Tristan masih saja menikmati kebersamaannya dengan Bian dan Bram, namun sesekali pikirannya masih melayang kepada Akira.
“Tan, kamu beneran nggak cemburu melihat pacar kamu jalan dengan pria itu?” tanya Bram.
“Kenapa harus cemburu? Pria itu kan bosnya, bukan gebetannya. Aku sudah bilang, aku harus bisa mengerti dia karena dia juga memiliki kehidupan lain selain aku. Dia juga masih memiliki teman, keluarga, hang out bareng teman-temannya seperti aku sekarang ini, dan juga memiliki pekerjaan yang harus ia tanggung jawab i. aku nggak bisa egois dong, apalagi ini masalah pekerjaan” jawab Tristan tenang.
“Tapi Tan, apa yang di katakan Bram itu ada benarnya juga. Kamu lihat sendiri kan, bagaimana mungkin ada bos yang makan bareng karyawannya? Kita semua tau kalau Akira itu karyawan biasa sama seperti kita, bukan asisten atau manager atau semacamnya, jadi menurut aku itu sedikit aneh.” Kata Bian lagi.
"Sudahlah, kalian tidak perlu mengompori ku seperti ini, karena aku tidak akan meledak. Aku yakin, Akira punya alasan kenapa dia bisa makan siang bareng dengan bos. Lebih baik sekarang kita nikmati hari ini, dan jangan membahas Akira lagi" kata Tristan mengalihkan topik.
Tristan sangat percaya kepada Akira, ia tau betul bagaimana sifat Akira. Akira tidak pernah sekalipun membohongi dirinya, dan dia benar-benar sangat yakin kalau Akira juga tidak membohongi dirinya hari ini.
Asyik membahas tentang pekerjaan mereka, tiba-tiba Tristan mendapat telepon dari seseorang.
Tristan: Hallo.
(…): Kamu ada waktu nggak? Aku benar-benar butuh seseorang untuk menemani aku, dan aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu.
Tristan: Maaf aku nggak bisa, aku sedang bersama dengan teman-teman ku. Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja.
(…): Aku benar-benar nggak ngerti sama dia, bisa-bisa dia memperlakukan ku seperti itu, hiks… hiks.
Tristan: Coba bicarakan dengan baik-baik, jangan membicarakan sesuatu dengan amarah.
(…): Aku sudah berusaha, tapi tetap saja dia nggak mau mendengarkan apa yang aku bilang.
Tristan: Aku juga nggak tau harus berkata apa karena ini masalah kalian dan aku tidak mungkin mencampurinya, jadi sebaiknya salah satu di antara kalian harus mengalah. Dia nggak mau mengalah berarti kamu yang harus mengalah. Kalau tidak, kalian bisa retak seperti yang dulu-dulu. Sekarang pilihan ada di tangan kamu, aku yakin kamu bisam memilih mana yang terbaik buat kamu. Sudah dulu ya, aku nggak enak sama teman-teman ku.
Tristan memutuskan sambungan telepon sepihak, bahkan ia belum mendengar apa yang di bicarakan oleh seseorang di balik teleponnya,
“Siapa Tan? Sepertinya serius banget” Bram si super duper kepo.
“Ah biasalah teman, dia sedang ada masalah dan meminta aku untuk menemaninya, maklumlah suasana hatinya sedang buruk” jawab Tristan jujur.
“Temen atau demen Tan?” ledek Bian.
“Kalau demen nggak mungkin aku tolak dia demi kalian” balas Tristan.
“Wah parah kamu Tan, masa kamu tega sama kita sih Tan? Kalau dia beneran gebetan kamu atau dengan kata lain selingkuhan kamu, berarti kamu bakalan ninggalin kita demi selingkuhan kamu dong?” kata Bram.
“Itu beda cerita, kalau dia sedang ada masalah, sementara kita di sini hanya nongkrong dan happy-happy, sudah pastilah aku temenin dia” jawab Tristan.
“Berarti kamu selingkuh dong Tan?” tanya Bian dengan polosnya.
“Itu kan kalau bambang, kalau. Itu artinya nggak terjadi, hanya ibarat aja” ujar Tristan kesal.
“Tapi Tan, dia kan teman kamu juga, kenapa kamu nggak pergi menemani dia?” tanya Bram lagi.
“Lama-lama kalian ngeselin ya, atau mungkin kalian ingin aku pergi? Aku tau dia itu teman ku, tapi kalian juga teman ku dan aku sudah di sini bersama kalian. Lagipula aku juga ke sini karena aku ingin pergi dengan Akira, jadi nggak mungkin kan aku ngecewain Akira dan ninggalin kalian juga hanya untuk menemui dia? Dia juga pasti punya teman yang lain yang biasa di ajak curhat atau semacamnya. Ah sudahlah, sebaiknya kita kembali ke topik semula” kata Tristan mengakhiri, ia tak ingin Bian dan juga Bram bertanya lebih banyak lagi.
Tristan langsung mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin membahas pembahasan yang menurutnya tidak penting itu. Bahkan jika di suruh memilih, lebih baik membahas tentang Akira daripada tentang seseorang yang menghunginya itu.
Di tempat lain di ruangan Rian, Akira sedang duduk sambil memperhatikan Rian yang tengah sibuk dengan file-filenya. Ia benar-benar sangat bosan karena tidak melakukan aktivitas apapun, namun Rian sama sekali tidak menghiraukannya.
Bagi Akira, lebih baik ia bekerja dan lelah daripada harus memperhatikan Rian seperti ini. Karena jika ia bekerja, ia masih memiliki sedikit waktu untuk berbincang dengan Lulu atau berdebat dengan Kevin. Tapi di sini,di ruangan Rian, ia bahkan seolah berubah menjadi patung bernapas di depan patung bergerak.
"Pak, saya bosan kalau hanya duduk saja. Apakah tidak ada pekerjaan yang bisa saya lakukan? Kalau begini terus bisa-bisa saya mengantuk" Protes Akira.
"Kalau kamu mengantuk, kamu boleh tidur di sofa itu seperti apa yang kamu lakukan pagi tadi, dan saya tidak keberatan untuk itu. Bagi saya itu lrbih baik daripada saya harus mendengarkan ocehan kamu yang membuat pekerjaan saya tidak fokus" jawab Rian, namun ia masih fokus dengan file-file yang ada di hadapannya.
"Aduhhh tidur lagi, bisa-bisa aku berubah jadi putri tidur pangeran" ucap Akira asal, sementara Rian berusaha untuk menahan tawanya.
"Kalau begitu, boleh nggak Pak saya keluar sebentar untuk membeli cemilan? Saya benar-benar bete nih Pak" rengek Akira.
Rian hanya diam tak menjawab Akira, ia justru merogoh ponselnya dang mengetik beberapa kata, lalu ia kembali memeriksa file-filenya.
Merasa usahanya tidak berhasil, Akira memilih untuk mengikuti apa yang Rian katakan. Ia pergi ke sofa tempat di mana ia tidur pagi tadi, dan ia akan melakukan hal yang sama.
‘Dasar bos menyebalkan, dan lebih tepatnya bos b*doh. Dia malah meminta ku untuk tidur namun dia mau menggaji ku lebih tinggi dari sebelumnya, seharusnya dia yang memberikan ku begitu banyak pekerjaan, bukan aku yang memintanya. Ah sudahlah, sebaiknya aku menikmati hari ini, anggap saja aku sedang beristirahat di rumah’ batin Akira.
Akira mencoba untuk memenjamkan matanya, namun kembali lagi ia membuka kedua mata indah itu karena ia masih saja memikirkan sesuatu. Apa yang Akira lakukan tak luput dari pandangan Rian, dengan sangat hati-hati, ia memperhatikan Akira dari sudut matanya.
Tiba-tiba mata Akira membulat sempurna, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Rian. Rian yang menyadari hal itu langsung memfokuskan pandangannya ke file yang ada di tangannya, ia berharap Akira tak menyadari kalau sedari tadi ia memperhatikan Akira.
‘Kenapa perasaan ku tidak enak? Apakah dia ingin memp*rkosa ku? Kenapa dia selalu meminta ku untuk tidur? Apakah mungkin dia berniat jahat? Dia membayar ku dengan g*ji tinggi untuk tidur? Kalau orang lain mencerna hal ini, itu artinya akan berdampak negatif. Mungkinkah pak Rian sengaja meminta ku untuk tidur supaya dia…’ batin Akira menggantung kalimatnya, otaknya mulai travelling ke sana ke mari.
‘Tapi tidak mungkin, tidak mungkin dia melakukan hal itu kepada ku di sini. Sebesar apapun keberaniannya, ia tak mungkin berani berbuat tak senonoh kepada ku di sini. Lagipula pagi tadi aku sudah tidur di sini, dan dia tidak melakuk;an apapun kepada ku, jadi nggak mungin dia ingin melakukannya sekarang dengan melewatkan kesempatan sebelumnya. Oke Akira, tenangkan diri mu dan sebaiknya kamu tidur’ batin Akira, lalu ia memenjamkan matanya.
Baru saja Akira memenjamkan matanya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan langsung membukanya, Akira membulatkan mata tak percaya melihat siapa yang kini memasuki ruangan Rian, sunggu di luar dugaannya.