Bunga Bakung

3613 Words
Hari berganti terlalu cepat. Utusan dari Desa Nglanggeran sudah menyelesaikan setengah dari pekerjaan mengumpulkan data. Arya dan Nana adalah sepasang saudara. Mereka yang akan menyimpulkan data di desa Akyas, sebaliknya, Akyas mengumpulkan data di desanya. Sakinah sudah mulai terbiasa tidak adanya kehadiran Akyas. Ia yakin bahwa Akyas akan kembali untuk meminangnya. Semenjak di stasiun tempo lalu, Sakinah sangat yakin akan hal itu. Arya adalah lelaki tipikal yang suka kerapian. Sudah jelas, anak dari ketua desa harus memiliki dedikasi yang tinggi. Sepagi ini Arya sudah bersiap untuk memulai aktivitas seperti penduduk lainnya. Karena sudah terbiasa, ia memakai setelan yang tidak terlalu mencolok. Hari minggu ini Nana merajuk tidak ingin mengumpulkan data, ia ingin jalan-jalan. Menikmati lingkungan sekitar. Gadis itu memiliki sifat yang unik. Tidak bisa sembarangan mood nya di tebak. Sering berubah. Jika ia tidak mau, ya bagaimana caranya tidak mau. Tapi jika mood nya bagus, tidak kurang dari satu jam. Pekerjaan serumit seperti membuat makalah, jadi dengan hasil yang cukup bagus. “Ayolah, Kakak! Kau lama sekali berdandan. Kaya perempuan saja, bahkan aku kalah. Ayo buruan, nanti keburu siang.” Omel Nana. Kesal melihat Arya bolak balik dari lemari ke kaca begitu seterusnya. Arya tersenyum seolah tidak berdosa. Lucu melihat Nana marah. Memang ia sering membuat adiknya satu itu kesal. Satu jam berlalu, mereka menaiki sepedah motor milik tetua kampung. Hari ini mereka cukup santai. Mana ingin jalan-jalan mengenal desa lebih jauh lagi. Kepul asap yang keluar dari kenalpot motor menerobos berlalu bersama angin. Hembusan sepoi-sepoi suasana saat itu sedang baik. Sesekali Nana menunjuk orang yang sedang berkumpul merajut sesuatu. Di bawah pohon mangga dekat dari jalanan. Pagi itu anak-anak berlarian saling kejar satu sama lain. Berbeda dengan Desa Ngelanggeran karena Arya sudah biasa dengan kebiasaan penduduk di sana. Wajar jika Arya mengetahui budaya atau kebiasaan desa ini. Motor melaju menapak di jalanan. Dua jam mereka mengelilingi desa. Setiap g**g kecil atau kadang mereka tersesat bingung mau kemana. Matahari sudah mulai naik. Tiba di sebuah jalan yang sawah berada di kanan dan kiri. Nana minta berhenti sejenak. Peluh keluar dari dahinya. Ia kelelahan. Berehat di bawah pohon. “Ternyata desa ini tidak jauh dengan desa kita.” Kata Nana sambil mengambil air mineral yang ia bawa dari penginapan. Arya hanya memandang jauh di antara sawah-sawah. Melihat titik terjauh sambil tersenyum. Rambutnya bergoyang terkena angin. Ia memikirkan seseorang, seseorang yang telah membesarkannya hingga sekarang ini. Ia teringat pada almarhum ibunya. Dulu Arya sering di ajak pergi ke sawah sambil menemani ayahnya menanam padi. Ibunya mengajak Arya mencari belalang. Ketika itu adik pertamanya masih kecil juga tidak suka di ajak ke sawah lebih suka bermain di rumah atau di taman dekat joglo. Hanya itu kenangan yang bisa di ingat Arya selebihnya ia lebih suka tidak mengingatnya. “Hei, kak! Kenapa melamun?” Arya sedikit kaget. Melihat Nana menyodorkan air mineral. Kemudian ia meneguknya. Istirahat sebentar mereka memberi pengaruh cukup untuk lebih memahami alam. Arya sengaja membuat topik percakapan tentang keindahan. Bertanya kepada Nana bahwa jika indah itu bisa menyejukkan hati nyaman di pandang, harusnya juga yang menciptakan keindahan ini lebih indah dari semua yang kita lihat. Allahlah yang membuat semua ini, ia menghendaki pada keindahan kita juga selayaknya harus indah, maksudnya soal penampilan sampai indahnya hati. Nana yang sedikit mengerti mangut-mangut. Kali ini ia lebih bijaksana mendengarkan. “Mangkannya tadi kakak lama berdandan biar di sayang sama Allah” kata Arya sedikit menyinggung Nana. Nana memasang wajah sinis. “Jangan samakan. Kakak hanya ingin dilihat saja sama orang desa berpenampilan rapi.” Keduannya tertawa. Kadang mereka kompak dan kadang mereka juga bisa saling pro dan kontra. Adiknya yang kelima ini cukup mengerti dari pada Azza yang jarang berkomunikasi semenjak Arya menyambung pendidikan ke Universitas. Cahaya matahari mulai mengisi rongga-rongga celah dedaunan. Menimbulkan cahaya yang magis. Angin sekali lagi menggoyangkan rambut mereka. Jam setengah dua belas. Adzan dhuhur sebentar lagi berkumandang. Mereka sepakat untuk sholat di masjid Irsyad. Motor melaju perlahan meninggalkan kawasan persawahan itu. Kenangan itu akan terus teringat, bahwa mereka pernah bersenda gurau di bawah pohon rindang. --- Kembali pada kebiasaan dua sahabat yang saling menghibur. Malam itu suami Bibi Shofia pulang membawa banyak sekali makanan. Akyas girang sekali melihat meja penuh sesak dengan makanan. Ia berfikir bahwa mending di sini saja bersama Haikal dengan Bibinya. Dari pada di rumah hanya berjumpa dengan tempe dan tahu. Haikal membantu menyiapkan hidangan. Akyas menaruh piring dan mangkuk. Makan malam kali ini akan lebih eksotis dan lebih meriah karena adanya Om Alan. Walau hanya sekadar pindahan Om Alan tahu banyak apa yang harus mereka lakukan untuk mengumpulkan data. Masalah wisatawan selesai. Misi mereka selanjutnya adalah mengumpulkan data tentang wisata alamnya yang kata orang-orang Desa Ngelanggeran ini terkenal curug talangnya dan gunung api purba. “Bagaimana pekerjaan mu selama ini?” kata Bibi Shofia mencomot sembarang topik percakapan. “Alhamdulillah lancar. Data wisatawan desa sudah selesai. Kemarin kami di bantu sama Liya. Jadi urusan satu ini lebih mudah terselesaikan.” Jelas Haikal. Sendok garpu saling beradu. Mereka lebih suka membicarakan kuliah Haikal. Juga sesekali Om Alan bercerita tentang pekerjaan nya yang membosankan. Bagaimana masalah yang di hadapi sampai kejadian yang paling menegangkan. Seperti eror nya mesin saat situasi genting. Akyas tidak mau kalah dalam kesempatan ini ia mempromosikan keahliannya terutama pada Om Alan. Bahwa ia pernah juga mengalami kejadian yang menegangkan, yaitu ketika ramai-ramainya pesanan, eh tiba-tiba peralatan yang di gunakan sedikit eror jadi mau tak mau harus bekerja dua kali. Satu harus memperbaikinya dulu, dua karena di kejar waktu. Yang punya ingin cepat-cepat selesai. Apes sekali waktu itu. Seisi meja makan gemuruh dengan tawa. Kemudian berganti kembali ke topik yang lebih formal. Hingga piring dan mangkuk tandas. Om Alan sedikit mencoba menggoda Haikal. Menanyakan kapan ia akan menikah. Seketika itu Haikal tersedak sedikit terbatuk, berusaha menenangkan dirinya. Ia sedikit kikuk kalau ditanya masalah jodoh. “Eh, belum tau Om. Lagian juga Haikal masih kuliah.” Ia menjawab sekenanya saja takut topik ini malah melebar kemana-mana. “Kalau boleh saran Om punya kenalan yang memiliki anak cantik, cerdas, agamanya bagus. Ia memiliki keturunan yang bagus tidak sembarang orang bisa memilikinya. Tapi tenang saja, Kal. Kalau kamu inginkan dia Om bisa bantu.” “Atau anak kedua dari ketua kampung ini. Ia memiliki anak yang cantik. Agamanya juga bagus. Kalau kamu inginkan juga dia. Om bisa bantu. Ketua kampung itu kenalan dekat Om.” Haikal sudah mengerti apa yang di maksud Om Alan. Gadis itu memang cantik. Ia yang telah menyita perhatian Haikal ketika bertamu ke rumah ketua kampung. Tidak bisa di pungkiri bahkan rasa kagumnya waktu itu masih tersimpan hingga sekarang. Hatinya berdebar hebat ketika disebutkan nama gadis itu. Azza Nabila Syakieb, putri pertama dari delapan Saudara-saudaranya. Manis sekali ketika gadis itu tersenyum. Wajahnya berseri. Ia sangat menjaga auratnya. Hanya saja apa bisa seorang seperti Haikal bisa mendapatkan wanita yang cukup spesial seperti dia. Pikiran Haikal membara kemana-mana. Apa iya gadis sekelas dia tidak mempunyai pilihan jodoh, atau bahkan hanya soal waktu Azza akan dipinang seseorang yang lebih hebat darinya. Kehidupan tidak selamanya berjalan sesuai yang kita inginkan, namun kita bisa mengubah itu dengan apa yang kita mau selama ada usaha dialamnya. Masalah jodoh juga begitu. Kini hati Haikal muncul beribu pertanyaan. Apa ia akan melanjutkan kuliah atau menikah sambil kuliah. Tapi ia ingat kejadian tempo hari di stasiun kereta api. Ia jarang sekali selama pekan lalu mengabari Sakinah. Ia teringat Sakinah. Teman masa kecilnya dulu, gadis itu telah memberikan harapan kepada Haikal. Dan Haikal pun sama sekali tidak menyadari kesalahan terbesar itu, bahwa jika menanyakan kabar atau memberi perhatian sedikit apa pun itu kepada wanita. Maka sungguh engkau telah memberikan harapan terhadapnya. Namun Haikal tidak menyadari, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa apa yang ada di hatinya, memikirkan bahwa gadis sekelas Azza sudah ada yang memiliki. Bahkan perasaan itu juga sedang dialami seseorang yang justru menjadi sahabatnya sendiri. Perasaan itu juga mekar di hati Akyas. Akyas mengetahui bahwa Haikal menyimpan perasaan kepada Azza, dilihat dari ketika mereka bertemu dengan gadis itu di rumah ketua desa. Tingkah laku Haikal sudah menunjukkan reaksi sebagaimana seorang pria jatuh cinta. Demi menjaga hati Haikal, Akyas lebih baik memendam rasa ini sendirian. Dan Akyas juga tahu bahwa Haikal juga lagi di sukai oleh Sakinah. Memang perasan cinta kepada orang dewasa apalagi keduanya saling berteman suka kepada satu wanita, hanya ada dua pilihan. Mereka sayembara atau pengkhianatan yang terjadi. “Sudahlah sayang, jangan engkau bebani pikiran Haikal. Benar, ia harus menuntaskan kuliahnya dahulu dan masih fokus kepada karirnya. Biarkan dia memilih siapa yang cocok untuk pasangan hidupnya sendiri.” Ujar Bibi Shofia. Ia tau kondisi Haikal sekarang. Hari pertama kedatangannya, malam itu juga Haikal banyak bercerita kepada Bibinya. “Bukankah kamu juga meminang ku setelah sukses, Bang. Berjanji bahwa pasti akan kamu pinang. Memohon untuk diberi waktu sementara demi menyelesaikan karirmu yang akan memuncak. Tau, Kal? Om Alan setiap saat memberi kabar ke ibumu, selalu menanyakan kabar Bibi, terus begitu sepanjang hari. Dan pada suatu ketika ibumu dan Bibi menguji kesetiaannya. Ibumu memberi kabar dari pihak keluarga meminta maaf sebesar-besarnya, tidak ada kejelasan atas pesan itu, karena di sengaja. Kemudian demi mendapatkan pesan itu hati Om Alan buncah sejadi-jadinya. Tidak kurang dari lima menit sepanjang hari Om Alan selalu menelepon menjelaskan keadaannya, menjelaskan bahwa ia amat cinta kepada Shofia. Om Alan cinta mati saat itu. Karena tidak bisa menemui langsung Om Alan hanya bisa memberi tahu lewat telefon. Tidak hanya itu bahkan sempat mengirim surat tulis dengan hadiah yang besar-besar, menandakan kecintaannya kepada Bibi. Akhirnya demi tidak menimbulkan kesalahan fahaman. Ibumu menjelaskan yang sebenarnya. Setelah itu Om Alan sangat lega dan bulan depannya kami pun menikah” kata Bibi Shofia menjelaskan, ia juga menceritakan dengan tersenyum-senyum. Pipinya seketika memerah. Om Alan saat itu salah tingkah. Pipinya juga mulai memerah. “Aku tahu kau masih menginginkan ku, Shofia. Dan kalau pun ada orang lain yang berani menyentuh mu, langkahi dulu mayat ku.” Kata Om Alan. Kemudian semua seisi meja makan tertawa riang. Kisah mereka berdua sangat romantis. Mereka tidak suka berpacaran. Jika memang sudah dikira mampu nikahi saja langsung. Agama tidak mengajarkan untuk saling berpegangan tangan kepada yang bukan mahram. --- Bintang bertaburan menghiasi langit malam. Burung hantu ber-uhu pelan. Malam itu langit cerah, bulan sabit gombal menghiasi gelapnya malam. Suasana desa sepi. Terdengar derik seranga dari kejauhan. Katak bersahutan menimbulkan suara merdu. Haikal berdiam diri di teras rumah tingkat pertama. Melihat pegunungan sejauh mata memandang. Kabut tipis menghiasi hutan daerah gunung purba. Selama ia datang ke desa ini belum sekali pun mereka menginjakkan kaki ke gunung purba atau ke curuk talang. Besok pagi sekali ia berniat mengunjungi gunung purba dahulu. Persiapan sudah selesai. Akyas tidur terlelap, ia kekenyangan setelah makan malam tadi. “Indah bukan?” Bibi Shofia menghampiri Haikal dengan membawa dua gelas teh hangat. Haikal sedikit tersentak sadar dari lamunannya. Seolah mengerti apa yang di pikiran Haikal, Bibi Shofia menanyakan soal kondisi ayahnya. “Biarkan dia sendiri untuk sementara waktu, Kal. Mungkin beliau butuh waktu untuk menerima kenyataan ini.” Kata Bibi Shofia. Ia menghibur sekedarnya saja, takut malah membuat hati Haikal tersinggung. Ketika Haikal masih duduk di bangku sarjana. Pagi itu ada ujian penting dari Universitas. Tiba-tiba Haikal di panggil ke kantor kepala sekolah untuk menemuinya disana. Hati Haikal sudah tidak enak dengan kejadian ganjil ini. Tidak biasa Haikal di panggil ke kantor kepala sekolah kecuali memang ada masalah yang sangat mendesak. Pintu kantor di buka perlahan. Di sana duduk kepala sekolah, mempersilahkan Haikal untuk masuk. “Duduklah, Haikal. Saya ingin bicara sama kamu.” Kata kepala sekolah berusaha mencari bahan pembicaraan terbaik. “Begini. Bapak minta maaf sebesar-besarnya. Karena telah menggangu ujianmu. Ayahmu ingin bicara.” Sebentar kepala sekolah mengeluarkan telefon. Memberi kesempatan untuk Haikal berbicara dengan ayahnya. Beberapa menit berlangsung. Berita itu seakan seperti ribuan jarum yang menusuk secara bersamaan. Menghunjam sangat dalam. Membuat hati pilu. Seolah waktu berhenti berjalan. Saat itu pula bersama dengan suara samar-samar tangisan, suara serak itu mengulang kedua kalinya. “Ibumu telah meninggal”. Ayahnya tersedu-sedu tidak kuat menahan tangis. Kemudian panggilan itu dialihkan kepada Bibi Shofia yang saat itu juga menangis haru. Menjelaskan sedikit kejadiannya. Kemudian panggilan itu di tutup. Haikal termenung cukup lama, pikiranya tidak stabil. Berita itu benar-benar membuatnya tidak berdaya sama sekali. Ia masih terduduk dalam diam. Kepala sekolah mulai panik, ia binggung harus dari mana menyadarkan Haikal. Hatinya sangat terpukul. Bayangkan saja jika kalian pada posisi di mana harus berjuang demi seseorang kemudian di tinggal begitu saja. Ibunya adalah makhluk yang sangat di cintainya. Apapun masalah yang di hadapi Haikal, mulai dari masalah hati ataupun masalah sosial. Curhatan kedua adalah ibunya setelah Allah. Setelah mendengar berita itu, ia berusaha mengkokohkan hati, tidak ada gunanya menyesal. Boleh bersedih tapi jangan sampai meratapi. Ia membangun sholat tahajud, mengutarakan kesedihannya kepada yang maha kuasa. Sakit sekali melihat kondisinya saat ini. Karena ia tidak bisa pulang segera, tidak bisa menghadiri pemakaman ibunya, tidak bisa mensholatkan secara langsung. Dan sedikit ia sesali adalah janji ketika Haikal akan memberikan hadiah bunga bakung kepada ibunya setelah lulus sarjana. Karena ibunya suka mengoleksi bunga bakung, Haikal berniat akan membawakannya langsung dari Jakarta dengan kualitas yang bagus. Ketika perpulangan Haikal. Ia membawa dua ikat bunga bakung. Satu ia tanam di pelataran rumah. Yang satunya lagi ia tanam di makam ibunya. Sekaligus ziarah dan mendoakannya. Ia berusaha sekuat tenaga mengikhlaskan apa yang terjadi. Tidak semudah hanya melupakan. Tapi bagaimana pun juga kenyataannya demikian. Allah ingin Haikal lebih desawa dan belajar mengikhlaskan bahwa orang yang kisah sayang pun akan kembali kepada Sang Pencipta. “Semua itu sudah ada takdirnya, Bi. Mungkin aku saja yang sulit untuk melupakan. Harus lebih tabah lagi. Mungkin hanya soal waktu aku bisa lebih ikhlas lagi, lebih bisa belajar dari apa yang sudah terjadi.” Kata Haikal. Matanya sedikit berkaca-kaca. “Bibi waktu itu juga tidak percaya apa yang terjadi. Padahal keadaanya baik-baik saja. Ia hanya sakit perut dan dokter bilang akan lekas sembuh jika meminum obat secara rutin. Kemudian pagi itu. Ia merasa perutnya sedikit bermasalah. Bibi waktu itu merasa ini hanya gejala seperti biasa. Ayahmu menyuapinya dengan semangat. Terus bilang kepada ibumu bahwa ia akan baik-baik saja. Tidak ada angin atau badai, tiba-tiba ibumu merasa perutnya ada yang salah. Dipanggil dokter katanya kondisinya kritis. Dokter pontang-panting memeriksa ibumu. Ayahmu panik sejadi-jadinya. Saat pukul sembilan lebih kesimpulan dari dokter membuat tangisan satu per satu mulai saling sahut menyahut. Memenuhi atap rumah. Semuanya bersedih, saat itu pula ayahmu berusaha menelepon universitas tempat kamu kuliah dan mengabarkan apa yang terjadi.” Jelas Bibi Shofia. Wajahnya sembab. Ia sedikit tergugu namun ia tahan. Berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Tidak mau Haikal juga ikut sedih. Angin menghembus perlahan menggoyangkan anak rambut. Awan tipis terlihat bergelantung di langit. Suara serangga sudah tidak lagi terdengar hanya terdengar samar angin malam. “Ngomong-ngomong apa kamu sudah menemukan apa yang kamu cari, Kal? Maksud Bibi ada banyak wanita di luar sana yang sudi kamu miliki. Biar juga ayahmu cepat-cepat punya cucu. ” Bibi Shofia menghibur Haikal. Sedikit bercanda. “Eh Bibi ini.” Haikal sedikit malu membahas soal jodoh. Karena yang memulai topik Bibi nya sendiri ia tak mau menyakiti hatinya. “Benar juga saran Om Alan tadi. Anak kedua ketua kampung cocok dengan mu. Ia memiliki paras cantik. Mumpung kamu lulusan pesantren jadi bimbinglah gadis itu dengan baik.” Kata Bibi Shofia. Haikal tersenyum. Memang Azza memiliki paras cantik. Wajahnya putih bersih. Tetapi sekali lagi ia ingat kepada Sakinah yang menunggu kepulangannya. Kemudian Haikal menceritakan sedikit banyak tentang teman masa kecilnya itu kepada Bibi Shofia. Bibi Shofia mangut-mangut mendengarnya. Haikal juga menceritakan kepribadian yang ada pada Sakinah. “Ya sudah. Kapan mulai pinangannya?” Seolah mudah saja Bibi Shofia mengatakannya. Seperti pasangan hidup itu sangat mudah di cari. “Jodoh itu sudah di atur. Memang benar tapi dengan sudah diaturnya kita harus berusaha mencari. Jika sudah ada yang mencintai tinggal istikharah saja minta kejelasannya. Jangan kelamaan, kal. Keburu tua.” “Masih fokus karir, Bi. Hehehehe.” Canda Haikal. Ia meniru cara Om Alan menjawabnya. --- Arya sepagi ini sudah bangun dahulu. Nana masih nyenyak dengan mimpinya. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melewati jendela kaca. Arya merenggangkan tubuhnya melakukannya senam kecil. Hari ini ia akan mulai mengumpulkan data lagi. Kali ini misinya membuat laporan data tentang sejarah desa sampai apa yang banyak di sukai oleh penduduk kampung. Jam pukul tujuh tepat. Namun Nana masih saja belum bangun. Arya mengetuk pintu kamar Nana tapi tidak ada jawaban dari dalam. Sekali lagi dengan sedikit lebih keras. “Iya, Kak. Bentar lagi juga Nana bangun. Lima menit, lima menit.” Jawab Nana sambil menguap lebar. “Ayo cepetan. Mumpung ikan gorengnya masih hangat. Nanti nyesel kalau sudah dingin. Jangan lupa juga hari ini ada pekerjaan untuk kita. Jangan di undur mulu.” Gerutu Arya. Demi mendengar kalimat ikan goreng. Nana lompat girang meninggalkan tempat tidur. Rambutnya masih acak-acakan. Membuka pintu berlari ke arah meja makan. Satu meter dari meja makan dengan cepat Arya menahan langkah Nana. “Eits, mandi dulu baru makan. Lihat wajahmu kusut sekali. Kalau tidak cepat jangan harap akan tersisa ikan gorengnya.” Nana melangkah gontai menuju kamar mandi. Ia memasang wajah masam. Dan menggerutu dalam hati. “Dasar”. --- Pukul sembilan pagi. Mereka sudah selesai makan. Penampilan Nana sekarang lebih enak dipandang. Ia membiarkan poninya menggantung. Rambut belakangnya di kucir. Ia sekarang memakai pakaian santai. Wajahnya berseri. Untuk usia enam belas tahun ia termasuk remaja yang cukup cerdas. Karena itu ia dipilih untuk menemani Arya mengumpulkan data desa. Kali ini mereka tidak menggunakan motor. Melainkan membawa mobil yang dipinjam dari kepala kampung. Pagi ini mereka berniat untuk mengunjungi masjid Iryad. Arya berencana untuk mulai dari masjid yang terkenal di desa itu. Karena tau teman ayahnya adalah tetua organisasi Irsyad ada baiknya topik kali ini akan merujuk pada masjid itu. Mobil meluncur deras di jalanan. Sesekali berseberangan dengan teraktor yang hendak ke sawah atau ibu-ibu dengan capil dan arit sedang menggayuh sepeda onta. Rumah berjejer rapi di kanan kiri jalan. Banyak di dapati rumah seperti kebanyakan milik orang Jawa pada umumnya. Berbeda dengan desa mereka yang juga ada rumah joglo dengan berbagai aneka bentuk yang beragam. Mobil memasuki jalan yang lebih besar sedikit lagi mereka akan sampai. Pedagang kali lima memenuhi sekitar tepi jalan. Juga ada warung layaknya warteg pada umumnya. Aroma masakan tercium pekat di bawa angin. “Kak?” tanya Nana menconot sembarang topik. “Ada apa? Jangan bilang kamu ingin turun untuk makan atau membeli sesuatu.” Jawab Arya menggoda. “Ya kalau Kakak mau, come on aja. Tapi karena ikan goreng tadi perut ku sedikit terisi mungkin bertahan sampai siang nanti.” “Kakak kapan menikah? Lihat uban kakak udah mulai tumbuh satu per satu.” Kata Nana menggoda. Cekikikan menahan tawa. Wajah manisnya menyinggung senyum. Suka sekali Nana menggoda kakaknya. “Apaan sih kamu. Kalau sudah waktunya ya pasti ada jodohnya. Lagian kamu masih kecil ngapain ngomong pernikahan. Itu urusan orang dewasa.” Jelas Arya. “Ya elah Kak. Kan nggak ada salahnya adik sendiri menanyakan gituan ke kakaknya. Biar nanti Nana jadi domasnya. Hehehe.” Nana tertawa lebar. Arya tidak menanggapi. Mobil memasuki pelataran masjid Irsyad. Masjid itu sepi. Wajar tidak ada aktivitas sama sekali hanya ada seorang setengah baya sedang menyapu serambi masjid. Di samping masjid juga ada kantin milik Bu Tin. Terlihat Bu Tin lagi beres-beres mengatur barang. Mereka mendekati seorang setengah baya itu. “Permisi pak. Apakah bapak bekerja sebagai tukang bersih masjid?” Tanya Arya. “Iya bener mas. Ada keperluan apa ya?.” Orang setengah baya itu memastikan lawan bicaranya. “Maaf Pak sebelumnya. Nama saya Arya dan ini adik saya Nana. Kami ingin mengambil informasi dari apa yang bapak ketahui tentang masjid Irsyad selama bapak bekerja di sini. Mohon bantuannya!” Kata Arya menjelaskan. “Oo iya mas nggak apa-apa. Nama saya Pak Soim. Kalau boleh mending kita bicara di kantin saja mas.” Kata Pak Soim memberi usul. “Boleh Pak Soim, itu lebih nyaman. Mari!” Arya mempersilahkan. Mereka bertiga menuju kantin Bu Tin. Memesan minuman sekedarnya. Arya mulai mewawancarai Pak Soim. Menanyakan masalah yang paling umum seperti bagaimana jamaahnya. Atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masjid Irsyad. Nana bagian mencatat dan merekam informasi. Bu Tin sedikit mencuri pandang ke arah pembicaraan mereka. Ia tahu bahwa laki-laki yang memakai setelan batik dan celana hitam itu adalah utusan dari Desa Nglanggeran. Haikal pernah bercerita langsung. Percakapan mereka semakin lama semakin melebar. Pak Soim hanya memberi informasi apa yang ia ketahui saja seperti keadaan masjid dan sejarah masjid. Ia tidak tahu menahu tentang organisasi Irsyad karena Pak Soim juga tidak berkecibung di dalamnya. Dua jam mereka habiskan dengan bercakap-cakap. Sesekali Arya menanyakan hal lucu, kemudian keduanya tertawa bersama. Tiba-tiba dari teras kantin suara perempuan memberi salam. Lembut sekali suara itu. Ketika semua mata menoleh ingin tahu. Berdiri gadis dengan kerudung merah hati. Warna jubahnya kontras dengan kerudung cocok sekali di kenakannya. Berpadu pada wajahnya yang manis. Sakinah datang untuk menghantarkan sesuatu. Sakinah mendapati sosok lelaki dengan baju batik cokelat sedang memperhatikannya. Kedua pandangan itu saling bertemu. Tak lama Sakinah tersadarkan. Arya hanya bisa melamun, ia tak ada ide untuk berbuat apa. Yang tidak suka akan kehadiran Sakinah adalah Nana. Ia berpikir bahwa Sakinah telah mencuri perhatian Arya. Sakinah hanya mengganggu saja. Karena dia datang mengumpulkan data jadi tersita beberapa waktu, terbuang sia-sia. “Ini Bu Tin. Bunga Bakung yang sampean minta.” Kata Sakinah lembut. Ia menyerahkan keresek hitam. Bu Tin tersenyum girang. Membuka bingkisan itu dan takjud, Bunga Bakung warna unggu kesukaan Bu Tin. Sejak itulah hati Arya terbesit sedikit rasa suka. Entah mengapa kali ini hatinya merespon padahal perasaan itu hanya biasa saja ketika pertemuan mereka pertama kali bertemu di rumah tetua. Seindah Bunga Bakung. Pertemuan mereka akan terlanjur hingga memang adakah lebah yang akan hinggap pada bunga, menggoyangkan benang sari. Mekar dan berbuah lebat. Atau ada hama yang menyita bunga itu untuk mekar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD