Dua puluh sembilan

1046 Words

Rian memutuskan sambungan teleponnya, ia tersenyum kepada Sarwan yang juga tersenyum penuh kemenangan kepadanya. Sementara kedua orangtuanya masih saja belum habis pikir dengan apa yang telah Rian lakukan."Apa maksud Rian melakukan hal itu? Apa dia tidak kasihan kepada Widia? di mana akal sehat anak itu? kenapa dia tidak memiliki sedikitpun hati nurani?" tanya Riana kepada suaminya."Sudahlah Ma, apapun yang Rian lakukan, pasti itu yang terbaik" jawab Rinto."Terbaik apanya Pa? terbaik untuk dia tapi penderitaan untuk Widia. mama ini juga perempuan Pa, mama tau bagaimana perasaan Widia saat ini. Pria yang ia harapkan akan menolongnya, yang ia harapkan bisa melindunginya, malah justru melemparkannya ke dalam kandang Macan" kata Riana kesal, sementara Rinto hanya bisa terdiam, ia tak ingin hal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD