Arunika

2174 Words
Aku arunika. Ajari aku tentang matahari senja. Karena yang ku tahu hanya untaian kata. Yang ku susun dalam bait aksara. Yang terkadang tidak bisa bicara. Menahan luka tak ada habisnya. Aku Arunika. Ajari aku tentang rasa suka. Suka pada senja dan asa. Suka pada kamu saja. Aksara ki tumpah ruah, bisa karena merayakan pertemuan atau bisa jadi kehilangan, aku sadar setiap lembar per lembar buku yang telah di bubuhkan tinta, itu tercipta karena kisah kita. Pagi yang indah. Cahaya matahari masih terlalu dini memunculkan dirinya sepenuhnya. Cahayanya masih tertutup halang oleh gunung-gunung. Suasana semakin exotic. Langit di penuhi warna merah di sepanjang ufuk timur. Awan tipis bergelombang membentuk barisan seperti ombak di lautan. Ini adalah pagi yang kesekian mereka berada di Desa Ngelanggeran. Seolah pagi adalah waktu yang sangat berharga untuk muhasabah diri. Karena tenang sekali saat itu. Haikal duduk di teras lantai dua menikmati pemandangan pagi dengan di temani secangkir teh hangat. Kakinya bergerak gerak berusaha mengusir dingin. Wajar jika udara semakin menusuk tulang, udara langsung menerpa dari pegunungan membawa hawa dingin yang sangat. Akyas masih terlelap dalam tidurnya. Tidak mengapa, setidaknya ia sudah solat subuh tadi. Mungkin juga ia kelelahan karena kemarin mengangkat kardus berat-berat. Terdengar suara nyaring dari besi yang saling beradu, itu bukan suara Bibi Shofia yang masak di dapur. Itu adalah suara kereta api, menderu di rel dan sesekali menyalakan klakson, para roda besi itu beradu dengan batangan rel, menimbulkan suara nyaring. Suara klaksonnya memenuhi angkasa memecah pagi yang tenang. Burung-burung beterbangan, mencari makanan dan saling bernyanyi satu sama lain. Pejantan memamerkan ekornya yang menawan, bergerak-gerak, menggoda si betina. Seketika Haikal teringat sabda Nabi SAW. Yang intinya adalah, rezeki itu sudah Allah atur di setiap hambanya. Barang siapa yang rajin dan mau berusaha maka ia akan mendapatkan apa yang ia perjuangkan. Seperti burung yang pergi mencari makan di waktu pagi dan petang pulang ke sarang dalam keadaan kenyang. Arunika adalah sinar matahari pagi. Yang memiliki makna dan arti sangat dalam. Membuat kenyamanan dan menenteramkan jiwa. Pernah kah hati kalian waktu pagi sangat tenteram? Walau permasalahan yang menerjang silih berganti. Itu adalah Arunika, cahaya matahari pagi. Haikal mengetahui hal itu. Oleh karenanya ia sempatkan mendapat momen ini. Agar hatinya tenteram dan tenang, sambil mengucap syukur, serta melihat kekuasaan Tuhan yang tiada tanding. Bagaimana matahari bisa konsisten terbit dan kemudian tenggelam setiap harinya? Bagaimana burung-burung selalu mendapatkan makanan? Dan bagaimana alam ini begitu indah? Seperti lukisan dalam kanvas. Semua itu tidak lain pasti ada yang menciptakan dan ada yang mengaturnya, dan itu adalah Allah Tuhan sekalian alam. Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Bibi Shofia mendapati Haikal sedang bersenandung di teras lantai dua. Bibi Shofia menghampiri Haikal. “Indah bukan?” Haikal mendongak ke atas. Tau bahwa Bibi Shofia menghampirinya. Ia berada di samping Haikal. Sama-sama melihat di satu arah, matahari terbit. “Sangat indah, Bi. Bahkan aku tidak bisa mengutarakan dengan kata-kata. Tenteram sekali. Ketika matahari mulai menetas di pucuk cakrawala. Cahayanya menembus tebing tinggi di antara gunung-gunung. Saat itulah kehidupan di mulai setiap harinya, lahirnya kehidupan,” Kata Haikal. “Benar sekali. Kalau Bibi boleh tahu, apa selama ini kau masih belum bisa melupakan masa lalu. Bibi tahu masalah mu dengan gadis yang namanya Sakinah itu. Terus, bagaimana kelanjutannya?” “Masih seperti biasa, Bi. Gimana ya, semoga saja dia adalah yang terbaik. Tapi belum ada kepastian dari ku, bisa di katakan juga kami belum saling melamar.” Bibi Shofia mangut-mangut. Memahami situasi Haikal. “Kenapa masih ragu? Yakinlah lah, Kal. Dulu Om Alan bahkan tidak tahu menahu secara mendalam tentang ku. Tidak terlalu mengenal betul, tapi karena yakin bahwa aku bisa membahagiakannya. Maka tidak pandang bulu langsung melamar saja. Begitu setianya ia kepada ku.” Haikal tersenyum manis. Pasti menyenangkan saat itu terjadi. Waktu dulu ketika mereka berdua menikah, Haikal menghadirinya dengan kedua orang tuanya saat masih kecil. Belum terlalu paham apa itu akad dan bahkan tidak terlalu paham apa itu kebahagiaan di atas pelaminan. Kemudian tak lama mereka membahas sesuatu yang biasa. Kadang membahas tentang kehidupan setelah menikah, Bibi Shofia menjelaskan secara rinci bagaimana hidup yang tenang dengan kedua pasangan yang saling menyukai. “Kau tahu, Kal? Fakta bahwa penyu kau itu adalah hak sesama manusia.” Haikal masih belum mengerti arah pembicaraan Bibi Shofia. Ia memperhatikan dengan saksama. Bibi Shofia melanjutkan. “Secantik apa pun wanita di muka bumi ini, di mana pun mereka berada, entah mereka kaya atau miskin. Keturunannya baik atau biasa saja. Tidak peduli semua itu. Karena faktanya adalah mereka wanita yang cantik itu adalah justru kekurangan terhadap dirinya sendiri. Walau fisiknya bagus, kecantikannya memesona. Seperti Bibi mu ini, dulu ketika kuliah, banyak yang menganggap bahwa Bibi sudah banyak yang punya, sudah banyak yang menyukai Bibi karena Bibi sangat cantik, pintar, dan kaya. Dengan begitu banyak yang ingin mendekati Bibi tapi banyak juga yang minder, belum mendekati saja sudah hilang harapan bahwa banyak saingan dan banyak alasan lainnya. Padahal semua itu tidak benar, tidak ada yang mendekati Bibi sama sekali, sebagai wanita kalau ia tidak di perhatikan secara mendalam nanti akibatnya akan sangat fatal jika mentalnya jatuh. Seorang wanita yang cantik tanpa kekurangan sedikit pun akan stres, tidak memiliki masalah sedikit pun, tidak tahu masalah terbesarnya, itulah kelemahan terbesarnya. Semua sudah ia miliki, apa lagi coba yang harus di pertaruhkan? Tak lama stres itu akan membumi di dalam hatinya, menggerogoti fisiknya yang lemah, dan tak lama berpikir bahwa hidupnya tidak lagi penting, dan akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan tragis. Begitulah fakta sebenarnya. “Anak kepala desa ini juga memiliki paras cantik. Kau juga pernah berbincang mengenai dirinya. Siapa yang tidak ingin wanita secantik dia. Bibi yakin banyak laki-laki yang mundur dahulu sebelum mendekati gadis itu. Bukan malah gadis itu banyak yang menyukai. Kalau pun banyak yang serius dengan gadis itu, toh ia sudah menikah jauh hari, Kal. Tapi kenyataannya gadis itu belum menikah bukan? Masih sendiri, karena hatinya juga belum ada yang memiliki. Siapa cepat dia dapat,” terang Bibi Shofia. Matahari mulai menyingsing naik. Sepenuhnya larik cahaya menyinari bumi, menembus celah pepohonan, menembus ventilasi rumah dan kaca jendela. Menimbulkan cahaya yang magis. Aktivitas mulai terlihat di atas teras lantai dua itu. Rumah-rumah penduduk terlihat tersusun seolah bertumpuk rapi. Jalanan di depan rumah terlihat semakin ramai dengan pengendara. Benar yang di katakan Bibi Shofia. Tantenya satu itu sudah Haikal anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Yang sering meyakinkan Haikal, sering memberikan semangat kepadanya. Sebenarnya untuk Haikal saat ini, hanya perlu tahu sedikit saja tentang kehidupan, karena Haikal juga sudah besar tantenya itu mengerti betul kehidupan yang Haikal jalani. Penuh lika liku. Dulu ketika di pesantren. Haikal sering merenung dalam diam memikirkan sesuatu ketika pagi hari. Sebelum benar-benar matahari menyingsing terbit, tepatnya setelah subuh, ia sempatkan untuk pergi ke atas aula. Memang atapnya sengaja tidak di bangun genteng, dibiarkan terpapar begitu saja. Tidak hanya Haikal, teman seangkatannya pun ikut ke sana menyaksikan matahari terbit bersama. Karena waktu itu tidak ada kegiatan pesantren, jadi boleh bebas beraktivitas sampai jam enam tepat nanti. Saat itu entah matahari terbit yang ke berapa ia saksikan. Saat itu Haikal mendapatkan pelajaran penting. Salah satu teman Haikal bilang, namanya Hamka. Ia termasuk santri yang gemar menulis dan juga teman baik Haikal. Hamka bilang, bahwa “Kehidupan ini tidak lain hannyalah perputaran waktu yang di mana jika tidak ada perubahan dari satu waktu ke waktu lainnya makan sama saja seperti mati, tidak hidup. Kesimpulannya jika engkau tidak ada perubahan di setiap harinya, itu sama saja engkau tidak hidup. Kami semua mendengarkan apa yang di katakan Hamka, saat itu kami duduk di bangku Aliah kelas tiga, hendak melakukan Ujian Pesantren. Santri yang berada di atas aula saat itu diam mendengarkan Hamka, begitu juga Haikal. Hamka melanjutkan, “Berapa usia kita? Kebanyakan delapan belas tahun, berarti kurang lebih ada 6.570 matahari terbit di setiap harinya. Mulai dari kita lahir, masih tidak mengerti apa-apa, kemudian beranjak bisa berdiri, berlatih mengenal tulisan dan membaca, dan mengenal lingkungan sekitar. Hingga sekarang persis duduk di atap aula ini sembari menatap matahari terbit. Semua itu secara sadar atau tidak sadar kita disaksikan langsung oleh matahari terbit. Walau entah ada yang membencinya atau mengutuknya, tetap saja matahari itu akan terbit. “Misal kita membenci Ujian Pesantren. Menganggapnya benalu dan ingin cepat-cepat selesai dan lulus. Tetapi pada kenyataannya Ujian Pesantren tetap terlaksana bagaimana pun caranya. Sama seperti matahari terbit, entah ini matahari terbit ke berapa yang kita saksikan. Mau tidak mau ia akan tetap terbit. Bukan begitu menghadapi sebuah persoalan, tidak dengan kita melupakannya, tidak dengan kita membencinya terus kemudian hilang begitu saja, tidak. Justru ketika orang beranggapan tidak menemukan solusi atas permasalahannya, karena ia tidak mau berdamai dengan sesuatu yang ia benci. Tidak mau merangkulnya dengan segenap hati. Enggan berteman seolah hari-hari berat akan berlalu dengan cepat dan tidak akan pernah kembali. Namun pada kenyataannya tidak demikian, sekali lagi, karena kita tidak mau berdamai dengan semua itu.” Matahari mulai menyingsing naik. Semburat jingga terlihat memancar di ujung timur. Saat itu kami menyaksikan bersama dengan riang. Hati kami termotivasi tergugah untuk berdamai dengan sesuatu yang kita benci, bukan malah melupakannya dan membencinya begitu saja. Kita menjadi termotivasi untuk belajar lebih giat lagi menghadapi Ujian Pesantren. Hari-hari itu tidak pernah terlupakan. Dan ketika lulus Hamka langsung pulang ke Surabaya, tempat kelahirannya. Sebagai sahabat setianya Haikal, Hamka memberikan satu pesan yang masih ia ingat sampai sekarang. Yakni, “Jika engkau butuh bantuan, hubungi aku kapan pun kamu mau” kata Hamka. Saat itu, selama Haikal di Jakarta duduk di bangku perkuliahan, sesekali Haikal menanyakan kabar Hamka dari jauh. Dan berdiskusi masalah agama dengannya. Atau permasalahan lain. Pada saat itu Hamka bertanya ke Haikal apa ia ingat ketika sebelum Ujian Pesantren, ia duduk di atas aula bersama yang lain. Haikal menjawab dengan santai, bagaimana ia bisa melupakan momen indah seperti itu. Tak lama Hamka menjelaskan bahwa matahari terbit itu ada namanya, namanya adalah “Arunika”-Bahasa Sanskerta. Semenjak itu Haikal tak lupa merenungi paginya dengan mengucap puji syukur. Sangat menenteramkan jiwa. --- Cahaya matahari sudah sepenuhnya menerangi bumi, rata sinarnya terpapar di setiap penjuru daerah. Klakson mobil di jalanan depan sahut menyahut berirama. Warkop dekat rumah Bibi Shofia itu melantunkan musik jadul, suaranya terdengar di langit-langit. Bibi Shofia kembali sibuk berkutat di dapur menyiapkan makan pagi. Haikal masih diam di tempat duduknya. Menyisir rambutnya dengan tangan, dan mencari posisi duduk lebih nyaman lagi. Gelas tehnya sudah tandas sedari tadi. Ia menghela napas panjang. Urusan percintaan akan sangat runyam jika di pikirkan terus menerus, solusinya adalah tawakal menyerahkan sepenuhnya urusan ini kepada sang Maha Cinta. Baik urusannya dengan Sakinah, atau pun yang lainya, ia harus bisa berdamai dengan semua itu, merangkul masalahnya sendiri dengan segenap jiwa dan raganya, belajar lagi mengikhlaskan ibunya yang telah wafat. Walau itu dulu ia anggap sesuatu hal yang mustahil, tapi ia yakinkan dalam hati, toh ibunya wafat tidak ke mana-mana, melainkan kembali dalam pelukan Tuhan. Haikal yakin suatu saat nanti ada masalah yang justru lebih berat. Ia tidak boleh minder dengan semua ujian ini, entah dari Sakinah, Azza, atau kedua orang tuanya. Sekali lagi Haikal sangat yakin masalah baru akan datang menerjang silih berganti, dan juga di lain sisi ia harus yakinkan bahwa dengan begitu derajatnya sebagai hamba di sisi Tuhan juga meningkat seiring ujian yang berat menghantam berkali-kali. --- Pukul tujuh pagi. Seperti biasa makan pagi di lakukan bersama di meja makan. Om Alan sudah rapi sejak tadi, ia mengenakan jas hitam dan dasi coklat. Baru kali ini Haikal melihatnya menggunakan setelan jas. Cocok sekali dengan tampangnya, lebih terlihat gagah. “Mau kemana Om? Tumben pagi-pagi sudah rapi,” Tanya Haikal sembari tangannya lincah menyendok nasi. “Om mau pergi ke PT, moto rossi. Salah satu perusahaan otomotif yang sedang naik daun di Yogyakarta. Eh di mana Akyas?” Tanya Om Alan. “Akyas masih cuci muka Om di kamar mandi, ia baru bangun tidur,” terang Haikal. “Kalian hari ini tidak ada tugas pendataan kan?” Haikal menggeleng. Mereka cuti tiga hari ke depan. “Baiknya kalian ikut Om saja pergi ke sana gimana? Pasti teman mu Akyas sangat suka keputusan itu.” Tak lama Akyas bergabung ke meja makan. Matanya masih redup, ia belum tersadarkan sepenuhnya. Ketika Akyas baru saja berjalan beberapa langkah dari kamar mandi. Om Alan berbicara ke Akyas meminta persetujuan. Karena pendapat Haikal, jika Akyas setuju maka ia juga setuju. Tidak usah di katakan juga yang jelas jika seseorang di beri sesuai dengan minatnya maka ia pasti akan mau dan senang. Sama seperti Akyas, bola matanya membesar. Mengangguk setuju dengan ajakan Om Alan. Pergi ke PT. Moto Rossi. Pikirnya pasti di sana banyak ilmu tentang otomotif, sesuai bidang yang di tekuni Akyas. Mereka sarapan terlebih dahulu. Kemudian bersiap siap ikut Om Alan, menemaninya pengunjung perusahaan otomotif itu. Mungkin Om Alan ada investigasi atau semacamnya. Juga bagi mereka bisa sedikit memasukkan penjelasan tentang suku cadang di data mereka. "Kerusakan kecil jika tidak segera ditangani dapat merusak komponen lainnya." “Aku hanya seorang mekanik mesin. Kerja kotor penuh resiko dan oli. Tak sekata pun bisa romantis. Tentang cinta aku tidak tahu. Yang ku tahu hanya kunci pas dan tang inggris. Tapi kalau kamu cari buat masa depan, aku berdiri paling depan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD