Embung Purba

3579 Words
Udara sejuk pagi hari menciptakan kenyamanan. Kokok ayam terdengar sayup-sayup memecah sepi. Cahaya matahari masih berpancar merah di sisi timur, belum sepenuhnya melebar menyinari. Haikal sudah berkemas. Memasukkan barang seperlunya ke dalam tas. Mereka tidak sepenuhnya sedang berwisata, melainkan mengumpulkan data di Embung Purba Desa Nglanggeran. Om Alan ikut berpartisipasi dalam hal ini. Sekalian memandu mereka. Bukan Om Alan saja, Haikal dan Arya setuju untuk mengajak Azza dan Afiqa. Walau bisa di katakan mereka berdua sangat sering ke sana. Tapi untuk satu ini menemani Haikal dan Arya adalah hal yang tak biasa. Azza setuju mengenai pendapat itu, begitu juga dengan Afiqa. Gadis kecil itu girang. Selalu menyenangkan mengajak Afiqa bepergian. Setelah makan pagi bersama. Om Alan mengatakan kepada istrinya bahwa tidak usah di bekal kan makanan. Bilang nanti kalau lapar bisa mampir di tempat makan tepi jalan. Tapi Bibi Shofia menolak itu, kalaupun suaminya tidak mau ia bersikukuh tetap membawakan bekal makanan kesukaan Haikal. Om Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Haikal tersenyum melihat pertengkaran kecil di dapur itu. Menjelaskan baik-baik kepada Bibinya bilang bahwa benar kata Om Alan. Mereka bisa mampir ke tempat kuliner terbaik desa ini mencoba salah satu masakan mereka. Karena Haikal uang meminta, Bibi Shofia kemudian mengerti. “Aduh dibilangin suaminya sendiri saja nggak bisa.” Gumam Om Alan pelan. Pukul delapan pagi. Azza dan Afiqa sudah di hubungi bahwa mereka akan sampai dan menjemputnya sekitar jam sembilan. Azza juga sudah bersiap dari tadi begitu juga Afiqa. Mobil sedari tadi meluncur meninggalkan pelataran rumah. Terus menembus ke selatan menuju rumah Azza. Pepohonan bergoyang ditiup angin. Mereka ingin mendapatkan saat-saat matahari terbenam. Mencari spot terbaik. Dalam perjalanan Om Alan sedikit menjelaskan tentang wisata desa ini. Tentang Embungnya, Om Alan bilang tidak seperti merasakan langsung dari pada hanya mendengar cerita orang. Om Alan menjelaskan juga bahwa di embung sana adalah tempat yang sangat cocok memadu kasih. Berdiri melihat air embung yang tenang dengan kekasih. Berpadu alam yang exotic seraya kebahagiaan hanya milik berdua. Ketika siluet membentuk lukisan hebat di langit. Awan mengombak s***s. Cahaya merah berpendar di sisi barat. Sepasang kekasih saling mengutarakan perasaannya, manis sekali. Embung lah menjadi saksi bisu atas janji-janji mereka. Akyas yang berada di sebelah Haikal menggambarkan dalam benaknya. Seseorang yang ikhlas mencintainya apa adanya. Walau sampai sekarang ia tidak pernah merasakan apa itu saling mencintai. Namun sebagai pria yang sejati, Akyas setidaknya inginkan hal itu. Mobil terus meluncur ke selatan. Tiba di perempatan, belok ke kanan ganti arah menuju timur. Hanya soal waktu mereka tiba di rumah Azza, kemudian langsung menuju ke tempat lokasi. Sawah terhampar luas sejauh mata memandang. Burung-burung beterbangan, jahil sekali mereka hinggap di padi, memakan satu dua benih. Menunggu petani menggoyangkan orang-orang sawah. Kemudian burung-burung itu terbang mencari sasaran lain. “Dasar hama sialan.” Umpat petani itu. Akyas yang melihat kejadian itu tersenyum. Ia tahu apa yang di lakukan burung-burung itu dan petani. Karena di desa sering membantu ayahnya di sawah ia tahu sedikit tentang itu. Banyak cara yang bisa di lakukan untuk menanggulasi hama. Mulai dari memagari setiap petak dengan jaring listrik. Membuat orang-orang sawah. Bekerja sama dengan burung hantu dengan memancingnya masuk di rumah-rumahan yang sengaja di buat petani. Karena memang mereka pada ekosistem yang sama. Atau yang paling mengerikan lagi adalah pemberian pestisida yang berlebihan. Cara yang terakhir justru akan memberikan dampak yang serius. Tidak hanya pada hama atau rusaknya ekosistem. Mana peduli petani soal itu jika sudah merusak tani mereka. Melainkan juga berpengaruh pada tanah, pencemaran lingkungan, atau berakibat pada konsumsi padi pada tubuh manusia. Tubuh tidak mampu menahan kimia dari pestisida. Juga akhirnya kualitas padi akan menurun. Hal itu juga akan berpengaruh pada harga pasar penjualan padi. Tidak sengaja om Alan melihat arah pandang Akyas. “Itu juga sama kan yang terjadi di desamu. Persahabatan antara petani dan burung.” Timoal Om Alan. Haikal sedari tadi membaca buku, tertarik dengan pembahasan Om Alan, ia mulai menyimak. “Iya Om, mereka benar-benar serasi. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan petani. Hama-hama itu yang memulainya. Tapi juga kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan hama-hama itu. Selain memang kehidupannya di sawah, karena hama-hama itu justru produksi pestisida meningkat. Membuat sukses besar perusahaan itu.” Kata Akyas menjelaskan. “Hei, kau tahu banyak tentang masalah ladang ya?!” tukas Om Alan. Ia takjub atas penjabaran Akyas. Haikal yang berada di samping Akyas menambahi. “Iya Om. Akyas kalau soal teknologi atau gara-gara jitu, ia ahlinya. Pernah ketika kami baru saja datang di desa ini. Ketika kami duduk-duduk santai. Akyas menyuruh ku melihat ke arah yang di tunjuk. Terlihat sebuah tetaktor, menurut ku itu adalah hanya teraktor biasa pada umumnya, di gunakan untuk membajak sawah. Namun Akyas menjelaskan sangat rinci, bilang bahwa jenis teraktor ada banyak dan penjelasan yang aku sendiri tidak paham.” “Kau tahu banyak tentang teknologi, Nak Akyas. Kenapa sesekali tidak mencoba bekerja di bengkel atau reparasi orang? Hebat kau sudah berani membuka usaha kecil-kecilan. Tapi setidaknya kau terpenuhi dengan dunia mu, bekerja dengan orang yang sehobi.” Kata Om Alan memberi masukan. Tangannya lincah menyetir. “Iya Om. Nanti saya usahakan.” Jawab Akyas singkat. Om Alan mengangguk menyemangati. Sepuluh menit berlalu. Mereka tiba di pelataran rumah joglo. Walau sudah pernah melihatnya, namun tetap terlihat menawan dan megah. Dihias taman-taman buatan di kanan dan kiri. Air mancur dan ikan berenang tenang. Mereka turun dari mobil, berloncatan. Terlihat dari teras rumah joglo. Afiqa melambaikan tangan. Tersenyum manis. Mereka sudah siap berangkat. Tak lama dari dalam rumah muncul Azza, ia nampak sempurna hari ini. Memakai gamis busui warna hitam, berpadu dengan jilbab segitiga warna merah, kontras sekali warna itu digabungkan. Apalagi cocok dengan warna kulitnya yang putih manis. Wajah campuran Belanda. Haikal dan Akyas tidak lepas memandang kecantikan Azza. Bahkan Haikal terke siap dengan paras cantiknya. Seolah dunia hanya milik mereka berdua. Tidak lama menyusul derap kaki dari dalam rumah dua orang laki-laki. Satu ialah kepala desa itu sendiri dibantu berjalan dengan lelaki yang kelihatan lebih muda dari Haikal dan Akyas. Wajah mereka amat sama, apa iya itu adalah salah satu saudara Azza atau lebih tepatnya anak laki-laki ketua desa. Om Alan menyapa temannya itu, saling berpelukan dengan ketua desa. Seperti sahabat lama yang jarang bertemu. Ketua desa meminta untuk mampir sebentar. Namun Om Alan menolak dengan sopan. Bilang bahwa waktu mengejar mereka. Mereka harus sampai minimal siang nanti. Ketua desa memahami situasi. Ia menyetujui Azza ikut dengan niatan hanya sekedar memandu dan memberi informasi saja. Kalau ada apa-apa Afiqa dan Om Alan yang bertanggung jawab. Om Alan mengangguk takzim, tenang saja aku akan menjaga mereka semua, mungkin itu maksud ekspresinya. barang-barang segera di masukan ke bagasi mobil. Lelaki muda itu membantu menaikkan barang milik Azza dan Afiqa. Setelah semua div rasa cukup. Azza dan Afiqa menaiki mobil, mereka duduk di kursi tengah. Tak lama sebelum benar-benar berangkat, lelaki yang menuntun ketua desa tadi berjalan mendekati Haikal dan Arya. Berbisik, “Jika kalian menyentuh kakak ku saja. Penggalian di garasi rumah sudah lama tidak di pakai. Karena desa memiliki peraturan itu.” Ancam lelaki yang menuntun kepada desa tadi. Seketika Haikal dan Akyas menelan ludah. Ini bukan gertakan melainkan ancaman serius. Afiqa menimpali dengan santai dari dalam mobil. “Tenang saja, Diki. Itulah gunanya aku ikut.” Seketika Diki diam tidak berkomentar. Ia mempercayai sepenuhnya kepada Afiqa. Yang di inginkan Diki hannyalah tidak sampai kakaknya terluka. Afiqa tersenyum manis, ia memakai baju santai. Sesantai ia menghadapi masalah apa pun. Dirasa semua selesai. Bekal batin dan fisik mereka terpenuhi. Tinggal menentukan posisi duduk saja. Haikal menawari dirinya menyetir, Akyas berada di samping kiri. Azza dan Afiqa berada di tengah. Om Alan berada di kursi belakang. Karena itu yang terbaik Om Alan menyetujui. Haikal teringat dengan kisah Nabi Musa. Ketika ada seseorang wanita yang meminta bantuan, Nabi Musa berjalan di depan wanita itu agar tidak menumbuhkan nafsu s*****t terhadap wanita. Kemudian cara itu diterapkan sekarang ini. Mereka sudah menempati posisi masing-masing. Spion dalam sengaja di tutup sementara, jika di belakang ada apa-apa, Om Alan hanya perlu mengisyaratkan saja. Mobil bergetar pelan ketika mesin di nyalakan. Avanza putih itu tidak lama meninggalkan pelataran rumah joglo, tak lama hilang dari kelokan jalan. Meluncur menuju lokasi Embung Purba Desa Nglanggeran. Inilah kisah pertama kepergian bersama mereka. Merajut cinta dengan pesona alam yang indah. Saling membaur satu sama lain, lebih mengenal watak keseharian. Berharap hari esok akan terulang kembali peristiwa yang menyenangkan. --- Pernahkah kalian membayangkan satu atap dengan orang yang kalian cintai? Berharap nanti akan memilikinya walau harus membayar dengan harga yang mahal. Kejadian itu di alami oleh mereka berdua. Mereka sedang berada satu mobil dengan putri desa. Semenjak tadi Azza berdiam diri, tidak tertarik membahas sesuatu. Berbeda dengan Afiqa yang mengoceh sedari tadi. Kadang ia menceritakan pengalamannya menjadi petugas keamanan desa. Menyambut tamu-tamu penting. Atau menangkap pencuri bersama dengan kakaknya. Berlatih silat dengan dan bermain belati. Seolah semua itu adalah hal yang biasa di lakukan, tidak berbahaya sama sekali. Jika kalian melihat Afiqa secara langsung, memang kalian akan mendapati gadis berusia tujuh belas tahun yang polos tidak tahu apa-apa. Berpenampilan layaknya penduduk desa kebanyakan. Namun ketika Afiqa mengaktifkan mode serius, habis sudah. Belati siap tercabut dari sarungnya. Bersiap melukai atau menerkam. Bahkan sekarang ini, persis saat ia duduk di kursi mobil bercerita dengan tenang. Pasalnya entah di mana belati itu di sembunyikan. Di mana pun pasti ia membawanya. Apalagi posisinya sekarang ini sebagai pengawal putri desa. Matahari semakin naik ke puncak cakrawala. Siang ini suasana panas. Biasanya jika begitu, sore akan mendung dan malamnya kadang hujan. Haikal memberi usul bahwa mereka cari makan dahulu, setelah itu cari masjid untuk sholat dhuhur, sekaligus menyegarkan tubuh dengan berwudu. Semua penghuni mobil setuju pendapat Haikal. Om Alan memberi usul untuk mampir di warung dekat tuhu selamat datang menuju wisata Embung Purba. Disana ada tempat makan yang ramai akhir bulan ini, menyediakan beraneka ragam lalapan dan sup khas desa ini. Yang lain tidak terlalu berkomentar. Di mana pun tempat makannya mereka setuju-setuju saja. Azza masih diam di tempat duduknya. Haikal merasa khawatir dengannya. Apa hanya ia yang khawatir kepadanya? Apa yang lain tidak merasakan? Atau Azza merasa risih berpergian dengan kami? Pikiran Haikal membara kemana-mana, dan segera ia menghilangkan pikiran itu. Tetap fokus menyetir. Mobil terus meluncur di jalanan. Menyalip satu dua pengendara. Rute yang di tuju sudah Om Alan pasang. GPS sudah menyala, Haikal hanya perlu mengemudi sejalur dengan peta. Suasana semakin lama semakin canggung di dalam mobil. Saling diam, jika Afiqa tidak bicara maka tidak ada yang ingin membuka percakapan lain. Haikal memiliki alasan kenapa tidak bersuara, ia harus fokus menyetir karena rute yang baru untuknya. --- Perjalanan panjang mereka di temani dengan suasana desa yang amat asri. Terlihat di tepi kanan dan kiri pemandangan spektakuler dari alam. Udara sejuk masuk melewati kaca mobil. Jalanan mulai meliuk tapi masih terkontrol. Kadang mereka juga bersampingan dengan mobil turis, tahu mereka juga ingin mengunjungi wisata alam desa ini. Mobil meluncur deras terus meniti jalan. Banyak bangunan seperti pariwisata dan gedung-gedung lama. Afiqa menjelaskan bahwa itu adalah wisata Heha salah satu yang cukup populer. Wisata itu menyajikan bagi yang suka sky atau menyukai adrenalin ketinggian di situlah tempatnya. Menyewakan layaknya balon udara dan menyajikan tempat yang spektakuler. Indah sekali permukaan jika dilihat dari ketinggian tempat Heha berada. Tugu selamat datang menuju Gunung Kidul telah terlewati sepuluh menit lalu. Mobil terus meluncur menuju lokasi embung. Sebenarnya Haikal masih sedikit bingung dengan rute jalan. Namun adanya Afiqa dan Azza ia sedikit terbantu. Namun Azza tetap diam di tempatnya. Ia sering meminta untuk mencari kamar mandi. Begitu juga ketika makan siang tadi. Bahkan makanannya hanya habis setengah. Sepertinya nafsu makannya jelek hari ini. Tidak lama palang yang menunjukkan lokasi ke embung hanya kurang dari lima puluh meter. Sebentar lagi mereka akan sampai. Tepat ketika jam setengah tiga nanti bisa di pastikan mereka akan sampai pada tujuan. Udara sejuk bertiup dari lereng gunung terus menjalar hingga rata menyapu pepohonan. Selama ini pemandangan yang terlihat hanya semak belukar di kanan dan kiri jalan. Terlihat juga gundukan batu besar terongok bisu di dekat lembah. Jalanan semakin naik. Mobil Avanza putih itu terus meraung memaksa medan yang lebih ekstrem lagi. Boleh jadi mobil ini pulang nanti sudah berubah menjadi mobil off road atau HONDA CR-V 2.4. Sayangnya mobil ini bukan Toyota Avanza yang bisa untuk meniti jalan pegunungan yang semakin lama semakin curam. Om Alan di belakang semakin panik, ia pasti setelah semua ini akan membawa mobil ke bengkel, pasti mesinnya panas harus di ganti. Sepuluh menit tidak terasa. Mobil avanza putih tetap pada kecepatan stabil. Pukul setengah tiga kurang. Kali ini benar benar-benar telah digantikan oleh pemandangan yang hebat. Tidak lagi terdapat rumah atau warung yang berjejer rapi menghasilkan kepul asap dari aroma masakan. Pemandangan yang sangat hebat. Semakin lama mereka semakin naik. Terlihat sawah yang di terasering mengundak sepanjang lembah. Sore ini tidak ada kabut yang mengambang, tidak ada yang menutupi keindahan alami alam itu, jadi mereka sedikit beruntung sore ini. Bisa menikmati siluet sunset dengan sempurna. Selama perjalanan juga Haikal mengamati seluk beluk mulai dari penduduknya sampai alamnya yang indah. Karena sekali lagi tujuannya pergi ke Embung Purba adalah mencari data bukan hanya pariwisata saja. Om Alan pernah ke sini bersama Bibi Shofia. Tepat apa yang di katakan Om Alan ketika berangkat tadi, embung Purba desa ini menyimpan aura yang romantis, dibalut dengan suasana yang pas beserta tempat yang berada di ketinggian sehingga memudahkan mata menjangkau keindahan alamnya yang lain secara langsung. Hati Haikal lega tepat ketika mobil benar-benar memasuki kawasan objek wisata Embung Purba. Tugu terakhir baru saja terlewati. Hanya mengikuti petunjuk mereka benar akan sampai. --- Matahari mulai menurun. Mereka telah melaksanakan solat ashar di mushola tempat parkiran objek wisata Desa Nglanggeran. Cukup ramai kondisi saat ini. Padahal bukan hari libur. Mereka menghembuskan nafas lega. Akhirnya perjalanan mereka selesai. Om Alan dan yang lain menurunkan barang-barang yang sekiranya penting untuk di bawa ke atas. Karena untuk menuju ke Embung mereka harus sedikit mendaki. Pada layaknya embung yang ada di mana pun tempatnya, sejatinya tempatnya adalah di bawah bukan di atas bukit. Pada zaman dahulu penduduk sekitar sengaja membangun embung tersebut gunanya adalah untuk menampung air hujan juga mengairi ladang. Dengan begitu mereka perlu sesuatu yang dapat menampung air dengan kapasitas besar, mereka buatlah embung itu. Tempatnya juga strategis. Di pelbagai sisi, embung ini di apit oleh beberapa gunung. Seperti gunung kelir dan gunung bongos, juga terlihat objek wisata gunung Purba terpisah jarak beberapa kilo meter. Mereka semua sudah siap untuk naik. Karena yang berkunjung anak dari ketua desa jadi tidak usah ditanya sudah bayar atau belum? Berapa harga tiket masuknya? Jelas sudah mereka mendapat layanan VVIP. Akyas dan Haikal mengangkat tas yang berisi makanan ringan dan juga dokumen penting. Mereka mulai berjalan mendaki bukit ada tangga dari batu yang sudah memang di sediakan. Wisatawan juga lalu lalang. Ada yang berselfie, ada juga yang menikmati alam bersama sang kekasih saling memandang satu arah. Sebelum naik, tepat berada di tangga batu bawah terdapat sebuah prasasti. Itu adalah prasasti yang berisi peresmian dari sri sultan hamengkubuwono ke-10. Sebelum ke atas Azza meminta pergi ke toilet. Wajahnya sedikit pucat dan memerah. Apa dia sedang sakit atau alergi pemandangan? Sepuluh menit berlalu. Setelah Azza kembali, Om Alan menanyakan kepadanya apa ia sedang sakit? Azza menjawab sopan bahwa dia baik-baik saja. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan tenang. Mereka mulai meniti jalan. Menaiki jalanan tangga batu naik ke tempat Embung berada. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan anak rambut. Walau Azza tampak tak enak badan hari ini. Wajah cantiknya tetap terpampang manis di terpa cahaya matahari sore. Om Alan mengeluarkan kamera DSLR. Memotret setiap kejadian, mencari spot terbaik. Afiqah berlarian kecil. Meminta Haikal untuk mempercepat langkah. Wajah manisnya mengembang senyum. Tak lama mereka tiba di atas. Kalian tahu apa yang sedang mereka lihat? Tepat di depan mereka sebuah danau buatan berdiameter sekitar enam puluh meter terhampar rapi. Airnya berwarna hijau toska. Itu adalah warna endapan lumut yang sangat banyak. Kata orang-orang jika sore menjelang matahari tumbang atau malam hari, air embung akan memantulkan cahaya. Haikal dan Akyas terkagum-kagum. Mata tidak teralihkan dengan pemandangan sekitar. Haikal ingat, ketika pertama kali mereka datang ke desa ini. Saat mereka menaiki delman. Ternyata kusir tidak berbohong soal keindahan objek wisata ini. Semenjak di pesantren atau pun perkuliahan, walau ia sering mengikuti kegiatan tour alam, namun tak pernah terbesit akan mengunjungi tempat sebagus ini. Dan sekarang ia sangat menikmatinya. Embung ini memiliki fasilitas sangat komplit. Om Alan menjelaskan. Di tepi embung di bangun gazebo atau saung kecil. Juga sudah dilengkapi dengan gardu pandang untuk menangkap gambar dari ketinggian. Azza menambahi, bilang bahwa di sekitar embung atau lebih tepatnya di daerah bawah banyak di tanami beberapa buah-buahan seperti stroberi atau kelengkeng. Ini pertama kali Azza membuka percakapan. Suara indahnya menyatu bersama desas-desus orang lain menyelinap masuk ke telingga dengan sopan. Lembut sekali suaranya. Dan ini pertama kali Azza tersenyum, wajah cantik itu tambah berseri. Tak sengaja senyuman itu bersama pandangannya mengarah ke Haikal. Kedua pandangan mereka saling bertemu. Tak lama keduanya salah tingkah sendiri. Saling memalingkan muka dengan wajah memerah. Memang cinta mudah mekar bagi siapa yang sedang menjalani dan mudah kayu bagi siapa yang gengsi. --- Afiqa berdiri di dekat pagar embung. Kedua tangannya terlibat, sambil tertawa simpul. Seperti mengenang masa lalu yang menyenangkan. Haikal dan Akyas, juga Azza berteduh di salah satu saung. Tidak lama Azza beranjak berdiri mendekati tempat berdiri Afiqa. Haikal melihat mereka berdua berdiri bersebelahan. Pandangan mereka sama, fokus ke arah barat seolah menunggu matahari terbenam. Mereka bergumam mengatakan sesuatu, kemudian keduanya tertawa renyah. Sedang membicarakan sesuatu. Akyas mengeluarkan makanan ringan dari dalam tas. Menyenggol Haikal untuk memanggil mereka berdua. Bilang bergabung untuk makan camilan. Haikal sedikit ragu, ia meminta tolong kepada Om Alan untuk memanggil mereka. Tak lama mereka bergabung bersama. Setelah semua bergabung dalam satu atap saung. Jam menunjukkan pukul jam empat sore, itu tandanya untuk mengumpulkan data kecil-kecilan mengenai embung ini, hanya punya waktu satu jam setengah. Sebelum mereka benar-benar menikmati sunset sore ini. Sambil memandang sekitar. Orang-orang banyak yang berlaku lalang bersama sanak keluarga atau bersama kekasih mereka. Saung di dekat kami juga di tempati satu keluarga yang bahagia, mungkin buat mereka juga sama dengan rombongan Haikal, salah satunya yaitu melihat sunset. Suasana semakin canggung, Haikal ingin membuka percakapan lebih santai lagi. “Maaf, Azza. Karena tujuan kami mengumpulkan data tentang embung ini. Mulai dari mu, apa yang kamu ketahui tentang embung ini?” Tanya Haikal ragu-ragu. Gadis itu tersenyum sejenak. Moodnya lagi baik. “Jangan terlalu kaku begitu. Biasa saja, anggap aja sebagai teman sendiri. “Mungkin kamu sudah mengetahui semuanya. Mulai dari kenapa embung ini di bangun. Apa saja yang ada di sekitar embung. Dan keadaannya sekarang ini serta kondisi wisatawannya.” Jelas Azza. Benar juga pikir Haikal. Mulai dari perjalanan ke mari sampai sat ini, Haikal sudah bisa memprediksi keadaan hingga jumlah wisatawan. Hanya saja mungkin bisa di atur mengenai diagram presentasi naik dan turunnya wisatawan per hari atau bahkan pertahun. “Tapi ada satu hal yang belum kamu ketahui, Kal. Sesuatu yang justru sangat perlu untuk kesimpulan data mu. Tapi kau tidak bisa menemukannya sekarang ini. Justru itu yang orang-orang di sini cari. Biarkan terjawab sendiri soal ini. Kau boleh bertanya yang lain lagi, apa pun itu.” Terang Azza. Manis sekali gadis itu ketika berbicara. Dalam balutan kerudung segitiga berwarna merah di sana terdapat jiwa yang santun, jiwa yang lebih ingin di didik dengan baik dalam dekapan rajutan cinta. Kalian pernah merasakan nama kalian di sebutkan oleh orang yang kalian kagumi? Seolah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bukan? Seperti itukah kondisi Haikal saat ini. Namun ia tetap tegar dan tetap menjadikan pembicaraan tetap santai, tidak terlalu tegang. Jantungnya memompa lebih cepat, berdegup lebih kencang. --- Haikal bertanya seperlunya tentang embung ini. Kadang ia juga menanyakan pendapat wisatawan. Akyas ikut membantu, ia sudah tahu bagaimana cara menggali informasi dari narasumber, Haikal yang mengajari. Tangannya mulai lincah menulis. Tidak terasa. Awan sudah mulai nampak kemerahan. Cocok sekali dengan warna kerudung segi tiga yang di kenakan Azza. Mereka semua berdiri menghadap barat. Menyaksikan matahari mulai tumbang di kaki langit. Cahaya keemasan berpendar menerpa wajah. Benar yang di katakan Azza. Ini adalah momen yang sangat hebat. Lihatnya dirinya, sedang menikmati pemandangan yang spektakuler Berdiri bersama gadis yang ia kagumi terakhir kali ini. Azza benar, alam menampakkan keindahan yang bisa membuat siapa pun bertanya-tanya. Pasti semua ini ada yang menciptakan dan membuat semua itu sedemikian rupa. Allah yang sepatutnya di puji. Karena Allah lah cinta itu berasal, dan tumbuh dengan baik. Keindahan alam juga kadang membuat kita teringat dengan masa lalu, masa yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Membuat kenangan semua itu terulang kembali. Seolah kita dapat kembali di masa-masa itu. Mengulang kembali semua peristiwa menyenangkan. Haikal teringat dengan ibunya, di mana saat-saat dalam dekapan hangat sang ibu ketika ia membutuhkannya. Dan peristiwa lain yang kadang tak bisa di ungkapan dengan kata-kata. “Bagaimana? Terasa bukan?” Tanya Azza yang berada tepat di samping Haikal. Tersenyum manis. “Benar sekali. Ini adalah pemandangan yang hebat. Syahdu sekali suasananya. Tenang dan nyaman.” Kata Haikal. Mulutnya bergumam membaca takbir dan pujian kepada Allah. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum. Kemudian kembali menatap matahari yang bolannya setengah tenggelam. Mulai menyisakan awan berarak di langit. Berombak teratur. Afiqa dan yang lain juga menikmati. Gadis itu juga tersenyum. On Alan mulai memotret setiap spot yang ada. Begitu juga dengan Akyas. Ia sangat bahagia sekali. Ketika Azza juga menatap matanya dan tersenyum, Akyas membalas itu juga dengan senyuman yang tulus dan pada saat bersama, kembali menatap bola matahari yang mulai tenggelam sepenuhnya. Cinta itu perlu perjuangan dengan begitu kita akan memiliki. Kata-kata ini salah besar. Karena sejatinya, pun kalau kita memperjuangkan dan kemudian sudah memiliki, bukan berarti perjuangan itu telah selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD