Kembali lagi Akira membenarkan penglihatannya, ia mengkucek-kucek matanya untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang dia lihat tidak benar, namun pada kenyataannya semua memang benar, apa yang ia lihat sebelumnya tidak bisa berubah menjadi siapapun.
“Lulu?” ucap Akira tak percaya.
Lulu hanya bisa tersenyum, ia juga tak bisa berkata apa-apa saat melihat Akira tengah berbaring di sofa sementara Rian sedang sibuk dengan file-filenya.
“Letakkan semua di hadapannya dan pergilah” perintah Rian.
Dengan patuh Lulu meletakkan makanan yang ia bawa di depan Akira, sementara Akira hanya bisa tersenyum paksa di tempat duduknya.
“Lulu, kau memberikan ini pada ku itu sama saja membunuh ku. Bagaimana mungkin kau memberi ku makan tapi kau tidak memberi ku minum, itu namanya membunuh bukan? Kalau aku tersedak bagaimana?” tanya Akira.
Satu kode yang ia berikan yang sungguh tepat sasaran, sementara Lulu hanya terdiam menyaksikan apa yang di lakukan oleh temannya itu.
“Jangan lupa untuk membawakan minuman, tanyakan padanya minuman apa yang dia sukai karena aku ingin mendengarnya, siapa tau dia sangat menyukai air comberan” perintah Rian, namun ia masih tetap memperhatikan file yang ada di tangannya.
Mendengar ucapan Rian, Akira mengepalkan tangannya, ia menatap Rian dengan tajam namun sedikitpun Rian tak menoleh ke arahnya. Itulah yang Akira ketahui, namun pada kenyataannya, Rian memperhatikan ekspresi Akira dari sudut matanya dan ia berusaha untuk menahan senyumnya. Sementara Lulu, ia hanya bisa menahan tawa mendengar candaan bos nya itu.
“Karena aku sedang berbaik hati dan tidak ingin membuat café ini bangkrut, jadi aku memilih untuk minum air putih saja” ucap Akira.
“Baguslah kalau sadar diri” kata Rian yang membuat Lulu lagi-lagi berusaha menahan tawanya.
Tak terima mendapatkan perlakuan seperti itu di hadapan teman-temannya, Akira kembali membalas apa yang Rian lakukan.
“Emm tapi karena aku selalu rajin minum air putih, jadi tidak salah bukan kalau aku memesan minuman lain? Aku ingin mencoba minuman yang ada di sini yang tidak pernah aku minum” ucap Akira.
Seketika Rian menghentikan aktivitasnya, ia terdiam sambil menunggu Akira menyebutkan apa yang ia inginkan.
“Aku ingin mencoba Red Velvet, Green tea Latte, Coffee Latte, Thai tea, Taro, Americano, Frappucino dan…” Akira menggantung kalimatnya, lalu melirik ke arah Rian beberapa detik dengan sudut matanya. “Sepertinya itu dulu deh, nanti kalau kurang, aku minta lagi” lanjut Akira dengan senyum penuh kemenangan.
Ingin rasanya Lulu mengomentari permintaan Akira, namun ia lebih memilih diam karena Rian juga tak berkomentar sepatah katapun.
Lulu keluar untuk menyiapkan pesanan Akira, lalu ia kembali dengan beberapa minuman sesuai dengan apa yang Akira inginkan.
"Kau berhutang penjelasan pada ku Ra, aku akan menunggu mu sepulang kerja nanti" Bisik Lulu sebelum ia meningghalkan ruangan Rian.
Baru saja Lulu pergi, Rian langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Akira.
"Apa kau sengaja?" tanya Rian.
"Apakah Bapak sengaja menghakimi ku setelah Lulu pergi? Kenapa tidak menanyakan ini saat Lulu pertama kali keluar? Atau jangan-jangan Bapak takut kepergok sama Lulu? Seorang pemiliki café yang terlihat cool ternyata seperti ini?” ucap Akira tak mau kalah.
“Untuk apa saya takut? Ini café saya, dan saya tidak takut apapun. Sekarang jawab pertanyaan saya, kenapa kamu melakukan ini? Untuk apa kamu memesan banyak minuman seperti ini? Saya yakin kamu tidak akan menghabiskan semua minuman ini. Atau kamu ingin saya meminta mu untuk menghabiskan semua minuman ini tanpa sisa setetespun?” ancam Rian.
Seketika Akira terdiam, di pandanginya deretan gelas yang ada di hadapannya, lalu ia beralih memandang Rian.
‘Mampus, senjata makan tuan nih ceritanya kalau seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan minuman ini? Bahkan sampai jam kerja selesai pun aku tidak akan mampu menghabiskannya. Dan itu masih mending, bagaimana kalalu dia meminta ku untuk menghabiskannya dalam hitungan menit atau dalam satu jam? Taman riwayat mu Akira, harusnya kau tidak macam-macam dengan pria yang satu ini’ batin Akira.
“I-itu semua karena Bapak, jadi apa yang terjadi saat ini adalah salah Bapak” ucap Akira.
“kenapa kamu menyalahkan saya? Jelas-jelas kamu yang memesan minuman sebanyak ini, jadi ini salah kamu dong? Masih beruntung saya berbaik hati dengan memberikan kamu makanan supaya kamu tidak jenuh dan bosan, tapi kamu malah menuntut lebih. Dan lihat ini, sangat berlebihan. Kamu itu di kasih hati malah minta jantung, untuk tidak di kasih nyawa” kata Rian.
“Emang salah Bapak kan? Saya sudah memesan air putih, tapi Bapak selalu mencari perkara dengan saya. Ngatain saya minum air comberanlah, bilang bagus kalau saya sadar dirilah, bapak bicara seolah-olah saya tidak tau diri dan tidak punya harga diri. Kalau Bapak menganggap seperti itu, sebaiknya Bapak jangan meminta saya untuk di sini, sebaiknya saya bekerja seperti semula, saya juga nggak butuh gaji tambahan yang hanya seminggu itu” ucap Akira, lalu ia bangkit berdiri hendak meninggalkan Rian.
Melihat Akira ingin melangkahkan kakinya, dengan cepat Rian bangkit berdiri dan meraih tangan Akira.
“Mau ke mana kamu? Saya belum selesai bicara, jadi kamu nggak boleh pergi begitu saja” ucap Rian.
“Kenapa tidak? Saya bekerja menjadi karyawan di sini, dan itu yang tercatat dalam kontrak saya, bukan memnjadi asisten bapak di sini” tantang Akira. “Kalau Bapak ingin mencari teman di sini, bukankah saya sudah bilang kalau di sini ada yang menemani Bapak?” lanjut Akira.
Seketika Rian terdiam, sesuatu yang sudah ia lupakan sebelumnya kini kembali mengelilingi kepalanya.
“Kamu tetap duduk di sini dan jangan membantah. Ini semua sudah saya pesan untuk kamu, jadi kamu harus memakannya atau kamu harus membayar semuanya” ucap Rian. “dan ingat, saya ini bos kamu, terserah saya mau meminta kamu untuk bekerja apa saja di café ini. Selagi itu tidak melanggar hukum, selagi saya tidak melakukan yang tidak senonoh terhadap kamu, saya berhak melakukannya. Jadi sekarang kamu duduk dan nikmati apa yang sudah kamu pesan, saya ingin kembali bekerja” lanjut Rian lalu ia duduk di kursinya. “Jangan coba-coba untuk pergi karena saya tidak akan segan-segan memberikan kamu hukuman” lanjutnya lagi.
‘Kenapa dia malah mengancam ku? Argh benar-benar menyebalkan. Tapi yasudahlah, sebaiknya aku di sini saja dan menikmati ini semua. Toh juga aku di bayar walau hanya duduk saja. Kurang enak apa aku hari ini? Makan di traktir, sekarang di sediain makanan dan minuman gratis seolah aku adalah putri, dan aku melakukan semua itu di bayar, sungguh sangat menyenangkan bukan jadi aku?’ batin Akira, lalu ia kembali duduk di sofa dan menyantap makanannya.