Delapan

1117 Words
Sesekali Akira melirik ke arah Rian dengan sudut matanya, ia benar-benar tak menyangka kalau Rian akan mengancamnya. meskipun ia tidak melakukan apa-apa, tapi pada dasarnya itu adalah permintaan Rian. Ia juga tak menyangka kalau Rian akan memperlakukannya seenaknya, memerintahnya tanpa bisa membantah sedikitpun. Tapi bukan Akira namanya kalau tidak membantah dan melawan orang yang memintanya melakukan apa yang tidak sesuai dengan apa yang ingin ia lakukan, karena Akira adalah orang yang selalu melakukan apa yang ia inginkan namun tetap pada jalurnya. Akira mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya, sambil sesekali ia mengutak-atik ponselnya. Ingin rasanya Akira menghubungi Tristan, namun ia urungkan niatnya karena ia tak ingin Tristan menaruh curiga padanya. "Pak, bolehkah aku keluar sebentar? Aku ingin mengambil headset dari tas ku karena aku ingin mendengarkan beberapa lagu untuk menghilangkan kejenuhan ini, dan aku tidak ingin kalau sampai aku mengganggu Bapak" ucap Akira. Rian meraih ponselnya lalu meletakkannya kembali di atas meja. "Catat nomor kamu di sini dan lakukan panggilan video dengan saya" Perintah Rian. "What?" Akira tak percaya kalau Rian akan berkata seperti itu. "Saya paling benci mengatakan sesuatu jntuk kedua kalinya karena saya tidak sedang berbicara dengan orang yang pendengarannya tidak normal" ucap Rian lagi. Mau tidak mau, Akira menuruti perintah Rian, lalu ia melakukan panggilan video. "Baiklah, ambil headset mu sekarang dan kembali. Ingat, arahkan kamera mu ke wajah mu karena saya tidak ingin kamu menghabiskan waktu di sana dan berbincang dengan mereka. Pertama, kamu akan menghabiskan waktu saya untuk menunggu mu, dan kamu juga akan membuat teman-teman mu tidak bekerja hanya untuk meladeni mu berbincang. Jadi pergilah dan fokus hanya untuk mengambil headset mu" Perintah Rian. Dengan wajah yang menahan amarah, Akira meninggalkan Rian dan melakukan apa yang Rian perintahkan. Rian meletakkan filenya di atas meja, ia ingin melihat apakah teman-teman Akira akan membicarakan yang tidak-tidak dengannya atau tidak. Ia juga ingin melihat bagaimana reaksi Akira untuk menahan temannya-temannya itu. Sementara Akira, ia berusaha untuk tetap tersenyum. Baru saja ia melihat ke arah Lulu dan juga Kevin, tiba-tiba Kevin berlari menghampiri Akira. "Akira.." Ucapnya sedikit berteriak. Namun seketika langkahnya terhenti dan langsung putar haluan, begitu juga dengan Lulu yang baru saja ingin menghampirinya. 'Baru saja aku mendengar seorang pria memanggilnya, tapi kenapa tidak ada pria bersamanya? Aku yakin pria itu pasti ingin berbicara dengan Akira dan akan mendekati Akira, tapi kenapa tiba-tiba menghilang? Dan apa ini? Kenapa Akira tetap tersenyum biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa? Siapa yang baru saja memanggilnya?' batin Rian heran. Tak lama, Akira kembali dengan headset yang ada di tangannya. Ia menatap Rian dengan tatapan kesal, lalu memutuskan sambungan teleponnya. "Aku sudah di sini, jadi telepon terputus" ucap Akira dengan senyum mengejek sambil mengangkat ponselnya . Rian hanya diam, setelah mendengar Akira membuka pintu, ia langsung meraih file yang sebelumnya ia periksa, ia tak ingin kalau sampai Akira mengetahui kalau sedaritadi ia memperhatikan Akira saat video call. "Apakah teman-teman mu sudah lupa dengan mu? Kenapa mereka tidak ada yang menghampiri mu?" tanya Rian. 'Ada apa dengannya? Dia tak ingin aku bertemu dengan teman-teman ku supaya pekerjaan mereka tidak terganggu, tapi kenapa sekarang dia malah bertanya seperti itu? Apakah dia sengaja untuk mencari kesalahan ku?' batin Akira. "Bukankah mereka sedang bekerja? Jadi tidak mungkin mereka menemui ku" jawab Akira ketus. "Tapi saya mendengar seseorang sedang memanggil kamu" kata Rian dengan sangat percaya diri. "Tapi nyatanya tidak ada yang menemui aku kan pak? Bapak lihat sendiri kan kalau kamera tepat di wajah saya? Jadi bapak bisa melihat apakah saya sedang berbicara dengan mereka atau tidak. Atau jangan-jangan bapak salah dengar, mungkin saja suara yang bapak dengar adalah suara penghuni ruangan Bapak ini" ucap Akira. Seketika Rian terdiam, ia kembali membayangkan saat di mana seseorang sedang memanggil nama Akira, lalu ia menepis pemikirannya itu dan kembali fokus dengan pekerjaannya. "Sudahlah, sebaiknya kita lupakan hal itu. Sekarang, lakukan apa yang ingin kamu lakukan dan jangan mengganggu saya" Kata Rian mengalihkan pembicaraan. "Siap laksanakan pak" jawab Akira sambil tersenyum penuh kemenangan. 'Untung Akira pintar, kalau tidak, Kevin bisa di pecat hari ini juga' batin Akira sambil mengingat apa yang Kevin lakukan. ***** Saat Kevin meneriaki nama Akira dan hendak menghampiri Akira, dengan cepat Akira memberikan kode kepada Kevin dan juga Lulu. Akira memberikan kode menggunakan tangan kanannya tepat di bawah ponsel, ia memberi tanda buka tangan, kepal, lalu buka lagi yang artinya lima kosong lima. Kevin dan Lulu dengan cepat dapat mengartikan hal itu, kalau itu adalah kode SOS. Akira juga melambaikan tangannya pelan pertsnda jangan dan mengepalkan tangannya lagi pertanda diam. Kevin langsung memutar haluan saat mengerti kode-kode yang di berikan oleh Akira. Tanpa Rian sadari, Kevin dan Lulu sudah berada di sampinh Akira dan menyaksikan kalau apa yang terjadi kenada Akira. ***** Baru saja Akira ingin memutat drama Korea yang paling ia sukai, tiba-tiba ia mendapat notif pesan w******p. Kevin: Terima kasih Akira ku sayang, kalau bukan karena kamu, aku pasti tidak akan berada di sini lagi. Akira: Di terima, jangan lupa untuk mentraktir ku besok. Kevin: Siap laksanakan, dan kau juga harus mengatakan apa yang telah terjadi. Akira tak menghiraukannya lagi, ia justru menyantap makanannya dan mulai menonton drama Korea kesukaannya di ponselnya. Tanpa Akira sadari, sudah waktunya untuk pulang, namun ia terlalu asyik menonton drama kesukaannya di ponselnya. Begitu juga dengan Rian, ia terlalu sibuk dengan file-file di tangannya sampai-sampai ia lupa waktu. Akira mulai tersadar saat ia mendapatkan notif pesan w******p dari Lulu. Lulu: Ra, kamu lembur ya? Sontak Akira melihat jam di ponselnya, ia terkejut karena seharusnya ia pulang setengah jam yang lalu. "Pak, kenapa Bapak tidak bilang kalau ini sudah lewat jam kerja?" teriak Akira. Tanpa menghiraukan Akira, Rian melirik arloji di tangannya. "Saya tidak tau jam berapa kamu pulang dan kamu tidak bilang kalau seharusnya kamu sudah pulang jam segini, jadi jangan salahkan saya" ucap Rian santai. "Pokoknya Bapak harus membayarnya, ini sudah termasuk jam lembur" protes Akira. Akira bangkit dari duduknya, ia berniat untuk pergi meninggalkan Rian. "Tunggu, siapa yang memberi mu izin untuk pergi? Selama satu minggu ke depan, kamu itu bekerja dengan saya, jadi kamu harus pulang bersama saya. Tunggu sampai saya selesai membereskan file-file ini, baru kita pulang" kata Rian tanpa menoleh ke arah Akira, lalu ia mulai membenahi file-filenya. Akira hanya bisa pasrah dengan apa yang Rian katakan, karena apa yang Rian katakan memang benar. "Tidak masalah, asalkan Bapak tidak lupa untuk menjadikan ini jam lembur ku" ucap Akira sambil tersenyum. "Baiklah". Rian berjalan berdampingan dengan Akira keluar dari cafe, entah angin apa yang sedang terjadi, Rian merasa sangat senang saat ia berjalan bersama Akira meski tak ada setitik senyumpun di bibir Akira. "Saya mau..." Rian menggantung kalimatnya saat kedua matanya tertuju pada sebuah motor yang kini tepat di hadapannya, lalu ia menghentikan langkahnya dan memaksa otaknya untuk berpikir keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD