Petrichor

3415 Words
Jam sepuluh tepat sampai rombongan Haikal. Di rumah sudah di tunggu Bibi Shofia, benar saja ia menyiapkan makan malam sangat banyak. Karena tahu akan di siapkan, karena itu Om Alan tidak mencari makan malam di jalan. Hari yang melelahkan. Sepuluh menit mereka habiskan untuk makan malam. Setelah semua sudah membersihkan diri masing-masing. Tak lama tidur terlelap, Haikal belum bisa tidur, walau raganya menerima, tapi hatinya menolak. Ia masih teringat Azza yang entah apakah sampai sekarang gadis itu masih terkulai lemas, berbaring di atas ranjang. Sebenarnya ia ingin mengabarinya, namun urung takut malah mengganggu, biarkan besok pagi yang akan menjawab semua ini. --- Jauh di antara pegunungan yang melintang. Lembah meliuk di antara bukit yang saling menyatu tidak teratur. Tetap pada suasana desa. Hari kemarin Arya hanya sebatas mencari informasi di internet. Nana lebih banyak diam hari itu, kecuali saat makan tiba, gadis itu tetap pada sifatnya. Ramah dan menyenangkan. Sesekali Arya memberi kabar kepada Sakinah, membahas sesuatu atau sekedar berbincang-bincang. Mereka berdua mulai akrab satu sama lain. Menurut Arya ia adalah gadis yang sopan, agamanya bagus, dan menjaga aurat. Tidak peduli walau dari keturunan biasa, selama wanita itu cantik, agamanya bagus, dan menjaga kehormatan dirinya, siapa lelaki yang tidak mau ia jadikan istri. Hari ini adalah pagi yang ke sekian kali Arya tiba di Desa Bakung ini. Desa yang di namai dengan nama bunga yang memberi banyak manfaat kepada manusia. Selain itu juga bunga yang indah, sedap di pandang mata. Menimbulkan keharuman dan kenyamanan, seperti suasana pagi ini. Pagi yang redup. Langit berwarna kelabu di setiap sisinya. Pukul enam pagi, cahaya matahari tidak terlihat. Suasana nyaman bercampur syahdu terasa di hati. Kadang dengan suasana seperti ini, seolah tidak bisa di gambarkan atau dikatakan. Arya bermain laptop di sofa ruang tamu yang berhadapan langsung dengan jendela teras, bisa melihat langsung aktivitas di jalanan. Rumah sewaan itu terasa nyaman ada garasi tempat mobil juga dua kamar yang cukup luas, serta dapur yang elegan. Arya mencari informasi tentang desa ini, sekaligus mencari informasi tentang lowongan pekerjaan. Tak lama suasana gerah itu membuat kenyataan, gerimis mulai mengundang. Seketika hujan lebat mengguyur bumi bakung ini. Membasahi setiap sudut, membungkus desa ini dengan rahmat Tuhan. Anak-anak sekolah bergegas mencari tempat berteduh, petani mengucap syukur sawah mereka tidak perlu mengairi air. Kadang hujan adalah sebuah berkah untuk sebagian kalangan, dan yang lain menganggapnya sebuah pengganggu. Entah apa yang ada di pikiran anak sekolah yang berteduh tepat di depan toko bangunan itu. Hatinya di landa gelisah, meneruskan perjalanan dengan basah atau pulang tidak membawa apa-apa juga dalam keadaan basah. Hujan pagi ini membuat ruangan yang di tempati Arya dingin. Udara masuk melalui celah ventilasi. Arya beranjak ke dapur membuat minuman hangat. Suara rintik air hujan terdengar samar, berbentur dengan ember dan talang. Sedingin ini Afiqa masih belum bangun, terlelap di tempat tidurnya. Uap kepul dari teko terdengar melengking. Arya bergegas mengangkatnya, menyeduh teh hangat. Pukul tujuh pagi Arya membangunkan Nana untuk bergabung di ruang tamu bersama menyeduh teh hangat. Nana mengusap matanya yang perih. Berjalan menuju sofa ruang tamu. Nana bergabung di ruang tamu. Mengeluh kenapa masih pagi harus bangun segala. Matanya masih redup, rambutnya acak-acakan. Arya melihat itu menyuruhnya mandi terlebih dahulu. Spontan Nana menggeleng kepala, dalam benaknya mengatakan apa gila mandi sedingin ini. Arya tersenyum, memaklumi. Ia mengisi gelas kosong dengan teh hangat. Uap kepul keluar dari gelas berisi teh. Nana meneguknya dengan perlahan, tubuhnya sekarang membaik, terasa hangat. Arya kembali menyibukkan diri dengan laptop, mengerjakan sesuatu. Udara masih dingin. Hujan masih mengguyur Desa Bakung. Sesekali terdengar guntur dari kejauhan. Arya membuka notifikasi pesan, tidak ada yang menarik. Semua hanya pesan dari teman-teman kuliah, membahas pelajaran. Ia tidak ingin suasana sejuk lagi nyaman ini terbuang hanya dengan otak panas soal pelajaran. Suasana hujan saat ini cocok sekali untuk menggambarkan suasana taman, keadaan orang yang sedang meratapi kehidupan, atau menggambarkan keadaan alam yang sejuk. Kawanan hewan berteduh, berkumpul dengan jenis mereka, membuat kehangatan. “Apa langkah kita selanjutnya?” Tanya Arya kepada Nana. Gadis itu nasib sibuk dengan teh hangat yang ada di tangannya. Menyeruput sedikit demi sedikit, tenggorokan nya terasa hangat. “Makan.” Jawab Nana singkat. “Ayolah, Dik. Subuh petang tadi kau membangunkan ku bilang ingin makan. Sekarang mau makan lagi? Ya ampun.” Tukas Arya. Tidak percaya apa yang dikatakan Nana barusan. Padahal ia sudah makan beberapa jam lalu. “Semakin dingin udara di suatu wilayah, itu juga membuat perut semakin cepat merasa kelaparan, Kak.” Jawab Nana sembarang. Kalau ia ingin makan, apa yang terjadi harus makan. “Aduh. Ambil saja camilan di kulkas. Jangan makan lagi, aku belum membeli bahan makanan untuk hari ini.” Kata Arya. Tak lama Nana bergegas mengambil roti dan s**u cokelat. Menyantapnya di ruang tamu. Berniat makan dengan Arya. Sembari menghabiskan roti, Arya bertanya yang kedua kalinya. Setidaknya hari ini mereka mendapat secuil data desa ini, walau mengerjakannya dengan santai. “Gimana ya. Desa ini tidak kaya wisata alamnya, atau pemandangan yang spektakuler. Sebenarnya kita di kirim ke sini buat apa sih? Apa susahnya cari di internet seputar desa ini, selesai. Gak usah repot-repot sampai mengirim kita ke sini segala.” Kata Nana santai. Dalam benak Arya mengatakan benar juga apa yang barusan di katakan Nana. Mudah saja mencari informasi di media sosial tentang desa ini. Berbeda dengan desanya yang justru harus ada data minimal setiap bulan sekali. Karena banyak objek wisata dan pemandangan yang spektakuler, ramai setiap harinya di kunjungi wisatawan dari panca daerah. Karena semua ini adalah perintah langsung dari ayahnya. Dengan segenap hati Arya dan Nana menyetujuinya. Mungkin ada maksud lain dari semua ini. Bukan data wisata yang di cari. Justru sesuatu yang lain seperti gadis-gadisnya yang cantik atau masalah dari penduduknya sendiri yang banyak. Mungkin itu salah satu data yang belum di data oleh kebanyakan orang, mereka harus pecahkan untuk mendatanya. Sebenarnya apa yang spesial dengan desa ini, di lihat lebih saksama desa ini tidak jauh berbeda dengan kebanyakan desa lain. Justru itulah poin pentingnya, teka-teki yang harus bisa mereka pecahkan. Arya seketika punya ide. Kalau selama ini ia hanya berputar-putar keliling desa tidak menemukan pemandangan bagus. Kali ini Arya akan mencoba mencari masakan terenak di desa ini, mungkin dari segi kuliner desa ini maju. Atau mereka akan menemukan pelajaran penting untuk mereka dari kepribadian penduduk desa ini. Kemarin saja mereka benar-benar tertampar oleh kejadian pertengkaran di warung kecil yang terjadi karena salah paham antara kakak beradik. Masalah masakan adalah salah satu ide pokok yang sangat hebat, sekaligus jitu. Cocok sekali dengan kesukaan Nana, pasti ia suka mendengarnya. Sudah jelas rencana data ini akan sangat berjalan dengan lancar. Kenapa sebelumnya tidak ke pikiran? “Aku punya ide.” Kata Arya membuat Nana mengalihkan perhatian. “Kali ini pasti kau suka. Di desa ini ternyata ada tempat yang menjual masakan terenak. Rumor mereka yang menganggap desa ini sebagai desa seribu rasa bukan omong kosong belaka. Kau belum tahu itu kan?” Kata Arya menyelidik. Kata-katanya meyakinkan. Membuat Nana spontan membuka mata lebar-lebar. “Benar kah? Apa ada tempat makan yang enak-enak?” Tanya Nana meyakinkan. Arya mengangguk pelan sembari tersenyum. Arya tahu ia sudah bosan dengan makanan desanya, Ngelanggeran. Ingin merasakan sensasi yang baru. “Ya sudah. Kita berangkat setelah hujan berhenti ya, Kak?” Ajak Nana semangat. Ia memberesi roti dan s**u, mengembalikannya ke kulkas. Arya mengangguk takzim, menyetujui. Kemudian kembali fokus ke laptop. Rencananya manjur, seketika dengan mudah Nana ikut berkolaborasi dalam misi ini. --- Hujan masih mengguyur Desa Bakung. Semenjak pagi tadi belum juga selesai, namun mulai mereda sedikit berkurang. Suhu dingin masih menyelimuti. Angin berhembus perlahan. Sekali hujan lama sekali, lama tak hujan hanya sekali. Arya membuka ponsel. Mengirim pesan ke Sakinah. Tujuannya hari ini adalah merasakan kuliner terlezat desa ini, siapa tahu Sakinah tahu banyak soal itu. Arya ingin mengajak Sakinah, menemaninya membuat data tentang masakan terenak di desa ini. Tapi ia berpikir dua kali, bagaimana nanti Nana tidak setuju? Takutnya akan malah membuat kacau rencana ini. Arya serba salah, jika mereka berangkat sendiri, takutnya ada apa-apa di jalan. Karena mereka juga belum sepenuhnya mengenal desa ini. Tidak semua orang baik dalam hal berinteraksi. Baiknya permasalahan ini di rundingkan dengan Nana, meminta persetujuannya. Agar hati gadis kecil itu tidak tersakiti. Nana hanya ingin hatinya tidak sakit karena orang lain membencinya. Justru dengan itu, langkah terbaik adalah tidak terlalu menganggap orang lain. Karena Arya adalah kakak yang sangat ia cintai dan sayang, maklum dia sangat cemburu jika kakaknya dekat dengan orang lain. Hanya Arya harapan hidupnya, tidak ingin tergantikan. “Dik. Bagaimana kalau kita mengajak Sakinah? Ia lebih dari tahu soal masakan dan di mana tempat terbaik mendapatkan kuliner ter enak. Siapa tahu ia juga pandai memasak masakan khas desa ini, kau bisa minta di ajari. Setidaknya tidak hanya bisa makan, juga pandai membuat makanan. Jadi aku bisa sedikit terbantu soal dapur. Sampai sekarang aku belum pernah merasakan masakan mu, oh iya kan kau belum bisa masak. Goreng tempe saja kadang gosong.” Kata Arya. Nana hanya diam, merenung. Tidak menanggapi. Penampilan nya sekarang lebih enak di lihat, ia beranikan mandi sepuluh menit yang lalu. Berharap hujan akan segera reda, dengan begitu mereka akan menikmati kuliner desa ini. Seolah berat di pikiran Nana, mengajak perempuan selainnya. Nana mengangguk setuju. Asalkan Arya harus menjaga jarak dengannya. Harus sering memperhatikan Nana. Arya menyetujui soal itu. Selama Nana setuju mengajak Sakinah, itu lebih dari cukup menurutnya. Arya menghubungi Sakinah. Meminta izin bahwa mereka perlu teman untuk membuat data tentang kuliner desa ini. Belum ada balasan. Namun setidaknya ia sudah mengabarinya. Nana bosan. Ia sedang berbaring di sofa. Tidak ada hiburan. Jam dinding masih menunjukkan jam setengah sepuluh. Hujan mulai reda, tinggal menyisakan rintik kecil. Jalanan basah. Taman basah setiap sudutnya. Aktivitas di warung sebelah tidak terlalu nampak, mungkin hanya segelintir orang yang berteduh di sana sambil meminum kopi panas. Tak lama terdengar suara notifikasi pelan. Arya membuka laptop. Sakinah membalas, katanya ia bisa menemani setelah dhuhur nanti, juga siapa tahu hujan sudah benar-benar berhenti. Perjalanan mereka tidak terganggu. Arya membalas sekedarnya, bilang Terima kasih karena telah meluangkan waktunya. Dalam hati juga senang karena ia bisa lebih mengenal Sakinah lebih jauh lagi. Arya mengabari Nana, untuk bersiap-siap dhuhur nanti, setelah solat mereka akan langsung meluncur menuju rumah Sakinah, menjemput gadis itu. --- Sayup-sayup terdengar lantunan adzan bersahutan, menggema memenuhi angkasa. Hujan sudah berhenti sepenuhnya. Terdengar samar suara guntur dari kejauhan. Langit masih kelabu, tapi mending agak sedikit cerah. Selokan menggenang air, mengalir deras. Suasana setelah hujan adalah yang terbaik seolah kita merasakan nikmat luar biasa sisa dari rahmat tuhan yang berupa hujan. Tumbuhan pada basah, hewan-hewan kembali beraktivitas seperti biasa. Setelah berkemas dan membersihkan diri. Mereka solat dhuhur bersama. Kemudian langsung meluncurkan menuju rumah Sakinah. Mobil meraung meninggalkan kelokan jalan. Terus menuju barat rumah Sakinah berada. Mobil melaju perlahan. Menjauh dari tempat rumah sewaan mereka. Hujan rintik-rintik masih terlihat. Suasana semakin nyaman dan menenangkan. Kala hujan adalah agenda terbaik mengenang masa lalu. Di kanan dan kiri jalan terlihat kebanyakan rumah penduduk. Aktivitas tidak terlalu sibuk, lebih banyak berdiam diri di rumah menikmati suasana. Karena Arya tahu rute menuju rumah Sakinah. Hanya soal waktu mereka sampai dengan cepat. Nana duduk di samping Arya, menatap ke arah jalan, memikirkan sesuatu. Kalau untuk Nana yang masa lalunya penuh dengan derita, baiknya ia memikirkan makanan saat ini. Arya menatap wajahnya yang memantul di antara kaca mobil, seketika ia teringat wajah ibunya yang mirip dengan Nana. Cantik dan manis. Seolah Arya tahu wajah ibunya ketika kecil juga seperti wajah Nana sekarang ini. Sepuluh menit berlalu. Mobil memasuki wilayah yang lebih luas. Tak lama memasuki pelataran rumah Sakinah, mereka sudah sampai. Nampak rumah seperti kebanyakan punya penduduk desa ini, serba sederhana. Tidak ada taman buatan seperti di rumah joglonya, atau pengawal yang menjaga di depan rumah. Hanya ada taman kecil berisi pot bunga dan lahan yang di tumbuh pohon mangga dan pisang di sisi kanan rumah. Mereka berlompatan turun. Melangkah ke arah rumah. Mengucapkan salam. Kemudian tak lama keluar seseorang dari dalam rumah, sembari menjawab salam. “Eh Nak Arya.” Suara perempuan setengah baya itu adalah ibu Sakinah. Menyusul langkah berat dari belakang, tetua dan Sakinah. “Masuk jangan malu-malu. Monggo pinarak! Di sambi jajane.” “Enggeh, Bu.” Jawab Arya sopan. Ia sedikit tahu tentang logat dan aksen tulen yang ada di desa ini. Bagaimana bahasa untuk menerima tamu, meminta makan, atau bertanya alamat. Semua ada bahasa sendiri-sendiri. Mereka berdua duduk di ruang tamu bersama kedua orang tua Sakinah. Membahas banyak, bercanda ria, sesekali menanyakan kondisi tetua. Ia tersenyum dan berkata berat bahwa ia masih seperti muda dulu kuat dan tangguh. Tak lama Arya membahas maksud kedatangan mereka ke sini. Ingin mengajak Sakinah memandu mereka membuat data tentang masakan terlezat di desa ini. Tetua seketika setuju. Dan memasrahkan Sakinah ke Arya untuk di jaga dalam perjalanan. Sakinah bersiap dahulu. Membawa barang seperlunya seperti obat-obatan, jadi nanti jika ada yang sedikit tidak enak badan bisa minum herbal alami yang ia bawa. Sembari menunggu Sakinah berkemas. Arya meminta izin untuk melihat-lihat sekitar ruang tamu ini, tetua mengizinkan. Ada lukisan besar di sudut ruangan. Dan foto-foto keluarga. Terpampang bendera perguruan dan di tengahnya terdapat figura penghargaan semacam perlombaan atau pengesahan. Di balit dua pedang panjang melintang di bawah figura itu, semacam kelewang atau carug. Melintang juga di atas figura itu sabuk berwarna biru tua, dengan di setiap ujungnya bercabang seperti lidah ular atau komodo. Baru pertama kali Arya dan Nana melihat yang seperti itu, walau mereka tidak mengenal cukup detail apa itu perguruan namun mereka sedikit tertarik. Di sisi kiri dekat dengan jendela terpampang lemari kaca. Di dalamnya terdapat piala dan medali. Salah satu darinya adalah piala prestasi perlombaan Ilmu Pengetahuan Alam tingkat kabupaten. Dan juga piala juara satu sparing tingkat provinsi. Tapi itu tidak untuk Sakinah melainkan untuk tetua. Lima menit Sakinah keluar dari rumah. Ia sudah selesai berkemas-kemas. Ia lebih tahu tempat mana yang harus di kunjungi terlebih dahulu. Sakinah berpamitan dan bergabung di mobil. Ia duduk di bangku tengah, sedangkan Nana masih diam dari tadi. Nana duduk di depan bersebelahan dengan Arya, ia tidak mau duduk di tengah bersama Sakinah. Sakinah memaklumi hal itu, perlu waktu untuk membiasakan agar tahu betul watak dan kepribadian Nana. Orang tua Sakinah mengantar hingga depan teras rumah. Tak lama mobil bergetar, mesin di nyalakan. Mulai bergerak meluncur ke arah timur, Sakinah yang memandu. Ia tahu tempat pertama kali yang harus di coba, kuliner wajib desa ini. Yaitu ikan bakar ala pak mantap. Arya dan Sakinah sengaja tidak memberi tahu Nana soal itu, berharap semua ini adalah kejutan. Karena ia suka sekali dengan ikan goreng dengan begitu juga menghibur hati kecilnya. --- Mobil tetap pada kecepatan stabil. Banyak pengendara siang ini. Hujan sudah sepenuhnya berhenti turun. Jalan basah juga ranting pepohonan. Udara segar menelusuk masuk. Kaca mobil berembun, Nana masih diam di tempatnya. “Jadi kamu cenderung ke IPA ya, Sakinah?” tanya Arya penasaran. Sakinah sedikit tertawa lucu dengan panggilan yang di berikan Arya. “Panggil saja, Kina. Ya aku memang suka IPA dari dulu sampai sekarang. Tapi pelajaran agama harus juga di pelajari.” Jawab Sakinah. “Kenapa tidak meneruskan di jenjang tinggi? Universitas? Prestasi mu hebat di perlombaan.” “Tidak bisa. Karena aku anak satu-satunya, harus menemani ayah. Ia tidak ingin aku pergi terlalu jauh.” Kata Sakinah. Penampilannya sederhana. Ternyata Sakinah teman berbicara yang baik. Mudah mengerti jalan bicara lawannya. Pandai berkata-kata. Wajahnya cerah hari ini. Arya memahami apa yang di katakan Sakinah. “Udara hari ini sejuk ya. Menenangkan hati. Kenapa ya, hujan adalah cara terbaik untuk menimbulkan kenangan. Dapat merasakan hal yang kadang tidak bisa di ucapkan lewat kata-kata.” Ucap Arya memecah sepi. Agar di mobil tidak ada yang saling canggung. “Kamu tahu apa itu Petrichor?” kata Sakinah. Arya menggelengkan kepala, baru kali ini ia mendengar istilah seperti itu. Sakinah meneruskan. “Petrichor itu adalah aroma alami yang di hasilkan saat hujan jatuh di tanah kering. Bau itu sangat menenangkan, kadang juga masih bisa tercium saat hujan berhenti. Istilah itu di cetuskan pada tahun 1964 oleh kedua peneliti, Isabel Joy Bear dari Australia, dan Roderick Grenfell Thomas dari Britania. Petrichor atau aroma hujan seperti bau musky. Mereka menjelaskan dengan detail dalam jurnal mereka yang berjudul Genesis Of Petrichor. Banyak berpendapat asal muasal aroma khas hujan tersebut. “Pertama, aroma khas hujan itu berasal dari ozon yang terbentuk ketika muatan listrik dari petir memisahkan atom oksigen menjadi dua atom O. Atom O ini ketika bertemu lagi dengan oksigen, maka akan terbentuk ozon. Kamu tahu ozon kan? Nah, Ozon yang biasanya muncul ketika sebelum hujan, kemudian hujan turun, dengan begitu aroma khas hujan akan tercium itulah yang di sebut dengan bau hujan atau Petrichor.” Arya yang sedang menyetir menelan ludah. Tidak percaya apa yang sedang di katakan Sakinah. Apa ia hanya mengarang saja atau memang itu sebuah kebenaran? Di lihat dari segi bagaimana ia menerangkan, bisa di nilai semua itu memang ia faham betul tentang IPA. Kehebatannya dalam pengetahuan alam ternyata bukan kaleng-kaleng. Sakinah meneruskan. “Yang kedua, yakni berkaitan dengan asam hujan. Asaman itu sebenarnya berada di tanah dan tumbuhan, yang di kenal dengan nama palmitic acid dan stearic acid. Ketika udara panas, asam-asaman ini akan naik dan mengendap di permukaan baru, tanah kering, atau permukaan padat lainnya. Kemudian ketika hujan turun, asam-asaman tadi terbang ke udara sehingga tercium bau hujan atau Petrichor. Karena itulah semakin jarang hujan turun di suatu wilayah, maka hujan pertama akan mengeluarkan Petrichor lebih kuat daripada biasanya. Hujan tadi adalah hujan pertama yang terjadi di desa ini dalam penanggalan musim penghujan setelah pancaroba. Makanya udara tadi sangat sejuk dan menenangkan. Kadang juga bau hujan bisa tidak sedap atau tidak enak di cium. Sebab bahan kimia yang bersifat asam tak jarang di temui di puing-puing organik, spora bakteri, zakir bahan bakar, dan lainnya. Kemudian ketika hujan turun dan menitik di tempat yang ada bahan kimianya itu, maka akan tercium bau yang tak sedap. “Ketiga, aroma hujan yang berkaitan dengan geosmin. Geosmin adalah senyawa yang di keluarkan sejumlah bakteri seperti Actinomyceycetes, Streptomyces dari golongan bakteri gram positif dan bakteri-bakteri lainnya. Akibat dari bakteri ini, misalkan kita makan buah, ada kalanya rasa dari buah itu agak ketanah-tanahan, maka buah tersebut bisa jadi terkena senyawa geosmin. Ketika hujan menitik di permukaan tanah yang ada geosminnya, atau bertemu dengan senyawa geosmin di udara, maka aromanya akan tercium dalam indra penciuman yang terkenal dengan sebutan Petrichor. Oleh sebab itulah semua yang tercipta atas kenyamanan, hati terasa tenang dan pikiran kembali sejuk, boleh jadi efek dari senyawa geosmin yang mengandung zat penenang, atau memang fungsi dari senyawa itu adalah untuk demikian.” Terang Sakinah. Nana sedari tadi memperhatikan, sedikit kagum dengan penjabaran Sakinah. Ia mengerti tentang ozon, pelajaran SD dulu. Walau tidak sepenuhnya mengerti namun Nana merasakan sendiri bahwa ketika hujan ia mencium bau khas hujan yang menenangkan, semua orang setuju dengan itu, tidak bisa dinafikan. Dan ternyata semua itu ada penjelasannya kenapa bisa menenangkan. Semua yang di katakan Sakinah masuk akal. Arya juga tidak banyak berkomentar, tidak banyak berbicara, karena ia tahu apa yang harus di bahas. Sakinah adalah gadis cantik yang bukan saja agamanya bagus, melainkan juga ilmunya tentang alam sangat luar biasa. Piala prestasi yang terpampang di lemari kaca rumahnya ternyata bukan main-main. Arya sekarang sedikit tahu, ketika dulu ia menanyakan tentang kenapa asal desa ini dari Bunga Bakung. Kemudian ia jelaskan dengan runtut dan begitu jelas. Mobil meluncur masih dalam kecepatan stabil. Arya mangut-mangut memahami, kemudian memuji Sakinah bilang ilmunya tentang alam sangat luar biasa. Arya sedikit banyak bertanya tentang ke tidak pahamannya tentang bau khas hujan, mencari topik pembahasan. Hingga tujuan mereka tepat berada di depan mata. Mobil mengurangi kecepatan tak lama memarkir di halaman yang sudah di sediakan. Nana sedikit terperanjat. Tidak percaya apa yang sedang ia lihat sekarang ini. Matanya membesar dan tersenyum manis. Di depan gerai itu tertulis ikan goreng pak mantap. Aroma bumbu dan Kepulauan asap penggorengan tercium pekat di hidung. Nana girang sekali. Ini adalah kejutan, makanan favorit Nana, ikan goreng. Ia semangat sekali turun. Meninggalkan Arya dan Sakinah yang masih di dalam mobil. Mereka berdua tersenyum melihat Nana bahagia, tak lama menyusul mengikuti Nana. Mereka bertiga siap mengantapi masakan terlezat pertama di desa ini. Seolah seperti senyawa. Hanya satu tapi memiliki dua unsur yang saling berkaitan. Unsur yang saling berkesinambungan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi, dan saling membutuhkan. Arya dalam benaknya berpikir, semoga semua itu seperti Petrichor, membawa keindahan dan kenyamanan karena senyawa, di mana senyawa itu justru sangat berpengaruh adanya semua itu. Bekerja sama dengan hujan yang berupa rahmat dari Tuhan, yang memberikan manfaat bagi banyak orang, membuat sejuk dan menumbuhkan yang mati. Seolah cinta ini adalah bagaikan hujan, dan kenyamanan ini bagaikan Petrichor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD