar-benar bisa menjadi imam mu kelak. Bapak tahu bahwa kamu cinta kepada Haikal. Tapi apa ia tidak terlalu baik bagimu? Maksud bapak, kamu mencintainya dengan setulus hati. Berbagai macam cara engkau sematkan itu baik-baik dalam hatimu, Nak. Tapi engkau tidak tahu kenyataannya bagaimana. Kenyataan bahwa apakah Haikal juga mencintai mu.
“Walau engkau berdua terlihat saling mencintai, terlihat seperti pernah saling berjanji suci, berharap kelak akan saling memasukkan cincin di jari masing-masing. Berharap kelak saling memberi suapan. Tapi ingat, Nak. Sekali lagi kalian berdua bukan siapa-siapa, masih tidak ada hubungan satu sama lain. Keluarga Haikal juga belum melamar mu, keluarga kita juga belum pernah melamar Haikal. Jadi kalian berdua masih suci, jangan nodai kesucian kalian dengan dosa-dosa maksiat. Berlagak sudah merasa hebat dan sudah saling menyukai tapi pada kenyataannya, tidak ada kepastian setelah itu. Pergi berjalan sendiri- sendiri. Karena semua itu mudah sekali terjadi, Nak. Bukan berprasangka buruk dengan Haikal, tapi janji-janji yang kalian bangun tidak ada apa-apanya, perkataan kosong saja. Bisa jadi engkau menyukai orang lain dan berpaling dari Haikal, juga boleh jadi Haikal sudah punya yang lain selain engkau. Sekarang ia berada jauh di sisi mu, melaksanakan tugasnya. Entah apa kepastiannya kepadamu nanti. Engkau tidak pernah mengabarinya bukan? Takutnya ia sudah jatuh cinta kepada orang lain.”
Tetua mengelus pelan rambut panjang Sakinah. Ia menatap wajah anaknya itu dalam-dalam, terdapat kesedihan yang melarut di dalam matanya. Ia mengatakan bahwa jangan terlalu di tanggapi masalah ini, semua ini hanya pendapat. Kemudian wajah keriput tetua hilang di balik pintu, ia membiarkan Sakinah yang memutuskan. Apa pun yang terjadi, biarkan sang waktu menjawabnya. Sakinah belum sepenuhnya tahu, salah satu faktor kenapa di adakannya pendataan setiap desa dengan mengutus perwakilan di setiap desanya. Dan rahasia paling besar adalah kenapa Haikal yang menjadi perwakilan Desa Bakung, dan kenapa Arya menjadi perwakilan Desa Ngelanggeran, itu semua ada maksudnya. Dan entah sampai kapan Sakinah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, apa hatinya akan marah atau memang ia tidak akan pernah tahu alasannya. Sungguh, masih terlalu dini untuk mengetahui semua itu.
---
Suasana semakin runyam. Setelah mereka semua menghabiskan makanan mereka masing-masing. Piring-piring tandas, juga gelas-gelas. Terdengar suara bel berbunyi pelan, tanda ada yang memasuki resto itu. Sepasang kekasih, yang laki bertubuh tinggi, cakap, dilihat dari pakaiannya mungkin ia termasuk orang kaya. Dan sang perempuan menggunakan pakaian santai. Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja yang kosong.
Haikal menatap mereka tak berkedip. Ia sedikit terkejut ketika melihat tangan sangat lelaki yang sudah mengenakan cincin pernikahan, mereka berdua sudah menikah. Lihatlah mereka berdua, sedang b******u rayu layaknya pasangan yang halal. Walau sang lelaki nampak seperti berandalan, namun kehormatannya sebagian seorang pria lebih tinggi, ia mau meminang wanita yang berada di sampingnya itu. Entah itu hanya di permainkan saja atau apapun itu, toh itu urusan mereka sendiri-sendiri. Yang terpenting mereka sudah menikah dan menjalin hubungan semestinya seorang suami istri.
Banyak yang demikian di muka bumi. Ribuan orang menikah di setiap harinya, ribuan juta orang yang masih setia dengan pasangannya. Miliaran orang di muka bumi saat ini juga sedang menikmati hidup bersama kekasih mereka. Semua dalam balutan cinta, saling menyukai satu sama lain. Saling membina anak-anak mereka.
Tapi sekali lagi akal sehat Haikal masih terdeteksi. Ia yang lulusan pesantren setidaknya memiliki ketegasan dan cara berpikir yang tidak dangkal. Ia sedang di tunggu seseorang, dan ia sekarang sedang mengagumi seseorang. Entah apa lagi yang akan terjadi suatu saat nanti. Ia tidak ingin memperkenalkan maksiat di dalam dirinya. Tidak sedikit pun. Dan harus memiliki keputusan yang ia buat sendiri, ia harus tegas mana yang cocok dengan hatinya, yang dapat mengisi ruang kosong di hatinya, yang siap berjuang bersamanya, dan bisa menari apa adanya. Dan juga semua yang masuk dalam kriteria yang di sarankan oleh agama.
Karena ia tahu sebuah ungkapan. “Jika cinta hanya sekedar cinta. Maka p*****r pun juga bercinta.”