Suara kereta api berdecit nyaring. Sampai ke tempat tujuan mereka. Stasiun penuh dengan hiruk pikuk orang. Menenteng tas berat, juga ada yang menunggu keberangkatan.
Haikal menyapu melihat sekitar. Berusaha beradaptasi. Ada beberapa transportasi yang bisa di gunakan untuk menuju desa Ngelanggeran. Mereka setuju memilih yang murah, menaiki delman. Jujur, Akyas baru pertama kali ini menaiki kendaraan yang di laju dengan kuda itu.
Dalam perjalanan banyak sekali pengunjung seperti mereka, di lihat dari bus yang memarkir di kanan kiri jalan bertuliskan pariwisata. Apalagi kalau tidak mengunjungi desa yang terkenal dengan gunung api purba dan Curug talangnya itu.
Mereka sampai di tugu selamat datang menuju Desa Ngelanggeran. Delman-delman di pacu. Toko dan warung berjejer di Kanan kiri jalan. Sesekali berteriak menawari barang dengan bahasa setempat. Ada yang menawar lebih, terjadi interaksi.
Desa yang memiliki keindahan alam yang hebat. Bukit melintang jauh, meliuk di antara lembah-lembah. Mengalir sungai di antaranya. Sepagi ini, kabut masih menempel tebal di puncak gunung purba. Hamparan sawah seluas mata memandang. Gundukan padi dan sisa-sisa pembakaran masih menimbulkan asap membumbung tinggi.
“Kalian pendatang?” Tanya kusir.
“Iya kami pendatang. Kami ingin membuat data dari desa ini. Tugas Organisasi.” Jawab Haikal pendek.
“Jadi rugi kalau kalian tidak pergi ke puncak gunung purba atau ke tempat Curug talang.” Tangannya lincah memecuti kuda. Meminta berjalan lebih cepat.
Perjalanan mereka semakin lama semakin jauh ke dalam desa. Terlihat satu-dua rumah joglo khas Yogyakarta. Berderet rapi berbaris satu sama lain.
“Terima kasih, pak.” Haikal memberi uang lebih. Kusir itu hendak mengembalikan, tapi urung Haikal sudah beranjak pergi. Melambaikan tangan santai.
“Mana rumah bibimu, Kal?” Akyas bertanya. Menenteng tas ranselnya.
“Entah. Baiknya kita berjalan lebih dulu. Sisanya kita bisa tanya orang setempat.”
Sinar matahari menyapu lereng gunung purba. Awan-awan menghalangi cahaya, membuat bagian di bawahnya redup tertutup. Sejauh ini seperti biasa, hanya rumah joglo yang terlihat. Mereka beristirahat di depan toko kelontong, membeli minuman.
Akyas menyisir pandangannya. Menyipitkan mata melihat lebih jelas lagi. “Kau tahu, Kal? Kenapa persawahan mereka kebanyakan di terasering?” Akyas mencomot sembarang topik.
“Sudah jelas bukan? Karena medannya meliuk-liuk. Tanahnya tidak rata, mau bagaimana lagi. Terasering itu satu-satunya cara.” Jawab Haikal. Ia menyisir rambutnya dengan jemari.
“Lantas bagaimana mereka membajaknya? Kau tahu sendiri bukan? Lapisan satu dengan lapisan yang lain itu kecil sekali wilayahnya. Tidak mungkin di bajak dengan kerbau atau combi. Gimana?” Kali ini Akyas tersenyum. Melipat tangannya di d**a.
“Ya pakai traktor, Yas. Pakai apa lagi?.” Timpal Haikal.
“Tapi kalau traktor turun ke lahan yang lebih rendah, itu kerap membuat tanah longsor atau merusak terasering. Karena mesin yang di gunakan adalah diesel. Getarannya bisa membuat tanah yang di lewatinya bergetar hebat, apalagi di tambah rodanya yang bergigi.” Jelas Akyas. “Kau tahu benda yang di sebelah sana?” Akyas menunjuk ke suatu arah. Haikal mengikuti arah yang di tunjuk. Terlihat seperti traktor pada umumnya. Tidak, yang ini lebih kecil lagi.
Akyas tersenyum. “Itu adalah varian traktor keluaran terbaru. Ada banyak variannya. Kalau itu jenis varian FIRMAN FTL900H. Getarannya lebih ringan, hanya bertenaga 7H saja. Tidak terlalu berpengaruh kepada tanah mengundak, jadi aman di gunakan di medan berliuk. Kata orang-orang mesin itu bisa di gunakan di tiga kondisi tanah sekaligus. Cocok di gunakan di lahan yang kecil. Bisa beroperasi dengan lahan kemiringan 30 derajat. Sangat multifungsi.”
“Mesin itu menggunakan paddy wheel, lihatlah susunan rodanya. Teratur dan rapi. Di tambah aksesoris plough untuk membajak tanah kering atau basah. Yang tadi kau lihat itu hanya satu dari sekian banyak varian FIRMAN, Kal. Ada FIRMAN FTI1000. Yang mana aksesoris yang lebih banyak lagi seperti gelebeg dan lainnya.”
Haikal diam memperhatikan. Manggut-manggut sedikit paham. Dia yang ambil jurusan hukum mana tahu soal teknologi, mungkin hanya sebatas tahu. Tidak ahli. “Kau kok tahu? Dari mana?” Tanya Haikal menyelidik.
“Ya belajar, Kal. Hebat kan?”
Haikal menghela napas. Mengatur posisi duduk lebih nyaman lagi. Hampir setengah hari waktu mereka di habiskan untuk berjalan. Tidak ada ide ingin singgah ke mana. Rumah bibi Haikal juga belum ketemu.
Matahari sudah tergelincir. Waktunya mereka Shalat. Ada masjid di dekat mereka singgah. Menyempatkan waktu sebentar untuk bersembahyang. Setelah itu perjalanan panjang menanti mereka.
-----
Sedangkan beberapa mil jauhnya. Seseorang turun dari mobil. Ada dua orang dan satu sopir. Mereka telah sampai. Utusan pemuda dari Desa Ngelanggeran. Satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Turun di depan rumah kepala desa. Di sana juga ada tetua yang menyambut hangat kehadiran tamu istimewa itu. Menyilakan masuk dan membahas sesuatu yang nantinya akan membuat seorang Haikal terjebak dalam satu permainan takdir yang mengekang hatinya untuk tetap terbesit kata ‘sabar’.
“Silakan di minum. Mumpung masih hangat.” Kata kepala desa, sopan. Mereka berbincang-bincang ringan. Tetua menanyakan kabar ayah mereka, tidak lain adalah temannya dahulu. “Dia baik. Sama baiknya dengan kondisi desanya.” Jawab lelaki itu dengan santun. Tersenyum manis, berusaha menghormati sebisa mungkin. Tidak kaget kalau didikannya hebat. Justru anak ketua kampung seperti mereka harus memiliki watak demikian.
Adik di sebelahnya mengeluarkan sesuatu. Seperti Map berisi data-data. Menyodorkan kepada ketua kampung, dan menandatanganinya. Tanda bahwa setuju dan di terimanya mereka berkunjung. Tempat tinggal dan fasilitas lain sudah di siapkan.
Di sana duduk Sakinah bersebelahan dengan tetua. Mengatakan sesuatu, “Nak Fahmi. Perkenalkan ini anak saya, Sakinah. Selama kalian di sini, mengumpulkan data tentang desa. Sakinah akan menemani kalian, dia lebih dari tahu tentang desa ini.” Kata tetua.
Fahmi mengangguk takzim. Adik perempuan di sebelahnya agak tidak suka. Dari tadi mukanya cemberut. Sengaja menggoyangkan rambut poninya. Yang belakang sengaja di kucir. “Apa-apaan wanita ini? Apa dia meremehkan kita tidak bisa mengurusnya sendiri? Dasar.”
-----
Haikal meneruskan dengan berjalan kaki. Sesekali Akyas mengeluh, minta istirahat. Matahari terik menyiram dari gunung-gunung. Sudah tidak ada kabut lagi di puncak. Awan bergelombang membentuk barisan.
Anak-anak sedang berlarian di halaman rumah mereka. Ada yang bermain kelereng. Satu-dua saling mengejar. Yang lebih remaja membawa katapel, mendongak. Membidik burung yang berada di pohon. Splas, burung itu terjatuh. Yang lain mengepalkan tinju berseru riang. Memberi salut kepada temannya.
Satu-dua anak-anak melambaikan tangan. Akyas membalas dengan tersenyum. Melihat tingkah Haikal seketika aneh, Akyas cepat menyadari. Anak-anak itu bersama dengan kakak-kakak perempuan mereka. Ada yang tidak memakai kerudung. Tersenyum malu melihat mereka.
Tiba-tiba ada satu anak gadis menghampiri mereka. Rambutnya di kucir kanan kiri. Memakai baju berbeda dengan anak-anak lain. Busananya seperti kimono orang Jepang, tapi ini lebih signifikan. Tersenyum ke arah mereka. Haikal dan Akyas saling bertatapan, tidak mengerti. Siapa gadis kecil ini? Pikir Akyas dalam hati.
“Ikutlah dengan ku! Pasti sejak tadi kalian hanya berputar-putar.” Kata gadis kecil itu. Melangkah mendahului. Dengan cepat Haikal menyusul, menyamakan langkah.
Haikal berdeham. Gadis kecil itu mendongak menatap Haikal, sambil tersenyum. Lucu sekali.
“Siapa namamu?” Tanya Haikal singkat.
Gadis kecil itu menari, berputar. Memamerkan busananya. Rambut kucirnya bergoyang. Mungkin umurnya sekitar sepuluh tahunan. “Nama ku Afiqa Hasya. Panggil saja Afiqa.”
Mereka di tuntun menuju rumah kepala desa. Afiqa menunjuk joglo paling besar yang berada di samping kanan jalan. Rumah itu tidak beda dengan joglo lain. Hanya saja lahannya lebih luas. Perabotan banyak yang terbuat dari kayu, seperti meja, kursi. Tersusun rapi di teras rumah.
Mereka di tuntun menuju ruang tamu oleh seseorang. Sepertinya itu pengawal atau algojo. Meminta untuk menunggu sebentar.
Akyas menyisir pandangannya. Mendongak menatap ukiran kaligrafi khat terbuat dari kayu. Lukisan-lukisan di pajang mewah, besar sekali. Di tiang-tiang ada kepala binatang seperti rusa. Kerangkeng burung perkutut yang menawan.
Pada dasarnya rumah joglo terbuat dari kayu-kayu pilihan. Atapnya berbentuk tajug seperti atap piramida yang mengacu pada format gunung. Ada yang joglo panggung atau tidak.
Biasanya di samping rumah joglo kerap di temui seperti pekarangan bunga, taman buatan, atau bahkan kolam ikan koi. Tidak umum memang, rapi apa boleh buat jika tujuannya untuk memperindah nuansa.
Rumah joglo milik ketua kampung ini sedikit lebih mewah dari pada rumah joglo lain. Lebih besar dan luas. Ukiran dindingnya halus dan menawan. Vas bunga di taruh di pojok ruangan. Kelambu merah muda di selipkan di antara ujung jendela. Membiarkan sinar matahari masuk.
Haikal juga terpesona. Akyas mengingatkan bahwa tidak ada barang tertinggal seperti data dan formulir. Haikal dengan cepat meraih tasnya. Lincah tangannya mencari data di map-map. Syukur semua sudah siap. Tidak ada yang tertinggal.
Terdengar suara derap kaki dari dalam rumah. Yang di tunggu datang juga. Pakaian busananya tidak berbeda dari kebanyakan orang di desa Ngelanggeran. Celana hitam dan baju Koko batik. Kumisnya melintang di ujungnya. Namun wajahnya lebih bersahabat.
Duduk bersebelahan dengan mereka, tersenyum sopan. Mereka saling bersalaman, tidak di hiraukan lagi mereka adalah orang utusan dari temannya dahulu. Berjanji saling mengirimkan utusan untuk membuat data.
Haikal langsung mengeluarkan map berisi dokumen data formulir. Menyerahkan kepada ketua desa. Setelah di baca dengan saksama, kemudian formulir itu di tanda tangani.
“Campurasun Kuwu, Wilujeng Enjing!” Kata Haikal sopan.
“Rampes, Wilujang Enjing Bujang!” Jawab ketua desa.
“Kalian akan menginap di joglo sebelah kanan dekat dengan-“ Dengan cepat Haikal memutus ucapan ketua kampung.
“Maaf sebelumnya. Kami menginap di rumah bibi saya saja, Kuwu. Dia juga katanya pindah ke desa ini.” Terang Haikal.
“Siapa kalau boleh tahu nama bibimu?” Tanya Kuwu penasaran.
“Namanya Shofia Purwasastra. Dia dari Jakarta kemudian ikut suaminya ke sini. Tapi dari tadi saya belum menemukan alamatnya, hampir tidak bisa di bedakan rumah joglo satu dengan yang lain.”
“Oo Shofia? Jadi dia bibi mu? Dia tinggal di blok 4. Nanti Afiqa akan mengantarkan mu.” Kuwu tersenyum.
Mereka pada menoleh kepada gadis kecil yang sekarang berada di taman buatan dekat joglo. Berlarian mengejar kupu-kupu. Tersenyum riang.
Pertemuan mereka di habiskan dengan lebih banyak bercengkerama tentang desa Ngelanggeran. Tentang Curug talangnya. Wisatawan yang gemar berkunjung, kadang anak-anak sekolah sampai perkuliahan datang untuk membuat skripsi atau informasi tentang gunung purba atau keindahan alam yang lain. Tidak lepas dari itu semua, Desa ini memiliki Embung seperti danau. Ketika sore tiba, siluet memantul di genangan airnya. Membentuk cahaya indah.
Tidak lama dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki halus. Berirama bersentuhan dengan alas kayu. Seorang wanita, Memakai thawb atau gamis berwarna merah, anggun sekali, kontras dengan kerudung segitiga, menutup hingga data. Wanita itu membawa senampan gelas berisi teh hangat dan makanan ringan.
Hati Haikal seketika berdesir. Tidak bisa di cegah lagi, bulu matanya lentik. Tatapannya tertunduk sedari tadi, tidak terlalu terlihat nampang wajah aslinya. Sangat sopan dan menjaga pandangan. Tangannya pelan menaruh seisi nampan di meja persis di depan Haikal. Seketika Haikal salah tingkah sendiri. Kulitnya putih bersih berseri.
Wanita itu hendak masuk ke dalam rumah. Seketika pada langkah entah ke berapa, wanita itu mencuri pandang ke arah tamunya. Pas seketika Haikal juga mencoba tetap terus mengamati. Kedua pandangan itu bertemu saling tatap. Seolah di ruangan itu hanya ada dua orang yang saling mengagumi satu sama lain. Tersenyum manis. Wajah Haikal langsung merah padam, semua kosa katanya tersendat di tenggorokan. Jantungnya tidak berhenti, berdegup lebih kencang.
Tetapi pada kenyataannya. Cinta adalah cinta. Suka hanya sekedar itu. Tidak kurang tidak lebih. Tidak pula harus di perdebatkan. Karena sejatinya bukan hanya Haikal yang mengagumi wanita itu. Akyas yang berada di sampingnya juga memiliki perasaan yang sama, boleh jadi lebih besar lagi. Atau yang lebih menyakitkan lagi adalah, siapa di antara kedua sahabat itu yang memiliki percaya diri terlalu tinggi. Sebab sejatinya tatapan wanita tidak hanya satu arah saja.
Kuwu menjelaskan bahwa tadi adalah anak perempuannya, anak ke dua dari delapan bersaudara. Saudaranya yang lain memilki urusan di luar desa. Ibunya meninggal beberapa tahun lalu jadi hanya Kuwu dan anaknya itu.
“Namanya Azza Nabila Syakieb. Marga Syakieb dari kakek saya.” Jelas Kuwu.
Mereka berpamitan dan segera bergabung dengan Afiqa. Kuwu memberi perintah ke Afiqa. Gadis kecil itu langsung paham, tersenyum. Menatap Haikal. Menoleh dan mulai berjalan di dahulu.
Sekali lagi mereka berpamitan. Melambaikan tangan. Bergegas menyusul langkah Afiqa. Sebelum benar-benar Haikal bergabung. Terlihat Azza dari dalam rumah mencuri pandang kepergian mereka. Haikal terkesiap, berpaling menyusul Akyas dan Afiqa di depan. Hatinya masih berbunga-bunga. Wajahnya sedari tadi mengambang senyum, tidak habis-habisnya.
Haikal seketika lupa betul dengan seseorang yang menunggu kepulangannya nanti. Wanita yang menaruh sepenuh hatinya kepada Haikal. Bergelung dengan kesedihan. Walau Ada tamu spesial, tapi ia tidak bersemangat. Wajahnya masih redup. Memikirkan teman masa lalunya itu, juga cinta pertamanya.
-----
“Kenapa kamu begitu dekat dengan kepala desa? Apa masih ada hubungan keluarga?” Tanya Haikal. Akyas lebih memilih diam. Tidak terlalu tertarik dengan gadis kecil itu. Pikirannya memikirkan hal lain.
Sekali lagi Afiqa mendongak. Tersenyum. Menggeleng. Kedua rambut kucirnya bergoyang. “Keluargaku mengabdi kepada ketua kampung. Ayah ku tangan kanannya. Sudah menjadi takdir untuk keturunan keluarga seperti kami. Memang tidak banyak orang yang tahu. Karena mereka tidak bertanya, tidak tertarik.”
“Sebenarnya aku hanya menggantikan kakak ku untuk sementara. Ia ada urusan lebih penting lagi. Bertugas sebagai seorang penerima tamu, sekaligus penunjuk arah jika ada pendatang. Tapi lebih dari itu aku tidak bisa sembarang buka mulut, hanya orang tertentu yang tahu status keluarga kami.”
Haikal sedikit tidak mengerti penghujung kalimatnya. Tidak apalah. Mungkin juga rahasia keluarga masing-masing.
“Kenapa Kak Akyas dari tadi murung? Apa keindahan desa ini kurang membuat bahagia?” Kata Afiqa. Mulutnya mencucu, menggelembungkan pipi.
“Eh!” Akyas tersadarkan. Sedari tadi ia hanya diam. Menatap jalan saja, seolah keindahan alam di sisi kanan kirinya tergantikan oleh sesuatu. Dan benar saja, pikirannya mulai membayangkan. Hatinya mulai merespon, tidak lama perasaannya juga akan ikut serta. Berbunga mekar tidak terelakkan lagi.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Mungkin hanya sedikit capek saja.” Jawab Akyas, sambil tersenyum ke arah Afiqa. Tangannya menggaruk kepala bagian belakang.
-----
“Assalamualaikum!” Teriak Haikal.
Tidak lama yang di cari muncul dari dalam rumah. Menjawab salam dan terbelalak melihat sesuatu yang lebih berharga dari perhiasan. Wanita itu masih muda dengan menggunakan gamis menjuntai hingga tanah.
Berlarian kecil menyambut kedatangan Haikal. Keponakan yang sangat di sayangnya. Mereka di sambut ramah. Haikal memperkenalkan temannya, Akyas. Di persilahkan masuk, sebentar Bibi Shofia melirik ke arah Afiqa. Tersenyum, meminta untuk bergabung juga ke dalam. Tapi gadis kecil itu menundukkan kepala, menghormati tuan rumah, menolak dengan sopan.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Setelah mereka berganti pakaian. Mengenakan setelan rapi. Bergabung di ruang makan. Bibi Shofia menyiapkan hidangan yang istimewa, tidak terkecuali makanan kesukaan Haikal, baik dulu maupun sekarang.
Meja makan penuh dengan makanan. Mulai dari rendang hingga gule. Belum minuman yang beraneka macam. Akyas menyisir pandangannya dari sudut ke sudut meja. Menggelengkan kepala, hampir tidak percaya.
Suami Bibi Shofia ada urusan di luar kota. Tidak bisa bergabung makan malam. Besok mungkin beliau akan pulang. Setelah sekian lama waktu mereka makan, berbincang-bincang hangat dan sesekali mencomot topik tentang perjalanan mereka ke sini.
Piring-piring tandas, juga mangkuk dan gelas. Perut mereka benar-benar terisi sekarang setelah sekian lama perjalanan panjang.
Matahari sudah benar-benar tenggelam di ufuk barat, cahaya jingga perlahan mulai hilang. Bintang-bintang berhamburan membentuk formasi yang indah. Suara adzan bergemuruh memenuhi angkasa, saling bersahutan. Melintang bergema melalui lembah-lembah, hutan pegunungan, hingga tenangnya genangan air di embung desa itu.
-----
Kokok ayam terdengar keras. Mereka terbangun. Semalam mereka memutuskan berkeliling beradaptasi dengan lingkungan. Malam di desa itu sangat fantastis. Lampu-lampu berjejer di kanan kiri jalan. Suara derik serangga terdengar di semak-semak. Satu dua terdengar suara katak saling bersahutan, berirama merdu.
Setelah benar-benar tersadarkan mereka langsung mengambil air wudhu dan berjamaah.
Haikal sudah memberi jadwal untuk hari pertama ia datang. Adalah hal baik jika tugas riset mengumpulkan data ini di bantu oleh Afiqa yang tahu setiap hari naik atau turunnya kunjungan wisatawan. Serta berapa banyak wisata alam yang ada di desa ini.
Setelah sarapan pagi, menggunakan pakaian santai mereka pergi ke rumah Afiqa. Meminta bantuan mengumpulkan data.
Seperti pagi biasanya. Kabut menyelimut di puncak gunung purba, bisa di lihat dari jalanan. Orang-orang bersiap ke sawah, menenteng cangkul dan arit. Afiqa sudah memberi alamat rumahnya semenjak perpisahan di depan rumah bibi Shofia kemarin.
Perjalanan mereka cukup lama. Tidak tahu betul letak alamatnya, bertanya kepala orang sekitar. Menunjuk memberikan isyarat tangan, dengan cepat Haikal paham maksud isyarat tangan yang di maksud.
Matahari mulai menyingsing naik di puncak cakrawala. Cahaya mentari lembut menerpa wajah. Rumah joglo yang hampir sama miripnya dengan punya ketua kampung. Taman buatan berjejer rapi memenuhi halaman rumah itu. Nuansanya hebat sekali.
“Apa benar ini alamatnya, Kal? Kayaknya kurang ke sana deh!” Kata Akyas, sambil menunjuk jalan.
“Tapi katanya orang tadi benar ini alamatnya, Yas. Coba kita tanya terlebih dahulu.”
Haikal memberi salam. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, hening. Sekali lagi Haikal memberi salam, sedikit berteriak dari halaman rumah. Seorang gadis muda muncul. Wajahnya bersih. Rambutnya hitam panjang hingga pinggul. Pakaiannya tomboi. Akyas mulai panik, kan keliru, ini bukan alamatnya.
Haikal sopan bertanya. Pandangan gadis itu tajam. Raut mukanya menyeramkan, tapi tetap terlihat menyenangkan. Tidak lama gadis itu mengangguk, membenarkan alamat yang di tuju. Tatapannya dingin. Dan meminta kejelasan kenapa berkunjung.
Haikal sedikit patah-patah menjelaskan. Gadis muda itu mendengarkan dengan saksama. Melihat tajam arah lawan bicaranya. Memandang Haikal dan Akyas cukup lama, memastikan mereka berdua tidak berbahaya. Kemudian menjelaskan bahwa Afiqa tidak di rumah. Seperti biasa, gadis kecil itu ada kepentingan yaitu melayani para wisatawan.
Mereka sedikit kecewa. Saling pandang, tidak ada cara lain. Mereka harus menyelesaikan data tanpa bantuan orang kampung. Yang itu berarti waktu mereka menyelesaikan akan sedikit lebih lama.
Gadis muda itu masih berdiri di tempatnya melihat mereka berdua sedang gelisah, tidak tega mendengar keluh tamunya. Gadis muda itu menawarkan untuk membantu mengumpulkan data desa, tapi tidak sampai selesai.
Sekali lagi mereka saling pandang. Keputusan yang bagus, dengan begini data akan cepat selesai dan lebih baiknya lagi Haikal akan secepatnya bertemu dengan Sakinah menyatakan perasaannya.
Dari segi mereka mengumpulkan data, ada tiga data teratas. Haikal harus tahu berapa kisaran wisatawan yang berkunjung dari hari ke hari. Yang ke dua tentang wisata alamnya, ada berapa dan harus memberikan keterangan khusus di setiap wisata alam. Ke tiga tentang penduduknya, kebanyakan mata pencahariannya apa, dan agama apa yang paling banyak di anut.
Haikal juga membuat catatan kecil tentang perjalanannya. Mencatat semua keluh kesah hati yang selama ini entah apa penyebabnya. Ketika bertemu pertama kali selama setahun penuh dengan Sakinah atau perasaan ketika bertemu pertama kali dengan anak dari ketua desa, entah siapa nama gadis muda yang jelita itu.
Perasaan Haikal di hantui terus menerus dengan satu sisi kemanusiaan yang mengarahkannya kepada lazimnya kebanyakan orang lakukan. Yaitu menikah. Ia ingat perkataan Ustadz Muammar waktu itu. Pikirannya mulai membandingkan antara Sakinah dan anak kepala desa. Mana yang lebih dominan masuk atas kategori prinsip Sunnah Nabi.
Matahari tergelincir di puncaknya.
Gadis itu memperkenalkan diri. Namanya Lisa, kakak dari Afiqa. Dengan posisi Lisa sekarang ini yang menjadi pembantu desa, ia tahu betul data wisatawan yang berkunjung, setiap harinya. Kadang turun, juga naik. Tidak perlu menghitung satu persatu wisatawan, sebenarnya data tentang wisatawan ini cukup menyalin saja data ketua kampung yang susah payang di kumpulkan siapa lagi jika tidak Lisa dan adiknya.
Tentang data wisatawan selesai tinggal dua data lagi. Sungguh cepat sekali Lisa menyelesaikan tugas, bahkan ketika mengerjakan data tentang wisatawan Haikal dan Akyas tidak berkutik sedikit pun. Selesai sudah begitu saja. Mereka berdua menatap Lisa dengan takjub, yang di tatap mengangkat bahu ringan. Biasalah!
-----
Cahaya lampu berpendar-pendar menyinari ruangan. Menimbulkan bayangan ketika menerpa benda. Suasana dingin menyeruak menusuk tulang. Angin bertiup kencang di luar sana. Hujan lebat turun. Menggoyangkan dahan pohon. Menelusur lembah dan perbukitan. Haikal termenung menatap jendela. Malam itu Akyas sudah terlelap tenang di ranjang. Tersisa Haikal yang masih terjaga.
Ia memikirkan sesuatu, bukan seseorang. Sesuatu yang indah dan hebat, pikirnya mungkin ini hanya karena suasana sejuk malam apalagi di tambah dengan hujan mengguyur bumi. Seakan perasaan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa di rasakan. Ia mengerti bahwa bukan hanya dirinya yang merasakan, entah bagaimana pikirannya membara, seseorang melakukan hal yang sama. Berdiri melihat derasnya hujan di malam hari dari kaca jendela sambil pelan tangan menyentuh permukaan kaca, seolah kenangan yang lalu dan damai menyelusup ke hati membuat kedamaian.
Benar saja, jarak yang bisa di tempuh dari tempat Haikal berdiri. Seorang wanita cantik sedang menatap jendela, melihat derasnya hujan sambil tersenyum manis. Pandangannya redup. Memikirkan sesuatu, hatinya telah terisi oleh seseorang. Seolah terasa nyaman dan hangat ketika ia memilikinya. Anak ketua desa itu sedang mempertanyakan pada hatinya, meminta kejelasan. Apakah lelaki yang berkunjung tempo hari adalah jodohnya? Semoga Tuhan mengabulkan perasaan hati ini.