Pulang Pergi
Tidak semua hal baik di bicarakan. Ada yang cukup diam dan merenung kemudian kita memahami banyak hal. Kalimat tersebut sering terdengar bahkan di setiap kegiatan-kegiatan. Tidak salah memang. Tapi kita juga harus tahu betapa berat kandungan makna di dalamnya.
Merenung yang baik pula ketika seseorang berada pada dimensi hanya dia dan tuhan saja. Atau bisa dikatakan dalam sujud adalah momen penting interaksi seorang hamba kepada Tuhan yang di mana jika engkau meminta pasti Dia mengabulkan.
Hari masih pagi. Sholawat berdengung memenuhi angkasa. Saling bersahutan. Udara dingin menyelimuti setiap sudut ruangan. Suasana subuh.
Haikal selesai dari kepentingannya. Berdiri meninggalkan masjid yang dulu pernah ditempatinya belajar mengaji. Ia pikir liburan kuliah kali ini akan sedikit menyibukkannya dalam berorganisasi. Sudah hampir setahun penuh Haikal tidak bergabung dalam organisasi remas Irsyad. Terakhir sebelum keberangkatannya pergi kuliah ia diminta tetua untuk tetap terkoneksi setelah pulang dari kuliahnya. Haikal menyetujuinya, justru itulah yang ia harapkan.
"Kamu harus hadir lagi, Kal. Selama setahun penuh fokuslah pada kuliahmu. Tapi setelah pulang nanti ikutlah kembali bergabung remas Irsyad. Sungguh miris, kau tahu sendiri kan? Remas kita kekurangan anggota." Kata tetua sedikit tercekat, intonasi nadanya lembut memohon. Sebenarnya tidak disuruh pun Haikal bersedia ikut lagi.
Aku mengangguk takzim, meyakinkan. Bagaimana aku akan berpaling, jika teman-teman baik ku ikut serta dan aku keluar begitu saja? Ironis sekali. Bagaimana perasaan Sakinah nantinya? Padahal yang membujuk agar aku tetap bergabung salah satunya adalah Sakinah. Aku meyakinkan pasti aku akan kembali.
Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Anak yang paling di sayang di keluarganya, ayahnya adalah tetua remas Irsyad. Bagai bulan menyinari malam, ketika Sakinah tersenyum seolah kabut menghilang dan harapan untuk memiliki juga semakin hilang. Siapa yang tidak terpesona melihat kecakapan wanita satu itu? Bunga desa kami.
Kehidupan desa kecil itu baru saja di mulai beberapa menit lalu. Rutinitas desa kembali seiring kabut yang masih menggantung di atap-atap rumah. Udara tidak sedingin biasanya, tapi tetap tidak nyaman berada di luar tanpa pakaian berlapis-lapis. Penduduk setempat sudah terbiasa dengan pagi yang dingin, namun Haikal harus cepat menyesuaikan lagi pada lingkungan rumahnya, karena ia sudah terbiasa hidup di kota.
Ribuan larik cahaya matahari pagi lembut menerobos sela dedaunan pohon. Jatuh menimpa rumput dan jalanan, menimbulkan bayangan indah yang magis dan syahdu. Memesona.
Orang-orang menganggapnya biasa, tidak ada yang terlalu memedulikan pemandangan indah pagi itu. Hilir mudik dengan sepeda pancal, petani berseragam seperti biasa, memangku arit dan perlengkapan sawah lainya.
Ada memang satu-dua yang berdiri di bawah bingkai jendela bangunan berlantai dua, terpesona menatap syahdunya pagi. Tampak pula sepasang kekasih yang bersandar di depan bangunan rumah mereka. Saling b******u dan bercanda ria. Menurut orang-orang mereka baru saja seminggu terakhir melakukan ritual akad nikah, alias mereka berdua saling menghalalkan. Uap yang keluar dari embusan nafas mereka pelan merobek kabut.
Anak-anak dengan seragam sekolah mereka, menaiki sepeda pancal menerobos kabut. Saling berlomba, memancal pedal lebih keras. Siapa yang sampai duluan akan menang, begitu mungkin maksud raut wajah mereka. Yang belakang tidak mau kalah, lebih keras memancal pedal. Ada yang tidak di untungkan, kasihan anak yang membawa sepeda butut. Tidak ada masukan gir, apa pun hasilnya, seberapa kuat ia memancal. Nihil, kecepatannya tetap sama, tidak berubah.
Ah, mereka hanya berlomba, sama seperti ku dulu. Ternyata tidak banyak berubah setelah kepergian satu tahun berkuliah. Haikal kembali meminum teh. Memperhatikan dari balik jendela rumah. Kalau di ingat lebih jauh, Haikal tidak beda dari anak-anak tadi. Ketika Sakinah berteriak memanggil dari pelataran rumah. Mengajak berangkat bersama ke sekolah. Haikal membonceng Sakinah, hal itu sudah biasa apa yang di lakukan anak-anak semasa mereka. Masa lalu yang indah.
Semenjak Haikal di pesantren kekerabatan mereka semakin lama semakin longgar. Saling diam dan canggung. Agama membatasi jarak pandang juga tidak boleh bersentuhan. Haikal paham betul akan semua itu. Mereka berdua saling mengerti, sudah dewasa bukan lagi sekedar bermain melainkan harus ada keputusan yang bijak atas menghalalkan.
Denting notifikasi berbunyi, ada pesan disana. Meraih handphone dan mulai membaca pesan. Dari Akyas, sahabatnya juga dahulu. Meminta datang siang ini ke kantin kejujuran, dengan nada yang sedikit membentak bercampur kesal. Haikal tersenyum tipis, ia tahu maksud dari pesan Akyas. Kenapa tak bilang kalau kau sudah pulang, dasar. Sahabat macam apa ini?.
-----
Bangunan 4 kali 4 meter itu dulunya hanya sebuah toko kelontong biasa. Menjual beraneka macam makanan. Ramai anak-anak ketika jam tiga sore, berebutan minta segera di ambilkan. Bu Tin kualahan melayani permintaan satu persatu, ada yang berteriak merajuk sambil menyodorkan uang. Satu-dua di temani ibu mereka minta di dahulukan.
Sekarang tempat itu sudah di sulap sedemikian rupa menjadi bangunan yang tidak kalah mewah dengan masjid yang berada di sampingnya. Tidak terlalu mewah memang, tapi cukup besar dan luas untuk sebuah toko kelontong. Tempat itu sudah menjadi kantin masjid. Seperti biasa anak-anak sepulang atau berangkat mengaji, sebelum bel berbunyi, mereka asyik berlarian dan memilih makanan di kantin masjid. Ketika bel berbunyi, anak-anak pada berkerumun menyerbu kantin, baru ingin membeli sesuatu. Tahu maksud mereka, berusaha mengulur waktu.
Haikal memarkir sepeda di pelataran kantin. Bu Tin mendongak dari dapur, bertanya siapa yang datang, berusaha mengingat-ingat. Terbelalak dan berteriak kencang. “Haikaaallll” sambil pontang-panting masih membawa celemek kotor. Akyas yang sudah dari tadi berada di dalam kaget. Menyusul ke teras bersama Bu Tin.
“Assalamualaikum” Haikal menyalami Bu Tin. Dan berpelukan dengan Akyas. Ketiganya di bawa masuk segera. Sambutan yang hangat.
“Ayolah, Baru saja aku balik kemarin.” Jelas Haikal.
“Kenapa enggak Kabarin? Seharusnya aku orang pertama yang tahu kau pulang.” Gerutu Akyas.
“Okelah, sobat.” Tersenyum simpul. “ Aku ada hadiah untuk mu dari Jakarta. Kau pasti suka.”
“Jangan-jangan kitab-kitab lagi?”
“Kali ini berbeda kau pasti suka.”
“Baiklah, aku padamu.”
“Bagaimana bisnis mu?” Tanya Haikal.
Akyas agak murung jika di tanya tentang bisnisnya. Sebulan terakhir ia sempat rugi banyak. Keahliannya hanya mengotak-atik barang rusak dan memperbaikinya. Banyak orang kampung jika barang elektroniknya rusak, seperti mesin cuci atau radio. Lebih suka di bawa ke pada Akyas, daripada mahal-mahal mendatangkan tukang servis. Akyas tidak terlalu mengambil keuntungan banyak. Toh, dia bisa demikian karena otodidak.
Tapi akhir-akhir ini kliennya sempat mengomel. Barang yang di perbaiki Akyas tidak sepenuhnya mulus di gunakan dalam jangka waktu seminggu saja. Kalau di bandingkan dengan tukang servis dengan perlengkapan lengkap, ya kalah jauh. Tapi apa boleh buat, Akyas tidak punya uang untuk melengkapi peralatan mekanisme lainya, hanya sekedar meminjam alat-alat ayahnya.
Dia menjawab dengan yakin. “Masih lancar lah. Bahkan ada investor yang mau menawarkan aku menjadi staf perusahaan mekanik bongkar ulang.”
“Tidal usah bohong. Aku tahu kabar mu sebulan terakhir. Walau aku tidak di rumah, bukan berarti aku tidak tahu keadaan mu.” Jawab Haikal. Sebentar dia melirik pandang pada Bu Tin, tersenyum. Bu Tin membalas senyum, mengangkat jempol. Sebenarnya informasi seperti itu merujuk pada Bu Tin. Haikal masih terkoneksi padanya.
“Nah, sekarang siapa yang lebih tidak tahu diri? Apalah arti kebersamaan lima belas tahun lebih, namun ada masalah di pendam sendiri. Sungguh ironis sekali.” Kata Haikal sambil menutup mulut, tidak kuat menahan tawa.
“Iya iya. Maaf. Aku yang tak tahu diri. Kalau kau tahu, aku tak mau menyusahkan mu, Kal. Kuliah mu jadi terganggu.”
“Halal, lantas dulu yang minta di bawakan oleh-oleh ketika lulus dari pesantren siapa? Memohon minta di titipkan sesuatu yang hebat dari pesantren. Tapi ketika sudah di belikan, raut wajah mu seketika suram. Membolak-baliknya, membuka halaman demi halaman. Minta untuk di ambil kembali.”
“Hei, mana paham aku begituan. Pendidikan agama ku hanya sebatas TPQ, Kal. Kau belikan hadiah buku yang setiap sudutnya berbahasa Arab. Aduh, jadi pusing aku. Untung kau sahabat ku, kalau tidak buku itu sudah lama hilang dari bumi ini.”
Kemudian keduanya tertawa. Sesekali meminum teh, kepul uap hangat menimpa wajah. Lihatlah kantin ini, sudah berubah menjadi kantin kejujuran. Setiap ada pembeli cukup ambil dan nanti membayar di tempat yang sudah di siapkan, kembaliannya juga ambil sendiri sesuai harga porsi barang.
Hanya ada satu toko yang di jaga Bu Tin. Kantin kejujuran juga Bu Tin lah yang mengelolanya, di bantu dengan para anggota ramas Irsyad. Karena sesungguhnya perputaran ekonomi organisasi remas Irsyad dari kantin kejujuran ini dan satu toko yang di jaga Bu Tin.
Banyak sekali memang kendala pada awalnya, bagaimana tidak? Bayangkan saja. Semua orang berperilaku jujur, tidak akan ada swalayan yang di jaga dengan karyawan apalagi di tambah penjagaan dengan sctv. Uang modal tidak kembali, keuntungan sedikit, memang pada awalnya bertujuan untuk Sedakah sekaligus melatih kejujuran orang. Tapi jika demikian tanpa adanya solusi, organisasi Irsyad juga tidak akan berkembang.
Pada rapat setahun sebelum keberangkatan Haikal. Ia mengusulkan demikian, termotivasi dari restoran yang menerapkan konsep ‘all you can it’ dengan buffer membayar dengan harga tertentu. Setelah di timbang tetua Irsyad setuju keputusan Haikal.
Tapi masalah yang lebih berat sudah menunggu di lain waktu.
-----
“Kal?” Tanya Bu Tin. Intonasi nadanya rendah. Matanya berdenting, menahan kesedihan. Patah-patah berusaha berkata, sekuat apa pun itu Haikal harus tahu atau memang dia sudah tahu. “Tetua sedang sakit. Sudah beberapa kali pulang pergi dari rumah sakit. Sekarang ia melakukan perawatan di rumah.”
Sebenarnya Haikal sudah tahu kabar duka itu. Sakinah yang mengabarinya. Menyedihkan melihatnya. Berbaring tak berdaya di atas kasur. Saat ini pimpinan tertinggi organisasi di pegang oleh wakil tetua.
Sore itu juga Haikal, Akyas dan beberapa teman seorganisasi menjenguk keadaan tetua di rumahnya. Kemarin-kemarin Akyas sebenarnya sudah berkunjung, beberapa kali malah. Ia ingin berkunjung bersama Haikal mumpung dia di rumah.
Mereka pada berkumpul di masjid menentukan apa yang pantas di bawa nanti. Salah satu anggota mengusulkan buah-buahan dan sedikit makanan seperti bubur. Uang di kumpulkan, di belanjakan sesuai kesepakatan. Setelah Shalat Ashar, mereka langsung Berangkat.
Motor-motor pada di lajukan menuju tujuan. Menyibak kerumunan pengendara lain. Sore itu tidak terlalu banyak lalu lalang. Lebih sepi dari pada biasanya. Kadang petani pulang lebih petang lagi, masih nyaman di sawah.
Semilir angin menggoyangkan anak rambut Haikal. Ini kali pertama ia mengendarai sepeda motor lagi. Selama setahun penuh semasa kuliah ia selalu menggunakan komuter atau transportasi umum lainya. Berangkat dari tempat kos, menunggu di halte. Untung-untungan, kadang dapat tempat duduk, juga kadang harus resiko berdiri.
Dan yang lebih utama lagi, ia akan bertemu Sakinah. Ia masih mencari dalam hatinya apa masih menyukai gadis itu atau memang pertemanan mereka hanya sebatas sahabat saja. Setelah sekian kali hanya berbicara dan saling mengabarkan lewat media. Tidak di sangka Haikal akan berkunjung ke rumahnya setelah sekian tahun tak melihat wajah Sakinah.
Apakah ia masih suci atau sudah ada yang memiliki.
-----
“Alhamdulillah kondisinya saban hari semakin membaik, Kal.” Kata Sakinah yang duduk menemani ayahnya. Haikal tidak bisa memandangi terus wajah cantik gadis itu, ia tahu aturan agama mutlak harus menundukkan pandangan sesama bukan mahram. Ruangan itu penuh sesak dengan tamu. Yang terpenting rombongan sudah tahu kondisi tetua saat ini.
“Sakit apa?” Tanya Haikal penasaran.
“Kata dokter asam urat dan diabetesnya kambuh lagi, naik. Terakhir di periksa, alhamdulillah normal tensinya. Harus istirahat total. Dengar kamu akan kesini Ayah mau ngomong sesuatu.” Jawab Sakinah lembut, intonasi nadanya teratur. Meremas jemari, memainkannya, sedikit kikuk.
Wajah itu berbeda sekali dengan dulu. Tidak bisa dibayangkan, hati Haikal seketika berdesir. Jantungnya berdegup lebih cepat. Gadis itu tumbuh dengan baik, sama baiknya perasaan yang tumbuh di dalam hati Haikal, mulai merekah mekar tak terelakkan.
Akyas mengerti posisi sahabatnya satu itu, menyenggolnya menyadarkan. Haikal tercekat, menatap tajam ke arah Akyas. Ada apa? Begitu maksud tatapannya. Yang di senggol justru mengisyaratkan dengan mata, mengarah ke Sakinah. Udah lamar saja, kelamaan. Dia juga suka sama kau.”
Ibu tetua bergabung membawa nampan berisi makanan ringan dan teh hangat. Menyilakan untuk di minum. Mencomot sembarang topik, “Bagaimana kondisi pemuda Irsad sekarang ini?”
Tidak ada kegiatan penting seperti halnya tahun kemarin. Pengajian di liburkan sementara, namun kegiatan mengaji tetap di lakukan. Menunggu tetua benar-benar pulih. Meresmikan kembali kegiatan organisasi yang vakum sejak tiga bulan terakhir. Wakil tetua juga berusaha semaksimal mungkin mengontrol ekonomi organisasi. Besok akan di adakan rapat besar di masjid Irsyad.
Haikal menyisir rambutnya dengan jemari, merapikannya. Percakapan mereka semakin lama semakin seru. Satu-dua Haikal bercerita tentang kehidupan di Jakarta, bagaimana kuliahnya sampai bertemu orang-orang hebat di sana.
Akyas tidak mau kalah. Kesempatan itu di gunakannya untuk promosi diskon akhir tahun miliknya. Akan memotong sebesar sepuluh persen harga jika memperbaiki alat elektronik yang rusak di tempatnya lebih dari tiga benda.
Semua orang tertawa, tidak terkecuali Haikal. Ia meringis mengiyakan, membantu promosi iklan jitunya. Semua orang tahu hanya Akyas yang berpotensi demikian di sini. Walaupun bukan dari perkuliahan, bakat Akyas cukup setara jika di bandingkan dengan tukang servis andal-itu Jika perlengkapan teknisi miliknya konkrit lengkap.
-----
Setelah tetua siuman. Ia di tuntun pelan ke arah ruang tamu, bergabung dengan yang lain. Langkah kakinya patah-patah, Ibu tetua dan anak sulungnya membantu berjalan. Bersandar di kursi. Mukanya pucat pasi, tapi tegap tubuhnya menutupi kenyataan kalau dia sakit. Masih gagah dan gurat wajahnya elok layaknya seorang pemimpin berwibawa.
“Aku yakin engkau masih ingat betul pertemuan kita tahun lalu, Nak Haikal.” Berbicara kepada Haikal. Yang lainnya menyimak dengan saksama. Tetua mengatur napasnya, lebih terkendali lagi. “Organisasi Irsyad ingin memiliki data dari Desa Ngelanggeran. Ada salah satu teman di sana, yang menjabat sebagai ketua kampung. Sudah lama memang perjanjian kami, saling mengirimkan pemuda untuk menyurvei desa masing-masing. Sialnya, aku hanya tetua sebuah organisasi saja tidak lebih tidak kurang. Bukan ketua kampung, tapi kemarin ketua desa berkunjung menjenguk sekalian membahas rencana-rencana. Dan ketua kampung setuju membuat data dari Desa Ngelanggeran.”
“Ku pikir setelah sekian lama engkau memiliki pengalaman untuk itu, membuat hasil riset. Dengan begitu lebih baik memilihmu di berangkatkan. Biarkan teman-teman mu di sini mengurus sisanya semasa engkau di luar desa.” Kata tetua lugas. Sakinah yang berada di sebelahnya tertunduk sendu. Tidak ada yang memperhatikannya kali ini. Menyakitkan melihatnya. Apakah ia akan di tinggal lagi? Ditinggal satu tahun penuh saja membuatnya gundah sepanjang malam. Sekali lagi gadis itu menguatkan, ini hanya perpisahan tidak lama. Tapi takdir selalu menjadi bagian yang netral, tidak berpihak pada siapa pun. Karena adanya seseorang, bukan hanya untuk satu orang.
Kunjungan itu berkesimpulan bahwa Haikal dan Akyas yang akan pergi. Cepat sekali memang. Teman-teman Haikal pada menyetujuinya, tidak keberatan mereka yang di pilih. Apalagi yang memilih langsung dari tetua, para anggota organisasi remas Irsyad sangat menghormati tetuanya.
Awalnya Haikal sedikit kaget mengenai hal itu. Jujur, dia baru mengetahui informasi ini. Sekejap ia melirik ke arah Sakinah. Matanya mengerjap, mulai basah. Hatinya pilu tapi dia tidak bisa melarang Haikal untuk tidak pergi, tidak sama seperti memintanya untuk tetap bergabung di organisasi setahun sebelumnya.
Hati dan pikiran Haikal bentrok saling beradu, hati mengatakan lain dan pikiran mengatakan kesepakatan. Keduanya tidak saling kontras. Kali ini ia membujuk hatinya untuk tetap bersabar ini adalah tugasnya. Lagian Sakinah bukan apa-apanya, ia hanya sekedar teman masa kecil yang nantinya akan berpisah seiring waktu.
Demi menjaga hati perempuan. Malam itu juga ketika di kamarnya, sambil menyiapkan koper untuk besok pagi. Ia memberi kabar ke Sakinah, mengatakan bahwa jangan kawatir ia pasti akan kembali. Menyenangkan hati gadis itu, namun itulah letak kesalahan terbesarnya. Tidak di duga-duga dan tidak pernah di sangka, Haikal telah memberi harapan kepada gadis itu secara tidak langsung. Dan harapan itu akan di pertanggungjawabkan sangat besar sekali harganya. Oleh karena itu sebuah kesalahan memberikan harapan kepada perempuan sekecil apa pun pasalnya. Walau hanya menanyakan kabar.
-----
Pagi ke sekian kalinya. Udara masih terasa dingin. Embun menempel di dedaunan, membentuk partikel air, menetes pelan terjatuh. Subuh itu Haikal berjamaah di masjid, pagi terakhir sebelum keberangkatannya siang nanti.
Karpet terhampar luas memenuhi shof. Ketika bersujud tercium parfum khas Arab menyatu di dalam balutan sajadah merah. Membuat siap saja nyaman berlama-lama berdiam diri, khusyuk dengan hajat masing-masing. Haikal menyelampitkan doa agar di mudahkan ketika berada si sana.
Kebetulan sekali Ustadz Muammar yang menjadi imam. Setelah shalat Haikal ingin bertemu kepadanya. Mengonsultasi data-data yang ingin di lengkapi serta persyaratan-persyaratan. Ustadz Muammar yang menjadi manajer sepuh organisasi telah membantu banyak keberangkatan Haikal. Setelah itu mereka berbincang ringan, mengisi pagi yang sunyi.
“Saya nanti akan mengirimkan data perlengkapannya, serta alamat lengkap tujuan.” Sambil tersenyum. Memperbaiki posisi duduk. Jenggot putih panjangnya menjuntai. Sesekali mencomot topik, memecah sepi. “Ngomong-ngomong Nak Haikal apa sudah menemukan jodoh? Dilihat dari tampak Nak Haikal, sepertinya sudah siap meminang seseorang.” Keduanya tertawa pelan.
Sudah lama hatinya ingin ada yang mengisi. Mewarnai hari-hari dengan kehidupan bersama orang tercinta. Masalah pelik ini semakin lama malah menjadi beban tersendiri oleh jiwa, tidak tenang.
“Sebenarnya itu masih rencana, Ustadz. Belum ada yang cocok.”
“Jodoh itu memang kehendak Tuhan. Tapi kita di perintah untuk berusaha mencari. Hasil yang baik itu di lihat dari seberapa besar usaha orang kan? Semakin besar usahanya semakin baik pula hasil yang di dapat. Saya doa kan semoga di beri amanah untuk menjaga wanita yang Sholehah.” Keduanya berucap amin. Ustadz Muammar melanjutkan, “Kalau boleh saran ingat pesan ini baik-baik, Nak Haikal. Carilah empat kriteria dasar. Karena hartanya, karena keturunan, karena kecantikan, dan karena agamanya.”
Seketika itu seperti ada gambaran di benaknya. Ia mengingat-ingat betul pelajaran pesantren. Sama. Ini bukan yang pertama kali Haikal mendengarnya. Pernah suatu saat entah itu kapan persisnya. Kalimat itu pernah terucap dari seseorang. Sabda Nabi itu mengingatkan pada suatu kejadian, nasehat lama yang cukup banyak orang tahu tapi sedikit yang mendapatkan semua dari empat kriteria itu.
Ia mendesah pelan. Menghela napas. Berusaha mengingat lebih baik. Nihil tidak teringat. Semoga ini jawaban dari semua pertanyaan dari sekian banyak yang orang tanyakan. Kenapa jodoh itu begitu misterius?
-----
Mereka di hantar ke stasiun. Sedikit yang menyertai keberangkatan mereka. Salah satunya ada Sakinah di sana. Patah-patah melangkah mendekat, sebuah bungkusan dan secarik amplop coklat di genggam erat di tangan. Mendongak, menatap sekilas. Menyerahkan bungkusan dan amplop coklat. “Kau harus selamat.”. Tidak, tidak. Bukan begitu maksud wajah sendunya. Kau harus selamat, dan kembalilah pulang.
Kedua mata mereka saling bertemu. Klakson kereta api menderu-deru ke sekian kalinya. Lantang terdengar pemberitahuan terakhir menuju keberangkatan. Batang rel dan ban besi saling beradu, menimbulkan suara desisan.
Akyas meneriaki Haikal. Menoleh dan segera berangkat menyusul. Kikuk melambaikan tangan ke arah Sakinah. Jika orang tidak peduli betul, itu lambaian tangan yang buruk sekali. Seperti mengusir nyamuk mengiang di telinga. Tanpa di ketahui siapa pun, Sakinah membalas juga melambaikan tangan. Tersenyum manis, membentuk lesung pipi di ujungnya. Manis sekali.
Sedangkan di masjid Irsyad sekarang ini. Ada rapat besar dari Wakil tetua. Membahas program kerja dan tugas pokok dan fungsi. Anggaran-anggaran, serta proposal bantuan operasional sekolah.
Sekali lagi klakson keberangkatan benar-benar di bunyikan untuk terakhir kali. Mereka sudah pada di gerbong dan tempat duduk masing-masing. Haikal menatap keluar jendela, melihat Sakinah yang masih berdiri anggun. Lama-lama semakin tertinggal jauh di belakang. Tapi gadis itu masih berdiri diam di tempatnya, memandang kereta yang semakin menjauh.
Haikal masih menatap, menyelidik, menyipitkan mata melihat ke belakang dari kejauhan. Sudah tidak terlihat. Tapi seakan hatinya paling dalam berkata, ia masih berdiri di sana. Meyakinkan bahwa sampai benar-benar kereta hilang dari pandangannya. Dan benar saja, gadis itu masih diam di tempatnya. Wajahnya sembab karena air mata. Lihatlah, seseorang yang di tunggu kedatangannya selama setahun penuh, dan sekarang di tinggal lagi begitu saja.
Justru yang di tunggu seorang wanita bukanlah kehadiran, melainkan ungkapan istimewa kepadanya. Sungguh, wanita tidak kuat mengatakan perasaannya. Tidak mungkin memulai tuk mengungkapkan, tapi ia memulai tuk mencintai.