Lima

1155 Words
Author Pov ‘Tristan?’ batin Akira, ia tak menyangka kalau Tristan ada di sana. Terlihat jelas raut kekecewaan terpancar dari wajah Tristan, namun ia mencoba seolah tidak terjadi apa-apa. Tristan duduk tak jauh dari Akira, bukan di sengaja, hanya saja teman-temannya sudah menunggu Tristan di sana. Dan bodohnya lagi, Akira tidak tahu kalau teman-teman Tristan ada di sana. ‘Mampus, kenapa aku tidak melihat mereka? Apa yang sebelumnya aku katakan ya? Kenapa aku tidak ingat sama sekali? Semoga saja aku tidak mengatakan hal yang tidak-tidak, bisa-bisa teman-teman Tristan mengadu. Dan kenapa bisa ada Tristan di sini? Bukankah jadwal dia off besok? Aduhh, bisa tamat riwayat ku kalau begini, bisa-bisa Tristan salah paham pada ku’ batin Akira. Akira segera mengutak atik ponselnya, lalu ia mengirimkan pesan singkat kepada Tristan. Akira: Sayang, kok kamu ada di sini? Bukannya kamu kerja? Tristan: Aku off hari ini, salah satu rekan kerja aku meminta untuk over karena besok dia ada urusan keluarga. Tadinya aku ingin mengajak mu makan siang di sini, dan kebetulan Bram dan Bian juga sedang di sini, tapi aku justru melihat mu dengan pria lain. Kamu sendiri ngapain di sini? Dan siapa dia? Akira membulatkan mata tak percaya dengan apa yang dia baca, ia benar-benar tak menyangka kalau Tristan akan mengatakan hal itu. ‘Apa ini? Dia ganti jadwal off tapi dia nggak bilang sama aku? Dan dia datang ke sini tanpa bilang sama aku? Dan itu apa? Dia hanya bertanya siapa pria yang sedang bersama ku? Apakah dia tidak memiliki rasa cemburu sedikitpun? Apakah dia tidak mencintai ku?’ batin Akira kesal. Akira: Makan siang. Dia itu bos di café tempat aku bekerja, tadi dia meminta ku untuk membantunya membereskan file-file, dan dia mengajak ku untuk makan di sini. Mau nggak mau aku harus mau, nggak mungkin kan aku menolak? Aku nggak mau cari pasal sama dia yang ujung-ujungnya akan semakin panjang. Tapi tunggu, kamu nggak cemburu? Tristan: Untuk apa aku cemburu? Bukankah semua sudah jelas? Aku yakin kamu pasti berpikir kalau aku tidak mencintai mu, tapi kamu salah. Cemburu itu nggak harus marah-marah dan berdebat, tapi dalam sebuah hubungan, kita harus bisa menyikapinya dengan dewasa. Apa jadinya kalau aku marah-marah? Pasti akan menjadi masalah besar termasuk buat kamu. Akira: Uhh sayang Tristan deh (tersenyum). Tristan: Yasudah, jangan memainkan ponsel lagi karena dia juga tidak memainkan ponselnya lagi, kamu harus menghargai bos mu itu. I love you, nggak perlu di balas karena aku sudah tau balasannya, sebaiknya kamu simpan ponsel mu. Akira tak bisa menahan senyumnya saat membaca pesan terakhir dari Tristan, sementara Rian, ia hanya bisa menatap Akira dengan tatapan yang sulit di artikan. Hal itu juga tak luput dari pandangan Tristan yang tetap memperhatikan apa saja yang Akira lakukan dengan Rian. Akira mulai menyantap makanannya, ia menyadari kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Rian, namun ia mencoba untuk tidak memperdulikannya karena ia juga bisa melihat dari sudut matanya kalau Tristan juga melakukan hal yang sama. ‘Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi pendiam begini? Apakah dia sedang kesambet setan yang ada di ruangan ku?’ batin Rian. “Bro, kamu nggak cemburu melihat kekasih mu seperti itu dengan pria lain? Kenapa kamu tidak samperin aja mereka?” tanya Bram, salah satu teman Tristan. “Iya bro, masa kamu sebagai penonton di antara kekasih mu dan pria lain! Kalau kamu menjadi penonton di antara kalian masih wajar” timpal Bian. “Untuk apa aku samperin dia? Aku itu harus mengerti mengerti kalau kekasih ku sedang bekerja. Aku nggak boleh terlalu mengekang dia, karena dia juga masih memiliki dunia lain selain aku. Toh juga dia sudah bilang kalau dia itu sedang bersama siapa, jadi nggak ada yang perlu di permasalahkan. Sudahlah, jangan membahas antara aku dan kekasih ku, sekarang sebaiknya kita menikmati pertemuan kita ini karena kita jarang-jarang bisa off bareng-bareng” kata Tristan menjelaskan. Rian masih saja menyantap makanannya, namun ia masih memikirkan Akira yang tiba-tiba memilih diam dan makan dengan tenang bak sedang kerasukan malaikan. Rian juga merasa seolah tiga pria yang tak jauh darinya sedang membicarakan akira dan juga dirinya, namun ia segera menepis pemikiran itu karena Akira sama sekali tak menoleh ke arah ketiga pria itu. “Sudah, ayo kita kembali” kata Rian saat mereka sudah selesai makan. Akira hanya bisa menurut, lalu ia mengikuti Rian yang berjalan mendahuluinya menuju mobil. Sebelumnya, Akira berhenti di salah satu meja, meja tempat di mana Tristan sedang berbocang dengan sahabat-sahabatnya. “Sayang, aku kembali bekerja ya” pamit Akira. “Iya sayang, kamu hati-hati ya. Oh iya, aku tunggu kamu di sini ya, atau nggak nanti aku jemput kamu ke café, aku ingin mengajak mu jalan-jalan” kata Tristan. “Yasudah, nanti aku h*bungi kalau aku sudah selesai bekerja ya sayang. Kalau begitu aku duluan, aku nggak enak sama bos aku, dia udah nungguin di luar” ucap Akira yang di jawab dengan anggukan oleh Tristan. “Bram, Bian, aku duluan ya” lanjutnya yang di jawab dengan anggukan oleh Bian dan Bram, lalu ia pergi menghampiri Rian. Akira masuk ke dalam mobil, di sana Rian sudah menunggunya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. ‘Kenapa dia lama sekali? Apa yang dia lakukan di dalam sana?’ batin Rian. ‘Andai saja Tristan tidak ada di sana, aku pasti akan mengoceh sama kamu bos menyebalkan, tapi kamu beruntung, berkat kekasih ku, kamu hanya bisa melihat aku yang berubah menjadi sangat anggun seperti ini’ batin Akira. “Maaf Pak, apakah setelah ini saya akan kembali bekerja seperti biasanya?” tanya Akira. “Tidak, hari ini kamu menemani saya sampai saya pulang. Dan dalam seminggu ini, saya akan di café ini, jadi selama saya di sini, kamu harus menemani saya bekerja di ruangan saya. Setelah satu minggu, kamu bisa kembali bekerja seperti biasa karena saya juga tidak di sini lagi” jelas Rina. “Bapak mau ke mana?” tanya Akira kepo. Rian menatap Akira, sebenarnya tidak menjadi sebuah keharusan baginya untuk menjawab pertanyaan itu, namun ia juga tak bisa untuk tidak menghiraukan Akira. “Saya akan memeriksa café saya yang lain, jadi saya di sini hanya satu minggu saja” jawa Rian, sementara Akira hanya ber oh ria saja. “Oh iya Pak, kalau saya bekerja di ruangan bapak, otomatis saya bukan karyawan biasa dong. Gaji saya naik nggak Pak?” tanya Akira dengan polosnya. Kembali lagi Rian menatap Akira, namun kali ini ia mencoba untuk menahan tawanya karena kepolosan Akira. “Ya, selama satu minggu penuh kamu bekerja di ruangan saya, maka saya akan menambah gaji hkamu, tapi hanya dalam satu minggu” kata Rian. “Kenapa nggak satu bulan aja sih Pak sekalian, pelit banget” cerocos Akira. “Kamu bisa menuntut, tapi harus sesuai dengan apa yang seharusnya kamu tuntut” kata Rian tegas. “Baiklah bos” ucap Akira patuh. ‘Ada apa dengannya? Kenapa sekarang dia kembali cerewet seperti sebelumnya? Apakah dia memiliki kepribadian ganda? Atau mungkin, dia tidak waras?’ batin Rian sambil sesekali melirik Akira dari sudut matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD