Akira Pov
Aku masih tetap bertahan dengan posisiku, mencoba sebisa mungkin supaya bos kepo itu jengkel dan menyuruhku keluar. Namun sayangnya, aku sudah berjam-jam rebahan tapi tidak mendengarkan sepatah katapun darinya. Aku mencoba bertahan dari mataku yang sudah tak bisa di ajak kompromi ini, rasanya mataku sangat berat dan rasa kantuk sudah menari ria di depanku. Hanya menunggu beberapa menit, akupun tertidur pulas di sofa.
Entah angin apa yang membuat ku hingga aku bisa tidur dengan sangat pulas di sofa itu, ini kali pertama aku bisa tertidur pulas selain di ranjang ku.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba aku merasakan seseorang menyentuh lengan ku. Awalnya aku pikir kalau aku hanya bermimpi, dan benar saja, tepat pada saat itu, aku sedang bermimpi seorang pria tampan sedang berdiri di hadapan ku dan ingin mencium ku, haha. Di dalam mimpi ku aku menjelma menjadi seorang putri tidur, dan itu hanyalah mimpi.
Tersadar kalau aku tidak mengenal pria yang ada di dalam mimpi ku itu, tiba-tiba aku mendorongnya dengan cepat.
“Pergi jauh-jauh, aku nggak kenal sama kamu, jangan kurang ajar ya” teriak ku dengan mata masih tertutup.
Aku membulatkan mata tak percaya, lalu aku menutup mulut ku yang menganga dengan kedua tangan ku saat melihat siapa yang ada di hadapan ku.
“Kenapa? Siapa yang kurang ajar sama kamu? Saya hanya membangunkan kamu untuk makan siang, tapi kamu malah bilang saya kurang ajar” kata Rian kesal.
“Eh maaf Pak, saya pikir bapak mau cium saya” kata ku dengan sangat polosnya.
“Apa? Saya cium kamu? Jangan mimpi kamu di siang bolong begini” kata Rian.
“Eh maksud saya bukan begitu pak, bapak jangan berpikir yang macem-macem. Memang saya itu sedang bermimpi, tapi bukan berarti berharap. Jadi mimpi ini beda dari yang bapak maksud. Saya bermimpi kalau seorang pria sedang berdiri di depan saya dan ingin mencium saya, dan saya tidak mengenal pria itu, jadi saya dorong pria itu supaya tidak mencium saya. Tapi itu hanya di dalam dunia mimpi, dan di dalam dunia nyata, ternyata saya sedang berhadapan dengan monster” kata ku ceplos.
“Kamu bilang apa? Monster?” Rian mulai menaikkan suaranya, namun entah kenapa, aku justru tidak takut sama sekali.
“Slow dong pak, jangan langsung emosi begitu, saya tadi keceplosan pak, saya minta maaf kalau mulut saya ini terlalu lancang. Tapi mau gimana lagi pak, mulut saya emang sulit untuk di rem, sudah sangat terrr… biasa” kata ku dengan senyum menggoda.
Aku tidak bermaksud untuk menggodanya, hanya saja aku harus melemparkan senyum yang indah dan mempesona supaya dia tidak marah pada ku. Sementara Rian, dia hanya bisa menghela napas dalam dan membuangnya kasar, sepertinya dia tak sanggup menghadapi wanita gila seperti ku.
“Sudahlah, saya tidak ingin berdebat karena saya sudah sangat lapar, jadi sebaiknya mari kita pergi mencari makanan dan kamu lebih baik diam dan ikuti saya” perintahnya.
“Kita?” tanya ku tak percaya, bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah memikirkan hal ini.
“Bukankah saya sudah bilang, sebaiknya kamu diam dan ikuti saya. Ini perintah dan tidak bisa di tentang, atau kamu akan mendapatkan akibatnya” ancamnya.
Ancaman yang sangat tepat sehingga ia bisa menarik tangan ku dan membawa ku keluar tanpa sedikitpun mendapatkan komentar dari ku. Aku hanya bisa pasrah karena aku yakin kalau dia akan memberi ku makanan enak dan akan mentraktir ku.
‘Lumayan dapat makanan gratis, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk mengeluarkan uang ku, hitung-hitung penghematan’ batin ku sambil tersenyum.
Rian masih saja menarik tangan ku bak seorang pencuri, namun aku tidak peduli dan justru hanya melemparkan senyum ku kepada teman-teman ku yang menatap kami dengan sangat heran.
“Tamat riwayat mu Ra, sepertinya pak Rian akan membunuh mu” aku masih mendengar ucapan Kevin menyebalkan itu.
“Jaga bicara mu Vin, kau seharusnya tidak seperti itu kepada rekan kerja mu” protes Lulu membela ku, namun aku harus tetap diam karena Rian masih saja menarik tangan ku.
“Eh pak, tunggu sebentar, ada yang ingin saya katakan kepada Lulu” kata ku, lalu aku menarik tangan ku dan pergi menghampiri Lulu dan Kevin.
“Lulu sayang, kamu makan sendiri dulu ya, dan aku harap kamu tidak mau makan berdua dengan manusia dajjal ini. Dan kamu Kevin, tunggu sampai aku kembali, aku akan mencekik mu” bisik ku sambil menatap Kevin dengan tatapan tajam, namun Kevin hanya terkekeh karena dia tau kalau aku hanya bercanda.
Aku berjalan menghampiri Rian, dengan cepat dia kembali meraih tangan ku dan menarik ku. Aku tidak tau kenapa dia memperlakukan ku seperti itu, aku hanya bisa menyimpulkan dua kesimpulan. Dia menganggap ku seperti adik kecil untuknya dan akan selalu menuntun ku karena tak ingin terjadi sesuatu pada ku? Atau dia tak ingin melepaskan ku karena tak ingin kehilangan diri ku. Haha, bukankah khayalan ku terlalu tinggi? Bahkan saat itu aku sampai lupa kalau aku sudah memiliki pacar karena terlalu asyik menghayalkan sesuatu yang bisa membuat ku senang.
Rian membuka pintu mobilnya, dia menuntun ku untuk masuk seolah diri ku adalah tuan putri. Dengan senang hati aku melakukannya, karena ini kali pertama aku di perlakukan bak tuan putri sejak kedua orangtua ku meninggal.
“Terima kasih bodygoard ku” ucap ku, aku benar-benar sangat konyol tanpa memikirkan dengan siapa aku berbicara.
“Apa kau bilang?”protes Rian.
Aku hanya melemparkan senyum kepadanya, lalu aku segera menutup pintu mobil karena aku tak ingin melihat singa lapar ini menggila.
Rian melajukan mobilnya ke sebuah café yang biasa aku kunjungi, dan yang paling mengejutkan, café itu adalah café yang sering aku datangi dengan Tristan.
Aku melangkahkan kaki ku mendahului Rian seolah akulah yang membawanya ke café ini, bukan tanpa alasan, itu aku lakukan karena aku takut dia akan menarik ku lagi dan orang akan memikirkan yang tidak-tidak tentang ku.
“Tidak bisakah kamu menunggu saya?” tanya Rian kesal.
“Maaf Pak, aku hanya tidak ingin di perlakukan seperti tadi. Bapak tau seperti apa Bapak memperlakukan ku? Seperti pencuri” kata ku menekankan kata pencuri, namun sebenarnya aku tak berpikir demikian.
“Yasudahlah, saya tidak ingin berdebat dan semakin menghabiskan tenaga saya. Saya ingin segera makan supaya saya memiliki tenaga untuk berdebat dengan mu yang super duper bawel ini” kata Rian, lalu kami memesan makanan dan minuman.
Tidak ada lagi yang kami bicarakan, aku tidak ingin membuat dia marah dan aku ingin menjadi karyawan yang patuh kali ini. Aku memilih diam sambil menunggu pesanan kami datang, sedangkan Rian lebih memilih sibuk dengan ponsel di tangannya.
Tanpa sadar, mata ku tertuju ke arah pintu masuk. Aku membulatkan mata saat melihat seseorang tengah berdiri tepat di ambang pintu dan sedang menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.