Afiqa Dan Nana

3254 Words
Malam sudah matang. Cahaya kemerahan dari arah barat sudah sepenuhnya hilang. Digantikan dengan langit berwarna kelabu. Bintang-bintang berhamburan, berpendar-pendar di langit membentuk rotasi. Angin menghembus perlahan. Pegunungan yang mengelilingi embung terlihat samar-samar, membentuk bayangan besar. Terlihat gemerlap di lereng gunung, rumah penduduk. Lampu-lampu di nyalakan. Suasana yang magis itu terasa syahdu. Setiap pagar yang mengelilingi embung menyala. Lampu menyala terang. Dengan saung yang mengitari di samping kanan dan kiri embung. Membuat keindahan malam itu lebih terasa. Pengunjung lebih banyak sudah meninggalkan objek wisata sedari tadi. Menyisakan satu dua sepasang kekasih yang masih nyaman dengan pesona mereka masing-masing. Rombongan Haikal juga tidak ingin pulang terlalu malam. Pendataan ini cukup untuk mengidentifikasi objek wisata embung. Mereka mulai berkemas-kemas. Sebelum itu Om Alan ingin mengambil gambar malam. Ia mengizinkan untuk mereka berkeliling sebentar. Berfoto di gardu pandangnya. Atau melihat sekali lagi embung dari dekat. Karena Om Alan tertarik dengan Akyas membahas sesuatu tentang teknologi. Om Alan mengajak Akyas untuk berjalan bersama, berkeliling membahas sesuatu yang berbau mesin. Akyas menyetujuinya, namun sebenarnya dalam hati Akyas juga keberatan. Jika ia berjalan dengan Om Alan itu berarti Azza tidak dalam jangkauannya. Gadis itu bisa bebas berduaan dengan Haikal. Tapi ia kuatkan dengan berpikir bahwa masih ada Afiqa, Akyas lebih bisa tenang lagi. Dengan begitu Haikal tidak bisa seenaknya sendiri. Tak lama Akyas berjalan dengan Om Alan. Sesekali Om Alan membahas tentang kamera yang di pegangnya, bagaimana cara kerja benda itu. Akyas mangut-mangut, soal kamera ia tidak terlalu paham. Akyas membuka percakapan ia lebih ingin membahas tentang lokasi strategis Embung. “Embung ini tempatnya strategis ya, Om! Di apit dengan gunung-gunung besar. Pasak-pasak itu bisa sangat berpengaruh. Juga cara orang dulu membuat teknologi embung ini. Mereka berpikir cara membuat dam atau waduk lebih efektif di atas perbukitan. Satu karena lebih mudah menampung air hujan, dua karena lebih mudah mengairi ke tempat yang lebih rendah. Cara mengisinya juga gampang, karena di apit beberapa gunung. Saya yakin juga masih mengandalkan mata air selain air hujan untuk mengisinya kembali.” Jelas Akyas panjang lebar. Om Alan setuju dengan pendapat Akyas. Sebelumnya Om Alan juga berpikir begitu. Kemudian mereka berdua berbincang-bincang ringan, sampai jam jutuh malam. Mereka akan berangkat pulang. Haikal masih berada di saung. Mengemasi sisa-sisa barang dan sampah. Azza dan Afiqa berdiri berdua bersebelahan di dekat embung. Haikal ingin sekali berbicara dengan Azza. Lebih mengenal watak spesial gadis itu. Entah kenapa Haikal merasa gadis itu tidak hanya punya satu kepribadian. Kadang jika moodnya baik, ia suka sekali berbicara, kalau moodnya buruk bicara saja tidak mau atau diajak bicara. Harus tahu kondisi hatinya jika ingin mengajaknya berbicara. Tidak lama, Afiqa dari tempatnya berdiri melambaikan tangan ke arah Haikal yang masih duduk manis di saung. Afiqa sekali lagi melambaikan tangan ingin Haikal bergabung. Haikal malu-malu. Kemudian tak lama ia memberanikan diri. Apa salahnya coba saling bersilaturahmi? Azza mendapati Haikal bergabung. Azza juga senyum-senyum sendiri. Wajah gadis itu nampak bercahaya di terpaksa lampu malam. Haikal membuka percakapan, mereka bertiga membahas sesuatu. Kemudian tertawa bersama. Afiqa mengajak ke tempat gardu pandang yang berada di samping embung. Romantis sekali Haikal dan Azza waktu itu. Saling melihat malam bersama. Menatap pada satu titik temu. Walau ia seraya berdua, namun kehadiran Afiqa tidak membuat hati Akyas tenang, jika ada apa-apa Afiqa bisa menjadi saksi mereka. Saksi cinta yang mulai tumbuh karena kenyamanan terasa di dalam hati mereka berdua. Satu jam telah berlalu. Waktunya meninggalkan embung purba dengan segala keindahannya. Meninggalkan segala yang ada di dalam balutan cinta alam yang indah. Penuh pesona dan syahdu sekali. Gemerlap cahaya di lereng gunung mulai menambah, mengelilingi setiap jengkal wilayahnya. Seolah ketika di lihat dari kejauhan, ibarat kapal yang besar dan lampu-lampu itu adalah kabin-kabin di dalam kapal. Menyala menyinari malam. Mereka sudah sedari tadi berkemas. Memasukkan barang ke bagasi mobil. Mulai meluncur ke jalanan meninggalkan kenangan. --- Satu jam lebih tiga puluh detik perjalanan mereka pulang. Pertama Haikal ingin mengantarkan Azza dan Afiqa terlebih dahulu, biasanya Afiqa setiap malam menginap di rumah kepala desa. Serumah dengan Azza, namun kali ini ia ingin di antarkan pulang. Haikal menyetujui, setelah mengantar Azza ia akan mengantar Afiqa. Hingga di belokan depan Mobil sudah sampai menuju rumah Azza. Haikal kembali khawatir tentang Azza. Dari awal perjalanan Haikal mendapatkan wajah Azza pucat pasi. Ia beranikan bertanya, kata gadis itu ia hanya sedikit pusing saja. Haikal memaklumi karena perjalanan mereka lumayan lama dan jauh. Haikal meminta pendapat Om Alan untuk mencari tempat makan sekali lagi untuk menghangatkan Azza sebentar. Sebelum Om Alan menjawab, Azza memotong bilang bahwa tidak usah, menyakini bahwa ia juga nanti akan baik-baik saja. Perjalanan di teruskan. Angin tidak bertiup. Panas tadi siang tidak menimbulkan hujan malam. Bahkan mendung tidak terlihat di langit. Langit cerah dengan bintang bertaburan menghiasi. Suara aspal bergesekan dengan ban terdengar samar-samar. Jam mobil menunjukkan pukul sembilan kurang tiga puluh menit malam. Mobil sudah sampai di pelataran rumah joglo ketua desa. Mendengar suara mobil masuk di pekarangan rumah, dari dalam rumah berjalan pelan dengan di tuntun lelaki muda, yang tak lain itu Diki. Menjemput perpulangan Azza. Mobil berhenti, mereka semua berlompatan turun dari mobil. Azza sedikit ingin ambruk, untung cepat Afiqa menolongnya. Demi melihat kejadian itu Diki panik, cepat menghampiri kakaknya itu, menolongnya dan mengusung ke arah rumah. Ia memasang wajah kesal ke arah Haikal. Membantu Azza dahulu adalah keputusan yang tepat pikirnya. Setelah Azza di dudukan sementara di teras, tabib keluar dari dalam rumah memeriksa kondisi Azza. Setelah semua keadaan itu membaik, tak lama Diki menghampiri Haikal dengan langkah marah. Wajahnya memanas, ia berpikir bahwa Azza kenapa-napa. Karena Haikal yang terlihat lebih berpengaruh dan ada tingkah berlebih kepada Azza. Diki memerah baju Haikal. Mengancam “Apa yang telah kau lakukan hah? Kanapa Azza begitu kelelahan. Kau apakan dia? Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Kepalamu akan di letakan di museum di desa ini. Ingat itu.” Ancam Diki, Kata-kata nya kasar. Suasana malam itu semakin mencekam. Om Alan tidak bisa berbuat apa-apa. Takut menyinggung kepala desa. Akyas juga panik berada di sampingnya. Tidak punya ide berbuat apa. Haikal menerangkan apa yang terjadi, tidak terjadi apa-apa dengan Azza semenjak di embung. Ia bercerita dengan baik, kondisi Azza saat di embung sehat-sehat saja. “Alasan. Kau pikir dengan semua karangan mu bisa meyakinkan semua kenyataan ini?” Kata Diki kasar. Sejurus kemudian tangan kanan Diki terangkat siap melayangkan pukulan. Ia sudah di kuasai sepenuhnya dengan amarah. Hanya soal waktu pukulan itu akan mendarat tepat ke arah wajah Haikal. Tiba-tiba sedetik sebelum semua itu terjadi, sebelum harga diri dari anak kepala desa di cap buruk karena kesalahpahaman, sebelum suasana lebih memanas. Tangan Diki berhenti tepat di depan wajah Haikal, tangan itu ada yang menghentikan. Semua yang ada di sana panik. Azza belum tersadarkan, ia masih berbaring lemah setelah sempat muntah tadi. Melihat Azza muntah tadi, Dengan begitu amarah Diki semakin memuncak, makannya berani sampai melayangkan pukulan. Ia sampai berpikir tidak-tidak dengan semua itu, sampai muntah segala? Tangan kiri Afiqa memegang erat tangan kanan Diki yang siap mendarat. Diki menoleh ke samping menatap ke arah mata Afiqa, ia balas dengan menatapnya lebih tajam, lebih mengerikan seolah mengirim sugesti yang hebat membuat gentar hati dan memecah pikiran. Kedua pandangan mereka saling bertemu. Afiqa bergumam pelan, tidak lama keringat mulai mengucur di pelipis Diki. Dengan cepat melepas cengkeraman di baju Haikal. Afiqa juga melepas genggaman tangannya, tangan Diki membekas genggaman tangan Afiqa entah seberapa erat ia memerasnya. Ketua desa dari arah teras meneriaki Diki untuk datang menghampiri. Diki melangkah menuju teras. Azza sudah di bawa ke dalam rumah. Ketika Diki sudah berada tepat di depan ketua desa. Berhadapan langsung, tak lama sejurus kemudian tangan ketua desa dengan cepat terangkat mengayunkan dengan keras tepat ke arah wajah Diki, ketua desa menampar telak di pipi Diki. Namun Diki tetap diam di posisinya, tangannya tetap terikat di belakang. Kejadian barusan membuat suasana menjadi mencekam juga terasa asing. Marahnya ketua desa membuat suasana menjadi canggung, saling diam. Tapi yang membuat asing adalah normalnya ketika orang di pukul atau di tampar reaksinya adalah marah atau mengancam balik. Berbeda dengan Diki, ia malah meminta maaf kepada ayahnya. Namun baiknya ketua desa tidak marah dan tidak memperpanjang urusan. Sudah tahu sifat Diki, mudah emosi tanpa memikirkan solusi lain yang lebih berarti. Tak lama ketua desa ingin melangkah, dengan cepat Diki membantunya. Berjalan menuju tempat Om Alan berdiri. Ketua desa meminta maaf sebesar-besarnya kepada Om Alan atas kejadian yang tidak diinginkan tadi. Diki juga sekaligus meminta maaf, ia juga menghampiri Haikal dan mengulurkan tangan, meminta maaf. Walau wajahnya masih tersimpan emosi, tetapi kejadian ini sangat canggung menurut Haikal. Sekaligus masih belum paham apa yang terjadi, mudah sekali keadaan berubah. Seolah yang terjadi tadi hanya angin lalu saja. Tak lama Haikal dengan senang hati menyalami Diki. Memaafkannya. Akyas juga belum terbiasa dengan apa yang terjadi. Apa semudah ini keadaan berubah. Tidak wajar bahwa ketika orang emosi dan suasana semakin panas hanya tatapan atau tamparan yang justru itu akan menambah suasana akan mencekam, dengan itu malah di luar dugaan. Afiqa terlihat santai tatapannya yang s***s itu berubah lebih bersahabat. Ia menghela nafas panjang. Melipat tangan di d**a, menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum. Seolah semua ini sudah biasa terjadi. --- Mobil sedari tadi telah meluncur meninggalkan pelataran rumah joglo ketua desa. Tujuan selanjutnya adalah rumah Afiqa. Ia berada di samping Om Alan menatap jauh ke depan, jalanan yang sepi. Haikal masih memikirkan kejadian tadi, hatinya seolah bersalah besar. Sebaiknya demi melihat Azza moodnya buruk, ia berinisiatif membatalkan untuk mengajak Azza. Ia merasa bersalah, ia tidak peka. Tadi juga ketua desa menjelaskan dengan sopan apa yang sebenarnya terjadi, Azza bersikukuh ingin tetap menemani Haikal walau ia tidak di perbolehkan ketika izin. Ini memang semua karena kesalahan Azza memaksakan dirinya ketika sakit. Diki tidak mengetahui soal itu, pantas dia sangat emosi melihat Azza terkulai lemas. Haikal bertanya kepada Afiqa tentang apa yang di bicarakan ia kepada Diki tadi, sehingga Diki ketakutan seperti itu. Afiqa tersenyum, sekali lagi Haikal mendapati Afiqa bagaimana melayani tamunya, Haikal sekarang baru paham. Senyuman adalah ketenangan yang haqiqi. Semua persoalan ia sandingan dengan senyuman seolah itu adalah termasuk dari s*****a ampuh mengalahkan musuh. Afiqa menjelaskan dengan singkat, bahwa ia hanya mengatakan kepada Diki sedikit kebenaran. Dan Afiqa menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Azza. Bahwa ia sakit. Afiqa paham pernyataan itu sudah di beri tahu boleh ketua desa, namun gadis itu ingin menguatkan saja, tidak ingin menyinggung perasaan Haikal. Afiqa juga sedikit menjelaskan tentang kepribadian Diki. “Seberapa penting keturunan keluarga mu terhadap hubungannya dengan ketua desa?” Kata Akyas, ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya itu. Ia saat ini sangat penasaran. “Sebenarnya keluarga kami sudah sangat mengabdi kepada ketua desa. Perintahnya, kekuasaannya, dan melayani dengan sepenuh hati. Begitu terus turun temurun hingga generasi ke-15 sekarang ini. Ikut serta dalam pertempuran atau tata tertib peraturan desa.” Haikal masih memutar kepala ketika Afiqa bilang pertempuran. Apa maksudnya dengan pertempuran? Apa pernah terjadi di desa ini? Seolah Afiqa tahu apa yang di pikirkan Haikal, ia mulai menjelaskan lebih detail tentang keluarganya dan soal peperangan. “Dahulu, beberapa tahun ketika aku masih kecil. Pertempuran meletus di bumi desa ini. Pertikaian terjadi karena kesalah fahaman. Itulah yang ditakutkan ketua desa saat ini. Takut kejadian itu terulang kembali, karena Diki tahu tentang semua itu, ia sangat paham soal ini. “Ketika aku dan Nana bermain di bawah pohon mangga. Waktu itu kami bermain masak-masakan, Nana sangat suka sekali dengan makanan. Karena kami masih kecil dan hanya bisa menggunakan apa saja yang di rasa bisa untuk membuat makanan, kami membuat gulali. Liya kakak ku bersandar di pohon, sibuk dengan belati baru miliknya yang di peroleh dari ayah. Ketika kami sudah siap menyantap gulali itu, Tiba-tiba ayah ku berlari kencang ke arah kami. Mengatakan sesuatu yang tidak aku pahami saat itu, kakak ku Liya menyeret ku dan Nana ke tempat persembunyian yang memang sengaja di buat untuk mengatasi masalah seperti ini. Ketika kami berlari dengan di iringi anak buah ayah ku. Tepat dari belakang seseorang mengejar dengan berteriak keras, memanggil temannya, bilang bahwa anak ketua desa ada disini. Kami yang masih kecil waktu itu sangat ketakutan, walau kami tidak sepenuhnya mengerti, namun normalnya manusia pasti akan ketakutan jika melihat seseorang ganas memburu kami membawa celurit dengan niatan membunuh. “Saat itu anak buah ayah ku sekaligus langsung berhadapan dengan dua orang. Ia hanya membawa satu belati di tangan kanannya. Menatap buas ke arah dua lawanya yang entah kapan siap meluncurkan celurit di tangan mereka masing-masing. Anak buah ayah ku mengatakan lirih kepada Liya bahwa dalam satu teriakan, Liya harus berjanji membawa aku dan Nana pergi lari secepatnya. Liya memahami situasi dengan baik. Tanpa aba-aba dan tanpa lengkingan peluit perkelahian mereka bertiga tidak terelakkan lagi. Siasat mereka bagus, satu orang menahan gerak anak buah ayah ku, satunya lagi fokus kepada kami bertiga. Dengan cepat anak buah ayah ku memahami situasi, ketika satu ayunan siap mendarat di bahunya, ia tidak menangkis gerakan itu, malah menghindar ke samping menahan laju lawannya yang ingin menerkam kami. “s**l” umat salah satu dari mereka. Gerakan mereka berdua terbaca. Mereka berdua mengukur kekuatan, mengganti formasi. “kali ini lebih mengerikan lagi. Mereka berdua langsung ingin mengalahkan anak buah ayah ku. Dua lawan satu mereka merasa lebih unggul, namun mereka salah. Ketika celurit di ayunkan mengincar perut anak buah ayah ku, dengan cepat ia menghindar, sekali lagi ayunan yang lebih cepat, namun anak buah ayah ku seperti menari, mudah saja menghindar serangan tersebut. Mereka berdua mulai jengkel. Memikirkan cara. Tidak lama satu dari mereka ingin berhadapan satu kawan satu. Anak buah ayah ku tidak ingin terperangkap rencana mereka. Ia tetap memasang posisi bertahan dan menyerang. Kami bertiga tidak berkutik sama sekali. Hanya bisa menonton perkelahian mereka bertiga. Terdengar paruh teriakan orang kesakitan dari setiap sudut desa, kebakaran dan Kepulauan asap hitam pekat membubung tinggi. “Tak lama perkelahian mereka berlanjut. Salah satu dari mereka tetap memasang posisi satu lawan satu. Arah kanan dan kiri terblokir, gerakan anak buah ayah ku terbatas. Tak lama salah satu dari mereka mulai menyerang. Mengayunkan celurit lebih ganas lagi, tepat ketika senjatanya dengan belati milik anak buah ayah ku saling beradu menimbulkan suara melengking. Saat itulah satu dari mereka cepat berlari ke arah kami bertiga. Demi melihat itu anak buah ayah ku dengan cepat menghalau pergerakannya. Namun tangan anak buah ayah ku di kunci oleh lawannya, inilah siasat mereka, mengalihkan perhatian. Tak berfikit panjang, ia menendang telak ke arah perut lawannya. Genggaman itu terlepas karena kesakitan, dengan cepat menghunuskan belati tepat ke arah perutnya yang sakit tadi. Setelah selesai dengan cepat berlari ke arah kami. Detik-detik yang sangat berharga, ketika celurit siap terarah ke Nana, sangat cepat sekali, bahkan gerakan itu tidak akan bisa di gunakan kecuali kepada orang yang sangat berpengalaman. Anak buah ayah ku menghalangi laju celurit, dengan balasan celurit itu terhunus tembus ke perut anak buah ayah ku. Darah segar keluar dari ujung bibirnya. Menahan sakit. Lawannya sangat merasa kesal, ia mencabut celurit nya tapi tidak semudah itu, anak buah ayah ku menahannya agar celurit tetap di posisinya. Dengan cepat anak buah ayah ku balas menghunus belati ke arah perut lawannya serangan yang tidak bisa di hindari, belati itu tepat terhunus menembus lambung. Saat itu, saat Nana membuka mata lebar-lebar. Berusaha memahami apa yang terjadi, namun pikirannya menolak. Masih tidak percaya orang yang berusaha melindunginya dengan susah payah, dan sekarang mati tepat berada di depan matanya dengan keadaan terhunus, walau ia tidak mengenal siapa sejatinya orang itu, namun Nana tidak peduli, apa pun yang terjadi Nana masih tidak percaya. Ia tetap memberikan simpati kepada orang yang telah berlaku baik terhadapnya. Ia pun menangis, saat itu, dalam tangisan tepat saat Nana masih berusaha meyakinkan hatinya semua ini hanya mimpi. Anak buah dari ayah ku berteriak keras, “Lari!!! Bawa dua adik mu ke tempat yang seharusnya mereka berada. Sekarang!.” Lantang anak buah ayah ku berteriak. “Sambil berlari kencang. Nana masih menangis, aku menggenggam tangannya dengan erat. Liya terus menyeret kami pergi menuju tempat persembunyian. Suara lantang anak buah ayah ku masih terdengar menyemangati kami untuk tetap terus berlari, “Jadilah orang hebat di kemudian hari. Orang yang berguna untuk orang lain, kalian harus tetap hidup, dan menghilangkan pertikaian apa pun itu bentuknya dengan solusi bukan emosi. Larilah dengan cepat.” Tak lama suara lantang itu samar-samar mulai tidak terdengar. Kami sampai di salah satu gudang lama tempat biasa kami bermain. Di sana ada ruangan bawah tanah yang sengaja di buat. Ayah ku yang memberitahunya. Sedikit berdebu. Liya membuka pintu rahasia yang berada di antara gundukan kardus lama. Kami bertiga cepat masuk ke dalam, selama tiga hari kami tidak keluar gudang sama sekali, sampai benar-benar keadaan membaik. Atau sudah memang di jemput. Tiga hari setiap mendengar ledakan, Nana terus menangis. Yang dulu ia adalah gadis kecil yang suka sekali bercanda, sayang sekali kepada orang lain. Lucu menggemaskan. Sejak saat itu ia berubah menjadi gadis yang membenci orang lain yang tidak ia kenal. Nana tidak mau lagi orang yang di sayanginya kecewa. Sejak saat itu Nana lebih banyak merenung dan meratapi nasibnya. Ia sudah di tinggal Ibunya saat masih kecil. Kasih sayangnya kurang, sungguh gadis kecil yang malang.” Seisi mobil memperhatikan Afiqa bercerita. Afiqa meminta untuk urusan ini tidak di dengar dengan orang luar, alias tidak di data oleh Haikal. Ia memahami persoalan itu. Ternyata desa ini juga memiliki masa lalu yang suram. Semua alasan selama ini terjawab, bagaimana Afiqa menjemput mereka berdua ketika baru datang di desa ini. Dan kenapa katanya Azza mempunyai delapan bersaudara dan sekarang hanya tinggal empat. Ternyata karena kejadian semua itu, gugur dalam pertikaian. Haikal masih membayangkan apa yang terjadi saat masa lalu itu, sangat mengerikan. Salah paham yang terjadi, walau Afiqa tidak menceritakan kenapa semua ini terjadi, pasal apa yang menyebabkan pertikaian itu, Haikal dan Akyas memahami situasi tidak bertanya lebih. Mungkin itu salah satu dari aib desa ini. Mobil meluncur deras di jalan sepi. Sesekali lewat mobil pikap dan satu dua sepeda motor. Pukul sembilan malam lewat. Tidak ada yang tertarik lewat jalan di mana hanya terdapat belukar dan semak-semak di kanan kiri jalan. “Di mana Nana sekarang?” Tanya Akyas. Ia masih penasaran. “Ia sekarang bersama kakak pertamanya membuat data di desa kalian. Kakak Akyas tidak tahu?” Kata Afiqa. Haikal hanya tahu bahwa ada juga dari desa ini yang membuat data desanya. Namun Haikal tidak menyangka yang membuat data desa adalah langsung dari anak ketua desa ini. Yang entah siapa nama kakak pertama Nana itu. Sama seperti Akyas, tetua hanya memberi tahu bahwa ada yang membuat data untuk desanya juga, Akyas tidak tahu bahwa mereka adalah justru dari anak ketua desa. Sepuluh menit berlalu. Mobil memasuki pelataran yang tidak terlalu luas. Haikal dan Akyas pernah ke sini sebelumnya. Ia mengenal betul setiap sudut rumah joglo ini. Ukurannya lebih kecil dari rumah joglo milik ketua desa. Namun tetap terlihat menawan. Di balut dengan cahaya yang berpendar dari arah taman buatan di samping kanan dan kiri rumah itu. Membuat kesan klasik. Afiqa turun dari mobil. Melambaikan tangan dan tersenyum renyah ke arah mobil. Mereka tidak turun, karena akan langsung pulang. Terlihat dari teras berdiri seorang gadis dengan pakaian santai, tidak lain itu adalah Liya. Tatapannya tajam mengarah ke mobil. Mengerikan jika sudah mengetahui biodatanya. Tidak perlu Liya menanyakan kepada kami bagaimana keadaan Afiqa di embung atau apa yang telah terjadi kepada Afiqa. Konyol sekali, justru kepada Haikal dan Arya pertanyaan itu dilontarkan. Apakah mental aman? Setelah semua di rasa beres. Om Alan mengemudikan mobil meninggalkan pelataran rumah itu. Melunjur pulang. Mungkin bibi Shofia menunggu kedatangan mereka dengan makan malam siap di meja dengan segala jenisnya. Om Alan juga besok harus pergi ke bengkel memeriksakan mobil Avanza ini, apa masih Avanza atau sudah jadi mobil Jeep gunung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD