Hati Malaikat

3398 Words
Tidak peduli seberapa besar kalian berbuat kebaikan, itu tidak akan membuat kalian menjadi malaikat. Sedangkan hanya dengan satu kesalahan saja itu bisa membuat kalian menjadi iblis. Di depan seorang wanita terkadang laki-laki harus berpenampilan sangat tapi agar terpikat. Lazimnya sudah banyak di temui lelaki yang memulainya terlebih dahulu. Mereka tidak bisa selalu berbuat baik di hadapan wanita, tidak selamanya begitu. Tidak bisa menjadikan hati mereka seperti hati malaikat. Namun lelaki tahu bagaimana yang terbaik untuk berbuat. Kapan harus menyudahi, kapan harus bercanda, dan kapan harus benar-benar mengutarakan perasaan yang sesungguhnya. Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Berdetik terus begitu sepanjang hari, mengisi kekosongan, memecah sepi. Arya sudah mengenal setidaknya hanya namanya saja. Sebelum pergi Arya mencegah Sakinah. Gadis itu sedari tadi sangat memelihara pandangannya, terus menundukkan kepala. Arya berniat untuk menanyakan lebih detail tentang tesisnya kali ini kepada Sakinah. “Maaf, apa bisa Anda meluangkan waktu untuk kami? Kami ingin bicara dengan Anda mengenai desa lebih dalam. Kami yakin Anda tahu betul dan bisa menjawab apa yang kami permasalahkan.” Kata Arya memberi tahu alasannya. Sakinah sebentar mempertimbangkan. Karena ini masalah kepentingan maka Sakinah menyetujui. Asalkan hanya yang penting saja. Mereka duduk terpisahkan dengan meja. Pak Soim undur diri, berpamitan terlebih dahulu. Ia masih ada urusan di masjid. Bu Tin menyimak pembicaraan mereka siapa tahu ada hal yang penting. Siapa tahu bisa di kabar kan kepada Haikal. Namun kali ini Bu Tin tau diri, mungkin ia tidak akan melaporkan secara langsung takut menimbulkan fitnah. Aktivitas Haikal di sana juga terganggu. “Cih, jelaskan secara singkat, padat, jelas. Jangan membual kemana-mana.” Tukas Nana mengancam. Ia meraih pena dengan kesal. Arya tidak mengerti kenapa adiknya menjadi sangat sensitif begini. Apa dia lapar? Kan siang juga belum. Arya di buat bingung dengan sikap Nana kepada Sakinah. Sakinah dalam posisi serba salah. Wanita itu diam itu lebih baik, tidak menanggapi omelan Nana. Jika ia tidak mau memberi informasi, itu juga salah. Jika ia menurut juga kena marah sama adiknya Arya satu ini. Entah kenapa dan salah apa yang di lakukan Sakinah sampai membuat Nana tidak enak begitu. “Jangan gubris adik ku. Ia memang begini suka marah-marah kalau moodnya jelek.” Jelas Arya. Agar membuat Sakinah juga tidak terbebani. Tidak perlu lama Arya mengerti kondisi. Ia memulai percakapan. “Bagaimana tentang Organisasi Irsyad?” “Organisasi Irsyad adalah sekumpulan orang yang ikut dalam partisipasi merayakan masjid Irsyad. Di dalamnya ada orang-orang yang memang sudah lama berkecibung di masjid lebih biasa di sebut remaja masjid. Dengan mengumpulkan mereka dan mengabdi pada Organisasi, itu membuat mereka lebih mengetahui apa yang terjadi di masyarakat. Salah satu gunanya juga melatih pengkaderan mereka dalam bertanggung jawab.” “Kegiatan di dalamnya seperti mengadakan TPQ, mengajarkan adik-adik mereka mengaji. Mengadakan seminar atau sebuah kajian rutin perpekan dengan di sisi ustadz-ustadz. Namun sekarang kegiatan itu jarang terlaksana, karena Organisasi Irsyad sedang mengumpulkan dana bantuan. Saya sebagai sekertaris juga lebih fokus kepada pembangunan sistem Organisasi untuk lebih baik lagi.” “Karena ketua Devisi pertama tidak ada, juga ayah saya sebagai tetua Organisasi sedang sakit. Kegiatan yang berjalan hanya sekedar mengaji sore. Mungkin itu penjelasan yang cukup untuk membuat Anda faham.” Jelas Sakinah panjang lebar. Arya mangut-mangut memahami. Laporan itu juga sudah di cacat baik dengan Nana. Walau ia hanya mencatat super detail dari penjabaran panjang Sakinah. Arya mengalihkan topik pembicaraan. Pikirnya mungkin laporan tentang masjid Irsyad dan Organisasinya cukup sampai disini, kalau pun nanti masih di rasa ada yang kurang, ia tanya kan lagi pada Sakinah. “kenapa Desa ini diberi nama sesuai nama Bunga?” Tanya Haikal penasaran. Adiknya sudah tidak kuat lagi. “Ayolah, kak. Apa kurang kakak menanyakan semua itu? Lebih dari cukup. Kita sudahi saja dahulu perut ku sudah kosong, minta makan.” Gerutu Nana. “Ayolah, Na. Ini yang terakhir kali. Sekalian menambah informasi mumpung ada Sakinah.” Jawab Arya. Ia tahu jika Nana sudah tidak mood lagi. Semangatnya sudah hancur. Entah karena memang ia tidak suka ada Sakinah, membual beralasan perutnya kosong. “Hai, apa kamu Nana? “ kali ini Sakinah menyapa Nana. Ia merasa tidak enak dengan gadis itu entah kesalahan apa yang di perbuatnya. “Hmm. Salam kenal. Halo.” Nada bicara Nana menggerutu. Ia menjawab juga karena Arya menatap tajam ke arahnya. “Apa pembicaraan ini akan di lanjutkan?” Tanya Sakinah sekali lagi. “Iya silakan, setelah itu kita bersiap-siap untuk sholat dhuhur.” Tukas Arya. Sakinah mencari posisi duduk lebih nyaman. Dan mulai bercerita. “Sebenarnya kalau masalah sejarah saya tidak cukup mengerti, hanya saja cerita ini turun temurun di kisahkan. Sebagai pengantar tidur.” “Bunga Bakung adalah simbol keharuman dan kesempurnaan. Dalam kandungan Bunga Bakung juga terdapat banyak manfaat. Karena banyak yang sakit saat itu, di mana desa di serang dengan wabah. Tabib dari luar desa sudah tidak bisa menanganinya kemudian ada salah satu tabib yang luar biasa ia bisa menyembuhkan orang-orang dengan khaisat yang di kandung Bunga Bakung.” “Sejak saat itu penduduk menamai lingkungan itu dengan nama bunga. Di setiap tempat, pekarangan, taman, atau di pinggir sungai, banyak di tanami Bunga Bakung. Jika ada yang susah tidur atau ingin menambah stamina otot, maka Bunga Bakung jawabannya. Itu salah satu manfaatnya.” Seraya cukup untuk menjelaskan, Sakinah kemudian undur diri. Ia tidak bisa berjamaah di masjid Irsyad karena ada yang menunggunya di rumah. Sebelum benar-benar Sakinah pergi, Arya meminta nomor telefon Sakinah. Biar untuk sewaktu-waktu ada yang penting ia bisa tanyakan. Kemudian ia menambahkan sebelum semuanya berlalu. “Kemudian kenapa sekarang jarang terlihat Bunga Bakung di pelataran rumah penduduk. Aku bahkan pertama kali di sini melihat Bunga Bakung yang baru saja kamu bahwa untuk Bibi kantin itu.” Tanya Arya penasaran. “Sebenarnya masih ada satu tempat yang masih lestari untuk Bunga Bakung, yaitu rumah Bu Aisyah. Karena beliau meninggal dunia, siapa yang ingin Bunga Bakung bisa mampir ke rumahnya. Beliau juga punya koleksi Bunga Bakung dari Jakarta, anaknya bernama Haikal yang membawanya.” “Haikal? Siapa dia?” Tanya Arya. “Dia adalah teman masa kecil ku. Dia sekarang sedang mengumpulkan data di desa lain. Apa kamu juga mengenalnya.” Sebenarnya Arya tahu sedikit tentang pemuda itu. Sebelum berangkat meninggalkan desa, ayahnya bercerita bahwa ada juga dua utusan dari Desa Bakung. Salah satu namanya adalah Haikal. Awalnya Arya hanya mengabaikan pemuda itu, karena ia kenal Sakinah dan tahu bahwa ia adalah teman masa kecil Sakinah. Apalagi ketika Sakinah menyebutkan nama pemuda itu, wajahnya mengembang senyum. Seolah hati Arya sedikit teralihkan. Kemudian beberapa saat Sakinah benar-benar undur diri. Ia pergi meninggalkan kantin. Meninggalkan pemuda bernama Arya yang sekarang ini sedang berbunga-bunga hatinya. Menyimpan rasa suka itu baik-baik dalam hati. Setelah menjawab salam dari Sakinah. Suara lembutnya masih terngiang di telinga. Otak merespon dengan berbagai kesimpulan yang hebat. Adzan dhuhur berkumandang saling bersahutan satu sama lain. Nana sedari tadi sudah tidak kuat lagi menahan lapar. Mereka berencana untuk shalat dahulu kemudian cari tempat makan. --- Suasana Desa Bakung sejuk. Angin berhembus perlahan menggoyangkan pujuk pohon. Setelah dhuhur di masjid Irsyad mereka memutuskan untuk mencari makan. Mobil terus terus melaju hingga mereka menemukan warung. Nana setuju, tidak banyak permintaan kali ini. Arya juga tidak keberatan. Mobil di parkir sisi kanan warung ada tempat luas di sana. Hampir memasuki warung, Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam. Seorang lelaki berteriak keras, seperti memaragi seseorang, ada bertengkaran. Arya hendak masuk, namun seseorang dengan baju biasa, tinggi dan ia memakai celana pendek keluar dari warung. Iarng itu bersebrangan dengan Arya. Yang membuat pandangan Arya tertuju bukan karena pria itu, melainkan apa yang ada di dahinya. Bekas luka? Mungkinkah baru saja ada perkelahian? Arya ingin menanyakan kepada pria dengan celana pendek itu. Tapi urung selain langkahnya cepat juga ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik masuk dahulu boleh jadi tahu sedikit banyak informasi. “Dasar, pergi sana! Tukang Penguntit sialan.” Umpat seorang dengan memakai pakaian koki, celemek kotor tergantung di dadanya. Lebih mirip seorang pelayan. Nana yang berada di sebelah Arya sedikit tertegun, peristiwa ini jarang di alaminya. Walau ia tidak terlalu suka dengan kondisi sekarang, ia berusaha berfikir baik, bahwa hanya ada masalah kecil yang terjadi. “Apa baiknya kita cari tempat lain, kak?” tanya Nana prihatin. “Tidak, kita tetap makan di sini. Walau seisi ruangan sedang bertengkar. Juga kita bisa menilai kondisi masyarakat desa melalui peristiwa seperti ini.” Jelas Arya. Ia sedikit marah kepada Nana, telah memperlakukan Sakinah dengan tidak sopan. Nana mengedarkan pandangannya. Menelusuri setiap sudut ruangan. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Seisi warung itu saling toleh tidak mengerti, membiasakan kemudian melanjutkan makan mereka. Arya memilih tempat dekat jendela ada meja kosong di sana. Lebih nyaman jika udara langsung masuk, menimbulkan ketenangan, walau situasi sedang memanas. Tidak lama seseorang wanita dengan celemek sama yang di kenakan pria sedang mengomel tadi menghampiri mencatat pesanan. Wanita itu menyerahkan daftar menu yang ada. Sopan menunggu. Seketika mood makan Nana turun ia tidak terlalu berselera makan siang ini. Ikut saja apa yang di pesan Arya. “Kenapa tadi kau bersikap begitu?” Tanya Arya menyelidik. Tidak seperti biasanya, Nana bersikap kasar kepada orang lain. Selalunya ia bersikap ramah kepada orang, apalagi dengan yang baru ia kenal. “Biarkan saja. Memang aku lagi malas. Wanita itu mengganggu. Waktu pertama kali bertemu saja seolah-olah menganggap kita hanya beban, tidak mampu mengumpulkan data desanya.” Tukas Nana. Wajah putih langsat nya sedikit memerah. Matanya seketika redup. Untuk menutupi itu, ia melipat kedua tangannya di d**a seperti tidak peduli. “Belum apa-apa kau langsung menilainya. Sakinah adalah orang baik. Jangan menilai orang dari hawa nafsu saja, Nana. Cobalah saling mengerti.” Kata Arya. Berusaha tidak memancing suasana lebih rumit lagi. Ia tahu betul watak Nana. Gadis itu butuh kasih sayang. Usia dua tahun, ia hanya gadis kecil yang di asuh oleh pembantu keamanan desa. Nana mempunyai teman masa kecil selain Arya sendiri. Namanya Shofia. Mereka besar bersama. Saling mengerti dan dalam satu ke fahaman. Jam dinding berdetik perlahan. Pelanggan satu per satu meninggalkan tempat duduk mereka. Beranjak pergi. Pelayanan mulai membersihkan meja. Satu dua ada yang datang. Kejadian ribut tadi seperti mereka anggap hanya angin lalu saja. Tidak perlu di perpanjang. Lima belas menit sebelumnya makanan mereka telah sampai. Nana merasa bersalah. Matanya berkaca-kaca. Demi melihat hal itu Arya panik. Untungnya tepat pada saat itu pelayanan membawa makanannya. Dengan cepat Arya menghibur Nana, memperlihatkan bakso dan es degan kesukaannya. Nana teralihkan, ia mengusap kedua matanya, cepat sekali hati Nana berubah jika soal makanan. Setelah itu Arya berjanji makan malam nanti akan di buatkan ikan goreng spesial. Mata Nana melebar, menyinggung senyum. Meminta kepastian ke kakaknya, sekali lagi Arya mengangguk takzim. Nana girang, ia meloncat seperti anak kecil yang baru saja di kabulkan permintaannya. Salah satu hal yang paling Nana tidak sukai adalah pertengkaran. Karena ia di besarkan oleh pembantu keamanan desa. Satu hari terjadi pertikaian salah faham antara kedua belah pihak. Liya dan Afiqa mengajak Nana pergi dengan perintah ayahnya. Saat itu usia Nana beranjak tujuh tahun. Terlalu dini terlibat dalam pertikaian. Pada saat kejadian membuncah menyelimuti desa. Kebakaran dimana-mana. Banyak orang merintih kesakitan. Tidak ada perlindungan. Seakan desa itu di kepung habis habisan. Pada saat langit berwarna hitam pekat, nyala api membara di sepanjang jalan. Saai itu pula dalam pelarian mereka bertiga, Nana tidak sengaja menyaksikan langsung apa yang sebaiknya tidak dilihatnya pada usia sedini itu. Nana melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri seseorang terbunuh. Terhunus belati panjang menembus perut orang itu. Orang yang melindungi mereka dari kejaran pemberontak. Kemudian lirih berkata, “Pergilah sejauh-jauhnya dari sini. Nyawa putri kepala desa lebih berharga.” Saat itulah Nana fobia dengan bentuk perkelahian apa pun itu. Nana menangis sejadi-jadinya. Nana kecil sangat berkasih sayang, hanya karena kejadian itu hatinya sangat terluka. Berbeda seperti Afiqa dan Liya yang tumbuh memang sudah di tempa sebagai pelindung desa. Nana kecil yang berusia tujuh tahun, suka menolong dan sangat menggemaskan. Tingkat kekhawatirannya kepada orang lain melebihi khawatir kepada diri sendiri. Hatinya seperti malaikat. Tersenyum sepanjang saat. Namun karena kejadian kejam itu, ia tidak akan pernah sama lagi dengan dirinya yang dulu. Kalau pun bisa, harus ada kekuatan besar yang benar-benar bisa merubahnya menjadi lembut lagi. Genap usia dua belas tahun. Nana hidup kembali bersama Arya. Ada alasan tertentu ketika kepala desa menitipkan Nana kepada pembantu keamanan desa. Karena anak kepala desa dari delapan bersaudara tersisa empat. Banyak yang menjadi korban ketika pertikaian itu. Karena wajah Nana dan Azza mirip dengan ibunya, ketua desa tidak ingin kehilangan apa yang di cintainya lagi. Karena itu Nana di titipkan ke pembantu keamanan desa, dan Azza di pulangkan sementara ke rumah neneknya di luar kota. Akhirnya itu adalah pertikaian yang awal juga terakhir. Penyebab terjadinya salah faham sudah dieksekusi. Dan tidak ada lagi pertikaian semenjak saat itu. Kejadian pertikaian tidak sampai kepada telinga media. Bahkan desa tetangga tidak menahu soal itu, mereka hanya dengar kabar burung saja. Seolah pertikaian itu tetutup dari dunia luar. Berangsur desa mulai di benahi sedikit demi sedikit, Jalan-jalan mulai di bangun. Bekas pembakaran sudah hilang. Hingga saat itu keadaan desa mulai stabil kembali. --- Arya melambaikan tangan. Salah satu pelayanan menghampiri. Arya mengeluarkan uang seratus ribu, pelayanan itu menerimanya dengan sopan. “Kembaliannya ambil saja, mas.” “Terima kasih, mas. Kebaikan mas akan saya ingat.” Kata pelayan itu senang. “Kalau boleh tau. Tadi itu ribut kenapa ya, mas?” Tanya Arya penasaran. “Oh yang tadi. Tidak terlalu serius, mas. Cuma masalah keluarga saja.” Kata pelayan itu santai. “Kadang juga begini lagi nanti. Pemilik warung ini adalah kakak dari pemuda yang dahinya di perban yang keluar beberapa saat lalu. Menurut cerita yang ada, sang adik meminta uang atau apalah mereka menyebutnya. Seperti warisan gitu, mas. Padahal sangat adik sudah di beri jatah adil. Entah ke mana uang itu setelah orang tua mereka meninggal. Tiba-tiba mulai dua minggu kemarin hingga sekarang pemuda yang dahinya di perban tadi terus meminta uang, bilang jatahnya belum sepenuhnya di tepati. Sang kakak ringan tangan memberi sekadarnya bilang bahwa adiknya harus mencari pekerjaan. Namun seminggu kemudian sang adik itu kembali lagi. Marah kakaknya. Sampai dilempar panci tepat ke arah dahi adiknya. Itu kejadian tiga hari lalu. Dan sekarang sang arik kembali lagi, mengancam ingin melaporkan. Sang kakak tidak takut. Ia juga memiliki wewenang. “Sebanyak apapun kebaikan yang dilakukan kepada orang lain, itu tidak akan membuatnya menjadi malaikat. Namun hanya karena satu kesalahan saja, itu membuatnya menjadi iblis. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga mereka cepat berbaikkan, mas. Walau pelanggan banyak yang sudah memahami situasi ini. Tapi layaknya tempat makan di kebanyakan daerah. Kenyamanan adalah hal utama, mas. Cuma itu yang saya tahu. Maaf mas. Saya undur diri, masih ada pekerjaan yang menantj. Permisi.” Jelas pelayanan itu panjang lebar menceritakan. Ia cukup mengetahui lebih banyak tentang tempat makan ini. Kelihatan ia sudah cukup lama di sini. Dengan kejadian tadi, juga dengan apa yang telah pelayanan itu terangkan. Mereka berdua diam sejenak, kemudian saling pandang. Pikiran mereka mengarah ke satu tempat yang sama. Mereka benar-benar tertampar oleh kejadian permasalahan antara kedua saudara yang saling bertikai tadi. Hanya karena warisan. Tidak, bukan hanya lagi, justru ini adalah permasalahan yang serius. Dalam benak keduanya tergambar, memikirkan apa yang akan terjadi kelak, apa mereka akan berebut warisan dari ayah mereka. Atau jabatan sebagai ketua desa yang baru. Menginginkan banyak, hanya ada ego dan emosi. Kemudian mereka tersadarkan, secepatnya menghilangkan pikiran yang tidak-tidak itu. Mereka takut dari empat saudara akan ada kebencian satu sama lain. Nana tidak ingin ada yang membencinya apalagi dari Saudara-saudara nya sendiri. Ia lebih baik memberikan semua jatah warisannya dari pada harus bertikai. Kejadian tadi cukup membuat Nana gentar. Walau usianya masih remaja, namun ia lebih faham tentang pertikaian atau pengkhianatan. Karena sejatinya ia juga hidup di lingkungan seperti itu. Ia sangat tidak ingin komunikasi antar saudaranya atau sesama sahabat yang ia sayang pudar dan hilang hanya karena keegoisan belaka. --- Pukul delapan malam. Mobil sudah parkir rapi di garasi. Nana meletakkan dokumen sembarang di meja ruang tamu. Ia melompat ke sofa dekat televisi. Berbaring sejenak menghilangkan penat. Arya memenuhi janjinya. Ia menyiapkan alat masak. Melunakkan ikan dan meracik bumbu. Lima belas menit tidak terasa. Meja makan siap dengan lauk ika goreng kesukaan Nana. Arya berteriak memanggil Nana yang masih rebahan di sofa. Tidak perlu di tunggu lama, ia sudah merasakan aroma lezat ikan goreng. Mencari posisi duduk nyaman, berseberangan dengan Arya. Menyodorkan piring seperti anak kecil meminta di ambilkan sesuatu. Arya mengertj kondisinya saat ini, ia tersenyum, tidak ingin membuat luka yang berada di hati Nana kembali terbuka. Suara sendok saling beradu. Nana menghabiskan jatahnya dengan lahap. Arya melihatnya dengan tersenyum. Memandang wajah adiknya itu ia merasa keberadaannya dengan almarhum ibunya kembali terasa. Saat-saat yang menyenangkan itu. Arya ingin sekali mendekapnya, bilang bahwa Terima kasih telah terlahir di dunia ini, menyisakan kenangan yang sudah hilang. Arya bersyukur masih bisa membahagiakan adiknya, itu sama seperti membahagiakan ibunya. Namun Nana sudah besar, Arya tidak bisa menganggap Nana sebagai anak kecil lagi. Dengan menjaganya ia rasa cukup seperti menjaga wasiat ibunya. “Jika kau tidak ingin orang membencimu. Cobalah berbaikan dengan Sakinah. Biarkan kau mengenalnya lebih lama lagi. Dengan begitu mungkin pendapat mu mengenai Sakinah akan berubah. Dengan begitu kau akan mendapat kasih sayangnya juga.” Kata Arya memberi saran. Setidaknya ia telah memberi solusi atas permasalahan ini. Arya mengerti Nana sedikit cemburu karena tidak di perhatikan atau takut Arya akan berpaling ke Sakinah dan melupakannya. Nana tidak menggubris Arya. Ia lahap menghabiskan ikan goreng. Arya tidak mau memperpanjang urusan ini. Ia tahu bahwa Nana mendengarkan berhubungan moodnya bagus, Arya memutuskan untuk diam. Malam mulai matang. Semenjak jam sembilan tepat sudah tidak ada lagi aktivitas di jalan depan rumah pinjaman mereka. Hanya masih tersisa satu dua motor yang lewat. Bapak-bapak nongkrong di warung kopi dekat rumah. Satu dua ada yang bermain catur. Berpikir lama, adu strategi. Juga ada yang menonton bola, saling bergumam mendukung klub kebanggaan masing-masing. Arya duduk tenang di teras rumah. Nana sudah terlelap sedari tadi. Ia membuka handphone mulai menambah kontak Sakinah. Siapa tahu ada umpan balik, mengetik salam. Lima menit pesan itu masih juga centang satu. Hari ini hatinya tenang, entah apa yang sebenarnya terjadi, apa karena ia bertemu dengan Sakinah atau hubungannya dengan Nana semakin erat. Ia tidak tahu, apa pemuda itu akan menaruh hatinya kepada Sakinah atau bukan. Suara samar-samar dari bapak yang ada di warung kopi sebelah, berteriak kesal. Mungkin klub yang di dukung nya kurang beruntung malam ini. Sepuluh menit berlalu yang di tunggu ternyata datang juga. Kontak Sakinah online, ia sedang mengetik. Pertama adalah jawaban salam. Arya langsung meminta maaf atas kejadian kurang mengenakkan tadi siang di kantin. Dengan cepat Sakinah menjawab bahwa ia tidak keberatan, sudah biasa sebagai seorang cewek berperilaku seperti itu. Kemudian Arya panjang lebar menjelaskan tentang Nana, bagaimana sifatnya, kepribadian dan masalah yang di alaminya. Namun tidak termasuk rahasia yang memang hanya keluarga mereka saja yang tahu. Sakinah merespon dengan sopan. Menghormati lawan bicaranya. Kemudian mengerti atas penjabaran Arya. Setelah itu serasa cukup Sakinah berpamitan. Tepat ketika itu Arya mengetik untuk terakhir kali, meminta untuk dibantu besok mengumpulkan data tentang alam Desa Bakung. “InsyaAllah saya bantu sebisanya.” Kata Sakinah. Kemudian ia benar-benar telah pergi. Arya saat itu senyum-senyum sendiri. Besok ia akan mengumpulkan data bersama Sakinah. Malam itu Arya tidak bisa berhenti tersenyum. Sebelum tidur dalam doanya ia memohon untuk menumbuhkan rasa ini dengan baik. Ia teringat ketika di kantin siang tadi, bagaimana Sakinah memberi salam. Tampang yang indah dan suara yang lembut. Terngiang-ngiang di pikirannya. Entah apa yang akan terjadi lusa nanti, hanya soal waktu semuanya terjawab, jodoh sudah ada yang mengatur. Tergantung dari kita siapa yang paling kuat bertahan sampai akhir. --- Malam itu juga pada waktu yang bersamaan. Sakinah membangun sholat malam. Ia meminta perlindungan kepada Allah atas ujian ini, lelaki yang akan meminangnya nanti adalah Haikal, ia sudah berjanji kepada dirinya untuk menunggu kepulangan nya, entah sampai kapan pun itu. Menjaga hatinya untuk tetap kokoh pada satu keyakinan itu, agar tidak berpaling dan tidak mengkhianati janjinya. Ia berpikir apa yang di lakukan Haikal saat ini. Apa ia sama sepertinya yang masih menjaga rasa ini kuat-kuat, atau ada wanita lain yang menggantikan posisinya. Sekali lagi pikiran seperti itu ia buang jauh-jauh dan tetap percaya pada Haikal, teman masa kecilnya dahulu, yang lama kelamaan tumbuh rasa cinta di antara mereka. Selama ini memang Haikal atau pun Sakinah tidak saling memberi kabar. Mereka berdua saling memahami, takut membuat kekhawatiran atau mengganggu salah satu di antara mereka. Mereka berdua saling percaya, dan akan sampai kapan kepercayaan itu akan tetap terus bertahan. Karena salah satu fitnah paling nyata adalah godaan wanita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD