Pengalaman Berharga

2210 Words
Udara siang sejuk di Desa Bakung. Tepat ketika itu perut sudah kosong. Nana segera mencari tempat duduk di dekat jendela. Agar suasana saat itu juga mendukung nafsu makannya. Seperti gerai kebanyakan. Namun yang satu ini mempunyai ciri khas tersendiri, lumayan elegan. Bangunan yang berada di dekat sungai itu memiliki peforma yang unik. Dekat dengan jalan raya sehingga mudah di jangkau oleh siapapun. Pelanggannya juga sekarang lumayan banyak. Pelayan mondar mandir membawa masakan dan menyambut tamu. Salah satu dari mereka menghampiri, menawarkan paket spesial bulan ini. Nana segera memilih. Matanya cepat memilih menu spesial. Arya bertanya ke pelayan menu apa yang laku keras akhir-akhir ini. Pelayan itu dengan sopan menjelaskan bahwa kebanyakan pelanggan memilih menu Paket spesial ikan mujaer, dan lalapan sambal tomat. Tepat sesuai yang Nana pilih, gadis itu juga memilih paket menu sama yang di katakan pelayan. Mereka semua setuju, Sakinah ikut saja apa yang di putuskan Arya dan Nana. Sambil menunggu masakan siap. Mereka bertiga berbincang-bincang, ini kali pertamanya Nana tersenyum ke arah Sakinah. Mungkin maksud darinya adalah bilang terima kasih. Sakinah balik senyum ke Nana, ia menanyakan kabar sekolah Nana. Berbincang-bincang ringan. Walau Nana menjawab sekedarnya saja. Arya yang menyimak pembicaraan itu tidak menyangka bahwa Sakinah dengan mudah menjinakkan Nana. Baik dari rencananya sampai kata-kata nya yang meyakinkan. Sakinah adalah tipikal orang yang mudah di ajak bicara, pendengar yang baik. Sungai mengalir deras di samping kiri gerai itu. Sungai yang menjadi batas antara jalan dan hamparan sawah luas membuat pesona yang menawan. Mereka bisa melihat pemandangan sawah yang terhampar luas sejauh mata memandang. Hijau tak terkira. Udara begitu sejuk sekali. Satu dua teraktor sibuk di lahan, membajak sawah. “Jadi kamu hanya tamatan SMA?” tanya Arya. Sakinah mengangguk takzim. “Sebatas itu yang aku bisa. Pernah dulu sempat mengajar di sebuah SMP Favorit, namun tidak bertahan lama. Mungkin itu bukan jalan ku. Kemudian setelah itu aku putuskan untuk mengajar di TPQ masjid Irsyad, sekaligus berkecibung di organisasinya. Dan Alhamdulillah sampai sekarang masih di sana. Mengajar mengaji anak-anak dan sedikit memberi ilmu tentang alam. Mukjizat Al-Quran yang bisa di buktikan kebenarannya dengan sains. Agar keimanan mereka bertambah.” --- Udara sejuk menerpa. Pesanan mereka telah siap. Hidangan mulai satu per satu di sajikan di atas meja. Mulai dari jadi sampai ikan mujaer spesial. Siang yang menyenangkan. Nama mulai melahap ikan mujaer kesukaannya. Jatahnya satu ekor ikan besar. Arya juga mulai menyantap jatahnya dengan lahap, perut mereka benar-benar kosong. Para pengunjung semakin ramai memenuhi gerai pak mantap. Mereka berdua tidak menyangka bahwa desa ini punya selera kuliner yang hebat. Sebagai pendatang seperti mereka, maka akan ini lumayan enak. Bumbu-bumbu terasa dan minuman segar yang terasa spesial di tenggorokan. “Bagaimana?” Tanya Sakinah. Ia melihat Arya dan Nana menikmati kulinernya itu lebih baik, ia belum menyentuh makanannya. “Wah ini enak sekali. Berbeda dengan masakan kakak yang kurang enak. Suka di masak gosong dan cita rasanya tidak ada.” Komentar Nana. Arya mengetahui hal itu tidak marah, ia malah merasa senang karena sedikit demi sedikit Nana mulai menerima Sakinah. Keterdekatan mereka sudah mulai terhubung. “Eh. Kenapa tidak menyentuh makanan mu?” Tanya Arya. Ia melihat makanan Sakinah masih utuh. “Aku tidak lapar. Bukan maksud tidak menghormati. Tapi aku sudah sangat sering makan di sini waktu kecil dulu. Jadi mau bagaimana pun aku merasakannya tetap biasa saja, walau memang bagi kebanyakan orang luar pertama kali mencobanya adalah seperti masakan terlezat di dunia. Juga karena satu, kenapa masakan ini menjadi terenak. Bumbu yang membuat ampuh masakan di sini sangat enak. Karena engkau merasa lapar. Itulah kuncinya. Tidak peduli seberapa enak dan lezat suatu masakan akan tetap hambar jika keadaan perut kenyang.” Jelas Sakinah. Arya mangut-mangut. Benar juga, kondisi mereka saat ini sedang lapar. Pagi tadi hanya makan sebatas nya saja. Nana tidak menghiraukan apa yang di katakan mereka berdua. Ia masih fokus dengan makanannya. Tak lama bertanya ke Sakinah. “Kak, Kina. Kenapa makanan kakak tidak di makan? Nanti dingin lho. Kalau kakak Kina nggak mau. Biar Nana habiskan.” Kata Nana, matanya membesar seolah memohon ke Sakinah. Seperti anak kucing minta jatahnya di tambah. Sakinah tersenyum. Ia mengangguk membolehkan makanannya di ambil oleh Nana. Arya di sampingnya menegur Nana, bilang tidak sopan. Seketika Nana cemberut. Tapi Sakinah menjelaskan bahwa ia tidak lapar. Sebenarnya itu adalah siasat Sakinah agar Nana bisa lebih dekat dengannya. Lebih bisa menghubungkan kekerabatan mereka berdua. Dengan cepat Arya mengerti apa yang sedang dimaksud Sakinah. Sakinah mengangguk memberi isyarat kepada Nana, ambil saja jatah makanan ku. Nana senang sekali, mengucapkan terima kasih kepada Sakinah. Bukankah seekor kucing lebih pandai menggerung jika di beri perhatian lebih? “selain masakan di sini apa ada lagi yang lebih enak?” Tanya Arya. Ia sudah mulai menggali informasi. “Ada empat lagi. Jadi kalau di sini juga terhitung berarti ada lima gerai cukup terkenal di desa ini. Beraneka ragam masakannya.” “Kamu sendiri bisa masak, Kina? Kalau bisa boleh aku mencobanya lain waktu. Pasti Nana juga suka.” Kata Arya dengan sebaik-baiknya kalimat. Seketika Sakinah teringat Haikal. Demi mendengar apa yang di katakan Arya barusan. Seolah ia tersadarkan lagi. Ketika ia mengiringi kepergian Haikal di stasiun, ia memberikan bekal n masakan yang disukai oleh Haikal. Masakan yang di buat dengan segenap rasa cinta dan keikhlasan yang haqiqi. Berharap kelak akan bisa hari-hari memasakkan makanan yang serupa. Bisa satu atap dengan Haikal meniti jalan bersama, bisa makan bersama, bisa menjalani suka dan duka bersama. Berharap ketika pulang nanti Haikal langsung bisa meminangnya. Janji-janji itu ia bungkus dengan rapat. Hingga ia melupakan Haikal untuk sementara waktu. Tidak saling memberi kabar agar tidak saling menyalahkan. Ia takut jika terusan mengabari nanti hanya bosan dan menimbulkan kebencian. Dengan itu maksud ia menutupi kesedihannya sendiri. Dan sekarang terkoyak lebar. Menganga memaksa mengingat cintanya dan janji suci. Ia kuatkan semua ini kepergiannya dengan Arya hanya sebatas pertemanan, tidak lepas dari semua itu. Hanya sekedar memberi informasi saja. Saling memberi masukan dan berdiskusi tentang ilmu. Apa ia salah berduaan dengan orang lain? Tidak, ia buang pikiran itu jauh-jauh. Ia tidak sedang berduaan. Ia sedang bertiga, Nana juga terhitung. Ini hanya sebuah pencarian data, sekedar menolong orang. Tidak lebih dan tidak kurang dari semua itu. Ia yakin Haikal akan kembali untuknya. Jadi tidak mengapa ia keluar dengan orang lain dengan niatan baik, tidak berniat mengubah isi hatinya. Saling berdiskusi sesuatu. Sakinah yakin cintanya dalam hati hanya untuk Haikal. Tidak untuk orang lain. Dan kepercayaan paling besar yaitu Haikal juga tetap mencintainya. Ia percaya semua itu. “Kina?” Sakinah tersadarkan dari lamunannya. “Maaf. Oh iya aku bisa. Kalau ada waktu nanti aku buatkan masakan ku sekaligus mengajari Nana memasak. Itu mungkin bisa membuatnya sedikit senang.” “Ah itu seperti yang aku harapkan. Mengajari Nana memasak adalah ide paling bagus. Biar nanti ia tidak bergantung saja dengan ku. Juga seharusnya perempuan harus bisa memasak.” Tukas Arya. Entah mengapa dalam hati Arya bergejolak hebat. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Jantungnya berdegup kencang. Melihat wajah Sakinah mengembangkan senyum seolah seperti melihat bidadari tak bersayap. Namun ia tahu sekarang mengungkapkan perasaan ini tidak dengan mudah. Arya masih menunggu momen yang pas. --- Setelah semua piring tandas. Gelas-gelas juga sudah di bereskan. Arya membayar semua pesanan. Nana merasa kenyang. Semenjak ia di sini hari ini adalah hari terbaik. Ia bisa makan dengan lahap. Nafsu makannya meningkat. Dan pertama kali mencoba kuliner hebat desa ini. “Terima kasih, kak Kina. Telah memberikan jatah makannya.” Kata Nana kepada Sakinah. Jurus itu manjur, siasat yang sempurna. Jika kalian ingin dekat dengan seseorang selain hadiah kadang memberi makanan untuk menghilangkan rasa lapar adalah cara terbaik. Ketika Nana sedang menikmati hamparan sawah yang luas. Sakinah berbicara pelan dengan Arya. Sakinah merasa tidak apa semua itu di lakukan, toh cintanya hanya untuk Haikal. Tidak tergantikan. “Kamu tahu? Kenapa kebanyakan ayat di Al-Quran menjelaskan tentang Allah memberi rizki makanan yang berupa buah-buahan kepada hambanya? Itu adalah tanda bahwa nikmat Allah sangat banyak, kasih sayangnya sangat besar. Dan Allah tahu apa yang ribuan dinginkan hambanya. Tahu bahwa banyak manusia lebih mengutamakan perut dari pada otak. Bukan bermaksud bahwa menyindir Nana. Namun bahwa agar hambanya juga taat dan memiliki rasa berterima kasih lebih besar.” Jelas Sakinah. Arya terkesiap. Ia mulai mengeluarkan catatan kecil. Semua yang di ucapkan Sakinah boleh jadi sebuah ilmu baru baginya. “Ilmu agama mu juga bagus ya, Kina. Tahu banyak tentang Islam.” Kagum Arya. “Tidak terlalu. Hanya segelintir saja. Setidaknya aku bisa memberi manfaat kepada orang lain.” Pelanggan mulai keluar masuk gerai. Di lihat dari pelat nomor mobil yang terparkir banyak yang dari luar kota. Suasana saat itu benar-benar membuat mereka lapar. Sakinah melambaikan tangan. Memanggil salah satu pelayan. Tak lama pelayan yang memakai seragam khusus itu mendekati meja makan mereka. “Maaf mas. Minta waktu beberapa menit. Ini teman saya ingin mencari informasi tentang gerai pak mantap ini. Membuat data seputar gerai. Masakan apa yang paling laris. Dan apa saja peforma di gerai ini. Bisa kan mas?” Kata Sakinah. “Bisa mbak. Tapi maaf waktu saya tidak lama.” Kata pelayan itu. Pelayan laki-laki yang memakai celemek menyeret kursi duduk di antara mereka. Arya menyuruh untuk Nana untuk mencatat. Ia segera mengeluarkan catatan kecil. Dan Arya mulai menanyakan sesuatu. “Masakan apa saja yang ada di menu? Apa ada paket spesial yang sangat laris.” Tanya Arya. “Menu spesial kami sesuai yang ada di menu, mas. Semua itu sudah paket hemat bulan ini.” Nana memotong. “Mas, apa ada paket yang super murah dan paling enak selain ikan mujaer. Kaya ikan lele, atau ikan gabus.” Celetuk Nana. Arya menepuk dahi. Meminta untuk Nana diam dahulu. Nanti kalau ada waktu Nana bisa menanyakan sendiri tentang makanan. “Jadi itu mas. Semua makanan ada di menu. Peforma kami adalah pelanggan harus di hormati. Tidak memandang bulu. Semua di setarakan. Pelanggan di sini setiap hari naik turun, mas. Kadang banyak juga kadang sedikit. Kalau mas ingin melihat cara kerja kami memasak bisa langsung ikut saya menuju dapur.” Kata pelayan itu. Tak lama Nana langsung berdiri. “Ayok mas. Nanti biar mudah juga saya mencatat data dan mungkin resep terhebat gerai ini. Atau mungkin bisa membungkus kan kami makanan untuk kami bawa pulang.” Arya menghela nafas panjang. Kemudian pelayan laki-laki itu menggiring mereka menuju dapur. Ruangan yang cukup besar. Mungkin setengah dari ruangan utama. Di sana banyak karyawan yang sibuk bekerja. Ada yang fokus dengan penggorengan. Dan ada yang fokus menanak nasi. Uap kepul keluar dari panci besar. Bau gorengan ikan terasa sedap memenuhi ruangan itu. Pegawai mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Arya mulai menanyakan satu dua persoalan tentang masakan. Nana mulai mencatat acak. Ia melakukan metode Brainstorming, mencatat apa saya yang dikira penting dalam menginformasikan sesuatu. Kepala staf menghampiri Arya. Menyalaminya dengan ramah. Ia yang mengambil alih studi ini. Pelayan laki-laki tadi undur diri kembali bekerja. “Wah kebetulan sekali hari ini kita kedatangan tamu dari luar desa,” kata kepala staf sopan. Penampilannya tidak berbeda jauh dengan para pelayan. Laki-laki setengah baya itu tersenyum melihat mereka, tamu yang ingin mengambil informasi dari gerainya. Arya menyalaminya. “Salam Pak. Jadi bapak kepala perusahaan di sini? Orang yang mencetuskan nama gerai pak mantap.” Lelaki setengah baya itu mengangguk. “Wah, kalian kurang beruntung datang hari ini. Kemarin kami mengadakan promo besar-besaran. Paket di menu ada diskon bulanan. Tapi tidak apa, kalian bisa datang lagi bulan depan.” “Suatu kehormatan kami bisa di sambut dengan baik. Kami menghormati tawaran itu,” Kata Arya. Kemudian ia menanyakan sesuatu yang bersifat penting. Seperti asal usul berdirinya gerai ini. Sepuluh menit berlalu. Arya berpamitan untuk pulang. Nana juga sudah cukup banyak mencatat informasi. Tak lama kepala staf menyuruh salah satu pelayan untuk membawakan makanan untuk di bawa pulang. Nana senang sekali mendengar itu. Ia akan makan malam dengan enak. “Aku tahu gadis satu ini suka sekali makanan. Di lihat dari antusiasnya ketika di dapur tadi. Dan ketertarikannya dengan masakan seketika aku teringat dengan anak ku dulu yang juga sama dengannya. Sangat suka dengan masakan. Apa ini adik mu?” tanya kepala staf kepada Arya. Tak lama Arya mengangguk, menjelaskan bahwa memang ia suka makan semenjak kecil. Arya tidak menceritakan masa lalu Nana yang mengerikan. “Walau adik mu suka makan tapi lihatlah. Kondisi badannya masih bagus, sebagaimana perempuan sehat lainnya. Ia sangat menjaga pola makan. Aku tahu bahwa ia suka makan, tapi aku yakin bahwa ia juga mengoptimalkan badanya agar tetap stabil. Aku tahu karena aku juga pernah mengalaminya. Jika tidak begitu maka kondisi badan terus mengalami peningkatan lemak yang berlebihan,” jelas kepala staf. Arya menoleh ke arah Nana, maksud tatapannya adalah apa benar ia olahraga diam-diam. Yang di tatap malah senyum manis. Mengangkat bahu. Mungkin maksudnya hanya segelintir orang yang tahu. Biarkan menjadi rahasia. Kepala staf mengiringi kepergian mereka di depan gerai. Mereka semua sudah menaiki mobil. Arya mengatur mobil untuk keluar dari impitan mobil lain. Sakinah duduk di tengah. Nana duduk di samping Arya dengan memangku makanan yang di hadiah kan tadi. Arya membunyikan klakson tanda bahwa mereka siap meluncur pulang. Tak lama mobil meluncur di jalanan. Hari ini adalah hari yang bahagia untuk Nana. Semoga setiap hari ia bahagia. Agar nanti jika Arya di miliki oleh orang yang ia suka. Sakit hati Nana tidak terlalu besar juga. Dan bisa menerima semua ini dengan lapang d**a.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD